
Banyak orang berpikir, kekayaan adalah sumber dari kebahagiaan tapi tidak yang dirasakan Pak Bambang. Hidupnya terasa hampa. Sepi sendiri di rumah yang begitu megah dan luas. Istri sudah pergi untuk selamanya, anak pertama sudah menikah dan memiliki rumah sendiri. Sedangkan Andi, dia sangat tidak betah berada di rumah.
Seperti malam itu sudah hampir pukul 12 malam. Pak Bambang masih duduk di ruang tengah sambil sesekali menghisap puntung rokoknya. Beliau tidak bisa tidur sebelum putra bungsunya itu pulang. Memang hampir setiap hari Andi selalu pulang larut malam, walau dia sudah dimarahi sekalipun dia tetap bebal.
Sejak kepergian istrinya 5 tahun yang lalu, kenakalan Andi semakin menjadi. Ya, ini memang salahnya yang mengirim Andi untuk bersekolah di Amerika hingga lepas dari pengawasan dan bergaul bebas di sana.
Alih-alih memasukkan Andi kuliah di Malang agar dia berubah, tapi ternyata tetap sama. Bahkan dia kini berani melawan Pak Bambang setiap ditegur. Cara pendekatan dengan Rizal pun tidak efektif. Andi memang terlihat baik di kampus, tapi kebaikannya hanyalah pencitraan untuk mengalahkan popularitas Rizal dan menarik pendukung agar memilihnya menjadi Ketua Senat. Sekarang dia berhasil menjadi Ketua Senat, tingkah dan watak yang sebenarnya mulai nampak.
Terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan terlihat Andi masuk ke dalam rumah.
Pak Bambang berdiri dan mencegat Andi saat akan berlenggang naik ke lantai atas menuju kamarnya. "Darimana kamu? Setiap hari pulang larut malam."
"Habis nongkrong, Pa sama temen."
Aroma minuman keras tercium dari mulut Andi. "Kamu habis minum lagi?!!" Pak Bambang mulai marah.
"Dikit aja, Pa." Andi berbalik dan akan melangkah menaiki anak tangga.
"Papa belum selesai bicara sama kamu."
Andi menghentikan langkahnya. "Mau bicara apa lagi, Pa? Mau bandingin aku sama Rizal?! I'm not Rizal."
"Andi, apa yang Papa bilang itu semua demi kebaikan kamu."
"Terserah Papa. Kalau Papa lebih suka Rizal jadi anak Papa, angkat aja sekalian Rizal jadi anak Papa." kata Andi berteriak sambil menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Sakit, teramat sakit hati Pak Bambang mendengar ucapan putranya. Dia merasa telah gagal mendidiknya selama ini. Beliau kembali duduk dan menyesap rokoknya dan berpikir tentang masa depan Andi. Apa jadinya jika suatu saat nanti Pak Bambang telah pergi dari dunia ini.
...***...
__ADS_1
"Lisa, tolong kamu antar berkas-berkas ini ke Ruang Senat ya." Suruh Bu Prapti pada Lisa setelah mengumpulkan biodata teman-temannya.
"Kenapa gue sih? Nanti kalau di sana cuma ada Andi gimana?" Lisa berpikir sejenak. Dia tidak segera mengambil setumpuk kertas yang ada di depan Bu Prapti.
Dewa yang melihat keraguan Lisa, dia menawarkan diri untuk mengantarnya. "Biar saya saja, Bu."
"Gak papa saya saja." Lisa segera berdiri dan mengambil setumpuk kertas itu. Dia merasa tidak enak saja jika tugasnya dilimpahkan ke Dewa.
Lisa berjalan pelan. Berharap di ruangan itu ada Rizal bukan Andi. Sampai juga di Ruang Senat. Lisa mengetuk pintu.
"Iya, masuk.."
Suara itu, suara Andi. Jujur saja Lisa merasa sangat takut. Taruh aja di meja terus langsung keluar. Lisa segera masuk ke dalam ruangan. Dia menaruh tumpukan kertas itu di atas meja, tanpa berkata.
"Hei, cepet-cepet banget. Gak duduk dulu. Kita bisa ngobrol." Kata Andi dengan manisnya.
Lisa bergidik ngeri. Dia seperti masuk ke kandang serigala. Tawa Andi yang seharusnya manis, kini menjadi seperti seringai bagi Lisa.
"Mau apa?!! Gue mau keluar?!!" Lisa mengeraskan suaranya. Tak usah lagi bersikap sopan pada Andi yang tidak mempunyai etika sama sekali.
Andi semakin mendekat, sedangkan Lisa kini semakin memundurkan langkahnya. Langkah Lisa berhenti saat kini punggungnya sudah menyentuh tembok.
"Berani juga lo." Andi kini mempersempit ruang gerak Lisa. "Gak usah takut. Gue sama kok kayak Rizal tapi gue pasti bisa melakukan lebih dari pada Rizal. Dan lo pasti ketagihan." Andi semakin berani membelai rambut Lisa.
Plakk!!! Satu tamparan keras berhasil mendarat di pipi Andi. "Jangan lo pikir gue cewek murahan!!"
Andi memegang pipinya yang terasa memanas karena tamparan Lisa tapi hanya sesaat. Dia kini memenjara Lisa lagi saat Lisa akan kabur. "Jadi Rizal belum pernah nyentuh lo. Sayang sekali."
Lisa semakin marah. Dia berusaha mendorong tubuh Andi. "Lepasin!!" tapi gagal tubuh Andi terlalu kuat.
__ADS_1
"Jangan takut. Gue gak pernah memaksa perempuan, mereka yang selalu menikmati permainan gue."
Lisa merasa frustasi, haruskah dia teriak dengan keras sampai seluruh kampus tahu bahwa Ketua Senat mereka sangat cabul.
Ceklek!!! Suara pintu terbuka. Kini satu dorongan kuat berhasil mendorong tubuh Andi.
Lisa segera berlari keluar ruangan.
"Lo kurang ajar banget sama cewek!! Lo di kuliahin tinggi-tinggi biar bisa mikir, gak malah bobrok kayak gini." Dewa bersiap memukul Andi tapi Andi dengan sigap menahan tangan Dewa.
"Wow, satu lagi cowok yang belain Lisa. Lisa memang istimewa."
Dewa semakin tersulut emosi. "Lisa itu adik gue!! Jangan pernah lo sentuh Lisa!!" Dewa keluar dari ruangan sambil menggebrak pintu cukup keras. Sebenarnya dia ingin sekali menghajar Andi habis-habisan kalau saja saat itu tidak ada kelas. Sejak pertama melihat Andi, Dewa sudah merasa ada tatapan aneh dari Andi ke Lisa. Seperti seekor binatang buas yang sedang mengintai mangsanya.
Dewa kini menyusul langkah Lisa. Terlihat Lisa masih sangat ketakutan. "Lo gak papa kan?" tanya Dewa yang hanya dibalas gelengan oleh Lisa. "Gue tadi udah curiga lo lama di sana. Gak tahunya Ketua Senat gila itu mau macam-macam sama lo. Mulai sekarang lo jangan pernah masuk ke ruangan itu. Kalau disuruh apa-apa biar gue aja."
"Makasih, Wa." Dia genggam tangannya sendiri agar rasa takut itu segera pergi.
"Lisa!" panggil Rizal yang kini sudah berjalan mendekat. "Dari mana?" tanya Rizal tapi seketika wajah Rizal berubah menjadi serius saat melihat mimik ketakutan Lisa dengan air mata yang terbendung. "Kamu kenapa?"
Andai saja saat itu tidak di kampus, Lisa pasti sudah memeluk Rizal untuk melepaskan segala rasa takut di dirinya.
"Andi udah gangguin Lisa. Dia sangat kurang ajar. Bisa ya, ada orang sebejat itu."
"Andi?" mendengar perkataan marah Dewa, sudah pasti ada suatu hal diluar batas. "Gak bisa aku biarin!! Kamu sekarang ke kelas dulu sama Dewa." Rizal berjalan cepat meninggalkan Lisa dengan tangan yang mengepal. Emosinya siap meledak. Dia tidak segan lagi untuk memukul Andi kali ini. Masalah lain dia masih bisa membiarkan, tapi kalau menyangkut soal Lisa, dia tidak akan bisa hanya diam saja.
Rizal masuk ke dalam Ruang Senat. Terlihat Andi masih duduk di depan laptopnya.
"Brruuaakkk!!! Rizal menggebrak meja dengan keras. "Gue gak akan biarin lo nyentuh Lisa seujung jari pun!!!"
__ADS_1
💞💞💞