Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Godaan Rey


__ADS_3

"Kak Rizal semalam sampai gak pulang?" tanya Lisa yang kini duduk di pinggir panggung sebelum acara pensi dimulai.


Sudah beberapa hari Rizal dan teman-temannya sibuk mempersiapkan acara pensi tahun ini. Bahkan semalam Rizal dan beberapa temannya sampai menginap di sekolah.


"Iya, kita harus mastiin semua persiapan harus selesai pagi ini."


Pandangan Lisa berputar melihat panggung yang cukup megah yang berada di lapangan. "Kak Rizal pasti capek."


"Emang mau mijitin?" goda Rizal sambil mendekatkan dirinya pada Lisa.


"Zal, lo udah sarapan?" tanya Evan yang baru datang, terlihat dia baru saja selesai mandi. Dia membuyarkan suasana berdua Rizal dengan Lisa saat itu.


"Udah."


"Udah mandi?" tanya Evan lagi untuk sekedar menggoda temannya.


"Gue bangun Subuh langsung mandi. Iya kalau lo kerjaannya molor muluk. Gimana temen youtuber lo jadi nge-host kan?"


"Jadi. Bentar lagi dia otw. Bentar lagi lo juga harus siap-siap. Lo kan ada sambutan di awal acara. Jangan pacaran terus. Ntar lupa skenarionya."


"Cerewet banget lo kayak emak-emak." Rizal melempar gulungan plastik ke Evan agar dia pergi.


Lisa hanya tertawa melihat tingkah laku mereka. "Lucu ya Kak Evan."


"Ya gitu, agak kurang sedikit emang sahabat aku yang satu itu. Tapi dia sahabat yang paling baik."


Bicara soal sahabat, Lisa jadi teringat Elis lagi dan dia kini sangat merasa rindu.


"Kenapa bengong lagi?" Rizal menoel pipi Lisa.


Lisa menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Nanti setelah acara selesai kamu ikut aku yah. Udah beberapa hari kan kamu pulang sama Ayah kamu." Lalu Rizal membisikkan sesuatu di dekat telinga Lisa. "Kangen, mau pacaran."


Lisa tersenyum malu sambil mengangguk.


"Lis..." panggil Karin yang kini sudah berdiri di depan panggung dengan teman yang lainnya. Dia melambaikan tangan pada Lisa.


"Aku ke sana dulu ya." Lisa berdiri.


"Oke. Aku juga mau siap-siap."


Lisa berjalan menghampiri Karin. Dia kini berdiri di deretan depan, tepatnya di belakang kursi-kursi guru dan tamu undangan spesial lainnya. Beberapa saat kemudian lapangan sudah terpenuhi oleh seluruh murid. Suasana semakin meriah saat datangnya seorang youtuber yang menjadi host dalam acara itu, sebut saja namanya Adit yang suka mereview dagangan para UMKM. Dia ditemani Dewa dan Evan yang juga sebagai host, pelengkap panggung saja sebenarnya.


"Dewa juga jadi pembawa acara?" tanya Lisa yang tidak tahu kalau Dewa juga muncul di atas panggung.


"Yah, paling juga cuma jadi pajangan doang. Tuh, yang ngobrol dari tadi juga Kak Evan sama Kak Adit."


"Iya sih." Lisa tertawa kecil mendengar kejujuran Karin pada pacarnya sendiri.


Rey? Lisa akan menghindar tapi dicegah oleh Rey.


"Lis," Rey sedikit mendekatkan wajahnya di telinga Lisa agar Lisa bisa mendengar apa yang dikatakannya. "Sekali lagi gue tanya sama lo. Apa lo bener-bener udah gak ada rasa sama gue?"


Seketika Lisa menoleh Rey. Pandangan mereka cukup dekat. Lagi, Lisa benar-benar terasa terhipnotis dan terhanyut tatapan Rey. Bahkan kini dia seolah tidak mendengar pidato Rizal di atas panggung.


Rizal bisa melihat Lisa dan Rey dari atas panggung. Dia menjadi tidak fokus, bahkan ada beberapa kata yang terpeleset di penutup pidatonya yang terakhir kali sebagai ketua OSIS.


"Gak ada." perintah otak ke mulut Lisa seolah melambat. Dia baru menjawab pertanyaan Rey setelah beberapa menit.


"Ada satu lagu yang khusus gue nyanyiin buat lo..."


"Lisa...." Rizal menarik tangan Lisa agar menjauh dari Rey. Walau cukup berdesakan, Rizal berusaha menerobos untuk menemui Lisa setelah turun dari panggung.

__ADS_1


Rey menaikkan sebelah bibirnya. Kali ini dia membiarkan Lisa bersama Rizal. Dia keluar dari kerumunan dan menuju belakang panggung.


"Ada apa lagi?" tanya Rizal yang kini berdiri di sisi Lisa.


Karin yang sedari tadi berada di dekat Lisa merasa menjadi obat nyamuk saja. Awalnya dia melihat Rey yang tiba-tiba mendekati Lisa dan membuat Lisa begitu terpaku hingga senggolan Karin pun tidak mempan. Dan kini datang Rizal yang mengusir Rey. Karin otomatis mundur dan dia memutuskan untuk bergabung dengan teman kelas lainnya.


Lisa menggelengkan kepalanya. Dia masih tidak menoleh ke arah Rizal, bahkan untuk sekedar bertanya tentang tugasnya sudah selesai atau belum. Hatinya tiba-tiba resah. Walau kini terasa genggaman tangan Rizal di tangannya tapi Lisa seolah tidak memikirkan Rizal sama sekali.


Sampai acara yang dinanti-nanti datang. Lomba adu musik antar kelas. Penampilan pertama dimulai. Suasana sangat ramai. Sorakan terdengar begitu meriah. Tapi wajah Lisa tetap datar. Dia menanti dengan cemas penampilan Rey diurutan ketiga.


"Lis, kamu kenapa?" tanya Rizal yang sedari tadi melihat Lisa terdiam. Dia seperti memikirkan sesuatu. Sikapnya tidak seperti tadi pagi saat bersamanya.


Penampilan kedua selesai. Lagi, sorakan terdengar semakin keras.


Rizal mendekatkan bibirnya ke telinga Lisa agar Lisa mendengar ucapannya. "Lis, kalau capek kita duduk aja yuk, di depan kelas."


Seketika Lisa seperti tersadar. Dia kini menoleh Rizal. Dia akan membalikkan badannya menuruti permintaan Rizal tapi terhenti saat suara itu terdengar.


"Hai semua..."


Rey... Lisa meluruskan lagi pandangannya ke atas panggung. Terlihat Rey sudah duduk di depan mic sambil membawa gitar. "Kenalkan aku Rey, siswa baru di kelas X-B."


Terdengar suara sorak dari beberapa teman ceweknya.


"Aku akan menyanyikan sebuah lagu. Lagu yang spesial untuk seseorang yang selalu menemaniku walau hanya dalam bayangan." Rey menatap Lisa.


Jantung Lisa berdebar mendapat tatapan dari Rey.


Rizal semakin mengeratkan pegangan tangannya tapi tetap tidak ada reaksi dari Lisa. Seandainya saja Rizal tega, dia ingin menyeret paksa Lisa dari depan panggung agar tidak melihat Rey. Tapi itu tidak mungkin. Rizal hanya bisa menuruti apa yang Lisa mau. Rizal menatap Lisa yang terus menatap Rey.


Lisa, tolong buka mata hati kamu. Rizal menyentuh pipi Lisa agar berhenti menatap Rey tapi hanya sesaat lalu Lisa kembali menatap Rey lagi.

__ADS_1


__ADS_2