
Dokter menghela napas panjang saat membuka pintu IGD. Mereka semua yang sedari tadi menunggu kabar dengan harap-harap cemas segera berdiri dan mendekati Dokter yang menangani Rizal.
"Bagaimana keadaan anak saya Dokter?"
"Pasien atas nama Rizal?"
"Iya, kami keluarganya."
"Anak ibu mengalami benturan cukup keras di bagian dadanya sehingga mengalami luka di organ dalamnya. Kami sudah sangat berusaha." Satu helaan panjang terdengar, Dokter dengan berat hati menyampaikan kabar duka ini. "Anak Ibu dinyatakan koma. Untuk saat ini dia hanya mampu bertahan dengan bantuan alat di tubuhnya. Sebentar lagi kita akan pindahkan ke ruang ICU."
Bagai tersambar petir mendengar pernyataan dari Dokter. Kedua orang tua Rizal dan Lisa menerobos masuk ke dalam IGD. Tangis mereka pecah saat melihat Rizal memejamkan matanya dan tak berdaya dengan berbagai alat terpasang di tubuhnya.
"Kak Rizal, bangun. Kak..." Lisa memegang tangan Rizal yang terasa sangat dingin. "Kak, bangun. Aku mohon." Lisa menangis sesenggukan sambil mencium tangan Rizal.
"Sayang, buka mata kamu. Ayo, kamu bisa. Mama di sini." Bu Ela mengusap rambut Rizal. "Rizal, kamu janji kan sama Mama mau langsung pulang ke rumah ajak Lisa. Ayo, bangun sayang. Bangun." Tidak ada respon dari Rizal, Bu Ela semakin menangis. "Bangun..."
"Mama, udah." Pak Alan memeluk Bu Ela sambil menangis.
"Kak, buka mata Kak Rizal. Aku mohon..." Lisa masih menggenggam tangan Rizal walau kini sudah ada Bu Reni yang merangkul Lisa.
Bu Reni mengusap air mata Lisa yang tiada hentinya mengalir. "Sayang, udah. Kamu berdo'a ya. Walau mungkin sekarang Rizal memejamkan matanya tapi Mama yakin dia bisa dengar suara tangisan kamu. Kamu gak mau kan Rizal semakin sedih."
Suster tersentak kaget saat pasien yang ditanganinya tiba-tiba membuka mata dan langsung bangun. Dia duduk sambil melihat ke sebelah tirai yang menutupi brangkarnya. Padahal suster yakin, luka di kepalanya sangatlah parah.
"Anda sudah sadar, tolong jangan banyak gerak dulu. Luka Anda sedang dalam observasi."
Seperti tidak mendengar perkataan suster. Dia justru turun dari brangkar dan berjalan menyeret infusnya untuk melihat brangkar yang berada di sebelahnya.
Aku di sana.. Apa aku sudah?
Matanya terbelalak saat melihat kedua orang tua Rizal menangis termasuk Lisa yang masih saja menangis histeris sampai Lisa akhirnya jatuh pingsan.
Lisa .. Mulutnya bagai terkunci untuk sekedar memanggilnya. Badannya terasa sangat berat hingga badannya kini kembali ambruk.
"Andi!!" Pak Bambang berhasil menahan tubuh Andi. Dengan bantuan suster, Andi kembali dibaringkan ke atas brangkar.
__ADS_1
"Suster, bagaimana keadaan anak saya?"
"Luka di kepalanya cukup parah. Tapi syukurlah dia barusan sudah sadar, jadi kemungkinan tidak terjadi pendarahan di dalam otaknya. Sebentar lagi kami akan pindahkan pasien ke ruang rawat. Permisi."
Seiring kepergian suster, Pak Bambang melangkahkan kakinya untuk melihat keadaan Rizal. Hatinya bagai teriris melihat keadaan Rizal saat ini. Dia tidak sanggup berkata lagi. Hanya mampu meneteskan air matanya.
Bu Ela menatap tajam Pak Bambang. Kata-kata yang sedari tadi dia tahan akhirnya terucap. "Ini semua karena salah anak Bapak. Harusnya anak Bapak yang koma, bukan Rizal!!"
"Iya, saya mengerti. Saya sangat minta maaf atas kejadian ini. Bagaimana pun juga Rizal sudah saya anggap seperti anak saya sendiri."
"Ma, sudah ya." Pak Alan kembali memeluk Bu Ela. "Jangan semakin memperkeruh keadaan. Tugas kita sekarang hanya berdo'a. Kita serahkan semua pada yang di atas."
...***...
Lisa, Sayang... Jangan sedih ya. Aku gak kemana-mana. Aku selalu ada di dekat kamu..
"Kak Rizal!!!" Lisa tersadar dari pingsannya. Dia langsung terduduk dan menyebut nama Rizal. Ya, dia barusan melihat Rizal dalam mimpinya.
"Lisa," Bu Reni mengusap pundak Lisa.
"Lisa, sudah ya. Jangan nangis lagi. Kamu makan dulu. Dari tadi kamu belum makan kan."
Lisa menggelengkan kepalanya.
"Ayo, makan dulu. Nanti badan kamu juga ikut drop." Bu Reni mencoba menyuapi Lisa walau Lisa masih saja menutup rapat mulutnya.
"Lis, lo makan." kata Dewa yang kini berdiri di sebelah brangkar yang Lisa tempati.
Lisa menggelengkan kepalanya.
"Lis, kalau lo sakit siapa yang akan jaga dan kasih semangat ke Rizal. Ayo lo makan ya." bujuk Dewa.
Akhirnya Lisa mau membuka mulutnya dan menerima suapan Bu Reni sampai beberapa suap.
"Sudah malam. Sebentar lagi kita pulang ya."
__ADS_1
"Tapi, Kak Rizal?"
"Rizal udah dipindah ke ruang ICU. Besok aja lo jenguk lagi. Sekarang lo pulang terus istirahat. Besok gue yang jemput lo." Dewa mengusap bahu Lisa sesaat. "Gue juga pulang dulu ya. Permisi, Om, Tante."
"Iya, terima kasih ya Wa."
"Iya, sama-sama." Dewa melangkah keluar ruangan. Dirinya kini juga terasa sangat lemas, dia sendiri pun rasanya juga tidak nafsu makan setelah melihat semua kejadian yang dialami Rizal hari ini. Sebelum pulang, dia sempat melihat Rizal yang sudah berada di ruang ICU dari luar jendela kaca. Rizal, lo cepat bangun. Gue janji, gue akan jagain Lisa selama lo gak ada.
...***...
"Perbaiki hidupnya dan kamu akan kembali ke diri kamu. Waktu kamu hanya sebentar..."
Mungkin semua ini hanya mimpi.
"Andi kamu sudah sadar. Papa sangat khawatir sama kamu."
Rizal membuka matanya. Lagi, dia langsung duduk dan menarik napas dalam-dalam. Raga itu seperti tidak merasakan sakit apa-apa.
"Andi, kata Dokter kamu jangan banyak gerak dulu."
Rizal kini menatap Pak Bambang. Jadi benar aku berada di tubuh Andi?! Kenapa harus aku?! Ini gak adil. Harusnya Andi sekarang yang koma, bukan aku.
"Andi kamu tiduran dulu ya."
Gak!! Aku harus menemui Lisa. Aku harus menemui Mama dan Papa. Aku gak mau mereka sedih. Aku gak mau mereka menangis karena aku.
Rizal kini menggerakkan tubuh lemah Andi untuk turun dari brangkar tapi dicegah oleh Pak Bambang.
"Andi, kamu mau kemana? Sudah, kamu pulihkan diri kamu dulu." Pak Bambang kini memeluk tubuh Andi. "Papa bersyukur sekali kamu sudah sadar."
Apa yang harus aku lakukan?! Aku ingin kembali. Aku ingin kembali ke tubuh aku!!
"Andi, sudah jangan menangis. Kalau kamu merasa bersalah, kamu masih bisa perbaiki semuanya."
Kenapa harus aku yang memperbaiki kesalahan Andi!! Kenapa??
__ADS_1
💞💞💞