
Rizal masuk ke dalam ruangan. Dia segera duduk di sisi brangkar bersalin yang sudah memposisikan Lisa terlentang setengah duduk dengan kaki yang telah menggantung di penopang.
Rizal mengenggam erat tangan Lisa. Jantungnya bagai diremas-remas saat melihat wajah pucat Lisa dengan peluh di pelipisnya.
"Kak, sakit." Perkataan Lisa itu bagai menusuk dada Rizal. Dia tahu, Lisa sedang mempertaruhkan nyawanya saat ini.
"Iya sayang, kamu pasti bisa. Kamu kuat. Sebentar lagi kita bertemu dengan baby R." Walau sebenarnya Rizal sudah tidak sanggup berkata lagi. Dia harus bisa terlihat kuat di depan Lisa. Dia tatap mata Lisa yang terkadang mengeluarkan air mata saat menahan rasa sakit.
"Kak, tambah sakit." Lisa semakin mengenggam tangan Rizal erat. Dia sampai menggertakkan giginya. Seolah ada dorongan yang kuat dari dalam perutnya.
"Iya sayang, iya. Kamu pasti bisa."
"Bu, tarik napas dalam lalu buang. Ikuti arahan saya ya. Letakkan dagu pada dada. Saat ada dorongan yang kuat dari dalam langsung mengejan seperti buang air. Kalau belun ada dorongan simpan dulu tenaganya."
Lisa semakin merasakan dorongan kuat itu. Dia mulai mengejan seperti arahan Dokter Santi. Tangannya tak lepas dari genggaman tangan Rizal.
"Iya, mulai ada dorongan. Bagus. Ayo terus, Ibu."
Saat merasa kehabisan tenaga Lisa berhenti lalu menghirup napas dalam dan membuangnya. "Kak, aku.." Entah apa yang akan Lisa katakan. Dengan napas tersenggal dia sulit berkata-kata.
"Kamu pasti bisa sayang. Ayo!!"
"Kalau ada dorongan lagi, langsung mengejan lebih kuat ya. Tinggal sedikit lagi."
Dorongan itu mulai terasa lagi. Lisa mengejan dengan sekuat tenaganya.
"Iya, bagus. Ini rambutnya sudah kelihatan, Bu. Lebih kuat lagi ayo."
"Ayo sayang!!" Rizal sudah tidak sanggup merangkai kalimat panjang lagi. Bahkan dia sempat memejamkan matanya beberapa kali saat dia tidak tega melihat ekspresi Lisa.
Dorongan semakin kuat. Lisa semakin mencengkeram lengan Rizal. Dia kerahkan seluruh tenaganya untuk mengejan sampai dia berteriak dan setelah itu suara tangisan bayi memecah ruang persalinan.
"Sayang kamu berhasil." Rizal mengusap peluh Lisa lalu mencium keningnya.
Rasa sakit itu seketika hilang. Apalagi saat kini Dokter Santi membawa bayinya ke dada Lisa untuk IMD dan skin to skin.
"Selamat ya. Dedeknya cowok, ganteng, dan lengkap semuanya."
__ADS_1
Seketika tangis Rizal pecah. Dia menangis dalam senyumnya saat melihat bayi mungil itu bergeliat di dada Lisa. Mulut mungil itu seolah mencari letak ASInya. "Hai Sayang. Kelak jangan pernah sakiti hati Mami ya. Perjuangannya begitu besar buat kamu."
Lisa mengusap air matanya. Dia juga tersenyum dalam tangisnya. Dia usap lembut punggung baby R yang ada di dadanya.
"Makasih ya sayang." Rizal kembali mencium kening Lisa lalu merengkuhnya sambil terus menatap bayi mungil itu.
"Pak Rizal tolong tunggu diluar sebentar ya. Biar kami bersihkan dulu bayi dan ibunya."
Rizal mengusap wajahnya. "Iya." Lalu berjalan perlahan keluar dari ruang bersalin.
Semua tatapan kini tertuju pada Rizal yang sangat kacau.
"Rizal kamu udah kayak zombie aja keluar dari ruangan."
Rizal kini duduk di sebelah Bu Ela.
"Gimana? Persalinan lancar kan?"
"Iya, lancar Ma."
Rizal hanya mengangguk.
"Wah, siapa nama cucu jagoan Papa ini?"
Rizal hanya diam.
"Surprise kali Pa. Dari kemaren-kemaren Mama tanya soal nama sebutnya baby R. Tiru-tiru artis pakai inisial segala."
Rizal hanya tersenyum kaku. Beban yang tadi bertubi-tubi kini sedikit berkurang.
"Kamu belum makan loh dari pagi. Lihat nih badan kamu sampai dingin banget dan pucat gini."
"Iya, Ma. Masih belum selera makan."
"Itulah, Zal. Kamu sudah tahu kan perjuangan seorang Ibu melahirkan anak itu kayak gimana. Sayangi Lisa, jangan pernah sakiti dia. Kamu jangan mikir enak-enak terus aja sama Lisa. Perjuangan masih panjang. Kamu harus benar-benar dukung Lisa di masa pemulihan. Kamu juga harus ikut andil dalam ngurus anak."
"Iya, Ma. Itu pasti. Rizal ngerti." Rizal kini memeluk Mamanya. "Maafin Rizal ya Ma kalau mungkin Rizal pernah menyakiti hati Mama."
__ADS_1
"Iya, sayang. Anak Mama sekarang udah jadi Papi muda."
...***...
"Hai, Rasya. Boboknya nyenyak sekali. Kenyang ya habis minum ASI." Rizal masih saja menggendong bayinya yang sudah tertidur. Lisa dan bayinya sudah dipindahkan ke ruang rawat beberapa jam yang lalu.
Lisa yang masih berbaring di atas brangkar tersenyum melihatnya.
"Aduh, nih papi muda masih gendong terus. Sini Mama juga mau gendong dong." Bu Ela meraih Rasya dari gendongan Rizal. Ya, nama putra Rizal adalah Rasya Aditya.
Rizal kini beralih duduk di sisi brangkar Lisa. "Kamu istirahat ya. Tidur, biar cepat pulih." Rizal mengusap rambut Lisa agar dia istirahat.
Beberapa saat kemdian ponsel Rizal berbunyi ada panggilan video dari Dewa.
"Iya, apa Wa?"
"Mana anak lo, gue mau lihat."
"Lagi tidur. Kalau mau lihat ke sini aja."
"Iya, gue besok ke sana sama Mama dan Karin. Tapi gue pengen liat sekarang. Itu anak lo udah gue jaga loh mulai dari dalam perut."
Akhirnya Rizal berdiri dan mengarahkan kameranya pada bayinya.
"Ganteng banget kayak gue."
"Kayak lo? Ngarang lo."
"Haha.. Bercanda-bercanda. Ya udah. Besok gue ke sana ya." Lalu Dewa mematikan panggilannya.
Rizal kembali duduk di sisi brangkar Lisa. Dia melihat Lisa sudah tidur dengan nyenyak. Dia tersenyum. Rasa cinta itu terasa semakin besar untuk Lisa sampai nanti dan selamanya....
...-Selesai-...
💞💞💞
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini. Ada bonus chapter ya besok.. 😘
__ADS_1