Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
BonChap


__ADS_3

"Evan, selamat ya. Selamat menempuh hidup baru." Rizal bersalaman dengan Evan lalu memeluk sesaat sahabat lamanya ini saat berdiri di atas pelaminan. Ya, hari itu adalah hari pernikahan Evan dan Sofi.


"Makasih, brother."


Di sebelah Rizal ada Lisa yang sedang menggendong Rasya.


"Hallo Rasya. Aduh ganteng banget, udah gede sekarang." Sofi sedikit mencubit pipi Rasya yang memang sudah berusia 20 bulan waktu itu.


"Moga kalian cepat dapat momongan ya. Jangan lupa nanti malam langsung gaspoll." Rizal tertawa menggoda Evan.


"Wah, tenang Zal. Biar kejadian lo gak terulang ke gue. Semua hp gue matiin."


Sofi menyenggol lengan Evan. "Van, masih gak bisa dipake selama 4 hari ke depan."


"Lah, sayang kok gitu?" Tapi detik kemudian Evan mengerti maksud Sofi. "Wah, lo kebangetan Zal, ngutuk gue kayak gini."


Rizal dan Lisa tertawa bersamaan.


"Selamat merenungi nasib Pak Tentara."


Evan memanyunkan bibirnya.


"Udah.. Kan, seminggu lagi kita honeymoon ke Bali." Sofi menggandeng tangan Evan mesra yang membuat wajah Evan kembali sumringah lagi.


"Bucin parah emang sekarang kalian."


"Kan, kalian berdua yang ngajarin." ucap Evan dan Sofi secara bersamaan.


Rizal kembali tertawa lalu mereka turun dari pelaminan dan duduk semeja dengan Dewa dan Karin.


"Rasya, sini ikut Om."


"Om Ewa. Om Ewa." Rasya selalu ingin ikut Dewa saat melihatnya.


Sejak Rasya lahir, Dewa memang sering berkunjung ke rumah Rizal untuk sekedar main bersama Rasya. Mereka memang sudah dekat sejak Rasya dalam kandungan.


"Cepat nyusul, biar cepat punya momongan." Kata Rizal yang melihat sepasang kekasih ini belum juga ada kabar menikah.


"Iya, sebulan lagi. Doain ya." Kata Dewa sambil memangku Rasya.

__ADS_1


"Gitu dong. Kita kan jadi ikut senang dengarnya."


"Tapi setelah nikah, kita mau pindah ke Surabaya. Kebetulan pekerjaan Papa dan gue sama-sama di Surabaya. Ya, sekalian aja kita pindah ke sana semua."


"Wah, bakal sepi dong. Gak ada pengasuh Rasya gratisan."


Mereka berempat kembali tertawa.


"Rasya, nanti kalau anak Om cewek mau ya jadi mantu Om."


"Dewa, Rasya masih balita. Jangan ngomongin mantu dulu."


Mereka ngobrol bersama sambil tertawa lepas.


...***...


Malam itu, Lisa masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu kamarnya.


"Sayang, Rasya mana?" tanya Rizal yang kini sedang duduk bersandar di atas tempat tidur sambil memangku laptopnya.


"Rasya diajak tidur sama Mama. Katanya kangen, lama gak tidur bareng."


Lisa berjalan mendekat. Dia mengambil laptop Rizal lalu meletakkan di atas nakas.


"Sa..." belum sempat Rizal berkata, Lisa sudah menempelkan bibirnya di bibir Rizal. Bahkan kini dia sudah naik ke pangkuan Rizal. Mereka mulai bermain dengan bibir. Ciuman mereka semakin memanas.


"Sayang, kamu sekarang agresif banget, tambah suka." Rizal meraih tubuh Lisa dan mulai bermain nakal. "Kamu mau yang memimpin olahraganya?"


Lisa memutar bola matanya. Dia tersenyum menggoda. "Hmm, boleh sekali-kali."


"Berkali-kali juga gak papa." Rizal sangat antusias.


Mereka melepaskan seluruh pakaian yang melekat. Mulai memadu cinta yang selalu menjadi candu.


"Kalau kayak gini, aku benar-benar jadi budak cinta kamu sayang." Rizal merasakan sensasi yang lebih dari biasanya saat melakukan woman on top waktu itu.


Lisa tersenyum sambil menangkup pipi Rizal. Mereka saling menatap dengan penuh gelora hingga mencapai kenikmatan bersama.


Kini Lisa merobohkan dirinya di atas Rizal.

__ADS_1


"Sayang capek?" tanya Rizal sambil mengusap punggung Lisa yang berkeringat.


Lisa hanya menggeleng.


"Sayang gak ada yang aneh kah? Akhir-akhir ini kamu lebih agresif loh. Jangan-jangan ada adiknya Rasya. Kayaknya kamu udah telat."


Lisa mendongak menatap Rizal. "Aku sendiri lupa loh. Emang udah telat 2 minggu lebih. Masak iya? Tapi aku gak mual sama sekali."


Rizal mengusap rambut Lisa dengan lembut. "Bawaan orang hamil kan beda-beda. Tapi sebenarnya aku masih trauma lihat kamu kesakitan waktu melahirkan."


"Masak sih? Kalau buatnya trauma gak?"


Rizal tertawa. "Ya, gak bisa kalau gak tergoda. Emang kamu udah lupa sakitnya."


Lisa tersenyum malu. Dia justru berbisik di telinga Rizal. Kan udah sering dikasih kenikmatan jadinya lupa.


"Sayang, kamu hebat loh. Besok kita periksa ya. Pasti adik Rasya ini cewek."


"Kok yakin?"


"Iya, soalnya gak mau pisah sama Papinya sejak dalam kandungan. Kan cinta pertama seorang anak perempuan adalah Papinya."


"Ya, semoga saja. Rili kita beneran lahir ke dunia ini."


Mereka kembali berpelukan dan kembali mengucap kata cinta yang tidak pernah bosan mereka ucapkan.


💞💞💞


Hahahaha.. bonchapt nya dikit aja ya...


Yuk, gasken ke seasion 2.


Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)


Bisa langsung masuk ke profil author atau ke pencarian, tinggal ketik Rili. Tetap jadikan Favorit ya... 😘


Udah ada 3 episode..


__ADS_1


__ADS_2