Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Teror


__ADS_3

Lisa berulang kali melihat jam tangannya saat itu. Dewa dan teman lainnya sudah pulang. Dia menunggu jemputan dari ayahnya. "Ayah, lama sekali. Apa ayah kira aku pulang sama Kak Rizal?" Lisa menghela napas panjang. Dia sudah beberapa kali menelepon ayahnya tapi masih saja tidak aktif. Dia keluar dari gerbang sekolah berniat untuk mencari tukang ojek yang biasanya mangkal di pertigaan. Lisa sengaja tidak memesan ojek online karena aplikasi itu belum terinstal lagi di hpnya.


"Untung ada." Lisa sedikit tersenyum saat melihat dari kejauhan ada 3 orang tukang ojek sedang duduk menunggu penumpang. Lisa berhenti dan akan segera menyeberang. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Hanya ada sebuah mobil yang berhenti di kiri jalan.


Lisa melangkahkan kakinya. Dia tidak mengira mobil yang sedari tadi berhenti tiba-tiba tancap gas dan mengarah ke arahnya.


"AAAAA.....!!!!!" Lisa berteriak, kakinya begitu berat untuk menghindar. Hingga ada seseorang yang menariknya menepi. Lelaki itu berhasil menyelamatkan Lisa. Sedangkan mobil itu berlalu dengan cepat.


Jantung Lisa berdetak dengan cepat dengan napas yang tidak teratur. Ini kali kedua kejadian hari ini yang mengancam dirinya. Lisa terduduk lemas di pot besar tanpa tanaman. Tersadar, sosok yang menolongnya sudah berjalan menjauh. Bahkan dia tidak sempat mengucapkan terima kasih. Dia hanya menatap punggungnya yang memakai jaket hitam dan topi. "Siapa pun kamu, makasih."


Lisa masih mengatur napasnya. Lututnya terasa lemas untuk berdiri.


"Lisa?" Rizal menghentikan motornya saat melihat Lisa duduk di pinggir jalan. Dia turun dan menghampirinya. "Kamu belum pulang?" Tepukan tangan di pundak Lisa menyadarkan lamunannya.


Lisa bernapas lega. Sekarang ada Rizal yang bisa mengantarnya pulang dengan aman, karena nampaknya pelaku tidak akan beraksi saat dirinya dekat dengan Rizal.


"Kamu pucat banget? Mau minum?"


Lisa mengangguk.


Rizal mengambil sebotol minuman mineral yang ada dalam tas yang dia ambil setelah rapat OSIS. Dia buka terlebih dahulu sebelum memberikannya pada Lisa.


Lisa langsung meminumnya untuk memulihkan tenaganya yang terasa hilang. "Makasih."


"Kamu kenapa duduk di sini? Gak dijemput sama ayah kamu?"


Lisa menggeleng, lalu dia berdiri sambil membenarkan tasnya. "Aku barusan mau ngojek tapi kepala aku pusing jadi duduk sebentar di sini." Bohong Lisa.


"Ayo pulang dan cepat istirahat." Rizal naik ke atas motornya yang diikuti oleh Lisa. "Kamu pegangan ya?"

__ADS_1


Lisa sedikit bingung. Memang biasanya dia hanya pegangan pada pinggiran jok motor Rizal. Akhirnya Lisa hanya memegang tas Rizal yang selama ini menjadi penyekat di tengah saat dia bareng ke sekolah.


Rizal menoleh Lisa sesaat. Rupanya Rizal lupa untuk berinisiatif memindah tasnya ke depan agar bukan hanya tasnya yang Lisa pegang. Tanpa berkata lagi dan tidak ada hak untuk menyuruh lebih, Rizal melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


Di belakang, Lisa tak banyak bicara bahkan nyaris tanpa kata. Dia masih memikirkan pelaku yang tega melakukan itu semua padanya.


Sesekali Rizal melihat wajah Lisa dari spion. Dia mengira Lisa masih syok dengan kejadian di kolam renang itu.


Beberapa saat kemudian Rizal menghentikan sepeda motornya di depan rumah Lisa. Lisa turun dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


"Makasih Kak. Hmmm, jaket Kak Rizal biar aku bersihkan dulu ya. Besok lusa aku kembalikan."


Rizal tersenyum. "Gak papa. Kapan-kapan aja."


"Lisa, baru pulang sayang?" Bu Reni keluar dan menghampiri Lisa yang masuh berdiri di teras.


“Rizal gak mampir dulu?” tawar Bu Reni.


Rizal tersenyum lalu turun dari sepeda motornya. “Lain kali saja tante.”


“Lisa tumben kamu pakai jaket, kamu sakit?” tanya Bu Reni yang melihat Lisa masih memakai jaket Rizal karena Lisa memang tidak terbiasa memakai jaket ke sekolah.


Lisa tidak langsung menjawab. Kalau dia jujur, dia tidak mau membuat mamanya khawatir. Tapi dia juga tidak bisa bohong pada mamanya.


“Lisa tadi terpeleset tante. Tapi, gak papa Cuma seragamnya saja yang kotor."


Rizal memang penyelamat. Dia selalu bisa membaca situasi.


“Bener, kamu gak papa?” Tanya Bu Reni lagi untuk memastikan keadaan Lisa.

__ADS_1


Lisa menggeleng. Sudah lama Lisa ingin menceritakan semuanya pada mamanya tapi itu hanya angan. Seandainya mamanya tahu yang sebenarnya pasti dia sudah tidak boleh mendekati Rizal atau pun menyelesaikan masalah Dewi.


“Saya pulang dulu tante.” Rizal bersalaman dengan Bu Reni lalu kembali menaiki sepeda motornya.


“Iya, makasih ya.”


Rizal mengangguk sambil tersenyum lalu dia mulai melajukan motornya.


Lisa dan mamanya masuk ke dalam rumah. “Oiya, barusan ada kiriman paket buat kamu, mama taruh di kamar.”


“Dari siapa, Ma?” tanya Lisa penasaran.


“Katanya dari teman kamu. Tadi kurir yang ngantar.”


Lisa bergegas masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu. Mungkin saja itu kiriman paket dari teman lamanya. Dia melihat sebuah kotak yang tak terlalu besar terbungkus dengan rapi di atas meja belajarnya. Lisa duduk dan membuka paket itu dengan antusias karena dia sangat penasaran isi dan pengirimnya.


Setelah terbuka, Lisa justru melempar isi dari paket itu.


JAUHI RIZAL ATAU KAMU AKAN MENYESAL!!!


Sebuah pesan besar tertulis dengan spidol merah. Beberapa foto dirinya dengan Rizal juga ada dalam kotak itu. Hanya saja semua foto Lisa sudah tercoret-coret dengan spidol merah tak beraturan. Lisa bergidik ngeri. Ini sebuah ancaman lagi untuknya.


Lisa merobek semua foto dan pesan itu lalu membuangnya ke tempat sampah. Dia kini beralih duduk di tepi ranjang sambil memeluk boneka kesayangannya.


“Gue gak boleh takut! Dia itu psychopat. Dia akan terus melakukannya lagi sebelum tertangkap. Pelaku itu harus terungkap!!” Lisa berusaha menenangkan dirinya sendiri. Meski sebenarnya rasa takut itu tidak bisa dia hilangkan sedikit pun.


💞💞💞💞


Update terganggu gara-gara sinyal timbul tenggelam.. 😔

__ADS_1


__ADS_2