
"Ini kuncinya. Kamarnya ada di lantai atas nomor 11. Kalian ke sana ya, tapi jangan buat keributan soalnya banyak tamu." Bu Rosa memberikan kunci pada Reno. "Bentar lagi saya susul soalnya saya lagi masak di dapur."
"Terima kasih, bude." Mereka bertiga bergegas menuju tempat yang ditunjuk Bu Rosa.
Dengan cepat mereka sudah berada di depan pintu nomor 11. Reno segera mengunci dan membuka pintu itu.
Setelah pintu terbuka, nampak pemandangan yang begitu mengiris hati Rizal. Rizal berlari masuk dan menarik kasar Rey yang berada di atas tubuh Lisa.
"Brengsek lo!!" Satu pukulan keras berhasil didaratkan di wajah Rey hingga Rey terjatuh ke lantai.
"Apa yang udah lo lakuin sama Lisa!!!" Rey mendorong Rizal saat Rizal akan menghajarnya lagi. Melihat ada Reno dan Dewa dengan cepat Rey mengambil ponselnya dan berusaha kabur.
"Woy, lo jangan kabur!!" Dewa menarik baju Rey tapi tenaga Rey cukup kuat untuk mendorong Dewa. Bahkan Dewa juga mendapat satu pukulan dari Rey.
"Rey, lo mau kabur kemana!"
Rey juga mendorong keras Reno. "Jadi lo yang bawa mereka semua ke sini. Gue akan buat perhitungan sama lo!" Setelah Rey mengancam Reno dia berlari dengan cepat sebelum Dewa berhasil menangkapnya.
"Zal, lo urus Lisa di sini biar gue sama Reno kejar Rey." Dewa dan Reno berlari mengejar Rey yang sangat cepat. Entah kenapa mereka bisa kewalahan dengan Rey. Apa dalam diri Rey ada sesuatu yang membantunya hingga begitu kuat.
"Lisa?" Rizal kini membantu Lisa duduk. Tatapan Lisa masih kosong. Dia kancingkan kemeja atas Lisa yang sudah terbuka lalu dengan cepat melepas kalung yang ada di leher Lisa.
Lisa tersadar dari hipnotis itu. Dia kini menatap Rizal bingung. "Kak Rizal? Apa yang terjadi? Aku dimana?"
Ada sedikit kelegaan ketika Rizal mendengar suara Lisa sudah kembali normal seperti biasanya. Seketika dia memeluk Lisa. "Aku takut, Lis. Aku takut kamu lupain aku selamanya. Aku takut kamu jadi milik Rey dengan cara kotor kayak gini."
Lisa melepas pelukan Rizal. Dia kembali bertanya tentang apa yang sudah terjadi dengan dirinya. Dan dia tahu betul, dia sekarang sedang berada di penginapan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Setelah pensi itu aku sudah gak ingat apa-apa lagi? Dan, ini kenapa aku bisa ada di sini?"
Rizal mengusap pipi Lisa yang nampak sangat bingung. Dia tidak tega menceritakan semuanya. "Rey hampir aja..." Rizal menghentikan perkataannya. "Sudahlah, yang penting kamu selamat."
"Kak, cerita sama aku. Apa yang udah Rey lakukan sama aku?"
Rizal terdiam. Yah, Lisa memang berhak tahu dengan apa yang sudah terjadi pada dirinya. "Karena kalung ini kamu lupa segalanya." Rizal menunjukkan kalung yang sekarang dia genggam.
__ADS_1
"Kalung itu Rey yang ngasih ke aku Seingat aku, aku akan menolaknya. Tapi..." Lisa sudah tidak mengingatnya lagi.
"Lewat kalung ini Rey berhasil hipnotis kamu. Kamu turuti semua keinginan Rey. Menjauh dari aku dan termasuk membawa kamu ke tempat ini."
"Tapi Rey mau ngapain bawa aku ke sini..." Awalnya Lisa tak punya pikiran terlalu jauh, tapi dia tersadar dengan rencana kotor Rey. Lisa menutup mulutnya sesaat sambil menangis. "Rey, tega banget ngelakuin itu sama aku. Aku.." Lisa merasakan tubuhnya sesaat, dia tidak merasakan hal yang aneh. Itu tandanya Rey belum menodainya.
Rizal menghapus air mata Lisa. "Jangan menangis. Aku yakin Rey belum melakukan itu sama kamu."
Lisa sebenarnya tidak yakin. Dia tidak ingat sudah melakukan apa saja dengan Rey. "Kalau seandainya Rey sudah..."
Rizal menutup mulut Lisa dengan telunjuknya. "Ssssttt, udah jangan mikir yang aneh-aneh. Yang penting kamu udah selamat. Kita harus tuntut Rey. Kita lapor kasus ini ke polisi. Dia keterlaluan. Aku gak bakal lepasin dia!"
Lisa berusaha menenangkan dirinya. Dia tidak mengira Rey yang dulu begitu baik bisa berubah menjadi orang yang sangat jahat baginya.
"Sekarang kita pergi dari sini." Rizal mengambil tas Lisa dan ponsel Lisa yang ternyata telah dirusak oleh Rey. "Hape kamu kenapa gak bisa nyala?"
Lisa hanya menggeleng.
"Ya udah," Rizal memasukkannya ke dalam tas Lisa. Rizal melihat sekitar, hanya tinggal jaket Rey yang tergeletak. "Kamu pakai jaket aku aja ya." Rizal melepas jaketnya dan dipakaikannya pada Lisa.
"Gak papa. Yang penting kamu." Rizal tetap memakaikan jaketnya di tubuh Lisa. Lalu dia menuntunnya untuk keluar dari kamar villa.
Terlihat Dewa dan Reno datang sambil ngos-ngosan. Hanya mereka berdua tanpa membawa Rey.
"Rey berhasil kabur, kita gagal tangkap dia. Punya ilmu apa si dia, cepet banget larinya?" Dewa bicara sambil mengatur napasnya. Lalu pandangannya beralih pada Lisa yang kini berdiri di samping Rizal. "Lo gak papa kan, Lis?"
Lisa menggelengkan kepalanya.
"Gue gak akan biarin Rey kabur. Kita tetap ke rumah kakek Dirman sekarang. Mungkin dia sembunyi di rumahnya." tegas Dewa.
"Iya lo bener. Kita harus lapor masalah ini." Rizal mengeluarkan ponselnya berniat untuk menghubungi orang tua Lisa. "Lis, berapa nomor ibu kamu. Soalnya tadi ibu kamu khawatir banget sama kamu."
Lisa menyebutkan nomor telepon ibunya. Rizal segera menghubunginya dan hanya sekali nada sambung Bu Reni langsung mengangkatnya. "Hallo, tante ini Rizal. Saya sudah menemukan Lisa."
"Dimana? Lisa gak kenapa-napa kan?"
__ADS_1
"Kita di Batu tante. Ada masalah sama Rey. Rencana kita mau ke rumah Kakek Dirman, soalnya Rey kabur."
"Kok bisa sampai ke sana? Ada masalah apa?"
"Ceritanya panjang, nanti kita bahas di rumah Rey saja." Rizal memberikan ponselnya pada Lisa saat Lisa memberikan isyarat ingin berbicara dengan mamanya.
"Hallo, Ma.."
"Lis, kamu gak kenapa-napa kan sayang?"
"Gak papa, Ma. Untung ada Kak Rizal, Dewa dan Reno yang nolong Lisa. Mama nyusul Lisa kan? Tolong bawa baju ganti buat Lisa sama jaket ya, Ma."
"Iya sayang. Mama akan segera berangkat sama Ayah."
Bu Reni memutuskan panggilannya.
Lisa mengembalikan ponsel Rizal lalu mereka berjalan menuju tangga dan turun ke lantai bawah. Terlihat Bu Rosa tergesa menghampiri mereka.
"Saya dengar Rey kabur. Sepeda motornya masih ada di tempat parkir. Gimana ini? Belum kenapa-napa kan?" Bu Rosa terlihat panik.
"Gak papa bude. Kita sekarang mau ke rumah Rey."
"Maaf ya, saya gak tau kalau Rey bawa kamu. Padahal biasanya Rey cuma menginap saja dan bantu saya bersih-bersih." Bu Rosa mengusap pundak Lisa sambil meminta maaf. Sebenarnya Bu Rosa pernah sekali bertemu Lisa saat mereka liburan bersama.
Lisa menggelengkan kepalanya. "Gak papa tante Ros. Saya juga gak sadar Rey bawa saya ke sini."
"Ya udah, kalian cepat berangkat udah mau Maghrib."
"Baik tante, terima kasih atas bantuannya." kata Rizal lalu kembali menuntun Lisa menuju tempat parkir. Mereka segera meninggalkan kawasan villa.
Jalanan menuju rumah Rey semakin menanjak. Angin dingin pegunungan terus menerpa badan Rizal yang saat itu hanya memakai kaos lengan pendek. Tapi dingin itu hilang saat Lisa memeluknya dari belakang. Rizal mengusap tangan Lisa sesaat. Dia tidak bisa membayangkan, jika saja dia terlambat mungkin Rey sudah melakukan hal kotor itu pada Lisa. Berulang kali Rizal mengucap syukur dalam hatinya karena dia diberi kemudahan menolong Lisa dan kini Lisa bisa kembali bersamanya.
💞💞💞
"Zal, berterima kasihlah sama saya karena saya yang sudah beri kamu kemudahan," kata Author. ðŸ¤
__ADS_1