
Lisa berusaha menghindar tapi Rizal masih mengejarnya hingga tanpa sengaja Lisa menabrak seseorang dan membuatnya hampir terjatuh.
"Eh, maaf..." ucap Lisa.
"Iya, gak papa."
Pandangan mereka kini tertuju pada dia. Ada sesuatu yang berubah. Ya, kini Elin sudah berhijab. Wajahnya lebih berseri dan dia tersenyum ramah pada Lisa dan Rizal. Dia terlihat sangat cantik.
"Elin?"
"Zal, aku mau bilang makasih sama kamu. Kamu benar. Selagi ada kesempatan, aku harus melakukan yang terbaik dalam hidup ini."
"Iya, sama-sama." kata Rizal sambil tersenyum.
Setelah Elin membalikkan badannya dan pergi. Pandangan Lisa beralih menatap tajam Rizal.
"Kenapa Kak Rizal gak cerita soal Elin?"
"Soal apa?" Tanya Rizal tidak mengerti. Baginya hal itu tidak penting untuk diceritakan karena dia berbicara dengan Elin sebagai Andi bukan sebagai Rizal.
"Kapan Kak Rizal ngobrol sama Elin?"
Rizal tertawa melihat wajah cemburu Lisa. "Ya, saat aku jadi Andi."
Lisa terdiam. Lalu membalikkan badannya dan berjalan cepat.
"Kok marah? Sayang, kenapa?" Rizal menahan langkah Lisa dan menghalanginya dengan tubuhnya. "Hei.."
Lisa masih terdiam. Pikiran kotor memenuhi otaknya. Ya, walaupun dulu raga itu milik Andi tapi bagaimana pun juga jiwa itu adalah Rizal.
"Kamu jangan berpikir yang macam-macam. Aku sama Elin cuma bicara biasa gak lebih." jelas Rizal. Dia memegang kedua pundak Lisa berusaha meyakinkannya. "Aku cuma ditugaskan untuk menyadarkan Elin. Ya, syukurlah dia sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya."
"Elin gak nyentuh Kak Rizal kan?"
Rizal tertawa. Menertawakan kecemburuan Lisa kali ini. "Nyentuh? Aku gak ada pikiran sama sekali soal itu. Waktu itu, yang aku pikirkan hanya cara untuk kembali."
__ADS_1
Lisa menghela napas panjang. Rasa cemburunya kali ini memang terlalu berlebihan.
"Udah ya." Rizal beralih ke sisi Lisa dan merangkulnya. "Yang lalu biar berlalu. Bentar lagi kan kita mau nikah, mending mikirin yang indah-indah aja. Kayak ....." Rizal membisikkan sesuatu pada Lisa yang membuat dadanya berdebar. Membayangkannya saja sudah membuat Lisa panas dingin. (Bisikin apa hayoo??? 🤣)
"Kak Rizal.." Satu cubitan didapat Rizal lagi di perutnya. "Jangan ngomongin itu. Malu..."
"Iya, iya. Pasti nanti juga gak akan malu lagi." Mereka berjalan beriringan menuju kelas sambil mengobrol. Masih saja terdengar Rizal menggoda Lisa. Karena menggodanya itu sudah menjadi hobi Rizal.
...***...
Hari-hari berlalu begitu cepat. Hari yang ditunggu-tunggu itu semakin dekat. Rizal menyerahkan semua acaranya pada Wedding Organizer milik teman Pak Alan. Akhirnya akad dan resepsi akan diselenggarakan di hotel Kusuma Batu yang sudah satu paket dengan bulan madu.
Sayang, cepat tidur yah. Biar besok fresh.
Lisa tersenyum mendapat chat WA dari Rizal. Sejujurnya dia tidak akan bisa tidur malam itu. Ya, karena besok adalah hari pernikahan mereka. Walau mereka tidak terlalu capek mempersiapkan acara tapi mereka sudah cukup capek menenangkan jantung yang kadang detaknya tidak bisa terkontrol.
"Iya. Tapi memang Kak Rizal bisa tidur?" Balas Lisa.
Beberapa saat kemudian Rizal membalasnya. Gak bisa. Udah yah. Jangan main hp biar bisa tidur. Sampai ketemu besok sayang. I love you..
Lisa meletakkan ponselnya di atas nakas lalu membaringkan tubuhnya. Berusaha untuk memejamkan matanya tapi tidak bisa. Miring kanan, miring kiri, peluk guling, tarik selimut, tendang selimut lagi. Gini banget yah rasanya mau nikah.
Lisa mencoba lagi memejamkan matanya. Kali ini dia bisa tertidur di hanya 3 jam sebelum bangun.
"Sayang, ayo bangun." Bu Reni membangunkan Lisa yang masih tertidur. "Lisa.." Bu Reni menggoyang pelan badan Lisa agar terbangun.
Beberapa saat kemudian Lisa mulai membuka matanya dan menggeliat. "Jam berapa, Ma?"
"Jam 03.30. Kamu semalam gak bisa tidur?"
Lisa menguap lalu duduk. "Iya, Ma."
Bu Reni tersenyum sambil mengusap lembut rambut Lisa. "Ya udah, kamu siap-siap ya. Bentar lagi kita berangkat. Kan kamu harus rias dulu di sana. Nanti akadnya jam 10.00 takut terlalu mepet."
"Berangkat bareng Kak Rizal?" tanya Lisa yang sebenarnya sudah kangen dengan Rizal karena sudah hampir satu minggu dia tidak bertemu dengannya.
__ADS_1
"Gak dong. Kita bawa mobil sendiri. Sabar ya, nanti kamu juga akan ketemu sama Rizal." Bu Reni tersenyum lalu meninggalkan Lisa.
Lisa segera ke kamar mandi dan bersiap. Perjalanan menuju lokasi memang membutuhkan waktu setidaknya 1 jam. Jadi mereka harus segera berangkat karena make up juga akan dilakukan di sana.
...***...
Rizal duduk, lalu dia berdiri lagi, lalu duduk lagi. Entah sudah ke berapa kali itu dia lakukan. Dia sangat gerogi, tinggal 10 menit lagi akad akan dimulai. Semua saudara dan sahabat dekat sudah datang dan duduk di tempat masing-masing. Sama seperti Rizal, mereka sudah tidak sabar menunggu acara yang sangat sakral ini.
Beberapa kamera juga sudah terpasang, termasuk Dewa yang sekarang sedang melakukan siaran live. Dia mendekati Rizal dan menyorotnya dengan kamera.
"Hay guys, lihat nih mantan ketua OSIS kita yang galak yang sukanya pidato ternyata bisa nervous juga." Dewa tertawa melihat ekspresi gerogi Rizal.
"Dewa, gue lagi gak mood bercanda. Matiin kameranya." Rizal akan merampas ponsel Dewa tapi Dewa menghindar.
"Guys, pengantin prianya lagi baperan. Aduh, pengantin wanitanya lama banget yak."
Rizal menghela napas panjang berusaha menenangkan dirinya. Dewa memang benar, rasanya ini tidak seperti saat dia akan berpidato di muka umum. Saking geroginya, telapak tangannya sampai terasa dingin dan berkeringat.
"Zal, udah tenang aja. Lakukan seperti yang Papa bilang ya." Pak Alan menepuk bahu Rizal sambil memberi minuman mineral untuknya. "Minum dulu biar gak gerogi."
"Iya, Pa." Rizal langsung meneguk segelas air mineral sampai habis.
Pak Alan tertawa. Dia jadi teringat dirinya dulu yang hampir sama dengan Rizal.
Kini pandangan mereka tertuju pada seseorang yang baru saja memasuki ruangan. Terutama Rizal, dia sampai tidak mengedipkan matanya beberapa detik melihat kecantikan Lisa saat itu yang sudah berbalut kebaya putih. Cantik dan sempurna.
Lisa dituntun duduk di sebelah Rizal. Mereka saling beradu tatap sesaat sambil tersenyum. Jantung Rizal semakin dag-dig-dug tak karuan. Dia semakin nervous. Apalagi saat Pak Edi yang didampingi oleh penghulu kini duduk di hadapannya dan sudah siap menikahkannya.
Microfon sudah siap dan menyala. Beberapa kamera sudah fokus merekam. Para tamu yang akan menyaksikan sudah diam dan menyimak.
"Sudah siap Rizal?"
Rizal menarik napas dalam dan memantapkan hatinya. "Iya." Tanpa ada keraguan lagi Rizal menjabat tangan Pak Edi. Ijab Kabul akan segera dimulai....
💞💞💞
__ADS_1