Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Salah Paham


__ADS_3

"Lo ngapain di sini? Lo disuruh Mita?" tanya Sofi setelah mereka duduk di dalam ruang OSIS dan akan menginterogasi Revi habis-habisan.


Revi hanya terdiam sambil menunduk. Dia kini juga terlihat menahan tangisnya.


"Jawab!" bentak Sofi. Dia sangat kecewa dengan perlakuan kedua sahabatnya. Semua tidak ada yang tulus.


"Gue.. Gue..." Revi kini menangis. "Gue terpaksa ngelakuin ini. Gue takut. Mita ngancam gue terus gara-gara gue sempat liat dia dorong Lisa pas ulang tahun lo."


"Lo takut? Kalau lo takut kenapa lo justru bantu dia?! Lo punya temen kayak Sofi. Waktu itu lo juga bisa langsung lapor ke bokapnya Sofi."


Revi kini terisak. "Gue udah terlalu takut. Gue gak bisa berpikir. Gue gak ngira aja selama ini gue sahabatan sama seorang psychopath. Bahkan dia sampai ngancam ibu gue yang sedang sakit di rumah."


"Licik?!! Gue mau habisin dia. Dia belum tau aja kalau gue marah!!" Sofi sangat emosi. Dia mengepalkan tangannya dan memukul meja walau tidak terlalu keras.


"Tahan emosi lo!!" Evan mencegah Sofi untuk bertindak semaunya. "Dia main belakang. Kita juga bisa main belakang."


Revi menghapus air matanya. "Hari ini Mita gak masuk. Makanya gue disuruh nyari foto lo dan Rizal."


"Buat apa?" tanya Rizal sambil mengambil hape Revi dari tangan Evan. Foto itu sudah terkirim ke whatsapp Mita. Foto yang membuat orang salah paham saat melihat kedekatan Sofi dan Rizal. "Buat apa!?" tanya Rizal sekali lagi.


"Gue gak tau." jawab Revi.


"Jangan-jangan foto ini akan dikirim ke Lisa." Rizal mengembalikan hape Revi. Lalu dia kini segera menghubungi Lisa. Sampai beberapa kali tidak juga diangkat.


Sofi kali ini mencibir. "Bagus dong, kalau lo diputusin sama Lisa."


Rizal menatap tajam Sofi. "Lo sama aja kayak mereka! Gue kira lo masih punya hati nurani." Rizal kembali menghubungi Lisa.


Evan kini duduk di samping Sofi. "Lo itu cantik dan pinter. Turunin sedikit ego lo. Buka hati nurani lo. Pasti hidup lo akan jauh lebih tenang." Petuah Evan kali ini untuk Sofi.


Sofi melipat tangannya sambil duduk bersandar. "Selama ini gue kurang baik apa sama sahabat gue. Tapi mereka gak ada yang tulus sama gue. Lagian apa gue salah juga perjuangin cinta gue buat Rizal."


Rizal semakin bingung karena Lisa tidak juga mengangkat telponnya ditambah dia mendengar ocehan Sofi. "Salah, karena cinta itu gak bisa dipaksakan!" kata Rizal sebelum akhirnya dia keluar dari ruang OSIS.

__ADS_1


Sofi cemberut dan memanyunkan bibirnya. "Gue dari kecil udah dilatih sama Papa buat selalu berusaha dapetin apa yang gue mau tapi ternyata itu gak berlaku buat cinta."


Evan tertawa. "Makanya, lo itu tau apa soal cinta. Lo cuma liat kesempurnaan Rizal aja. Lo terlalu terobsesi. Ya untung sih, gak sampe jadi psycho."


Sofi menatap tajam Evan dan siap memukulnya. Tapi tangannya ditahan oleh Evan. "Sorry, sorry."


Sofi menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Evan dan kini dia beralih menatap Revi yang sedari tadi terdiam. "Lo masih mau jadi sahabat gue atau Mita?"


Revi gelagapan. Sofi begitu tegas dengan bicaranya. "Gue, gue cuma mau jadi sahabat lo aja." jawab Revi.


"Oke, kalau gitu lo pura-pura gak terjadi apa-apa hari ini. Setiap apa yang disuruh Mita, lo lapor ke gue. Soal Ibu lo, lo gak usah khawatir. Kalau lo butuh apa-apa lo bilang aja sama gue. Gue bisa bantu. Gue juga bakal tetep berpura-pura jadi temen Mita."


Revi tersenyum lalu kini memeluk Sofi. "Makasih. Lo emang sahabat gue. Sekali lagi gue minta maaf soal kejadian barusan." hanya sesaat lalu Revi melepaskan pelukannya.


"Gitu dong, berani mengaku. Jadi pengen dipeluk juga." kata Evan sambil tertawa menggoda Sofi.


"Mau gue lempar pake ini." Sofi mengangkat patung kecil hiasan meja yang terbuat dari keramik. Dia kesal dengan perkataan Evan yang suka ngasal.


"Cantik tapi galak." Evan berlari ngacir keluar ruangan sebelum marah Sofi semakin menjadi.


"Dewa, gue cariin lo dari tadi." panggil Rizal saat melihat Dewa sedang duduk di kantin dengan Karin. Saat itu jam istirahat dengan kondisi kantin yang cukup ramai. Rizal duduk di depan Dewa sambil menaruh air mineral yang dingin di meja.


"Ada apa?" tanya Dewa setelah selesai melahap bakso terakhirnya.


"Tadi Lisa WA lo gak? Soalnya dari tadi gue hubungi gak ada balesan," tanya Rizal yang masih cemas dengan Lisa. Jangan-jangan Lisa benar-benar marah dengannya.


"Barusan Lisa WA aku katanya gak jadi pinjem buku catatan." Kata Karin sambil melihat lagi whatsapp nya. Lisa aktif di 15 menit yang lalu.


Rizal memukul meja pelan untuk meluapkan kekesalannya. Pasti foto itu sudah sampai di hape Lisa.


"Kenapa? Ada masalah apa? Panik banget." tanya Dewa yang melihat kepanikan Rizal.


"Ada yang foto gue sama Sofi. Dan foto itu udah dikirim ke Mita. Pasti Mita udah ngirim foto itu ke Lisa dengan kalimat yang bukan-bukan."

__ADS_1


Karin menautkan alisnya. "Tapi aku rasa Lisa gak gampang percaya gitu aja kak. Coba aku telpon dia." Karin menghubungi Lisa lewat whatsapp. Beberapa kali berdering belum juga diangkat. Lalu dia mencoba lagi dan kali ini terdengar suara Lisa.


Halo, ada apa Rin?


Karin segera memberikan ponselnya pada Rizal. "Halo, Lisa..."


Lisa terdiam. Tak terdengar lagi suaranya.


"Lis, aku telpon dari tadi kenapa gak kamu angkat. Aku mau bicara sama kamu soal..."


Maaf Kak. Aku mau istirahat.


Lisa memotong pembicaraan Rizal lalu memutuskan panggilan begitu saja.


Rizal mengembalikan ponsel Karin. Dia menghela napas panjang. "Keliatannya Lisa beneran marah." Rizal menyangga kepalanya sambil memijit pelan pelipisnya yang terasa pusing.


"Udah, lo tenang aja. Lisa gak mungkin percaya sama foto-foto itu."


Rizal kembali menegakkan duduknya. Dia kini meminum air mineral yang sudah cukup hilang rasa dinginnya karena sedari tadi hanya didiamkan saja. "Masalahnya Lisa sama sekali gak mau angkat telpon gue. Gue ke rumahnya aja ntar sama sekalian buku catatan lo yang Lisa butuhin biar gue bawa."


"Iya Kak. Nanti sepulang sekolah aku kasih."


"Oke." Rizal berdiri lalu berjalan keluar dari kantin. Dia kembali ke kelasnya lalu duduk di bangkunya sebelah Evan. "Van, lo bisa gak nolong gue?"


"Apaan?" Evan memutar badannya menghadap Rizal setelah mengobrol dengan Andri saat itu.


"Tolong lo lanjutin laporan gue. Kurang dikit lagi. Gue ada urusan. Biar Sofi bantu lo."


Sofi yang sedang duduk berjarak sebaris mendengar omongan Rizal. "What!! Gue sama Evan. Ogah! Kalau gue bantu lo gak papa."


"Sofi, ayolah gue minta tolong sama lo sekali ini aja. Lo kan sekretaris OSIS. Kalau Evan sendiri yang ngerjain gue gak percaya bakal kelar."


"Lo minta bantuan gue, tapi malah dihina dulu." Evan menepuk pundak Rizal. "Tapi gak papalah namanya juga sahabat. Tenang aja kalau Sofi gak mau biar gue seret dia."

__ADS_1


Sofi melebarkan matanya melihat Evan. "Berani lo!" mereka mulai bertengkar lagi.


Rizal hanya menghela napas panjang. Masih begitu banyak beban pikirannya saat itu. Dia memikirkan Lisa, memikirkan cara menjebak Mita, memikirkan tugas-tugas akhirnya sebagai ketua OSIS yang akan berakhir jabatannya. Belum lagi, memikirkan pelajaran sekolah kelas XII yang beberapa bulan lagi menghadapi persiapan ujian nasional.


__ADS_2