Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Karena Cinta (2)


__ADS_3

Karin menahan tangan Dewa agar Dewa berhenti mengejar Lisa. Dewa kini menoleh Karin, “Kenapa?”


“Kalau lo memang cinta sama Lisa lepasin tangan gue dan kejar dia.”


Dewa mengernyitkan dahinya. Dia memilih untuk melepaskan tangan Karin. “Ini bukan soal cinta.” Dewa akan melanjutkan langkahnya tapi terhenti. Dia mengubah niatnya untuk mengejar Lisa. Dia kini membalikkan badannya dan melihat Karin yang masih berdiri menatapnya sayu.


“Ikut gue!” Dewa menarik tangan Karin agar dia mengikutinya. Dewa melihat sudah tidak ada motor Reno di tempat parkir. Mungkin dia sudah pulang terlebih dahulu. Dewa naik ke atas motornya. “Ayo!” ajak Dewa.


Karin menuruti Dewa. Dia naik ke boncengan Dewa.


“Jangan deket-deket, baju gue masih basah ntar lo juga ikut basah.”


“Apa lo gak dingin?” Tanya Karin tapi Dewa justru melajukan motornya tanpa menjawab pertanyaan Karin.


Dingin, memang itu yang dirasakan Dewa. Tapi kini pikirannya tidak fokus dengan rasa dingin itu. Dia ingin mengakhiri kesalah pahaman selama ini.


Dewa menghentikan motornya di sebuah taman. Cukup sepi, hanya ada beberapa orang malam itu. Dewa memarkir motornya lalu mereka berdua berjalan ke taman.


Masih dengan wajah seriusnya, Dewa kini duduk bersandar di bangku taman sambil melipat tangannya.


“Kenapa lo ajak gue ke sini?” tanya Karin sambil duduk di sebelah Dewa.


Hanya ada helaan napas Dewa yang terdengar. Beberapa detik kemudian Dewa mulai bersuara. “Apa gue salah ngelindungi Lisa? Karena cuma itu yang bisa gue lakuin setelah Kakak gue meninggal. Gue harus bisa jagain sesuatu yang udah Kakak gue kasih ke Lisa.”


Karin melebarkan matanya. Dia terkejut mendengar cerita Dewa. “Maksud kamu Kak Dewi yang pernah kamu ceritain dulu itu udah....” Karin menghentikan perkataannya.


Dewa mengangguk. “Ini semua ada kaitannya dengan Rizal, orang yang sengaja mencelakai Kak Dewi itu adalah fans berat Rizal. Bahkan gue rasa sampai saat ini gak ada yang boleh deketin Rizal. Makanya Lisa selalu dalam bahaya.”


Karin mendengar dan terus menatap Dewa bercerita.


“Gue gak mau lo salah paham sama gue terus. Gue juga gak mau lo marah lagi sama Lisa atau pun gue.” Dewa kini beralih menatap Karin.


“Iya, gue minta maaf. Gue gak tau apa-apa tentang masalah ini. Gue kira lo beneran jatuh cinta sama Lisa.”

__ADS_1


Dewa menatap Karin lebih dalam. Dia kini mengusap pipi Karin dengan tangannya yang dingin. “Lo gak tau, betapa sulitnya gue menutupi semua perasaan gue demi lo dan Reno.”


Karin sedikit terkejut dengan perkataan Dewa. Apa benar Dewa mencintainya?


“Reno sahabat gue, gue gak mau nyakitin perasaannya.” Sambung Dewa.


“Tapi lo nyakitin gue?” Karin menyingkirkan tangan Dewa lalu membuang wajahnya. Matanya terasa panas. Dia tidak bisa lagi menahan tangisnya. “Lo tau gak, gue itu cinta sama lo. Dari dulu bahkan sampai saat ini. Lo gak mau ngerti perasaan gue. Lo lebih mentingin perasaan orang lain daripada gue. Lo....” Karin tidak melanjutkan perkataannya lagi. Hanya isak tangis yang kini terdengar. Bahkan dia masih saja membelakangi Dewa.


“Lo juga gak tau, gimana sakitnya hati gue saat gue harus berpura-pura dukung lo sama Reno. Gue salah, gue emang pengecut yang gak berani ngakuin perasaan gue sendiri kalau gue itu cinta sama lo.”


Karin kini membalikkan badannya dan langsung memeluk Dewa dengan erat tidak peduli lagi dengan pakaian Dewa yang basah.


“Karin baju gue masih basah.”


Karin menggelengkan kepalanya.


“Akhirnya gue tau perasaan lo. Akhirnya cinta gue terbalaskan. Setelah sekian lama gue hanya bisa pendam perasaan ini.”


Dewa membalas pelukan Karin. Hangat, yang dia rasakan. Rasa dingin itu seketika lenyap. “Tapi... Gimana dengan Reno?”


Mereka berdua terkejut saat melihat Reno sudah berdiri di hadapannya.


“Hidup itu simple, gak usah dibuat rumit. Kalian saling mencintai kenapa masih mikirin perasaan gue yang bertepuk sebelah tangan. Sekali-kali hidup harus egois. Pentingin diri lo sendiri, kalau bukan lo sendiri yang bahagiain diri sendiri, siapa lagi?”


“Reno, sejak kapan lo..”


Reno mengangkat tangannya memberi isyarat agar Dewa tidak berdiri.


“Sorry, gue sengaja ngikutin kalian. Ya, gue nguping semua pembicaraan kalian. Tenang saja, kalian tetap sahabat gue yang terbaik.” Reno membalikkan badannya dan melambaikan tangan.


Tampak kelegaan di wajah Dewa. Dewa mengusap wajahnya, dia sempat berpikir Reno akan marah.


Karin tersenyum, dia sendiri juga lega karena akhirnya semua terungkap.

__ADS_1


“Gue pikir, Reno akan marah sama gue.”


“Mana mungkin, sebenarnya Reno juga udah tahu semuanya. Dia yang selalu nyuruh gue buat jujur sama lo.”


Mereka kini tersenyum dan saling menatap.


“Baju lo basah kan jadinya.”


Karin menggelengkan kepalanya. “Gak papa.”


Mereka masih saja bertatapan dengan penuh perasaan. Cinta yang selama ini terpendam akhirnya tumbuh dan bermekaran.


“Kita pulang yuk?!”


Ajak Dewa yang hanya dibalas, “Hmmmm...” oleh Karin.


“Kenapa? Masih pengen lama-lama sama gue?” goda Dewa yang membuat pipi Karin merona.


Karin mencubit pinggang Dewa. “Apaan sih! Tiap hari juga ketemu dari dulu sampe sekarang kecuali hari minggu dan tanggal merah.”


Dewa terkekeh mendengar penjelasan Karin. Dia kini merangkul Karin, “Itu hari kemaren saat kita jadi sahabat, sekarang kan kita pacaran.”


“Ya, Cuma beda di status aja.”


“Beda di status?” tangan kanan Dewa masih merangkul Karin sedangkan tangan kirinya kini menyentuh pipi Karin agar Karin mendekatkan wajahnya. “Gimana kalau status dan perlakuan yang berbeda.” Dewa kini mendekatkan wajahnya, semakin dekat dengan wajah Karin.


Karin merasa sulit bernapas, badannya menegang. Apa yang akan dilakukan Dewa? Karin hanya pasrah dan memejamkan matanya.


“Fiuuuhhh..”


Hanya tiupan yang berhasil menyapu wajahnya. Seketika Karin membuka matanya diiringi dengan tawa Dewa.


“Gitu aja udah tegang banget.”

__ADS_1


Karin memanyunkan bibirnya lalu membuang muka.


“Sorry, gue Cuma bercanda. Pulang yuk.” Dewa berdiri lalu menggandeng tangan Karin. Mereka berjalan menuju tempat parkir sambil sesekali terdengar suara tawa mereka.


__ADS_2