
"Tiiinnnn!!!" Suara klakson yang cukup keras dengan bunyi rem yang berdecit karena dipaksa berhenti seketika, tak membuatnya takut dan menghindar.
"Andi!!!!!"
Mas Asep, sopir Pak Bambang berhasil menarik tubuh Andi menghindar dari tabrakan mobil box. Mas Asep merangkulnya kembali ke depan rumah sakit dimana Pak Bambang berdiri dengan sangat cemas. Untung saja Pak Bambang melihat putranya itu saat berdiri di tengah jalan.
"Apa yang kamu lakukan, nak? Ayo kita kembali ke kamar kondisi kamu masih lemah." Pak Bambang kini berganti merangkul Andi.
Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Saya... Saya mau mati saja."
Pak Bambang seketika memeluk tubuh Andi. Dia merasa ini bukan Andi yang biasanya. "Kamu bicara apa? Kamu masih bisa memperbaiki semuanya. Kamu masih punya Papa."
Memperbaiki semuanya?? Ya, aku harus bisa memperbaiki semuanya dengan cepat.
"Kita kembali ke kamar ya." Pak Bambang melepas pelukannya dan merangkulnya berjalan kembali ke kamar. "Kamu sudah diberi kesempatan kedua. Ini saatnya kamu berbuat baik. Papa sangat bersyukur kamu selamat dari kecelakaan itu."
...***...
Seminggu telah berlalu...
Kini Rizal yang ada dalam tubuh Andi mulai masuk kuliah. Dia datang diantar Mas Asep karena sepeda motornya sudah rusak parah. Saat memasuki kampus, Rizal mendapati tatapan dari para mahasiswa. Lukanya juga masih diperban karena belum sepenuhnya mengering. Tak jarang juga terdengar beberapa obrolan dari para mahasiswa tentang tragedi kecelakaan itu.
"Memang, kita gak bisa tebak takdir. Padahal dari vidio yang tersebar, luka Andi sangat parah. Kepalanya terbentur aspal loh. Tapi malah Rizal yang koma."
"Iya, ya. Kasian banget Rizal. Ternyata Andi itu musuh dalam selimut."
"Eh, ada orangnya tuh. Udah jangan pada ghibah."
Walau mendengarnya, Rizal tak peduli. Dia kini masuk ke dalam ruang senat untuk menyelesaikan tugas-tugas yang mungkin sudah menumpuk.
"Maaf Pak, saya baru bisa datang hari ini."
Pak Heru yang saat itu sedang berada di dalam ruangan sedikit terkejut. "Andi? Kamu sudah sembuh?"
__ADS_1
Dia mengangguk. "Saya akan lanjutkan tugas yang belum saya selesaikan dan saya sudah punya rencana kegiatan kampus bulan depan. Saya akan segera buatkan proposalnya."
"Kamu sudah ada rencana kegiatan?"
"Iya, saya sudah ada satu rencana." lalu dia duduk dan membuka laptopnya.
Pak Heru terus menatap Andi. Beliau seperti merasakan kehadiran Rizal. Apa karena kejadian itu Andi sudah berubah? Semoga saja peristiwa itu menjadi pelajaran berharga buat Andi.
"Silvi, tolong kamu ketik ini..." Rizal menjelaskan rencana kegiatan dan meminta Silvi selaku sekretaris senat untuk membantunya membuat proposal.
Silvi mendengarkan penjelasannya dengan saksama. "Baik Kak Rizal." Ya, biasanya yang menerangkan tugas secara mendetail hanyalah Rizal. Silvi menutup bibirnya sesaat. "Maaf, maksud aku Kak Andi."
Rizal menghela napas panjang sambil menopang dagunya walau tatapannya masih fokus pada laptop. Sampai kapan ini berlalu. Bahkan ini sudah satu minggu. Tapi keadaan tetap sama. Aku harus berbuat apa lagi.
Andri tergesa masuk ke dalam ruang senat. "Rizal lo udah masuk?" pertanyaan itu membuat beberapa pasang mata menatap ke arahnya. "Maaf, Andi. Gue kira lo Rizal. Gaya dia kalau lagi serius di depan laptop sama kayak lo." Andri kini duduk sambil menatap gerak-gerik Andi. "Ini cuma perasaan gue atau apa ya? Kenapa tingkah Andi udah kayak Rizal. Apa saking khawatirnya gue sama Rizal sampai kebawa-bawa kayak gini."
"Ada apa?"
"Kenapa lo malah bengong? Lo mau gantiin gue ngetik. Sini, gue persilahkan." Rizal berdiri lalu keluar dari ruang senat.
"Bahkan ngeselinnya sama persis. Kalau Andi mana mungkin bilang gitu sama gue." Andri masih tidak percaya dengan kebetulan ini.
...***...
Lisa, aku kangen banget sama kamu. Sudah hampir dua minggu berlalu tapi keadaan masih tetap sama. Selama itu juga Rizal masih belum berani bertemu Lisa. Dia takut menghadapi kenyataan bahwa Lisa sangat membencinya.
Lisa... Dia melihat Lisa sedang duduk di bangku taman belakang kampus sendirian. Lisa menangis. Ya, air mata itu masih saja sering terjatuh di pipi Lisa. Dia mendekati Lisa. Ingin sekali rasanya dia menghapus air mata itu dan memeluknya. Dia berjalan mendekat tangan itu sudah mendekat di pipi Lisa tapi Lisa dengan cepat menepisnya.
"Mau apa lo?" Lisa berdiri dan menatapnya dengan penuh kebencian. "Lo pergi!! Gue gak mau lihat lo."
"Aku cuma mau..."
"Lisa.." Dewa berlari ke arah Lisa dan menarik tangan Lisa agar menjauh. "Mau apa lo. Mau cari kesempatan?! Gue gak akan biarin lo ganggu Lisa."
__ADS_1
"Wa, tolong lo jagain Lisa." Setelah itu dia membalikkan badannya dan pergi.
Kalimat itu...
"Wa, anterin gue ke rumah sakit dulu ya." Lisa menarik Dewa agar berjalan dengan cepat.
...***...
Semua masih tetap sama. Belum ada kemajuan dari kondisi Rizal. Lisa kini duduk di sebelah brangkar sambil mengusap rambut Rizal. "Kak, sudah hampir dua minggu loh Kak Rizal belum bangun. Kak Rizal gak capek tidur terus? Aku udah kangen banget ingin ngobrol sama Kak Rizal. Cepat bangun ya." Lisa meletakkan kepalanya di lengan Rizal dengan tangan kanan yang memeluknya. "Kak, aku sangat cinta sama Kak Rizal. Jangan tinggalin aku sendiri."
Lisa kembali menegakkan dirinya tapi tanpa sengaja dia melihat seseorang yang sedang mengintip di kaca pintu. "Kayak Andi?"
Lisa berdiri. Dan seperti biasa dia selalu mencium kening Rizal sebelum keluar.
"Ngapain lo di sini?" tanya Lisa setelah keluar dari ruang ICU dan masih melihat Andi berdiri di dekat pintu.
"Lisa aku..." Rizal tidak tahu akan bicara apa.
"Lis, sorry gue dari toilet." Dewa berjalan mendekati Lisa. Dia kini menatap Andi. "Lo ngapain di sini? Ngikutin kita?"
Tiada jawaban.
"Suster, tolong jaga ruangan ini jangan biarkan dia masuk ke dalam." kata Lisa pada suster yang kebetulan akan mengecek keadaan Rizal.
Setelah itu Lisa membalikkan badannya dan pergi.
"Wa, makasih lo udah jaga Lisa."
Dewa menatap Andi yang berdiri di depannya. Kata-kata itu jelas bukan milik Andi. Itu adalah kalimat yang selalu diucapkan Rizal saat menyuruhnya untuk menjaga Lisa. "Rizal? Lo Rizal?" Ah, gue gila... Mana mungkin Andi adalah Rizal.
"Dewa, ayo." panggil Lisa.
"Iya." jawab Dewa lalu dia membalikkan badannya dan berjalan cepat mengejar Lisa. Dia masih memikirkan kalimat itu. Kalimat yang sudah biasa dia dengar dari Rizal. Hanya dari Rizal......
__ADS_1