
"Lisa, selamat datang di rumah kita." Bu Ela menyambut kedatangan Lisa setelah pulang dari bulan madu. "Semoga betah ya tinggal di sini." Bu Ela merangkul Lisa masuk ke dalam rumah.
"Iya, Ma."
Di belakang mereka ada Rizal yang berjalan bersama Pak Alan.
"Gimana Zal? Udah berapa ronde?"
Rizal hanya tertawa. Tentu saja sudah beronde-ronde.
Setelah mereka meletakkan barang-barangnya dan istirahat sejenak. Mereka makan malam bersama. Tak terkecuali Pak Edi dan Bu Reni. Mereka berenam berkumpul di rumah Rizal. Tertawa bersama dan berbahagia merayakan kepulangan sepasang pengantin baru ini.
"Capek." Setelah acara makan malam selesai dan beberes, Lisa merebahkan dirinya di kamar Rizal. Tentu saja, yang sekarang juga telah menjadi kamarnya. Dia menebar pandangannya ke seluruh kamar. Kamar yang cukup besar dan rapi.
Rizal masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu. Dia berjalan dan menyusul istrinya yang tengah berbaring di ranjangnya.
"Sayang, selamat datang di kamar aku." Rizal tersenyum sambil menatap Lisa. "Gimana? Kalau kurang nyaman kamu bisa tata semau kamu."
"Udah cukup kok. Yang penting..."
"Kita tidurnya berdua pasti udah nyaman." Rizal memotong perkataan Lisa.
Lisa hanya tersenyum. Ya, itu memang salah satunya.
Rizal kembali mendekatkan dirinya. Dia mencium bibir yang sudah menjadi candu itu secara singkat dan dalam.
"Kak, tadi emang masih kurang? Udah berapa kali?"
Rizal mengangkat kedua jarinya tapi lalu Lisa menambah satu jari Rizal.
"Kak Rizal lupa satunya pas habis makan siang. Sampai sakit lagi rasanya."
Rizal tersenyum sambil mengusap rambut Lisa. "Untuk hari ini cukup, maaf ya sampai nambah-nambah. Tapi kalau besok dan seterusnya ya masih kurang. Kamu itu bikin nagih." Kemudian Rizal bangun dan menurunkan kakinya. "Kamu tidur dulu ya, aku mau nyiapin bahan buat pengajuan judul skripsi besok." Lalu Rizal berjalan menuju meja belajarnya. Mengambil beberapa buku tebal lalu duduk dan membuka halaman demi halaman.
Lisa mengikuti Rizal. Dia kini berdiri di belakang Rizal sambil bergelayut di lehernya.
"Senangnya kalau udah punya istri. Biasanya aku belajar cuma ditemani suara detik jam. Sekarang ada yang manja di belakang aku." Kata Rizal tanpa memecah fokusnya merangkum beberapa poin penting dan mencatatnya di bukunya.
"Sampai sekarang kalau lihat Kak Rizal ngerjain tugas, aku masih kagum. Cepat banget. Emang otak Kak Rizal pentium berapa ya?"
"Pentium?" Rizal tertawa. Lalu dia meraih tubuh Lisa agar duduk dipangkuannya.
__ADS_1
"Kak, maaf aku ganggu." Lisa ingin berdiri tapi di cegah oleh Rizal.
"Gak kok. Nih, aku masih bisa fokus dan nulis." Ya, tangan kirinya masih bisa membuka lembar halaman sedangkan tangan kanannya masih tetap menulis rangkuman.
Sedangkan Lisa, dia malah fokus pada wajah Rizal.
"Kalau ada kamu di sini, aku malah semangat sayang." Dia berhenti menulis sesaat lalu membelai rambut Lisa. "Dulu pernah sekali aku down, waktu kamu dekat sama Rey. Aku benar-benar gak fokus buat ngerjain tugas, tugas OSIS, tugas sekolah semua berantakan. Sampai badan aku tumbang. Itu dulu, ya untung masalah cepat selesai." Rizal menghela napas panjang. "Dan sekarang aku sudah bahagia bisa bersama kamu." Rizal mengeratkan pelukannya.
"Kak, udah ya. Aku tidur dulu. Nanti Kak Rizal jadi gak selesai-selesai." Lisa mengecup singkat bibir Rizal. "Semangat ya.." Lalu dia turun dari pangkuan Rizal dan beralih ke ranjang.
"Udah ada spirit kiss dari kamu pasti aku semangat, biar cepat lulus."
Lisa tersenyum. Dia kini memeluk guling dan menaikkan selimutnya. Tak butuh waktu lama Lisa sudah terbang ke alam mimpi.
Rizal menoleh Lisa yang sudah tertidur pulas sambil tersenyum. "Pasti hari ini kamu capek banget. Tidur yang nyenyak sayang." Setelah itu dia kembali fokus pada tugasnya.
...***...
Malam tlah berlalu, pagi itu Rizal terbangun dan dia melihat Lisa sudah tidak ada di sampingnya. Dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 05.30. "Lisa bangun jam berapa? Kok udah gak ada." Rizal bangun dan duduk beberapa saat di sisi ranjang. "Jangan sampai dia merasa tersiksa karena tugas ibu rumah tangga di pagi hari." Rizal berdiri dan keluar dari kamarnya. Dia bisa menebak dimana Lisa sekarang.
Terlihat Lisa sedang di dapur berkutat dengan berbagai bahan masakan. Rizal berjalan mendekat dan memeluknya dari belakang yang membuat Lisa sedikit terkejut.
"Kak Rizal, ngagetin aja.."
"Siapa bilang?"
"Kamu kan?"
"Oo, waktu itu. Aku cuma mau tahu pendapat Kak Rizal aja."
"Jadi kamu bohong sama aku?"
"Sedikit."
"Tapi beneran loh, aku gak mau kamu merasa terbebani sama tugas ibu rumah tangga. Apalagi kamu sekarang tinggal di rumah aku. Takutnya nanti kamu tersiksa tinggal di rumah mertua."
Lisa tersenyum. Memang Rizal selalu saja memanjakannya tapi dia juga tahu mana perkerjaan yang harus dia kerjakan. "Udah kayak film-film ikan terbang aja. Aku udah biasa bantu Mama di rumah. Kak Rizal tenang aja. Sekarang lepasin tangannya ya, nanti Mama lihat. Kan malu.."
"Biarin aja. Memang Mama kemana?"
"Mama lagi belanja sayur di depan."
__ADS_1
"Mama kalau belanja lama." Rizal mendekatkan wajahnya ke pipi Lisa. "Morning kiss dulu dong."
"Nanti aja di kamar. Jangan di sini. Ih, Kak Rizal."
Sedangkan di belakang mereka ternyata Bu Ela sudah mengintip mereka sedari tadi.
"Mama ngapain?" tanya Pak Alan.
"Lihat tuh Pa, Rizal. Masih pagi udah peluk-peluk. Sampai nyosor-nyosor gitu."
Pak Alan tertawa kecil. "Udahlah Ma, biarin namanya juga pengantin baru."
"Iya emang Mama biarin, Pa. Cuma gemes aja lihat Rizal, nurun banget kayak Papanya."
"Kan, Rizal memang anak Papa."
Puas menggoda Lisa, Rizal melepas pelukannya dan membalikkan badannya. Dia melihat kedua orang tuanya sudah berdiri di dekat pintu. "Mama sama Papa sejak kapan berdiri di situ."
Lisa kini ikut menoleh.
Bu Ela melangkah masuk ke dapur sambil menaruh barang belanjaannya. "Sejak kamu peluk-peluk sama main sosor."
"Ganggu privasi aja Mama."
Bu Ela mengernyitkan dahinya lalu menjewer pipi Rizal. "Lagian kamu ngapain pagi-pagi ke dapur. Tumben.."
"Kan, ada Lisa, Ma."
Lisa hanya tersenyum melihat Rizal dan Mamanya.
"Udah, sana kamu jangan ganggu Lisa. Kalian hari ini kuliah kan?"
"Iya, Ma. Kita ada kelas jam 10." jawab Rizal sambil berlalu.
Bu Ela kini berdiri di samping Lisa. "Senangnya, sekarang Mama ada yang nemenin masak. Dari dulu cuma Mama jadi ratu dapur. Untungnya sih gak ada yang rewel kalau soal makan."
"Iya, Ma. Kak Rizal makanan kesukaannya apa?"
"Kalau Rizal apa aja suka."
Sambil memasak, Lisa dan Bu Ela asyik mengobrol. Bu Ela merasa bahagia, keinginannya untuk memiliki anak perempuan akhirnya kini terwujud.
__ADS_1
💞💞💞
Mesranya masih lanjut berbab-bab. Jangan iri ya.. Biar authornya aja yg ngiri. 😔