
Lisa keluar dari UKS terlihat Bu Isti sedang berbicara dengan Rey.
Rey? Ternyata dia ngikutin gue? Lisa mempercepat langkahnya saat mendapati tatapan Rey. Bahkan kini Rey mulai menyusul langkah Lisa lagi. Kecepatan langkah Lisa kalah dengan Rey. Rey kini berjalan sejajar di samping Lisa.
"Kenapa pacarnya?"
"Lo ngikutin gue?" Lisa tidak menjawab pertanyaan Rey. Dia justru bertanya, tanpa melihat Rey dengan langkah kaki yang masih cepat menuju kelas.
"Iya, karena gue penasaran lo mau kemana? Gak boleh?"
"Iya, gak boleh. Gue juga punya privasi. Dan satu hal lagi," Lisa kini menghentikan langkahnya walau masih sama, tanpa menatap Rey. "Maaf, kita gak bisa kayak dulu lagi. Sekarang, ada seseorang yang harus gue jaga perasaannya."
Kalimat Lisa membuat Rey sangat kecewa. "Lalu perasaan gue?"
Lisa menatap Rey sesaat lalu dia pergi. Entah kenapa Lisa begitu tidak tega. Hatinya menjadi sangsi lagi. Hindari Rey, hindari Rey. Dia tekankan kalimat itu dalam hatinya agar dia berhasil menghindari Rey kali ini.
Rey tidak mengejar Lisa lagi. Dia kini menatap punggung Lisa yang kian menjauh dan berbelok ke lorong kelas. Dia kepalkan kedua tangannya di sisi celana. Dia kecewa. Dia marah. Gue gak akan berhenti perjuangin cinta gue, Lisa. Ingat itu...
"Rey, hari ini kita ada latihan di aula buat persiapan pensi. Sepulang sekolah kita kumpul di sana." tepukan tangan Dewa membuyarkan lamunan Rey.
Rey mengendorkan ototnya yang menegang. "Oke. Peralatan sudah ada?"
"Ada dong. Peralatan musik sudah lengkap di sini. Makanya lo ikut ekskul musik, tuh sama Reno."
Reno kini mengimbangi langkah pelan mereka menuju kelas. "Gue sama Rey doang? Jadi grup duo R gitu? Dari dulu anak di kelas kita mana ada yang mau main musik. Lo aja yang suka nyanyi gue ajak buat grup band gak mau."
"Gue takut aja, ntar kalau gue yang jadi vokalis cewek-cewek pada tergila-gila sama gue." Dewa tertawa dengan pedenya.
"Heleh, padahal baru Karin aja yang ngejar-ngejar lo. Yang lain mah gak ada. Jangan kepedean. Rey, kalau lo pulang kampung, gue ikut. Gue mau meguru sama Kakek Dirman biar cewek-cewek terpesona sama gue." ucapan ceplos Reno membuat Dewa dan Rey menghentikan langkahnya. Reno kini mendapati dua pandangan mata yang sedikit tajam.
Tapi Rey malah tertawa untuk mengalihkan perhatian. " Lo masih ingat sama kakek gue. Kakek gue udah pensiun. Udah tua. Udah sering pikun."
Mereka melanjutkan langkah mereka dan masuk ke dalam kelas. "Wah, sayang sekali yah. Padahal kata nenek gue, kakek lo itu legend banget. Namanya terkenal sampai keluar kota. Secanggih itu mantranya."
Rey tertawa lagi, "Itu dulu. Jaman sekarang mana ada yang percaya."
Dewa duduk di tempatnya. Dia terdiam sesaat dan berpikir. Dia tidak mungkin bertanya lebih jauh, karena sekarang terdengar Rey sudah mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
...***...
"Lis, ikut liat latihan buat persiapan pensi yuk?" ajak Karin sambil memakai tasnya saat pulang sekolah.
Lisa tidak langsung menjawab ajakan Karin.
"Pasti ada Kak Rizal." Bisik Karin yang secara otomatis membuat Lisa menganggukkan kepalanya. Karin langsung menggandeng Lisa dan berjalan keluar dari kelas.
"Lis..." Rey akan memanggil dan menyusul Lisa tapi Dewa malah merangkulnya dan mengajaknya berjalan dengannya dan Reno.
"Rey, udah nentuin lagu yang bakal lo nyanyiin kan?" Basa-basi Dewa yang sebenarnya hanya untuk menjauhkan Rey dari Lisa.
"Udah." lalu mereka bertiga berjalan sambil berbincang seputar musik.
Lisa dan Karin masuk ke dalam aula. Pandangan mata Lisa langsung tertuju pada Rizal yang sedang duduk bersandar tembok sambil memijat kepalanya sendiri.
"Sana samperin." Karin menyenggol pundak Lisa agar berjalan mendekati Rizal.
Lisa kini mendekati Rizal.
"Tuh, ada siapa yang datang. Pusingnya ilang dong." kata Evan sambil memberi duduk pada Lisa.
Lisa duduk di samping Rizal sambil menggelengkan kepalanya.
"Bentar lagi pulang sama aku yah. Biar mereka lanjut latihan sendiri."
Rizal mendapat satu lemparan kertas dari Evan saat mendengar ajakannya pada Lisa. "Lo pulang karena sakit atau mau pacaran."
"Dua-duanya." jawab Rizal dengan entengnya.
"Wah, ini lo nambah tugas gue terus." Evan kini naik ke atas panggung aula. "Pengumuman-pengumuman buat calon ketua OSIS baru, ada satu peraturan baru. Dilarang pacaran, biar fokus sama kinerjanya!!"
Kini satu lemparan kertas didapat Evan dari Rizal ditambah lemparan-lemparan lain. "Kalian tega aniaya gue." Evan kini duduk di depan panggung dengan memelas.
"Bener tuh!!" Sofi datang dan kini berdiri di sisi Lisa. "Lisa, lo itu jadi cewek jangan kecentilan deh, sama siapa aja mau. Udah punya Rizal juga masih aja tebar pesona."
Evan kini berdiri dan menyeret Sofi. "Maaf-maaf. Durasi. Jangan bertengkar di sini."
__ADS_1
"Apaan sih lo. Lo gak kasian sama temen lo sampai sakit gara-gara mikirin ceweknya."
"Sssttt." Evan menutup mulut Sofi dengan telunjuknya. "Itu urusan rumah tangga mereka.Kita benahi dulu yuk rumah tangga kita."
"Ngaco!!" Sofi melepas paksa tangannya dari Evan. "Gue mau ngurus anak dance dulu ketimbang ngobrol sama orang gak waras." Sofi berjalan cepat menuju teman-teman dancenya.
"Udah gak usah didengerin omongan Sofi." kata Rizal yang mendapati raut wajah Lisa yang berubah.
"Kak Sofi benar. Aku yang salah."
Rizal menggelengkan kepalanya sambil mengusap pipi Lisa pelan.
Rey yang saat itu berjalan bersama Dewa dan Reno tanpa sengaja tersandung saat melihat Lisa yang sedang bersama Rizal.
"Makanya kalau jalan itu liat jalan jangan liat orang pacaran." kata Dewa sengaja menertawai Rey. "Tuh, masih ada Novi, Reva dan cewek cantik lainnya. Jangan nunggu jandanya Lisa."
"Karena cinta itu harus diperjuangkan." kata Rey dengan semangat dan dia kini duduk sambil mengambil gitar. Lalu mulai memainkannya dan bernyanyi.
Lisa yang masih berada di tempat itu tidak bisa menahan untuk tidak melihat Rey.
"Pulang yuk?" ajak Rizal yang kini berdiri sambil menggandeng tangan Lisa.
"Eh, iya." Lisa berdiri dan masih sempat beberapa kali menoleh Rey.
Rey menatap tajam kepergian Lisa bersama Rizal. Genggaman tangan Rizal pada Lisa membuat hatinya sakit. Tapi tak mengapa walau sakit berkali-kali, Rey tidak akan menyerah.
"Rey, bucin banget sama Lisa." kata Sofi yang kini menonton Rey sambil melipat tangannya di belakang teman-teman ceweknya yang terpesona dan bersorak melihat Rey. Dia tau sedari tadi Rey masih saja melihat Lisa. Bahkan sampai Lisa menghilang bersama Rizal.
"Lo sendiri apa?" kata Evan yang kini berada di samping Sofi.
"Gue cewek pake perasaan. Dia cowok harusnya bisa pake logika."
"Emang lo pikir cowok gak punya perasaan." perkataan Evan berhasil membuat Sofi menatapnya.
"Maksud gue bukan gitu." Cepat-cepat Sofi membuang pandangannya.
"Tapi gue akui, Rey saingan yang berat buat Rizal. Lo dengar suaranya. Bahkan cewek-cewek di sini aja pada terpesona. Rizal mana bisa nyanyi kayak gitu."
__ADS_1
"Ya, kali ini lo benar..."