
"Tadi Bu Maya ngasih apa ke kamu?" tanya Rizal penasaran karena tadi Bu Maya cukup lama bersama Lisa.
"Oo,, tadi Bu Maya ngasih aku cincin."
"Cincin? Cincin apa?" tanya Rizal dengan pandangan fokus ke depan.
"Katanya ini cincin peninggalan keluarganya. Sebenarnya ini cincin untuk Dewi kalau sudah mau menikah, tapi karena Dewi udah gak ada jadi Bu Maya ngasih ini ke aku." cerita Lisa.
Rizal melihat cincin itu sesaat. Cincin emas berhiaskan berlian di atasnya. Memang cantik. "Ya udah, kami simpan saja ya. Jangan kamu pakai. Karena bagaimana pun juga kamu gak ada hubungan darah sama Bu maya. Itu kan cincin peninggalan, takutnya ada apa-apa."
Lisa kembali menyimpan cincin itu ke dalam tasnya. "Kak Rizal sekarang percaya dengan hal-hal mistis ya."
"Bukannya percaya, cuma antisipasi aja. Setelah apa yang aku lalui sama kamu, aku takut ada hal-hal buruk lagi terjadi. Apalagi sebentar lagi kita kan mau nikah."
Lisa tersenyum sambil menatap Rizal.
"Sayang, jangan tatap kayak gitu nanti kepancing lagi loh." Walau Rizal masih fokus dengan jalanan tapi dia masih sempat melirik Lisa yang menatapnya dengan penuh cinta.
Lisa meluruskan pandangannya dan menyandarkan dirinya.
"Kita ke makam Dewi dulu, setelah itu kita beli cincin ya."
Lisa kembali menegakkan dirinya dan menatap Rizal. "Katanya mau beli hp?"
"Iya, beli cincin nikah dulu ya. Aku sebenarnya mau beli sendiri tapi takutnya gak cocok sama kamu." Rizal menghentikan mobilnya di tempat parkir depan makam. "Soalnya kan cincin itu akan kita pakai selamanya." Rizal menatap Lisa. Dia ingin mendekatkan dirinya lagi tapi Lisa menutup mulut Rizal dengan telunjuknya.
"Stop!! Kak Rizal tolong dikondisikan dan tahu tempat ya.."
Rizal tertawa. "Apaan sih, siapa yang mau nyium. GR." Rizal hanya ingin membantu Lisa membuka sit belt nya.
Pipi Lisa terasa memerah. Kali ini dia malu. Hah, rupanya dia sudah terkontaminasi dengan pikiran kotor Rizal.
Rizal keluar dari mobil dan masih terkekeh. Lisa mengikuti Rizal yang membeli bunga untuk berziarah dulu. Setelah itu mereka masuk ke dalam makam. Melewati jalan yang sudah terpaving di antara batu nisan.
Sampai di makam Dewi. Mereka berdua duduk berjongkok dan menabur bunga. Lalu mereka mengirim do'a untuk Dewi.
"Kak Dewi makasih ya, sudah memberiku kesempatan untuk melihat dunia ini dan juga Kak Rizal."
Rizal merangkul Lisa dan mengusap pelan bahunya.
"Dan dua bulan lagi kita akan menikah. Bagaimana pun juga dulu kamu cinta pertama aku. Semoga kamu tenang di sana."
Lisa kini beralih menatap Rizal. Merasa mendapat tatapan berbeda dari Lisa, Rizal merasa dirinya salah berbicara. "Sayang kenapa? Aku salah ngomong ya?"
__ADS_1
Lisa menggelengkan kepalanya. "Tapi aku cinta terakhir Kak Rizal kan?"
"Pasti! Kamu itu cinta terakhir aku." Rizal mengusap lembut pipi Lisa saat terulas senyum dibibir Lisa. "Ayo!" Rizal berdiri lalu membantu Lisa berdiri dan menuntunnya untuk berjalan keluar tapi tiba-tiba Rizal menghentikan langkahnya saat dia melihat Pak Bambang yang sedang berjongkok sambil memegangi sebuah nisan. "Lis, itu Pak Bambang kan?"
Lisa melihat orang yang dimaksud Rizal. "Iya."
"Kita ke sana." Rizal menghampiri Pak Bambang lalu ikut berjongkok di sebelahnya. Menepuk pundak Pak Bambang yang membuat beliau menoleh ke arah Rizal.
"Nak Rizal, kamu sudah sehat?" Pak Bambang seketika memeluk Rizal. "Maaf, Bapak belum sempat jenguk kami."
"Iya Pak. Tidak apa-apa. Saya turut berduka cita atas meninggalnya Andi."
Pak Bambang melepas pelukannya. "Iya, ini sudah takdir Yang Maha Kuasa." Pak Bambang mengusap bahu Rizal dan menatap Rizal dengan mata nanarnya. "Makasih kamu sudah menjadi anak Bapak selama beberapa hari lalu."
"Pak Bambang tahu soal itu?"
Pak Bambang menganggukkan kepalanya. "Bapak tahu betul bagaimana Andi dan Bapak tahu betul bagaimana kamu. Tidak mungkin Andi bisa bersikap sangat mirip dengan kamu. Zal, mulai sekarang Bapak boleh ya anggap kamu sebagai anak Bapak."
Rizal menganggukkan kepalanya.
"Kamu sering-sering main ke rumah ya."
"Iya, Pak. Pasti. Dua bulan lagi saya dan Lisa akan menikah. Mohon do'a restu ya, Pak."
Pak Bambang tersenyum. Beliau menatap Rizal dan Lisa bergantian. "Alhamdulillah, akhirnya kalian menikah. Semoga kalian selalu bahagia dan dimudahkan segala urusannya."
"Yuk, kita jalan sambil mengobrol sebentar."
Mereka bertiga berjalan keluar dari pemakaman sambil berbincang singkat. Terdengar tawa renyah dari Pak Bambang dan Rizal beberapa kali.
"Ya sudah, besok-besok ke rumah Bapak ya. Kita bahas lagi masalah itu."
"Siap Pak. Terima kasih." Rizal masuk ke dalam mobil yang diikuti oleh Lisa.
"Kak Rizal sukses ya di dunia saham."
"Baru aja merintis. Nanti kalau udah ada hasilnya baru dibilang sukses." Rizal mulai menjalankan mobilnya. "Nanti setelah lulus kuliah rencana aku mau ikut ke perusahaan Papa, mau coba pegang properti sendiri. Ya, semua itu memang dimulai dari nol. Yang penting aku sudah miliki kamu baru bisa fokus ke hal-hal lain."
Lisa tersenyum lalu dia memikirkan dirinya sendiri. "Aku kok gak punya cita-cita ya..."
Rizal mengacak rambut Lisa dengan tangan kirinya. "Cita-cita kamu kan jadi istri aku."
"Yee, itu mah beda." Lisa melipat tangannya. Sambil memandang jalanan yang tidak terlalu ramai saat itu.
__ADS_1
"Kamu gak perlu mikirin mau jadi apa? Hidup itu dijalani. Buat senang aja. Nanti kalau udah nikah aku kasih kamu kesibukan."
Rizal berhasil membuat Lisa menolehnya. Wajahnya sedikit sumringah, mungkin saja Rizal akan membuka usaha di rumahnya. "Kesibukan apa kak?"
"Ngurusin anak-anak kita."
Lisa seperti kena ghosting. Dia langsung mencubit lengan Rizal. "Kak Rizal. Kirain mau buka usaha."
Rizal tertawa. "Kan usaha. Usaha buat anak."
"Ih. Udah ah. Selalu aja ujung-ujungnya kayak gitu."
Rizal masih saja tertawa. Apalagi saat melihat bibir manyun Lisa. Lalu dia menghentikan mobilnya di tempat parkir departement store.
"Udah dong sayang, jangan ngambek yah. Aku cuma bercanda." Rizal mengusap rambut Lisa sesaat. Lalu mencium keningnya. "Maaf ya."
Lisa menganggukkan kepalanya. Sebenarnya marahnya dia pun hanya bercanda.
"Udah siang, nanti sekalian kita makan siang ya." Rizal dan Lisa keluar dari mobil lalu mereka berjalan bergandengan masuk ke dalam departement store. Mereka menuju ke toko pusat jewelry yang ada di lantai dua.
"Ada yang bisa saya bantu. Mau cari apa?" tanya salah seorang pramuniaga pada Rizal.
"Saya mau mencari cincin nikah."
"Cincin nikah? Kebetulan kami ada pengeluaran produk terbaru." Pramuniaga itu menunjukkan beberapa contoh cincin nikah. "Ada yang warna gold sama silver."
"Kamu mau yang gold atau silver?"
"Kayaknya silver aja kak. Ini bagus." Lisa memilih cincin nikah dengan motif sebelah hati, dimana jika digabungkan akan membentuk hati yang utuh dengan permata kecil di masing-masing cincin.
"Iya bagus." mereka mencoba ukuran yang pas.
"Wah, ini cocok buat masnya yang ganteng dan mbaknya yang cantik. Tapi sepertinya saya pernah melihat kalian berdua. Dimana ya?" pramuniaga itu nampak mengingat-ingat sedangkan Rizal dan Lisa hanya tersenyum. "Oiya, di video yang sedang viral itu. Wah, gak nyangka akhirnya kalian menikah. Saya mengikuti cerita kalian loh."
Rizal dan Lisa hanya saling lirik. Mereka tidak mengerti dengan video yang dimaksud.
"Jadi yang ini yah. Sebentar saya tanya pada Pak Bos dulu, siapa tahu kalian dapat potongan khusus buat pasangan cinta sejati."
Rizal dan Lisa hanya tertawa dan heran.
"Kak, video apa ya?"
"Gak tahu. Cuma netizen yang tahu..."
__ADS_1
💞💞💞
Video apa sih net???