
Rizal tersenyum menatap gadisnya yang kini sudah berdiri di deretan para Mahasiswa baru. Sesekali Lisa juga mencuri pandang pada Rizal. Rasanya memang seperti baru kemarin dia menjadi siswi SMA dan mengikuti MOS yang selalu berbuat salah pada Rizal dan membuatnya marah. Tapi sekarang keadaan sudah berbeda. Rizal yang sekarang hanya sebagai anggota Senat dan untungnya tidak ada lagi OSPEK yang akan menuntutnya patuh dengan para senior.
Lisa melihat ke depan lapangan, ada Andi yang berpidato menyambut Maba sebagai Ketua Senat. Figur kepemimpinan tidak tampak di diri Andi. Dia terlihat sedikit arogan. Lisa berdecak, jelaslah dia sangat berbeda dengan Rizal.
Rizal yang masih berdiri mematung memandang Lisa, tiba-tiba dikejutkan oleh tepukan dari Pak Heru. “Ikut Bapak sebentar.” Bisik Pak Heru.
Rizal menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Pak Heru ke kantor. Rizal berpikir sambil berjalan, “Apa Pak Heru akan bahas soal Ketua Senat lagi?”
Pemikiran Rizal benar. Saat Rizal sudah berada di kantor, Pak Heru mengeluhkan kinerja Andi. “Zal, apa kamu benar-benar tidak mau menggantikan Andi sebagai Ketua Senat?”
Rizal menggeleng tegas. “Maaf, Pak. Sejak awal saya sudah tidak mau. Dan sekarang Andi sudah menjadi Ketua Senat, saya tidak mungkin menggantikannya begitu saja.”
Pak Heru duduk di kursinya. Dia menata lembar-lembar yang berserak di atas mejanya. “Kerja Andi sebagai ketua itu tidak beres. Dia urakan. Dia tidak bisa diatur.” Pak Heru kini menatap tajam Rizal. “Apa sejak awal kamu sudah diancam Andi agar mundur dari pemilihan Ketua Senat?”
Rizal menggelengkan kepalanya. “Saya hanya memberikan kesempatan pada Andi agar dia bisa menjadi orang yang lebih baik.”
Pak Heru tidak bisa terlalu memaksa Rizal. “Baiklah, kalau memang itu keputusan kamu.” Beliau menghela napas panjang. “Mau jadi apa kampus ini, kalau kegiatan ini gak ada, kegiatan itu gagal, laporan-laporan juga kacau.”
“Saya bisa bantu bereskan semuanya, Pak.”
Pak Heru menepuk bahu Rizal bangga. “Potensi kamu memang luar biasa.”
__ADS_1
Rizal ingat betul, saat dia ditunjuk sebagai kandidat di pemilihan Ketua Senat, dia menolak. Dia tahu, kalau Andi sangat ingin menjadi ketua senat. Dia memberi kesempatan pada Andi agar Andi bisa menjadi lebih baik. Sekarang fokus Rizal bukan pada organisasi tapi pada SKS yang harus cepat dia selesaikan.
...***...
“Lis, lo mau kemana?” tanya Dewa yang melihat Lisa berbelok arah tidak mengikutinya.
“Gue mau ke toilet.”
“Lo hafal kan jalannya?” tanya Dewa.
“Hafal, Wa. Udah lo duluan aja.” Lisa kini berjalan sendiri menuju toilet.
Setelah selesai menggunakan bilik, Lisa sempat berkaca sesaat membenarkan rambutnya.
Suara Elin berhasil membuat Lisa menoleh. “Iya.” Jawab Lisa singkat.
“Lo kasih apa ke Rizal sampai dia mau sama lo? Gak pernah bosen lagi.”
Pertanyaan Elin membuat Lisa mengerutkan keningnya. Pertanyaan yang tidak perlu dijawab oleh Lisa. “Gak ada. Maaf permisi.” Lisa keluar dari toilet. Baru pertama masuk kuliah sudah ada kejadian yang aneh. Kasih apa maksudnya? Emang gue udah jampi-jampi Kak Rizal gitu. Aneh banget. Mungkin memang Lisa yang terlalu polos.
Saat berada di lorong kelas Lisa berpapasan dengan Andi. Lisa pura-pura tidak melihatnya tapi justru Andi mengikutinya, bahkan jarak jalan Andi cukup dekat.
__ADS_1
Andi menghirup dalam aroma wangi dari rambut Lisa.
Lisa merasa sangat risih. Apa sih mau dia!!
“Hei, masih ingat kan sama gue?”
Lisa tak menjawab. Dia justru mempercepat langkahnya.
“Kalau lo bosen sama Rizal, lo bisa sama gue.” Bisik Andi di dekat telinga Lisa.
Lisa kini menghentikan langkahnya dan menatap tajam Andi. “Maaf, apa Anda gak bisa sopan sama junior?!!” banyak penekanan di kalimat Lisa. Jujur saja, dia sangat tidak suka sejak pertama bertemu dengan Andi. Lisa kembali melangkahkan kakinya cepat.
“Menarik...” Andi mengangkat sebelah bibirnya tersenyum penuh arti.
Lisa masih berjalan dengan menggerutu apalagi saat dia merasakan ada tangan yang memegang pundaknya. Dia kini membalikkan badannya dan bersiap untuk menampar.
“Hei, kenapa?” Rizal berhasil menahan tangan Lisa. Andai saja Rizal tidak menahan tangan Lisa, mungkin dia yang akan kena tampar.
“Kak Rizal, maaf. Aku pikir...” Lisa menghentikan perkataannya.
“Siapa? Ada yang gangguin kamu? Mana orangnya? Bilang sama aku..” Rizal melihat sekitar tapi tidak ada orang lagi.
__ADS_1
“Sebenarnya...” Lisa ingin bercerita tapi dia urungkan karena beberapa menit lagi kelas akan dimulai. “Maaf kak, nanti aja ya. Kelas udah mau dimulai.” Lisa meninggalkan Rizal dan bergegas menuju kelasnya.
Rizal masih dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Tidak biasanya dia marah sampai seperti ini. Siapa yang sudah mengganggu Lisa? Dia akan berurusan sama aku!! Lingkungan kampus memang tidak seperti lingkungan SMA. Selain umur mereka yang sudah cukup matang, rata-rata mereka punya pemikiran dewasa yang terlalu berlebihan. Apalagi saat melihat gadis yang cantik seperti Lisa. Rupanya Rizal harus lebih ekstra menjaga Lisa kali ini.