
Rizal duduk di sofa tengah sambil menyandarkan dirinya. Dia merasa bosan tanpa ponsel, apalagi tanpa benda itu dia merasa kesulitan menghubungi Lisa. Dia memang belum sempat membeli ponsel yang baru setelah ponselnya rusak parah karena kecelakaan itu.
"Tumben gak pacaran?" tanya Bu Ela sambil duduk di samping putranya karena sedari tadi Bu Ela hanya melihat Rizal melamun saja.
"Kemaren kata Mama, aku gak boleh pacaran. Sekarang ditanyain kayak gini. Mau Mama apa sih?"
"Maunya Mama itu, kamu bahagia. Kamu anak Mama satu-satunya. Mama gak mau lagi lihat kamu sedih-sedih." Kata Bu Ela sambil mengusap rambut Rizal sesaat.
"Jadiin dua yuk Ma anaknya."
Bu Ela nampak mengernyitkan dahinya. "Rizal kamu ingin punya adik? Kalau aja Mama bisa, kamu udah Mama buatin adik dari dulu." Bu Ela menghela napas panjang di akhir kalimatnya. "Dapatin kamu aja Mama dulu harus berjuang ikut program ini itu."
Rizal sedikit menggaruk kepalanya karena reaksi Mamanya yang gagal paham dengan ucapannya.
Mendengar hal itu Pak Alan tertawa. Lalu ikut duduk di sofa sebelah Rizal. Kini Rizal berada diantara kedua orang tuanya. "Mama baperan banget. Maksud Rizal itu bukan ingin punya adik, Ma."
"Terus Pa?" Bu Ela masih saja tidak mengerti.
"Rizal itu mau Lisa jadi anak mantu Mama."
"Betul." Rizal tersenyum. "Papa memang pengertian banget. Lamarin ya Pa ke orang tua Lisa."
"Mau kapan?" tanya Pak Alan.
"Nanti malam."
Bu Ela melebarkan matanya, dia cukup terkejut dengan keinginan putranya ini. "Apa?! Rizal tunggu kamu lulus kuliah dulu baru mikirin nikah. Memang kamu sudah siap berumah tangga? Menikah itu gak cuma kebutuhan biologis aja loh. Kamu juga harus mampu menghidupi anak orang. Membahagiakannya secara lahir dan batin. Jangan main ambil anak orang terus gak kamu bahagiain. Kasihan orang tuanya udah besarin dengan penuh kasih sayang. Akan banyak masalah juga yang kamu hadapi setelah menikah. Kamu sudah memikirkan itu semua?"
Rizal dan Pak Alan saling lirik. Apabila Bu Ela sudah berargumen, tidak akan bisa diputus bagai rel kereta api. "Sudah, Ma? Kalau sudah Rizal mau bicara."
"Iya, apa alasan kamu sampai mendadak minta lamar Lisa?"
"Gini, Ma. Setelah kecelakaan itu, aku sadar bahwa waktu hidup di dunia ini hanya sebentar. Aku gak mau terlambat melakukan sesuatu, apalagi niat baik. Dari pada semakin banyak dosa lebih baik menikah saja. Dan, Insya Allah aku bisa menafkahi Lisa lahir dan batin."
Bu Ela menghela napas panjang. Perkataan Rizal memang benar. "Ya udah kalau itu mau kamu."
"Lalu kapan rencana kamu mau menikah?" tanya Pak Alan.
Rizal nampak berpikir sambil menghitung sesuatu. "Dua bulan lagi ya, Pa."
Lagi, Rizal membuat Mamanya terkejut. "Rizal, cepet banget. Nunggu kamu selesai skripsi aja dulu. Emang kamu bisa fokus sama skripsi kamu setelah menikah? Kamu udah semester 5 loh sekarang."
Rizal mengangguk yakin. "Bisa Ma. Aku udah nyiapin bahan buat skripsi. Mama tenang aja ya."
__ADS_1
Pak Alan menepuk bahu Rizal. Beliau memang tak pernah meragukan keinginan putranya. "Papa sih yakin, kamu pasti bisa."
"Kalau Papa selalu aja turuti kemauan Rizal."
"Selama niatnya baik kan gak papa, Ma."
"Ya udah, yang penting kamu bahagia." Bu Ela memeluk Rizal sesaat. "Tapi setelah menikah, Lisa tinggal di sini ya?" Bu Ela kembali menegakkan dirinya dan menatap Rizal dengan mata penuh harapnya.
"Iya, Ma. Biar Lisa nanti di sini. Kan rumah Lisa dekat jadi tiap hari juga bisa pulang. Dan, nanti Mama juga aku buatin cucu, biar tambah rame."
Pak Alan tertawa sambil menepuk bahu Rizal. "Zal, kamu udah kebelet banget rupanya."
Seketika Bu Ela sangat antusias. "Kalau gitu kamu bilang sama Pak Edi kalau kita mau ke rumahnya ya."
"Gak usah, Ma. Aku mau kasih kejutan buat Lisa."
"Nanti kalau lamaran kamu ditolak gimana? Lisa kan masih umur 19 tahun, siapa tahu aja Pak Edi dan Bu Reni gak ngebolehin Lisa nikah muda." Antusias Bu Ela yang baru saja muncul seketika menghilang karena pemikirannya sendiri.
"Yang penting usaha dulu, Ma. Udah Mama tenang aja gak usah mikir macam-macam. Mama mau punya anak lagi kan? Mama juga mau cepat punya cucu kan?"
Senyum Bu Ela merekah karena iming-iming dari Rizal tentang cucu. Bu Ela segera berdiri. "Wah, harus siapin oleh-oleh dulu, gak mungkin dong ke rumah calon besan dengan tangan kosong. Mumpung masih siang Mama mau ke supermarket dulu ya." Bu Ela segera masuk ke dalam kamar bersiap-siap.
Rizal dan Pak Alan hanya tertawa melihat tingkah Bu Ela.
"Ya, namanya juga wanita. Nanti kalau kamu udah nikah pasti ngerti kalau perasaan wanita itu sedetik aja bisa berubah."
Rizal berpikir sesaat. Benarkah??
...***...
"Lisa, ayo sayang." Panggil Bu Reni dari depan kamar Lisa karena Lisa belum juga selesai berdandan.
"Iya, Ma. Ini sudah selesai." Lisa keluar.
Bu Reni menatap Lisa. Hanya memakai rok terusan panjang dan rambut diikat sedikit ke belakang saja butuh waktu lama untuk selesai. "Kamu dandan atau gerogi?" tanya Bu Reni.
Lisa hanya bercengir kuda. "Gerogi, Ma."
"Ya udah ayo, biar gak kemalaman." Bu Reni menggandeng tangan Lisa tapi saat mereka sampai di depan pintu, mereka berpapasan dengan Rizal dan kedua orang tuanya yang sudah sampai di teras rumah.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam." jawab Pak Edi sambil menjabat tangan Pak Alan. "Pak RT, kita baru saja mau ke rumah, mau jenguk Rizal. Ada perlu apa ya?"
__ADS_1
Lisa sangat terkejut. Ada apa Rizal dan kedua orang tuanya datang ke rumah. Apa akan melarangnya untuk dekat dengan Rizal, ya itulah pikiran buruk Lisa.
Rizal menatap Lisa sambil tersenyum menggoda. Dia tahu, Lisa pasti sangat terkejut dengan kedatangannya bersama kedua orang tuanya.
"Masuk dulu. Kita bicara di dalam." ajak Pak Edi. Mereka semua masuk ke dalam dan duduk di kursi ruang tamu.
"Bu Ela, kenapa repot-repot bawa oleh-oleh. Justru sebenarnya kita yang mau ke rumahnya Bu Ela. Makasih ya..."
"Iya gak papa, Bu."
"Duduk dulu, Bu." Bu Reni dan Lisa masuk ke dalam rumah menuju dapur untuk membuatkan minuman dan sedikit jamuan.
"Ma, ada apa ya Kak Rizal ke sini sama orang tuanya. Apa mereka mau melarang Lisa dekat sama Kak Rizal."
"Husst, jangan berburuk sangka dulu. Ini bawa minumannya. Biar Mama bawa ini."
Lisa dan Mamanya keluar dari dapur sudah membawa minuman dan beberapa makanan. Walau sangat gerogi Lisa menyuguhkan tiga cangkir minuman dan meletakkannya di meja. Untung saja tidak sampai tumpah.
"Repot-repot aja, Bu..."
"Iya, gak papa. Ayo, diminum. Lisa, duduk sini." Bu Reni dan Lisa kini duduk berdampingan.
Rizal masih saja tersenyum menatap ekspresi Lisa. Rasanya dia sudah sangat gemas ingin menggodanya.
"Pak Alan," Pak Edi memulai pembicaraan. "Sebelumnya saya mau minta maaf tentang kecelakaan itu. Karena belain anak saya Rizal jadi celaka."
"Sudah Pak. Lupakan soal itu.."
"Lalu, maksud kedatangan Pak Alan sekeluarga ke sini apa? Apa mau melarang Lisa dekat dengan Rizal karena Rizal mau skripsi?"
Pak Alan tertawa, rupanya omongan istrinya sudah mengontaminasi pikiran keluarga Lisa. "Bukan, Pak. Bukan soal itu. Kami ke sini atas permintaan Rizal untuk melamar putri Bapak."
Lisa melebarkan matanya terkejut, dia kini menatap Rizal yang masih saja tersenyum ke arahnya. Pak Edi dan Bu Reni juga terkejut. Mereka tidak terpikirkan akan hal itu sebelumnya.
"Melamar Lisa?" Pak Edi masih tidak percaya, semua terasa sangat mendadak.
"Iya, memang terkesan terlalu mendadak. Tapi kami sebagai orang tua harus mendukung niat baik Rizal. Bagaimana, apa lamaran anak saya diterima?"
Pak Edi dan Bu Reni saling pandang. Lalu Pak Edi mulai menjawab, "Lisa sekarang masih berumur 19 tahun sebenarnya masih sangat muda untuk membangun rumah tangga. Tapi demi kebahagiaan mereka kita sebagai orang tua hanya bisa membimbing dan memenuhi keinginan mereka." Pak Edi kini menatap Lisa yang terlihat sangat gerogi. "Bagaimana Lisa, apa kamu menerima lamaran Rizal?"
Lisa sedikit mengigit bibir bawahnya. Dia harus menjawab apa? Semuanya terasa sangat mendadak tanpa persiapan. "Karena lamaran ini sangat mendadak, jadi saya........"
💞💞💞
__ADS_1