Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Masalah di Kolam Renang


__ADS_3

"Lisa..." Tepukan tangan di pundaknya menyadarkan lamunan Lisa.


Lisa menoleh dan sudah ada Dewa berdiri di sampingnya.


"Apa yang lo lakuin? Lo bener-bener ngelakuin apa yang lo bilang kemaren?"


Lisa mengangguk yakin. "Jangan khawatir." Mereka berjalan santai menuju kelas. "Sudahlah, gak perlu membahas masalah itu di sekolah. Gue juga masih kepikiran sama Karin. Apa dia masih marah sama gue?"


Dewa teringat sesuatu. Yah, kemaren Karin sempat bilang ingin mengajaknya bicara. Dewa benar-benar lupa. Harusnya dia menghubungi Karin dan menanyakan masalah itu. Sudahlah, mungkin bukan hal penting. "Lis, hari ini ada latihan berenang di kolam renang pelatihan angkatan laut di sebelah sekolah kita. Lo ingat kan?"


Lisa sama sekali tidak ingat akan hal itu. "Bukannya pendidikan jasmani biasa?"


"Lo beneran lupa? Tapi tenang aja. Seragam renangnya kan baru diambil di TU nanti."


"Untunglah. Gue bener-bener lupa."


Mereka berdua masuk ke dalam kelas. Dilihatnya Karin sudah datang dan duduk anteng di bangkunya. Tetap sama seperti kemaren, yang ada di sebelahnya tetap Nana.


Lisa menghela napas panjang lalu duduk di bangkunya.


Tak berapa lama kemudian bel jam masuk berbunyi. Selang beberapa menit guru pendidikan jasmani masuk dan mereka berdo'a untuk memulai pelajaran.


"Karin!" panggil Lisa setelah mengambil seragam renangnya dan berjalan di sisi Karin.


Karin hanya terdiam.


"Rin, lo masih marah sama gue? Kalau ada masalah lo cerita sama gue." Lisa mengimbangi langkah Karin yang cukup cepat.


"Gue gak ada masalah. Lagi pengen sendiri aja."


"Karin, apa lo cemburu gue deket sama Dewa?"


Pertanyaan Lisa kali ini berhasil menghentikan langkah Karin.


"Cemburu? Ada hak apa gue cemburu sama lo dan Dewa."


"Kalau lo gak mau gue deket-deket sama Dewa, gue akan jauhin Dewa." Kalimat spontan yang tanpa dipikir ulang oleh Lisa membuat bola mata Karin membulat.


"Mana mungkin?" Karin melanjutkan langkahnya dan kali ini lebih cepat.


"Karin!" Panggilan Lisa sudah tidak lagi digubris oleh Karin. Ingin dia mengejarnya tapi tiba-tiba ada yang menabraknya cukup keras hingga Lisa terjatuh. "Aw!!"

__ADS_1


"Maaf, gue gak sengaja." Lisa mengusap tangannya yang kotor kena tanah hingga tak melihat siapa yang menabraknya saat dia akan mengambil seragamnya yang jatuh, orang itu sudah pergi.


"Lis, lo kenapa?" tanya Dewa membantu Lisa berdiri.


"Gak papa tadi gak sengaja ada yang nabrak gue."


"Hati-hati kalau jalan. Hmm, barusan lo ngobrol apa sama Karin?" Mereka berbicara sambil berjalan masuk ke dalam tempat latihan berenang.


Lisa menggeleng.


"Karin masih marah?" tanya Dewa lagi.


Lisa mengangguk. "Gue merasa bersalah sama Karin." Lisa menghentikan langkahnya dan duduk di bangku yang berada tak jauh dari toilet karena toilet saat itu sedang antri.


"Lo salah apa sama Karin?"


Lisa menatap sekilas Dewa. Apa Dewa bener-bener gak peka atau dia memang gak ada waktu buat mikirin perasaan temennya sendiri?


"Hah? Sudahlah. Lo juga gak bakal ngerti."


"Gue ganti dulu ya." Dewa menuju toilet cowok yang saat itu memang sudah berangsur sepi.


Lisa menghela napas panjang. Dia kini melipat tangannya sambil menunggu antrian berkurang karena dia malas jika harus berebut tempat.


Dia membuka seragam renangnya. "Kok gini?" Lisa bingung dengan baju renang yang dia dapat. Hanya bra dan panty yang sangat sexy dengan warna merah menyala. Harusnya model seragam baju renangnya tertutup dan berwarna hitam. Lisa tidak sadar bajunya tertukar karena kantong hitam yang membungkus sama persis.


"Gue gak mungkin pakai ini." saat Lisa membalikkan badannya. "Seragam gue mana?" Lisa panik karena seragamnya tidak ada di atas pintu. Dia tidak sadar jika ada yang mengambil seragamnya.


"Terus ini gimana?" Lisa bingung. Saat itu dia juga tidak membawa hapenya. "Halloo, ada orang di sebelah." tidak ada jawaban. Toilet sudah sepi bahkan sudah tidak ada suara sama sekali.


Akhirnya Lisa memutuskan untuk memakai baju renang itu. Dia berniat mencari seragamnya. Siapa tau jatuh di depan pintu. "Semoga gak ada yang liat. Gak mungkin gue pakai kayak gini. Seumur-umur baru kali ini gue pakai baju renang minim gini."


Lisa membuka pintunya perlahan. Tidak ada orang. Dia berjalan perlahan dengan tangan menutup dadanya yang tidak tertutup sepenuhnya.


"Seragam gue dimana sih?" Lisa mencari seragamnya tapi nihil, di sekitar toilet tidak ada.


"Hai, Sexy.." tiba-tiba ada seorang pria yang masuk ke dalam toilet.


Lisa bergidik. Dia melihat seringai pria itu yang bagaikan serigala ingin menerkam.


"Sexy sekali. Sengaja ya pakai baju renang sexy. Sini sekalian om puasin." Pria itu berjalan mendekat.

__ADS_1


"Jangan mendekat!" Lisa berlari masuk ke dalam bilik dan menguncinya.


"Mau sembunyi dari saya. Mana bisa!"


Napas Lisa tersengal. Dia sangat ketakutan. Berharap ada seseorang yang menolongnya. "Toloongg!!!"


"Percuma kamu teriak, baby.." Pria itu mendobrak pintu dengan sekali hentakan karena pintu itu hanya terbuat dari plastik.


"Jangan! Keluar kamu dari sini!" Lisa berjalan mundur hingga punggungnya kini menyentuh tembok. "Toloongg!!" teriak Lisa lagi.


"Udahlah, percuma kamu teriak." Pria itu semakin mendekat. Dia menahan tubuh Lisa saat akan berlari.


"Lepasin!" Lisa mulai menangis saat pria itu berhasil menahan kedua tangannya ke atas dan menghimpit kedua paha Lisa.


"Cantik dan sexy sekali kamu." Pria itu mengendus leher Lisa. "Harum, bagai bunga yang baru mekar."


"Jangan sentuh aku! Tolooonggg!" Teriak Lisa lagi dengan suara yang bergetar karena sangking takutnya.


"Lepasin dia!!!" tarikan keras dari Rizal berhasil menarik mundur pria itu. "Brengsek! Lo siapa!" satu pukulan berhasil di layangkan Rizal di perut pria itu hingga dia meringis kesakitan.


Pria itu melepas cengkeraman Rizal dan menendang Rizal cukup keras hingga Rizal jatuh ke belakang.


"Tunggu." Pria itu berlari dengan cepat saat Rizal akan mengejarnya. "Shits!!!" Rizal memukul pintu toilet karena dia gagal menangkap pria bejat itu. Dia kini berjalan masuk ke dalam toilet. Melihat Lisa duduk sambil menangkup kedua kakinya. Rizal melepas jaketnya dan menutup badan Lisa. "Lisa, kamu tenang ya. Kamu kenapa bisa pakai baju ini? Seragam kamu mana?"


Hanya isak tangis Lisa yang terdengar.


"Lisa! Lis?" ada suara Dewa yang memanggil dari luar. Merasa ada yang tidak beres Dewa masuk dan melihat Rizal dengan Lisa yang menimbulkan kesalah pahaman. "Lo ngapain?!" Dewa menarik Rizal berdiri. Dia ingin menghajar Rizal tapi berhenti saat Lisa melarangnya.


"Kak Rizal yang nolong gue, Wa. Ini bukan salah Kak Rizal."


"Lo kenapa?" tanya Dewa pelan.


"Ada orang yang sengaja menjebak Lisa. Gue harus urus ini semua. Lo jagain Lisa." Rizal berlari keluar dari toilet. Dia harus mencari informasi mengapa orang luar bisa masuk saat tempat itu disewa sepenuhnya oleh pihak sekolah.


"Lisa, seragam lo mana?"


Lisa menggelengkan kepalanya.


Dewa berdiri. Ini pasti ulah pembunuh itu lagi!! Dewa mengepalkan tangannya sambil bergegas keluar dari toilet. Pasti seragam Lisa ada di sekitar sini. Dewa melihat ada tong sampah dengan tutupnya yang miring. Mungkin?? Dewa membuka tong sampah itu dan benar saja seragam Lisa ada di dalamnya. "Untung sampahnya kosong." Dewa segera mengambilnya dan memberikannya pada Lisa. "Ini seragam lo. Gue tunggu di luar. Kalau ada apa-apa lo tinggal teriak."


Lisa meraih cepat seragamnya. Lalu menutup pintu.

__ADS_1


Dewa menunggu Lisa di luar toilet sambil terus menerka si pelaku. Apa Sofi dalang di balik semua ini? Gue gak bisa bayangin kalau tadi Rizal gak nolong Lisa. Gue pasti menyesal untuk kedua kalinya.


__ADS_2