
Lisa kini berada di ruang BK. Dia seperti seorang tersangka yang siap disidak. Apa yang harus Lisa jelaskan sedangkan dia saja tidak ingat apa pun tentang kejadian itu.
"Lisa, dalam video ini benar kamu kan?" tanya Bu Risti sambil menunjukkan video itu lagi pada Lisa.
Lisa tidak mengelak. Dia hanya terdiam sambil menunduk.
"Lisa, kamu masih siswi kelas X. Kamu sudah berani berpacaran sampai melampaui batas. Apalagi kamu masih pakai seragam sekolah."
"Bu Risti saya dijebak. Saya tidak tahu sama sekali kalau Rey sudah melakukan itu." jelas Lisa walau mungkin kedua guru yang sekarang berada di hadapannya tidak akan percaya.
"Dijebak? Bu Risti Rey hari ini gak masuk?" tanya Pak Roni.
"Tidak, Pak. Bahkan tidak ada surat izin."
"Lisa, di video ini jelas kamu masih buka mata itu berarti kamu masih sadar dan kamu sama sekali gak menolak. Kamu bilang ini dijebak?"
Harus dengan cara apa Lisa menjelaskannya. "Rey sudah menghipnotis saya, Pak. Saya benar-benar tidak tahu apa yang sudah dilakukan Rey."
"Ada bukti?"
Lisa terdiam. Dia memang tidak punya bukti hanya punya saksi yang mungkin saja belum bisa membuat Pak Roni percaya.
"Setahu saya kamu dekat dengan Rizal tapi kenapa kamu malah punya scandal dengan Rey? Tidak habis pikir saya sama kelakuan anak zaman sekarang." ucapan Pak Roni begitu menyakiti perasaan Lisa.
"Maaf, Pak. Saya tidak seperti apa yang Bapak pikirkan. Bapak hanya bisa menilai mentah video itu." sangkal Lisa.
"Baik. Besok kedua orang tua kamu suruh datang ke sekolah. Bapak juga akan panggil Rey beserta orang tuanya. Kita akan bahas lagi masalah ini dan sanksi apa yang akan kalian dapat."
Sanksi? Lisa merasa ini sangat tidak adil. Ini bukan salahnya kenapa dia harus mendapat sangsi juga. Mau berkata untuk membela diri lagi percuma karena kedua guru yang kini ada di hadapannya tidak akan terima alasan apa pun tanpa bukti. Guru BK - Guru Bimbingan Konseling, harusnya bisa mendengar segala masukan dan permasalahan muridnya, tidak seenaknya sendiri memberi keputusan dan hukuman. Guru yang seharusnya memberi penyuluhan dan bantuan psikologis terhadap murid yang terkena masalah tidak semena-mena terus melayangkan surat panggilan kedua orang tua. Tapi nyatanya itulah Guru BK yang ada di sekolah Lisa.
Lisa berada di ruangan itu sampai pelajaran terakhir berakhir. Kini dia keluar sambil membawa surat resmi panggilan kedua orang tuanya. Dia harus berkata apa pada Mamanya. Walaupun Mamanya pasti percaya dengan dirinya tapi dia pasti akan menambah beban pikiran orang tuanya lagi.
Lisa melangkah pelan menuju kelas untuk mengambil tasnya. Beberapa murid sudah keluar. Kini mereka menatap rendah Lisa. Dengan cemooh-an yang sudah terdengar riuh. Bahkan Lisa kini melihat banyak tulisan di mading sekolah tentang dirinya.
SEKOLAH INI TIDAK MENERIMA ******!!!
__ADS_1
KELUARKAN SAJA DIA. SANGAT MEMALUKAN!!!
GAK CUKUP PUNYA PACAR SATU, MASIH MAU LAGI.
Dan masih banyak lagi kata-kata kotor. Lisa melepas beberapa yang mampu dia lepas sambil menangis.
"Eh, dia merasa!! Dasar ******!!"
"Udah biarin aja gak usah dilepas!! Toh, semua orang di sekolah ini juga pada tahu."
Entah siapa yang menghinanya. Lisa hanya bisa mendengarnya. Dia tidak bisa berkata lagi untuk sekedar membela dirinya.
"Hah!! Masih SMA udah berani nyewa villa. Udah jelas habis dipake pasti sama Rey."
"Huh!! Udah tau gitu kenapa Rizal masih mau sama dia."
"Dikasih jatah juga kali sama dia!!"
Hati Lisa sangat sakit. Andai saja bisa, dia ingin lenyap dari muka bumi saat itu juga.
"Apa yang kalian bilang!!! Kalau kalian gak tau apa-apa lebih baik kalian diam!!!" Teriak Rizal pada para komentator negatif yang bergerombol di sekitar Lisa. Rizal kini membantu Lisa melepas kertas-kertas yang berisi kata-kata kotor tentang Lisa.
"Lo tau apa soal masalah ini!! Lo gak mikir perasaan Lisa yang jadi korban!! Lo..."
"Kak Rizal cukup!! Kak Rizal gak usah belain aku lagi. Kak Rizal itu udah gak pantas sama aku." Lisa kini berlari tanpa lagi mendengar panggilan Rizal.
"Lisa!!!" Rizal melepas semua kertas itu dan melemparnya ke para pembully yang masih berada di tempat itu. "Apa pantas kalian bully Lisa kayak gini. Gue tegasin sekali lagi, Lisa itu korban. Rey yang udah jebak Lisa. Kalian harusnya bisa mikir, kalau Lisa memang salah, gue gak mungkin belain dia mati-matian." Rizal kini berlari menyusul Lisa tapi langkah Lisa begitu cepat. Setelah mengambil tasnya di kelas dia langsung kabur.
"Lisa, lo kenapa?" Bahkan pertanyaan Karin sudah tidak Lisa dengar dia berlari menghilang di lorong yang ramai dengan murid lain yang keluar dari kelas untuk pulang.
"Wa, Lisa kemana?" tanya Rizal pada Dewa yang masih berada di depan kelas bersama Karin.
"Lisa ambil tasnya aja, udah gitu dia pergi. Mana lorong kelas masih ramai. Gue gak liat dia belok kemana."
"Kita cari dia. Gue takut Lisa kenapa-napa. Soalnya dia habis di bully habis-habisan."
__ADS_1
"Baik."
Dewa, Karin, dan Reno membantu Rizal mencari Lisa. Tapi sampai sekolah hampir sepi Lisa tidak juga ditemukan.
Rizal kini berdiri di tempat parkir. Hanya tersisa dirinya dan Dewa. "Apa jangan-jangan Lisa sudah pulang." Rizal menghubungi Bu Reni dengan nomor yang masih tersimpan di ponselnya. Baru sekali nada sambung, Bu Reni sudah mengangkat panggilan Rizal.
"Hallo tante, apa Lisa sudah pulang?" tanya Rizal.
"Lisa belum pulang. Katanya dia mau pulang sama kamu. Memang Lisa gak ada di sekolah?"
"Ada masalah tante. Sekarang Lisa kabur, entah kemana."
"Masalah apa lagi?" Terdengar suara panik dari Bu Reni.
"Nanti saya ceritakan. Saya cari Lisa dulu, tante."
"Tolong ya, Rizal."
Setelah itu Rizal mematikan panggilannya. "Lisa belum pulang. Apa jangan-jangan Lisa menemui Ibu kamu di rumah."
"Bisa jadi. Gue sekarang balik dulu aja, biar gue cek. Sekalian biar gue cari di jalan siapa tahu Lisa masih ada di jalan. Nanti kalau ada kabar gue kabari lo." Dewa mengendarai motornya dan tak lama kemudian dia melajukan motornya pergi meninggalkan sekolah.
Rizal mengacak rambutnya frustasi. Dia kini berjalan menuju Pak Tejo, salah seorang satpam di sekolah.
"Pak, apa Pak Tejo lihat Lisa? Cewek yang biasanya bareng saya?"
Pak Tejo kini keluar dari posnya dan berdiri di samping Rizal. "Oo, pacarnya nak Rizal itu? Kayaknya belum. Saya dari tadi gak lihat dia keluar dari sekolah. Ada masalah apa? Kayaknya ramai dari tadi."
"Hanya salah paham, Pak. Mereka cuma bisa menghina tanpa tahu masalah sebenarnya." Rizal menghela napas panjang. Hari sudah mulai sore. Dia harus segera menemukan Lisa.
"Mungkin Lisa masih ada di dalam. Coba cari sekali lagi. Di tempat yang gak terjangkau oleh orang lain mungkin. Saya bantu nyari saja ya."
"Jangan, Pak! Bapak di sini saja. Siapa tahu Lisa lewat. Nanti tolong cegah dia pergi."
"Baik kalau gitu. Semoga cepat ketemu yah. Kasian.." Pak Tejo kembali masuk ke dalam pos satpam.
__ADS_1
Rizal berlari masuk ke dalam sekolah. Dia menebar pandangannya. Melihat seluruh penjuru sekolah dari tengah lapangan. Ada satu tempat yang belum dia jamah. Kenapa itu tidak terpikirkan sebelumnya. Semoga saja, Lisa ada di sana.
💞💞💞