
"Sekarang sudah malam. Bagaimana kalau kalian menginap saja di sini?" tawar Kakek Dirman kepada mereka semua.
"Ya sudah, kita bermalam saja di sini." Pak Edi membuat keputusan untuk menginap malam itu.
"Rey, kamu pulang saja sekarang." Suruh Kakek Dirman yang dibalas anggukan oleh Rey. Lalu Rey pulang bersama ibunya. Rumah Rey berada di belakang rumah Kakek Dirman. Sebenarnya rumah mereka masih terhubung jadi satu hanya saja pintu ruang tamu mereka terpisah.
"Kamu dan Lisa bisa menempati kamar kosong dan yang lainnya bisa tidur di ruang tengah. Saya ke belakang dulu. Kalau mau makan, kalian makan di belakang ya." Kakek Dirman berdiri dan berjalan pergi.
"Baik Kek. Terima kasih."
Lisa dan Bu Reni berdiri. Mereka masuk ke dalam.
"Kalian makan dulu ya." suruh Pak Edi lalu mengikuti langkah istri dan anaknya.
"Baik, Om." mereka tak bergegas masuk ke dalam. Justru kini Rizal keluar dan duduk di teras depan yang diikuti oleh Dewa. Sedangkan Reno dia malah asyik dengan ponsel miringnya.
Rizal kini melihat ponselnya. Ada beberapa kali panggilan masuk dari Mamanya. Lalu dia kini balik menghubunginya karena dia lupa memberi kabar pada orang tuanya. Panggilan berdering beberapa saat lalu terdengarlah suara cerewet Bu Ela di seberang sana.
"Rizal, kamu kok belum pulang. Sudah malam, kamu dimana?"
"Rizal di Pujon, Ma. Kami menginap di sini."
"Apa? Ngapain kamu di sana?" Bu Ela meminta melakukan panggilan video. Rizal sebenarnya malas beralih ke panggilan video tapi ya sudahlah, kini terlihat wajah Mamanya yang khawatir bercampur marah. "Kamu gak nginep sama Lisa kan?"
Satu tuduhan yang cukup nyelekit di dapat Rizal. Kini dia mengarahkan ponselnya pada Dewa yang sedang bermain ponsel di dekatnya. "Rizal sama teman-teman juga Ma di sini. Tuh, Dewa."
Dewa melambaikan tangannya sesaat pada Bu Ela. Lalu Rizal kembali mengarahkan ponselnya pada dirinya.
"Itu rumah siapa?"
"Rumah kakeknya temen Rizal, Ma. Ada masalah yang harus kita selesaikan di sini. Pak Edi sama Bu Reni juga ada di sini sekarang."
"Masalah apa? Kamu jangan ikut campur masalah aneh-aneh. Kamu itu..."
Terlihat Pak Alan kini merebut ponselnya. "*Papa, mau belain Rizal lagi?"
"Anak kita berbuat baik itu harus didukung dong." Panggil Pak Alan. "Zal? Kamu butuh bantuan Papa? Papa siap membantu*?"
Rizal menggelengkan kepalanya. "Masalah sudah selesai, Pa."
"Kamu hati-hati ya, jaga diri kamu baik-baik."
__ADS_1
"Iya Pa."
Bu Ela kembali mengambil alih ponselnya. "Zal, kamu kok gak pake jaket? Di sana kan dingin? Kalau alergi dingin kamu kambuh gimana?"
"Di sini gak dingin, Ma." jawab Rizal bohong.
"Bohong kamu, itu hidung kamu mulai merah." Dan, bla, bla, bla. Bu Ela mulai cerewet dengan seribu bahasanya.
"Sudah ya, Ma. Assalamu'alaikum." Rizal langsung saja mematikan panggilan videonya. "Haduh Mama. Gak di rumah, gak telepon tetep aja."
Dewa tertawa sesaat. "Anak Mama juga ternyata."
"Ya gitulah. Dari dulu Mama terlalu protektif."
"Samalah. Gue rasa juga semua cewek ntar kalau jadi emak-emak bakal cerewet juga." Kini ada panggilan masuk juga ke ponsel Dewa. "Lah ini. Emak muda gue sekarang yang telepon." Dewa mengangkat panggilan dari Karin. "Iya hallo Rin... Iya, Lisa baik-baik aja... Makanya itu, tolong bantu klarifikasi juga masalah video itu. Di sini Lisa korban kasian kalau dia sampai tau video itu udah tersebar. Gue udah hapus videonya di grup tapi sudah ada 15 orang yang melihatnya termasuk lo."
Terdengar Karin masih bicara di seberang sana. Entah apa? Rizal kini melipat tangannya dan memikirkan nasib video itu lagi.
Dewa mengakhiri panggilannya. Dia menghela napas panjang lalu melihat Rizal yang nampak melamun. "Mikirin video itu?"
Tidak ada jawaban dari Rizal karena Dewa pasti tahu apa yang ada dipikirannya.
Pertanyaan Dewa membuat Rizal memandangnya serius. "Lo pikir cinta gue sedangkal itu. Apapun keadaannya gue gak bakal ninggalin Lisa."
Dewa menepuk pundak Rizal sesaat. "Gue cuma mastiin aja. Gue tahu, gak ada yang bisa nandingi ketulusan cinta lo sama Lisa."
Pandangan Rizal kini menerawang jauh. Dia justru memikirkan bagaimana perasaan Lisa jika tahu apa yang sudah dilakukan Rey padanya. Bukan lagi soal perasaannya.
Hawa dingin mulai terasa. Rizal semakin melipat tangannya bahkan kini hidungnya sudah mulai terasa gatal. "Hachi. Hachi. Hachi." Rizal bersin beberapa kali.
"Tuh kan, benar kata nyokap lo. Alergi dingin lo kambuh. Masuk sana makan. Pinjem jaket sama Kakek Dirman. Lo udah gede gak bisa jaga diri."
"Kok malah lo yang kayak emak-emak."
"Eh, kelepasan." Dewa tertawa lalu kembali menatap ponsel miringnya dengan serius. Dia kini memainkan game online-nya. Sama seperti Reno.
Beberapa saat kemudian Lisa keluar dan menghampiri Rizal. Terlihat dia sudah berganti baju dan memakai jaketnya sendiri. "Jaket Kak Rizal.." Lisa mengembalikan jaket Rizal.
Melihat kedatangan Lisa. Dewa memberi tempat dan dia ngacir masuk ke dalam.
"Gak mau pakein?" Goda Rizal yang membuat pipi Lisa memerah. "Cuma bercanda..." Rizal mengambil jaketnya dari tangan Lisa dan segera memakainya untuk mengusir udara dingin yang sedari tadi menyerangnya.
__ADS_1
Lisa kini duduk di dekat Rizal. "Kak Rizal gak makan dulu?"
"Iya, sebentar lagi. Kamu udah makan kan?"
Lisa menganggukkan kepalanya.
Walau terasa lapar tapi Rizal seperti tidak selera untuk makan.
"Makasih. Kak Rizal udah nolong aku."
Rizal tersenyum tipis. "Gak perlu bilang makasih. Kamu tahu kan, aku akan selalu ada buat kamu."
"Tapi Kak, aku masih kepikiran. Aku gak tau apa aja yang udah aku lakuin sama Rey."
"Apapun itu, kamu gak ingat kan. Ya sudah, anggap saja itu gak pernah terjadi."
Lisa kini menatap Rizal. Sangat terlihat ketulusan Rizal dari sorot matanya.
"Hachi!!" Rizal menutup hidung dan mulutnya saat bersin-bersin itu mulai menyerangnya lagi.
"Kak Rizal kenapa? Flu?"
"Cuma alergi dingin aja."
"Ya udah, kita masuk aja. Aku buatkan teh hangat biar mereda."
Rizal menganggukkan kepalanya lalu berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Lisa...."
Lisa menghentikan langkahnya saat terdengar suara memanggilnya. Lirih, bagai tiupan angin lalu. Lisa menoleh untuk memastikan itu memang suara panggilan atau bukan.
"Lisa, ada apa?" tanya Rizal yang melihat Lisa celingukan mencari sesuatu.
"Kayak ada yang manggil."
"Gak ada. Mungkin suara angin."
"Iya mungkin." Lisa kini masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Rizal.
"Lisa akhirnya kamu datang....." Suara lirih itu terdengar lagi, walau kini sudah tidak ada Lisa di tempat itu...
__ADS_1