
"Dingin banget," gumam Rizal pelan. Dia tidak terlalu bisa tidur malam itu hingga menjelang Subuh. Dia kini keluar dari rumah Kakek Dirman dan berdiri di teras rumah sambil melipat tangannya. Hidungnya masih terasa gatal hingga membuatnya bersin beberapa kali.
"Le, sudah bangun?" Pertanyaan Kakek Dirman membuatnya menoleh.
"Tidak bisa tidur Kek."
Rizal kini beralih ke tempat duduk di kursi teras yang diikuti oleh Kakek Dirman.
"Ada yang dipikirkan?"
Rizal hanya menghela napas panjang. Selain hawa dingin yang membuatnya tidak bisa tidur memang ada satu hal yang masih dia pikirkan.
"Kamu pacar Lisa?"
Rizal menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Ikhlaskan apa yang sudah terjadi. Saya bisa melihat ketulusan cinta kamu. Semoga kamu dan Lisa berjodoh." Kakek Dirman seperti bisa menerawang apa yang dipikirkan Rizal.
"Iya, amin Kek."
"Ya sudah. Dari tadi kakek dengar kamu bersin-bersin terus. Punya alergi dingin?"
Rizal menganggukkan kepalanya lagi.
"Buat minuman jahe hangat, di dapur ada serbuk jahe tinggal seduh biar mereda ya."
"Baik Kek, terima kasih."
Kakek Dirman menepuk pundak Rizal sesaat lalu berdiri. "Ya sudah. Saya mau ke Musholla dulu, sudah Subuh."
"Iya Kek." Rizal melihat punggung kakek Dirman yang kian menjauh. Beberapa saat kemudian dia masuk ke dalam rumah dan menuju dapur untuk membuat minuman jahe agar tubuhnya sedikit terasa hangat.
"Kak Rizal sedang apa?" suara pelan Lisa berhasil membuat Rizal terkejut.
"Eh, Lisa. Kirain siapa? Ini mau buat minuman jahe. Dingin banget di sini."
__ADS_1
Lisa mendekati Rizal. "Sini aku buatin Kak." Lisa mengambil alih gelas yang Rizal pegang.
"Gak usah. Aku bisa." Rizal kini melarang Lisa dan kembali menggeser gelas ke depannya.
"Kak, sudah gak papa." Lisa ingin menggesernya lagi tapi justru tangan Lisa yang kini Rizal pegang. "Tangan Kak Rizal dingin banget. Bisa kena hipotermia."
Rizal tersenyum kecil sambil sedikit mencubit pipi Lisa. "Hipotermia? Berlebihan banget." Rizal kini menggenggam kedua tangan Lisa yang hangat. "Cuma butuh sedikit kehangatan."
Lisa justru menuntun Rizal agar duduk. "Kak Rizal tunggu sambil duduk saja."
Rizal menuruti perintah Lisa. Dia kini melihat punggung Lisa yang sedang membuatkan minuman untuknya sambil tersenyum. Andai saja dia dan Lisa sudah halal, dia pasti sudah memeluknya dari belakang dan menciumnya. Kembali pada kenyataan saat ini, dia menggelengkan kepalanya agar pikirannya tidak travelling kemana-mana. Teringat dia masih siswa SMA masih jauh memikirkan tentang pernikahan.
"Kak Rizal kenapa senyum-senyum?" tanya Lisa sambil menaruh minuman hangat yang sudah siap di depan Rizal.
"Eh, hmm, makasih." Rizal kini memegang gelas itu dengan kedua tangannya agar rasa dingin di tangannya menghilang. "Kamu memang sudah bangun jam segini?"
Lisa mengurungkan niatnya untuk duduk menemani Rizal. Dia sampai lupa dengan niatnya untuk membuang hajat. Sebegitu menariknya Rizal sampai mengalihkan dunia Lisa. "Aku mau ke kamar mandi." Lisa berjalan cepat menuju kamar mandi.
Rizal kini menikmati minumannya sambil menunggu Lisa di dapur.
"Elis?" suara panggilan Lisa berhasil membuat Rizal menoleh. Terlihat Lisa menatap pintu belakang. "Elis kamu mau kemana?" Lisa kini membuka pintu belakang.
Rizal segera berdiri dan mencegah Lisa berlari seperti ingin mengejar seseorang.
"Kak, itu ada Elis."
Rizal melihat arah pandangan Lisa. Tidak ada siapa-siapa hanya ada tanaman. "Mana? Gak ada. Sudah kita masuk saja ya. Masih pagi buta. Nanti aku antar kamu ke rumah Elis."
"Tapi Kak, itu Elis. Sekarang dia melambaikan tangan ke aku." Lisa berhasil melepaskan tangannya dari Rizal. Dia kini mengikuti bayangan Elis. Awan hitam sudah mulai berganti menjadi awan putih. Lisa semakin yakin bahwa sosok yang berjalan cepat di depannya itu adalah Elis.
"Lisa!!" Rizal kini mengikuti Lisa. "Lisa udah, ayo kita balik." perasaan Rizal mulai tidak enak. Dia sama sekali tidak melihat sosok Elis yang Lisa kejar.
"Elis tunggu, aku mau bicara sama kamu." Lisa semakin mempercepat langkahnya melewati jalan setapak di tengah tanaman cabai.
Mereka semakin jauh. Rizal tidak berhasil membawa Lisa kembali.
__ADS_1
Kini Lisa tersadar bahwa jalan yang dia lalui adalah jalan pintas menuju pemakaman. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Tenggorokannya terasa kering bahkan kini Lisa seperti bisa mendengar suara napasnya sendiri. Dia mulai takut. Apa Elis yang dia ikuti itu bukan manusia?
Satu genggaman tangan Rizal kini menguatkannya. Dia tidak sendiri. Masih ada Rizal yang menemani. Kini dia lanjutkan langkahnya megikuti Elis yang belum saja hilang dari pandangannya. Berjalan di antara batu nisan dengan hawa dingin yang semakin terasa menusuk.
Lisa menghentikan langkahnya saat melihat sosok Elis menunjuk sebuah batu nisan.
"Aku pamit Lisa. Maafkan aku..."
"Elis! Elis, maksud kamu apa?" mata Lisa membulat saat melihat nama di atas batu nisan itu. Elisa. Bahkan tanggal lahir sama dengan tanggal lahir Elis. "Gak mungkin. Gak mungkin kamu udah...." Lisa kini menangis sambil terduduk di tanah karena lututnya terasa lemas.
Rizal berusaha menahan tubuh Lisa.
"Aku pergi. Sekali lagi maafin aku."
"Elis!! Nggak kamu jangan pergi!!" Lisa semakin histeris.
"Lisa udah ya. Kita balik sekarang." Rizal ingin membantu Lisa berdiri tapi tubuh Lisa justru semakin melemas. "Lisa!!" Rizal kini memeluk Lisa yang sudah tidak sadarkan diri. "Lisa bangun!!" Rizal menepuk pipi Lisa sesaat berniat untuk membangunkan Lisa dari pingsannya tapi gagal.
Rizal kini mengangkat tubuh Lisa dengan sisa tenaganya. Dia melangkah keluar dari pemakaman. "Lisa, ayo bangun. Lis.." panggil Rizal berkali-kali. Lisa masih saja memejamkan matanya. "Lis..." Langkah Rizal terasa berat. Tenaga dan pikirannya memang terlalu dikuras sejak kemaren. Dia kini hampir terjatuh walau masih bisa menahan tubuh Lisa. Beruntung akhirnya Lisa membuka matanya. "Lis, Lisa..." Rizal membantu Lisa menegakkan tubuhnya.
Lisa sedikit memegang kepalanya yang pusing. Kejadian barusan seperti mimpi. "Kak Rizal, Elis..."
"Kalau itu memang sudah terjadi, ikhlaskan dan maafkan segala kesalahannya. Biar dia tenang." kata Rizal sambil menghapus sisa-sisa air mata Lisa
Ucapan Rizal sedikit menenangkan Lisa.
"Nanti kita ke rumah Elis untuk mastiin apa yang sebenarnya terjadi." Rizal merangkul Lisa dan membantunya berdiri.
Lisa menganggukkan kepalanya. Dia mengerti, dia harus bisa mengikhlaskan apa yang sudah menjadi takdir.
"Kuat jalan?" tanya Rizal walaupun sebenarnya Rizal juga sudah tidak sanggup menggendong Lisa.
Lisa menganggukkan kepalanya.
Rizal merangkul Lisa sambil berjalan pelan kembali ke rumah Kakek Dirman.
__ADS_1
Kehilangan seseorang itu memang menyakitkan tapi kita tidak bisa melawan takdir. Umur sudah ditentukan, tinggal kita menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya walau terkadang cobaan silih berganti menghampiri.