
Pagi itu, Rizal sudah menunggu Lisa di depan rumahnya. Dia beberapa kali melihat jam di ponselnya. Tumben udah lebih 15 menit tapi Lisa masih belum keluar. Rizal menguap sesaat, karena semalam dia kurang tidur, ditambah badannya yang terasa sangat pegal dan tenggorokannya yang terasa sakit.
Rizal kini turun dari sepeda motor dan berniat untuk menyusulnya ke rumah. Tapi saat akan memasuki teras rumahnya, Lisa keluar dari rumah.
"Kak Rizal, maaf aku kesiangan. Sudah lama?" Lisa berjalan mendekat.
Rizal hanya menatap Lisa walau dalam hatinya penuh tanya. Apa Lisa telepon dengan Rey sampai larut malam hingga dia terlambat bangun?
"Maaf, soal kemaren, aku..."
"Sudah siang. Kita berangkat yuk." Rizal memotong pembicaraan Lisa. Dia kini mengendarai motornya yang diikuti oleh Lisa.
Sepanjang perjalanan mereka tak banyak bicara. Apa Kak Rizal beneran marah? Aku harus ngomong apa?
Bahkan sampai sekolah, Rizal masih terdiam.
"Kak Rizal marah?" tanya Lisa lagi saat mereka akan berjalan meninggalkan tempat parkir.
"Aku gak marah. Kamu tenang aja." Rizal mengusap pundak Lisa sesaat lalu pergi menyusul Evan.
"Van, gue pinjem tugas dari Bu Feni. Gue belum selesai."
"Tumben banget belum selesai?!",
"Iya, gue lagi gak konsen semalem."
Terdengar obrolan mereka sesaat sebelum mereka berlalu.
Lisa menghela napas panjang. Sekolah memang sudah ramai saat itu karena beberapa menit lagi bel sekolah akan berbunyi. Dia berjalan sedikit cepat menuju kelasnya.
......***......
Lisa menopang kepalanya di meja kantin. Berharap ada Rizal yang menghampirinya seperti biasa, tapi kali ini tidak.
"Kenapa lo?" tanya Dewa yang kini duduk di depan Lisa sudah lengkap dengan bakso di mangkoknya.
"Berantem sama Kak Rizal?" Karin kini juga duduk di samping Dewa lalu memberikan minuman dingin untuk Lisa agar dia tidak seperti tanaman yang belum disiram. "Nih, minum dulu.."
Lisa menegakkan badannya. "Iya, makasih." Lisa mengambil minuman itu dan meminumnya sedikit untuk sekedar menghilangkan rasa kering di tenggorokannya.
__ADS_1
"Semalem Rizal telepon gue. Dikira lo telponan sama gue. Emang lo ngobrol sama siapa?" tanya Dewa sambil mengunyah baksonya.
"Sama Rey." jawab Lisa pelan.
"Pantes Rizal marah." Dewa menghentikan makannya sesaat. "Kemaren Rizal juga ngikutin lo sampai depan. Dia juga tau lo pulang sama Rey."
Lisa kini semakin bersalah. Jelas saja Rizal marah bahkan kemaren Rizal sempat ke rumahnya dan berputar balik karena ada Rey.
"Lagian lo kenapa? Lo masih cinta sama Rey?" tanya Dewa tanpa basa-basi lagi.
"Gue..." Lisa nampak ragu menjawabnya.
"Lisa, emang lo mau duain Kak Rizal?" pertanyaan Karin membuat Lisa menggeleng dengan cepat. Dia kini melihat sekeliling kantin, takut jika ada Rey di tempat itu.
"Rey sama Reno ada di lapangan basket. Cerita aja kalau mau cerita." Dewa seperti bisa membaca pikiran Lisa.
Lisa menghela napas panjang sebelum mulai bercerita. "Sebenarnya gue sendiri juga gak tau sama perasaan gue. Tiap deket sama Rey, rasanya gue itu suka banget sama Rey. Gue sampai gak inget perasaan gue sama Kak Rizal dan gue selalu gak bisa nolak ajakan Rey. Padahal kalau gue lagi jauh sama Rey, gue gak pernah mikirin Rey. Dan gue merasa bersalah banget sama Kak Rizal. Gue gak mau Kak Rizal marah."
"Mungkin lo udah kena pelet." celetuk Karin yang membuat Lisa sedikit melongo.
"Hah? Emang jaman sekarang masih ada hal kayak gitu?"
"Gue kenal Rey udah lama. Masak Rey tega ngelakuin itu sama gue." Lisa berusaha untuk tidak percaya dengan kesimpulan Dewa dan Karin.
"Lisa lo ada di sini?" Evan menghenitikan langkahnya di dekat Lisa. Dia membawa teh hangat dalam gelas plastik.
"Kak Evan, Kak Rizal dimana?" tanya Lisa yang melihat Evan hanya sendiri.
"Rizal katanya gak enak badan makanya dia ke UKS mau ambil obat. Ini teh buat Rizal."
Seketika Lisa berdiri dan mengambil alih segelas teh dari tangan Evan. "Biar aku yang antar ke UKS." Lisa segera berjalan cepat bahkan Evan masih belum menjawab.
"Dasar para bucin."
"Lis, mau kemana?" tanya Rey saat berpapasan dengan Lisa di depan kantin. Lisa tidak menjawab pertanyaan Rey. Bahkan melihat pun tidak. Seperti tidak mendengar pertanyaan Rey.
Lisa berjalan cepat. Dia bukannya tidak mendengar tapi jika saja dia menjawab pertanyaan Rey dan bertatap muka pasti Lisa akan mengurungkan niatnya untuk menemui Rizal.
Lisa sempat ragu untuk masuk ke dalam UKS. Pintu UKS saat itu terbuka sedikit.
__ADS_1
Akhirnya Lisa memantapkan langkahnya. Dia masuk ke dalam UKS yang membuat Rizal sedikit terkejut. Rizal kini berpindah duduk di kursi dekat meja kecil sebelah ranjang.
Lisa menaruh teh di atas meja.
"Makasih." ucap Rizal. Keadaan saat itu sedikit kaku.
Lisa kini beralih duduk di sebelah Rizal. "Kak Rizal kenapa? Sakit apa?"
"Cuma gejala flu sama masuk angin aja. Biasa kan musim ujan. Sama penyakit dalam ringan. Kayak hati mungkin."
"Jadi, Kak Rizal beneran marah? Aku minta maaf."
Rizal kini beralih menatap Lisa. "Gak perlu minta maaf. Kamu juga punya kebebasan untuk lakuin apa yang kamu ingin."
Lisa menatap Rizal yang terlihat pucat. Lisa tahu, Rizal sedang marah dan sakit hati dengannya.
"Kalau aku boleh jujur, iya aku cemburu kamu dekat sama Rey. Tapi, kalau kamu masih ada perasaan sama Rey, aku bisa apa?"
Lisa menggeleng cepat. "Aku gak punya perasaan apa-apa sama Rey. Aku sama Rey cuma sahabat."
Rizal terdiam, dia kini mengalihkan pandangannya. Dia teringat lagi dengan status Elis, tentang cinta yang dibuat dengan sengaja.
"Kak." Lisa meraih tangan Rizal yang membuat Rizal kini menatapnya lalu menggenggamnya dan memejamkan matanya untuk menenggelami perasaannya. Tak lama, dia membuka matanya. "Kak, apapun yang terjadi jangan pernah tinggalin aku."
Rizal menautkan alisnya, dia sedikit bingung dengan perkataan Lisa. Dia tidak ada niat sama sekali untuk memutuskan Lisa. "Aku gak akan ninggalin kamu. Kenapa kamu punya pikiran kayak gitu?"
Lisa terdiam sesaat.
"Udah, gak usah dipikirin." Rizal tersenyum yang membuat perasaan Lisa nyaman.
Terdengar suara Bu Isti-penjaga UKS dari luar sedang bicara dengan seorang murid. Lisa buru-buru melepas tangan Rizal takut Bu Isti salah paham.
"Mau kemana?" Rizal seperti tidak rela Lisa pergi.
"Aku ke kelas dulu ya. Ada Bu Isti. Dia kan cerewet banget." Lisa berdiri sambil mengecup pipi Rizal sesaat. "Cepat sembuh." Lisa sedikit berlari keluar dari UKS agar Rizal tidak melihat pipinya yang memerah.
Rizal meraba pipinya. Walau hanya tersentuh sedikit tapi sudah mampu mendebarkan jantungnya. Dan kini dia sudah merasa sehat lagi. Sungguh obat yang paling mujarab.
"Rizal udah enakan?" tanya Bu Isti saat masuk ke dalam UKS.
__ADS_1
"Sudah, Bu." Rizal kini meminum tehnya yang sudah dingin karena terabaikan.