
"Bibir aku kapan sembuhnya nih, kalau digigit, isep, gigit, isep terus." kata Rizal sambil berkaca dan melihat bibirnya yang masih saja merah.
"Gak tahu. Puasa ciuman dulu kali sampai sebulan baru bisa sembuh." Lisa mendorong Rizal agar dirinya bisa berkaca.
"Hah? Lama banget. Gak papa deh, biarin sakit yang penting ciuman terus sama kamu." Rizal kini memberi tempat buat Lisa untuk sekedar berdandan. Dia melihat kesibukan Lisa sebelum berangkat kuliah. Ribet juga, kamar seluas itu terasa sempit.
"Sayang udah?" tanya Rizal sambil duduk di sisi ranjang. Dia masih melihat Lisa yang sedari tadi mondar-mandir.
"Iya sebentar, ini masih nyari buku." Setelah selesai memasukkan bukunya. Lisa memakai tasnya. "Ayo."
Rizal berdiri dan menatap Lisa. "Ribet banget ya ternyata kamu kalau mau berangkat kuliah."
"Maklum kak, tempat baru dan sekarang sekamar juga ada dua manusia. Jadi sedikit adaptasi."
Rizal malah mendekatkan dirinya. Lagi, dia mencium bibir Lisa sesaat.
"Kak, udah jam 9 lebih ini."
"Cium dikit aja. Gak sampai 1 jam kayak kamu mondar-mandir barusan."
Lisa tersenyum. "Katanya bibirnya mau cepat sembuh. Jangan cium-cium dulu."
Rizal kini merangkul Lisa dan berjalan keluar dari kamar. "Habis gemes banget aku sama kamu."
Langkah mereka berhenti di ruang tamu saat akan berpamitan pada Bu Ela.
"Kalau masih gak tega ninggalin kamar, libur aja dulu."
"Ya, maunya sih gitu Ma. Tapi Rizal lagi kebut tugas semester lalu lanjut skripsi biar cepet lulus." Kata Rizal lalu mencium tangan Mamanya yang diikuti oleh Lisa.
"Ya udah. Kalian hati-hati yah."
"Iya." Mereka berjalan menuju motor Rizal. Lalu menaikinya dan beberapa saat kemudian motor mereka sudah melaju.
Lisa melingkarkan tangannya di pinggang Rizal, bahkan lebih mesra dari biasanya.
"Hari ini, untuk pertama kalinya kita ke kampus dengan status yang beda." Rizal mengusap tangan Lisa sesaat sambil pandangan tetap fokus ke depan.
Lisa memajukan dirinya dan menempelkan dagunya di bahu Rizal. "Iya, sudah sejauh ini ya kita."
Beberapa saat kemudian, Rizal membelokkan motornya di parkir kampus. Mereka turun dari motor lalu berjalan berdua melewati lorong kelas dengan ucapan selamat dari beberapa temannya.
"Woy, pengantin baru udah masuk aja kalian? Udah rela ninggalin kamar." kata Dewa yang bicara dengan lantang tanpa rasa sungkan.
Satu jitakan didapat Dewa dari Rizal. "Lo tuh. Ganggu kita muluk kerjaannya."
"Yaelah. Masih dibahas aja soal kemarin. Yang penting sekarang udah gaspoll berkali-kali kan. Tuh bibir sampai sexy gitu. Hahaha. Btw, testimoninya dong? Buat konten?"
__ADS_1
Dewa mendapat tatapan tajam dari Rizal dan Lisa. "Ah, gila lo!! Orang ngegas suruh kasih testimoni. Udah Lis, jangan tanggapin Dewa." Rizal menggandeng tangan Lisa dan mengajaknya berjalan meninggalkan Dewa.
"Zal, otak lo tuh yang kotor sekarang. Maksud gue itu testimoni soal kehidupan lo setelah nikah." Kata Dewa sambil mengikuti mereka berdua.
"Udah, lo tutup konten soal kita. Gue sama Lisa mau hidup tenang tanpa harus banyak orang yang tahu."
Dewa masih saja mengikuti mereka berdua. "Dikit aja. Nanggung banget konten gue. Setelah itu gak deh. Gue janji."
...***...
Setelah kelas selesai, Lisa ke perpustakaan kampus bersama Dewa untuk mengerjakan tugas.
"Sayang, tumben ke perpus? Aku kan udah punya banyak buku." Kata Rizal yang kini duduk di samping Lisa.
"Aku ada tugas. Sekalian nunggu Kak Rizal di sini."
Dewa yang sedari tadi bersama Lisa, kini menatap mereka. Seketika Dewa terasa menjadi obat nyamuk.
"Tugas apa?" Rizal mengambil buku Lisa lalu melihatnya. "Sayang, ini ada yang salah. Kamu benerin dulu. Caranya gak gini..."
Dewa merasa kesal melihat kemesraan sepasang pengantin baru ini.
"Oiya." Lisa mengambil lagi bukunya. "Gimana tadi pengajuannya?"
"Judul skripsi aku udah disetujui. Jadi aku udah bisa mulai buat skripsi. Pulang yuk, kita kerjain di rumah." Rizal menyenggol tangan Lisa sambil tersenyum.
Dewa yang sedari tadi kesal melempar Rizal dengan penanya "Zal, berasa banget gue jadi obat nyamuk. Kalau mau ngajarin itu di sini aja, gue juga gak ngerti materi ini."
"Kalau kayak gitu nyontek secara instant namanya, Zal. Gak ngerti jalan ceritanya. Haduh, pembodohan." Dewa menggaruk rambutnya.
Lisa hanya tersenyum. Dia tidak mengemasi buku-bukunya juga.
"Ayo sayang, pulang." Kini tangan Rizal yang justru yang mengemasi barang-barang Lisa dan memasukkannya ke dalam tas.
"Gini nih pengantin baru. Bawaannya pengen cepet-cepet pulang aja."
Rizal dan Lisa hanya saling pandang dan senyum.
"Makanya Wa, cepet nikah. Biar tahu rasanya pengantin baru." Rizal merangkul pundak Lisa dan mengajaknya berjalan. "Ayo sayang. Biarin aja Dewa di sini."
"Sorry, gue duluan ya Wa."
"Iya. Iya." Dewa kini juga mengemasi buku-bukunya karena percuma juga mengerjakan tugasnya sendiri tanpa mengerti materinya. "Otak gue jadi terkontaminasi gara-gara sepasang pengantin baru itu." gerutu Dewa.
...***...
Begitulah hari-hari Rizal dan Lisa yang setiap hari terasa sangat indah.
__ADS_1
Kini Rizal mulai giat mengerjakan skripsinya. Masa kuliahnya sudah tinggal satu setengah semester saja. Setelah skripsinya selesai, dia harus segera melakukan sidang skripsi sebagai penentu kelulusannya.
Malam itu Rizal dengan serius menatap layar laptopnya.
"Kak, minumnya.." Lisa meletakkan secangkir teh hangat di dekat meja belajar Rizal.
"Makasih sayang." Rizal menghentikan aktifitasnya lalu menatap Lisa yang kini berdiri di sampingnya. Dia raih tubuh Lisa hingga duduk di pangkuannya. "Udah berhari-hari gak mesra-mesraan sama kamu gara-gara aku sibuk riset."
"Baru juga 3 hari."
"Kangen tahu." Rizal mulai mencumbui Lisa. Tapi tiba-tiba terhenti saat panggilan keras itu terdengar nyata di dekat pintu.
"Lisa, temenin Mama nonton film yuk?!"
Seketika Lisa melepas tangan Rizal dan turun dari pangkuannya. Rupanya Lisa lupa untuk menutup pintu.
"Mama bisa gak nonton film sendiri aja." Nampaknya Rizal kesal karena adegan filmnya sendiri terganggu.
Bu Ela justru masuk ke dalam kamar dan menuntun tangan Lisa. "Udah, kamu fokus dulu sama laptopnya. Biar Lisa ikut Mama."
Lisa tak bisa menolak. Dia mengikuti Bu Ela sambil tersenyum menggoda Rizal.
Rizal menjadi kesal. Dia membuka asal bukunya. "Gimana mau fokus sekarang kalau tertahan gini.."
Di ruang tengah, Bu Ela sedang menonton film bersama Lisa. Sebenarnya Lisa juga tidak fokus menonton film kali ini. Dia merasa kasihan juga sama Rizal. Bukan sepenuhnya kasihan sih, sebenarnya Lisa juga kangen sama Rizal. Sebelumnya, selama tiga hari Rizal melakukan riset seharian penuh dan pulang larut malam.
"Yah, lagi-lagi konfliknya pelakor terus. Gak ada cerita lain gitu." Komentar Bu Ela tidak disahuti oleh Lisa yang membuat Bu Ela kini menatap Lisa menyelidik. "Raga di sini tapi pikiran di kamar. Ya udah kamu ke kamar aja gih."
"Eh, nggak Ma. Ini lagi lihat filmnya."
"Ya udah gak papa. Temenin Rizal sana. Maaf ya, tadi Mama ganggu. Sebenarnya Mama pengen usil sedikit sama Rizal."
Lisa tersenyum. Ya, ternyata sifat jahil Rizal itu nurun dari orang tuanya.
"Ya udah, kamu ke kamar aja. Gak papa."
Lisa berdiri lalu berjalan kembali ke kamar. Kali ini dia tak lupa menutup pintunya. Terlihat Rizal sedang menopang dagunya sambil menatap laptop. Tangan kanannya terlihat mengetik tapi absurd.
"Bisa ya, ngetik sambil melamun gitu." Lisa membungkukkan badannya dan menopangkan tangannya di meja.
"Udah nonton filmnya?" tanya Rizal. Sepertinya dia masih sedikit kesal.
"Udah." jawab Lisa singkat sambil terus menatap Rizal.
Walau sekarang mata Rizal masih fokus menatap layar laptopnya tapi pikirannya fokus kemana-mana.
"Kak..." Lisa menangkup pipi Rizal. Dan ..
__ADS_1
💞💞💞
🤣🤣🤣