
Mendengar suara motor Rizal, Bu Reni segera keluar dari rumah. “Lisa, akhirnya kamu pulang sayang.”
Lisa turun dari motor Rizal dan langsung memeluk Mamanya.
“Ada masalah apa? Mama sangat khawatir.”
“Masih masalah tentang Rey.” Jelas Rizal yang kini sudah berada di samping Lisa. “Sebenarnya kemaren Rey nyebarin videonya bersama Lisa di villa. Dan sekarang video itu viral. Dan... Ya, begitulah mereka cuma bisa menilai apa yang mereka lihat.”
“Rey lagi?!. Mama kira masalah Rey sudah selesai.”
Lisa melepaskan pelukannya. Lalu dia memberikan surat panggilan orang tua. ”Karena video itu, ada panggilan orang tua ke sekolah, Ma.”
“Iya, gak papa nanti Mama jelasin kalau kamu gak salah.” Bu Reni kini melihat Rizal. “Makasih ya, kamu sudah jagain Lisa.”
“Iya tante, sama-sama. Saya pulang dulu.” Rizal kini menaiki motornya. Dia lajukan motornya bersamaan dengan Lisa dan Bu Reni yang masuk ke dalam rumahnya.
Tak berapa lama Rizal sampai di rumahnya. Dia turun lalu berlari kecil masuk ke dalam rumah yang langsung disambut oleh Mamanya.
“Jam segini baru pulang? Habis dari mana?”
“Ada urusan di sekolah, Ma.” Rizal mencium singkat punggung tangan Bu Ela lalu kembali berjalan menuju kamarnya.
“Ada urusan atau pacaran?”
“Dua-duanya, Ma.” Jawab Rizal dengan entengnya. Dia memang sudah biasa dengan kecerewetan Mamanya.
__ADS_1
Kini Bu Ela masih mengikuti Rizal sampai depan kamarnya. “Kamu itu pacaran terus. Gak baik loh. Mama takut kamu kebablasan. Lagian kamu juga bentar lagi sudah ujian kelulusan. Udah, jangan pacaran-pacaran terus. Fokus sama belajar dulu.”
Rizal menghentikan langkahnya sesaat sambil melihat Mamanya. “Iya, Mama. Rizal ngerti. Rizal mau mandi dulu ya.”
“Ya udah. Habis mandi langsung makan. Akhir-akhir ini kamu sering telat makan.”
“Iya, Ma.” Jawab Rizal. Bu Ela akhirnya melangkahkan kakinya pergi seiring di tutupnya kamar Rizal. Rizal menaruh tas dan jaketnya. Dia kini duduk di sisi ranjangnya mengingat rentetan peristiwa yang terjadi hari ini. Raga dan pikirannya memang terasa sangat lelah tapi saat dia kembali mengingat ciumannya dengan Lisa, gejolak yang tadinya sudah mereda kini terasa lagi. “Hah, harus diselesaiin di kamar mandi.” Gumam Rizal sebagai lelaki normal tentunya.
...***...
“Selamat pagi semua...” Pagi itu di sekolah. Setelah pembacaan do'a selesai, tiba-tiba terdengar suara Rey dari speaker yang ada di setiap ruang kelas. “Saya Rey. Saya mau mengklarifikasi video yang sudah membuat heboh kalian semua. Saya minta maaf, sudah dengan sengaja mengunggah video itu. Saya yang salah. Saya yang sudah menjebak Lisa. Saya yang sudah dengan sengaja menghipnotis Lisa agar mau melakukannya sama saya. Berhenti menghukum Lisa dengan kata-kata kalian. Lisa sama sekali tidak sadar dengan apa yang telah saya lakukan. Kalau mau menghukum, hukum saja saya. Saya mau bertanggung jawab atas semua perbuatan saya. Saya siap menerima sanksi apa pun. Saya siap dikeluarkan dari sekolah ini dan saya siap bertanggung jawab secara hukum. Sekali lagi saya mohon, jangan ada lagi yang menghina Lisa. Terima kasih.” Rey mematikan mikrofon yang sudah dia gunakan. Dia kini terduduk lesu di ruang administrasi sekolah. Dia sangat menyesal dengan perbuatannya kemaren yang hanya menuruti bisikan setan.
Andai saja Rizal tidak menghubunginya semalam, dia tidak akan tahu apa yang sudah terjadi dengan Lisa. Dia begitu bodoh melakukannya tanpa pikir panjang.
Rey kini berdiri dan berjalan perlahan menuju ruang BK yang sudah ada Lisa dan kedua orang tuanya. Saat masuk ke dalam ruangan, Rey sudah mendapat tatapan marah dari Pak Edi dan juga Bu Reni.
Walau seharusnya Rey datang bersama orang tuanya, tidak sendiri seperti sekarang. Rey tidak bisa datang bersama ibunya, karena ibunya sibuk berdagang di pasar sebagai pengganti tulang punggung. Rey tidak ingin membuat kecewa ibunya lagi. Biar dia sendiri yang menanggung apa yang sudah dia perbuat.
“Rey, kemarin saya lepaskan kamu dari tanggung jawab karena saya pikir masalah sudah selesai. Tapi ternyata kamu justru membuat masalah yang besar. Saya tidak bisa terima ini, anak saya jadi dituduh yang bukan-bukan di sekolah ini.” Kata Pak Edi memarahi Rey. “Walau kamu sudah klarifikasi barusan tapi Lisa sudah terlanjur dicap buruk.”
“Pak, sabar. Kita bicarakan dulu sanksi apa yang pantas untuk Rey.” Kata Pak Bambang selaku kepala sekolah. “Dan kami dari pihak sekolah minta maaf telah menuduh Lisa yang bukan-bukan. Kami hanya menilai video itu tanpa mau tahu cerita yang sebenarnya. Iya kan, Pak Roni?” Pak Bambang memang kepala sekolah yang sangat baik. Dia selalu bisa berpikir dingin, tidak gegabah dalam mengambil tindakan.
“Iya, Pak.” Pak Roni hanya menunduk. Tentu saja dia merasa salah karena kemaren dia tidak mau mendengarkan alasan Lisa, justru membiarkan murid lain membully Lisa.
“Pak Roni, mulai sekarang Pak Roni harus memberi bimbingan konseling pada anak-anak lebih serius agar mereka tidak suka membully dan termakan video hoax.” Lanjut Pak Bambang.
__ADS_1
“Baik, Pak. Saya minta maaf.”
“Bagaimana Pak Edi, Bu Reni, Lisa? Mau meneruskan masalah ini ke ranah hukum?” tanya Pak Bambang. Meski pun nanti jika masalah itu sampai ke polisi sudah pasti sekolahnya akan terkena imbas buruk tapi demi keadilan Pak Bambang tidak lagi memikirkan reputasi.
Pak Edi menatap Rey yang masih tertunduk. Luka lebam kemaren saja belum sembuh di wajahnya.
“Sekali lagi maaf Om, Tante, dan terutama kamu Lisa. Saya sangat menyesal. Saya akan bertanggung jawab. Saya akan terima kalau saya dilaporkan ke polisi. Saya salah."
Pak Edi menjadi tidak tega karena pengakuan Rey. Dia tahu betul bagaimana Rey sejak kecil. Dia anak yang sangat baik. Perbuatannya waktu itu memang dipengaruhi aura hitam dari kalung itu. “Lisa, apa kamu mau menuntut Rey?” semua keputusan kini berada di tangan Lisa sekarang.
Meski pun hidupnya terasa hancur tapi dia masih punya sedikit rasa kasihan pada Rey. Mungkin saja setelah kalung itu hancur, aura hitam itu telah hilang dan Rey kembali menjadi baik seperti dulu. Lisa hanya menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu kami serahkan masalah ini ke pihak sekolah.” Kata Pak Edi memberi keputusan.
“Rey, apa kamu menyesal dengan perbuatan kamu? Kamu tidak akan mengulanginya lagi?” tanya Pak Bambang.
Rey menggelengkan kepalanya. “Saya sangat menyesal. Kalau memang Bapak ingin mengeluarkan saya dari sekolah ini, saya terima. Hari ini sebenarnya saya juga ingin mengurus surat-surat untuk pindah dari sekolah ini.”
Pak Bambang menggelengkan kepalanya pelan. “Dari pertimbangan beberapa pihak, saya tidak mengeluarkan kamu dari sekolah. Kamu hanya saya skorsing selama satu minggu.”
Rey kini menatap Pak Bambang tidak percaya.
“Bapak tahu kamu punya bakat. Video kamu tampil di acara pensi minggu lalu sudah dilihat hampir satu juta viewer di youtube. Sekolah akan dukung bakat kamu. Semoga setelah masalah ini selesai kamu bisa menjadi lebih baik.”
Rey mencium tangan Pak Bambang lalu kedua orang tua Lisa. "Terima kasih, Pak. Terima kasih Om, Tante.
__ADS_1
“Kamu harus berterima kasih juga sama pacar Lisa yang sudah saya anggap seperti anak sendiri di sekolah. Dia yang memberi tahu bapak tentang video itu dan memberi masukan. Dia selalu bijaksana dalam menyelesaikan sebuah masalah.” Pak Bambang berdiri sambil menepuk bahu Rey.
Rizal?