Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Singkat Cerita


__ADS_3

Setelah semua masalah selesai, mereka kini melalui hari-hari dengan tenang. Lisa berharap, tidak akan ada lagi masalah dalam hidupnya. Walau itu sebenarnya tidak mungkin, karena hidup akan selalu ada masalah entah itu hal kecil atau pun besar kita harus siap melaluinya.


Setelah masa skorsing Rey selesai, dia kembali bersekolah dan kini dia tinggal di rumah Reno. Dia juga sekarang bersahabat baik dengan Dewa. Apalagi semenjak Rey mulai membuka channel youtubenya, sudah ada beberapa lagu yang dia unggah dan selalu mendapat viewer ratusan ribu dalam sekejap. Bahkan sudah ada tiga lagu kolaburasinya dengan Dewa.


Kini setiap Rey lewat di lorong-lorong kelas selalu ada yang memanggil namanya dengan sorakan seperti seorang artis yang sedang lewat. Bahkan sampai ada yang meminta foto. Rey sangat menikmati keberhasilannya saat ini.


Sedangkan Rizal, kini dia sedang fokus mempersiapkan ujian terakhirnya yang menentukan kelulusan. Dia harus bisa mendapat nilai terbaik dan masuk di Universitas Negeri mengambil jurusan Ekonomi Manajemen karena dia begitu ingin membuka usaha sendiri di masa depan, bersama Lisa tentunya.


Kalau Lisa, dia menjadi penyemangat untuk Rizal. Dia kini tidak mau terlalu menganggu waktu belajar Rizal. Dia sekarang lebih banyak waktu bersama Karin. Kadang juga dia mendengarkan cerewetnya Karin saat kesal dengan Dewa yang sekarang lebih sering bersama Rey.


“Dewa, lo udah kena pelet Rey ya? Sampai gak pernah ngajak gue jalan.” Kata Karin sambil memanyunkan bibirnya.


“Karin jalan sama Lisa dulu ya. Gue masih ada proyek kolaburasi sama Rey.”


“Ajak jalan dulu gih, daripada ngambek. Besok aja dilanjutin. Ntar dikirain gue apa-apain lo.” Rey tertawa keras lalu dia berlalu bersama Reno.


“Ih, sekarang ngambekan. Ayo sini.” Dewa kini merangkul Karin. “Mau jalan kemana?”


Karin justru tertawa. “Gue bercanda, Wa.”


“Hmm, kalau udah diajak jalan aja bilang bercanda.” Mereka berdua berlalu.


Lisa hanya bisa tersenyum melihat tingkah sahabatnya.


“Cewek, bareng yuk!”


Lisa kini menoleh ke arah Rizal yang sudah mengendarai motornya. “Kak Rizal? Gak ada bimbel?”


“Mumpung lagi kosong, pulang bareng yuk.”


Lisa tersenyum lalu dia naik ke boncengan Rizal. Sepanjang jalan mereka terus bercerita dan sesekali tertawa.

__ADS_1


Hari demi hari berlalu begitu cepat. Ujian sekolah Rizal telah usai dan waktunya pengumuman kelulusan. Dia tersenyum bahagia saat mendapat nilai yang dirasanya memuaskan. Meskipun berada diurutan nomor dua setelah Sofi.


"Selamat Kak atas kelulusannya." Lisa hanya menjabat tangan Rizal.


"Ini? Cuma salaman aja?" Rizal justru mengenggam tangan Lisa.


Lisa berusaha melepas tangan Rizal. Karena saat itu banyak sekali teman Rizal. Hanya dia dari kelas X. Lisa memang sengaja menunggu Rizal, karena dia ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan kelulusan untuk Rizal.


"Emang mau apa?"


"Yah, apa gitu?" Rizal tersenyum menggoda Lisa. Tapi itu tak bertahan lama ketika teman-temannya mulai rusuh dan menyeret Rizal.


"Selamat, bro. Kita akhirnya lulus." kata Evan sambil mengoocok pylox yang kini ada di tangannya.


"Gak! Lo gak usah coret seragam gue."


"Yaelah, satu seragam aja. Seragam lo kan banyak, bisa lo yang sumbangin lainnya. Ini masa terakhir kita pakai putih abu-abu. Bentar lagi lo juga gak bisa kuliah bareng gue."


"Jadilah. Semua itu demi..." Evan menunjuk Sofi yang kini juga melihatnya. Ada satu senyuman yang berhasil didapat Evan dari Sofi. "Guys..." Evan memberi aba-aba pada teman-temannya untuk mengeroyok Rizal.


Rizal gagal menghindar. Seragamnya kini sudah dipenuhi dengan pylox warna-warni. Bodohnya dia yang tidak membawa senjata apa-apa untuk membalas mereka. "Kalian ngefans banget sama gue." bahkan ada yang menulis di baju Rizal dengan tulisan You're my inspiration. Tentu saja, siapa lagi kalau bukan Evan. "Evan, geli gue baca tulisan lo!!"


Lisa hanya tersenyum melihat tingkah kakak-kakak kelasnya. Lalu dia membalikkan badannya dan berjalan pelan, membiarkan Rizal merayakan dengan teman-temannya.


Mereka tertawa bersama sambil berpelukan. Teman seperjuangan, yang sebentar lagi akan berpisah dan meraih cita-cita dengan jalannya masing-masing.


...***...


Lisa berjalan pelan menyusuri lorong kelas yang sudah sepi. Tiba-tiba ada yang menariknya masuk ke dalam kelas dan menuntunnya untuk berdiri di balik pintu. Kelas waktu itu sudah kosong tanpa satu pun penghuni.


Lisa sangat terkejut karena kejadian itu sangat tidak dia sangka. "Kak Rizal? Aku kira siapa?" Lisa menghela napas lega saat dia tahu yang menariknya adalah Rizal. Dia kini melihat seragam Rizal yang sudah penuh dengan coretan. "Kak Rizal gak rayain dulu sama mereka. Aku bisa pulang sendiri."

__ADS_1


"Sudah. Sebenarnya ada yang lebih penting dari pada itu."


"Apa?"


"Kamu." Rizal kini sedikit mendorong Lisa untuk bersandar di tembok. Bahkan kedua tangan Rizal kini bertumpu pada tembok memojokkan Lisa.


Lisa menatap Rizal. Dadanya mulai berdebar. "Hmmm, Kak." Lisa kini menyingkirkan tangan kiri Rizal agar dia bisa berpindah tempat tapi gagal. "Mau apa?"


"Mau ambil hadiah kelulusan aku."


Bola mata Lisa berputar. Yah, dia sempat berjanji ingin memberikan hadiah kelulusan buat Rizal. "Kak, aku belum siapin..."


Rizal tersenyum. "Sekarang udah siap kok." Dia kini menatap dalam mata Lisa dan sedikit memiringkan kepalanya.


Dada Lisa semakin berdebar tidak karuan. Jangan-jangan Kak Rizal mau.... Belum selesai dengan pemikirannya bibir Rizal sudah berhasil singgah di bibirnya. Dia merasakan ciuman hangat itu lagi untuk yang kedua kalinya. Ciuman yang bisa membuat dirinya mabuk kepayang. Dia pejamkan matanya merasakan permainan Rizal. Dia kini membalasnya dengan perlahan dan lebih rileks dari sebelumnya.


Mereka menikmatinya. Lama. Sampai darah mudanya terasa memanas.


Rizal menyudahi ciumannya saat terdengar langkah teman-temannya mulai mendekat. Dia tempelkan jari telunjuknya di bibir Lisa agar tidak bersuara. Walau napas berat mereka kini masih terdengar satu sama lain untuk memenuhi pasokan oksigen yang telah banyak berkurang.


"Makasih hadiah terindahnya." bisik Rizal yang membuat pipi Lisa merona.


Saat dirasanya sudah tidak ada suara langkah kaki, Rizal membuka pintu sambil menggandeng tangan Lisa.


"Rizal? Lisa?" Andri sedikit terkejut saat melihat Rizal dan Lisa keluar dari kelas yang kosong.


Mereka hanya tersenyum. Untunglah, yang melihat mereka hanyalah Andri. Kini Rizal dan Lisa melangkah beriringan meninggalkan Andri yang masih terbengong seperti tanpa dosa.


Andri menepuk kepalanya. "Jadi kotor pikiran gue..."


💞💞💞

__ADS_1


Nakal dikit gak papalah ya.. 🤭😂 Jadi ingat masa nakal SMA. Eh.... 🤭😂😂


__ADS_2