Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Klub Malam


__ADS_3

Rizal menatap Lisa lagi yang terlihat salah tingkah. "Gimana? Sudah siap menikah?"


Pertanyaan Rizal justru semakin membuat Lisa gerogi. Tapi kali ini Rizal mendapat jawaban yang lebih dari biasanya. "Gak usah tanya, langsung aja lamar ke rumah."


Entah itu hanyalah gurauan atau tidak yang jelas jawaban Lisa membuatnya sangat bahagia.


"Serius?" tanya Rizal sekali lagi.


"Iya, tapi nanti." Lisa menyunggingkan senyuman tak bersalahnya yang sudah membuat prank harapan palsu untuk Rizal.


"Kirain sekarang."


Pak Bambang tertawa melihat mereka. "Bapak jadi ingat masa muda dulu. Ya, tapi sebelum menikah kalian memang harus memantapkan hati terlebih dahulu. Karena menikah itu bukan untuk sesaat tapi untuk seumur hidup. Akan banyak masalah yang nanti dihadapi."


Mereka berdua hanya mengangguk. Entah mengangguk mengerti atau tidak.


Tiba-tiba saja Pak Bambang batuk sambil memegang dadanya. Napasnya juga terlihat berat. Seperti ada yang mencengkeram dadanya.


"Bapak kenapa?" tanya Rizal sambil memegang pundak Pak Bambang. Rizal sangat khawatir melihat wajah Pak Bambang yang tiba-tiba berubah menjadi pucat.


"Dada Bapak terasa sakit. Tolong antar Bapak ke kamar."


Rizal segera memapah Pak Bambang ke kamarnya yang diikuti oleh Lisa. Membantunya duduk di atas ranjang. Lalu beliau mengambil obat di atas nakas dan segera meminumnya. Napas Pak Bambang berangsur normal. Beliau kini merebahkan badannya.


"Pak Bambang kenapa?"


Pak Bambang menggelengkan kepalanya. "Saya punya gejala jantung lemah. Dokter menyarankan untuk tidak terlalu banyak berpikir tapi..." Pak Bambang menghela napas panjang.


"Biar saya telepon Andi. Agar dia cepat pulang."


"Tidak usah, Andi tidak mungkin pulang hanya karena saya sakit."


Rizal menghela napas panjang. "Bapak istirahat ya, saya permisi dulu."


Setelah dibalas anggukan oleh Pak Bambang Rizal keluar dari kamar yang masih diikuti Lisa. Rizal kini mengambil ponsel yang ada di sakunya, dan mencoba menghubungi Andi. Sampai beberapa kali panggilan tidak juga dia angkat.


Rizal berjalan menuju teras depan sambil mencoba menghubungi Andi sekali lagi. Dan kali ini, akhirnya Andi mengangkat telepon dari Rizal. "Hallo..." Rizal bisa menangkap suara musik yang cukup keras dari tempat Andi. "Hallo!!!" Rizal mengeraskan suaranya. "Lo pulang sekarang, bokap lo sakit..... Akal-akalan gue, lo gila!... Oke, gue ke sana!!" Rizal memutuskan panggilannya. Dia kini melihat sharelok dari Andi.

__ADS_1


"Kenapa? Andi gak mau pulang?" tanya Lisa yang bisa menerka obrolan singkat Rizal dan Andi lewat ponsel.


"Dia kira ini akal-akalan aku aja. Dia malah nyuruh aku ke tempatnya, baru dia akan pulang. Kamu pulang dulu ya, aku antar."


Lisa menggelengkan kepalanya. "Aku ikut, Kak."


Rizal sebenarnya ragu. Dia takut Andi berniat buruk padanya.


"Kak, kalau Kak Rizal antar aku dulu kelamaan. Gak papa aku ikut."


Rizal menganggukkan kepalanya. "Ya udah, tapi kamu jangan jauh-jauh dari aku. Pegang tangan aku terus ya."


Lisa menganggukkan kepalanya. "Emang mau kemana?" Perkataan Rizal sedikit membuat takut Lisa. Lebih seram daripada masuk ke rumah hantu kah?


"Nanti kamu akan tahu. Pokoknya, kamu harus pegang tangan aku terus, jangan kemana-mana."


Mereka segera naik ke atas motor. Dia buka kembali sharelok dari Andi. Satu helaan napas panjang dihembuskan sebelum akhirnya Rizal melajukan motornya meninggalkan rumah Pak Bambang.


Rizal menuju tempat sesuai sharelok Andi. Dia kini menghentikan motornya di depan Twenty Club, sebuah klub malam yang cukup besar.


Lisa kini turun dari motor Rizal. Dia ragu dan sedikit takut. Seumur-umur baru kali ini dia tahu kalau di kota ini ada klub malam juga.


Lisa mengangguk. Mereka kini masuk ke dalam klub. Suara keras musik DJ dengan lampu warna-warni yang menyorot dan berputar membuat kepala Lisa sedikit pusing.


Rizal mencari sofa nomor 10. Setelah menemukannya, terlihat Andi sedang bermesraan dengan Elin. Ditambah ada dua orang temannya yang Rizal tidak kenal.


"Akhirnya lo datang!!" Andi melepas tangannya dari pinggang Elin. Dia tidak menyangka Rizal datang bersama Lisa. "Jadi, lo dari tadi sama Lisa. Tahu gitu gue pesenin dua minuman."


"Gak usah basa-basi. Bokap lo sakit di rumah. Cepat lo pulang!!"


"Santai bro. Sini gabung dulu sama kita." Andi berdiri lalu menepuk bahu Rizal agar dia ikut duduk.


Lisa semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Rizal, bahkan tangannya sudah terasa berkeringat. Apalagi saat teman Andi ikut menarik Rizal untuk bergabung.


"Lo minum dulu, baru gue pulang bareng lo."


Rizal hanya melirik minuman itu.

__ADS_1


"Tenang, itu lemon tea biasa. Kita kan brother, masak gue mau racuni lo. Gue tahu lo haus habis urus bokap gue."


Rizal menatap tajam Andi. Sebenarnya dia curiga kandungan yang ada di dalam minuman itu. Dia tidak bisa memaksa atau berulah karena ini sarang Andi. Akhirnya Rizal mengambil minuman itu dan meneguknya sedikit. Setelah itu dia letakan kembali.


"Oke, gue balik dulu friend." Andi mencium Elin sesaat lalu memakai jaketnya. "Lo kalau masih mau sama Lisa di sini, gue punya voucher buat lo. Gue titipin di kasir ya," bisik Andi di dekat telinga Rizal.


Rizal menatap tajam Andi. Dia kini berdiri dengan tangan yang masih tetap menggenggam Lisa.


Andi berjalan keluar yang diikuti oleh Rizal beberapa meter di belakangnya karena sempat terhalang oleh waitress yang sedang mengantar minuman. Tapi entah kenapa perasaan Rizal menjadi aneh. Badannya terasa memanas. Dia usap tengkuk lehernya berkali-kali.


"Kak Rizal kenapa?" tanya Lisa yang melihat Rizal nampak resah.


"Gak tahu, badan gue terasa panas banget. Ikut aku ke toilet dulu ya." Rizal menarik tangan Lisa agar mengikuti langkahnya. Badan Rizal terasa semakin memanas. Ada suatu gejolak yang muncul secara tiba-tiba dan tidak bisa ditahan.


Melihat toilet sepi. Rizal membawa Lisa masuk ke dalam.


"Kak, A-aku tunggu diluar saja ya." Lisa melepas tangannya dan dia akan melangkah keluar tapi Rizal justru memojokkan Lisa. Dia penjara Lisa dengan kedua tangannya.


Lisa melebarkan matanya saat melihat tatapan Rizal yang tidak seperti biasanya. Tatapan yang penuh dengan gairah.


"Kak..." panggilan Lisa seolah sudah tidak didengar Rizal. "Kak, hmmppphh.."


Rizal memiringkan kepalanya, dengan cepat bibir Rizal sudah menyentuh bibir Lisa. Tangan kanan Rizal berpindah ke tengkuk leher Lisa untuk menahan Lisa agar tidak menghindar saat dia memperdalam ciumannya.


Ciuman yang tidak lembut seperti biasanya. Ciuman panas yang dipenuhi dengan nafsu. Rizal ******* habis bibir Lisa, menyesapnya bahkan sempat menggigit kecil bibir bawah Lisa.


Lisa berusaha mendorong tubuh Rizal tapi gagal. Dia takut, Rizal akan melakukan lebih dari ini.


"Kak sadar." kata Lisa yang sempat berhasil melepaskan ciuman Rizal.


Napas Rizal semakin memburu. "Aku gak bisa tahan, Lis." Rizal kembali ******* bibir Lisa. Bahkan dia menyesap cukup kuat bibir bawah Lisa sampai terasa sakit yang mungkin akan meninggalkan bekas.


"Plakkk!!!" satu tamparan keras akhirnya dilayangkan Lisa. Dia sebenarnya tidak mau menampar Rizal. Dia tahu ada yang tidak beres di minuman itu. Harus dengan cara apa, Lisa menyadarkan Rizal?


💞💞💞


Aduduh... Untung Lisa ikut, kalau gak ikut, hah, bisa gaswat.. 💆💆

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya... 😊


__ADS_2