Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Hampir Berkelahi


__ADS_3

Lisa berjalan di samping Rizal tapi entah kenapa suara nyanyian Rey begitu terngiang.


"Lisa?" panggil Rizal namun tidak ada jawaban dari Lisa. "Lis?"


"Eh, iya kak." Lisa tersadar dari lamunannya saat Rizal menarik tangan Lisa dan menuntunnya duduk di bangku dekat tempat parkir yang terhalang tembok.


"Kenapa?"


Lisa menggelengkan kepalanya. "Katanya mau pulang?"


"Emang kamu gak mau lama-lama sama aku?"


"Bukan gitu. Katanya Kak Rizal sakit jadi harus banyak istirahat biar cepat sehat.


Rizal mendekat dan kini merangkul Lisa., "Buat apa istirahat, obat aku kan ada di kamu."


Pipi Lisa bersemu merah. "Apaan sih, gombal banget."


Rizal terus menatap Lisa, karena dia sangat suka melihat ekspresi Lisa yang malu-malu dengan pipinya yang merona. "Hmm, udah dapat kabar dari Elis?"


Lisa menggelengkan kepalanya. Dia teringat lagi mimpi semalam yang membuatnya terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Mimpi itu seperti reka ulang adegan beberapa bulan lalu saat dia dan teman SMP lainnya berkunjung ke coban setelah ujian akhir selesai, tak terkecuali Elisa dan Rey.


Dia ingat waktu berdiri di pinggir tebing batu untuk melihat air terjun lebih dekat. Tiba-tiba dia terpeleset dan jatuh ke dasar yang membuat matanya terbentur batu hingga terjadi kerusakan parah. Itu yang Lisa tau pada kenyataannya. Tapi di mimpinya semalam, dia melihat ada tangan yang dengan sengaja mendorongnya.


"Kok malah melamun?" Rizal menyadarkan lamunan Lisa. "Mikirin Rey?"


Lisa menghela napas panjang. "Gak. Aku mikirin mimpi aku semalam. Mimpi buruk lagi."


"Aku kira kamu telpon sama Rey sampai larut malam sampai kamu kesiangan."


Lisa menggeleng. "Makanya Kak Rizal jangan salah paham dulu. Semalam aku mimpiin kecelakaan yang aku alami dulu. Dulu aku ngerasa kalau aku jatuh terpeleset tapi di mimpi aku, ada seseorang yang sengaja dorong aku."


Rizal kini menatap Lisa dengan serius. "Apa mungkin itu yang sebenarnya terjadi?"


Lisa terdiam sesaat. Apa mungkin?


"Tapi mungkin juga itu cuma mimpi. Gini aja, kamu tau kan rumah Elis? Minggu depan aku antar kamu ke sana."


"Iya, tau sih. Tapi aku ragu. Mana Rey sekarang juga ada di sini. Aku takut Elis semakin marah sama aku."

__ADS_1


Rizal melepas rangkulannya. "Ssstt, jangan ambil kesimpulan sendiri sebelum tau yang sebenarnya. Aku punya satu rahasia."


Lisa menautkan alisnya. Dia menunggu sesuatu yang akan ditunjukkan oleh Rizal.


Rizal mengambil ponselnya dan menunjukkan tangkapan kamera yang berisi status terakhir Elis.


Maaf, aku terlalu buta karena cinta. Aku salah. Aku salah besar. Bagaimana aku harus menebus kesalahan ini? Apa harus dengan maut aku menebusnya.


Harusnya aku tidak melakukannya. Tangan ini, mengapa tega menyakitinya. Padahal dia hanya diperdaya oleh cinta yang dibuat dengan sengaja.


Lisa semakin tidak mengerti setelah membaca status itu. "Maksudnya apa? Bukankah akun facebook Elis udah nonaktif?"


"Aku punya teman hacker. Maaf, aku gak minta ijin kamu dulu."


Lisa membacanya berkali-kali. Elis memang pintar memainkan kata tapi kali ini benar-benar menjadi sebuah tanda tanya besar bagi Lisa. Perasaan Lisa semakin tidak enak. "Iya, minggu depan antar aku ke rumahnya."


"Oke. Jangan bilang sama Rey soal ini."


"Iya."


"Pulang yuk." ajak Rizal.


"Loh, katanya mau pulang ternyata masih ada di sini." tegur Dewa saat berpapasan dengan Rizal dan Lisa.


Dewa saat itu berjalan bersama Karin yang diikut Rey dan Reno di belakangnya.


Karin menyenggol sikut Dewa. "Ya, pacaran dulu lah. Iya kalau lo gak pernah pacaran."


Dewa beralih menatap Karin sambil melebarkan matanya. Dia tahu, perkataan itu menyindir dirinya. "Oo, mau pacaran. Oke, ayuk. Mumpung lo gak bawa motor sendiri kan." Dewa kini merangkul Karin menuju sepeda motornya. "Kalian para jones cepet pulang!!"


Karin melepas rangkulan Dewa karena dia masih canggung ketika harus bermesraan di depan orang lain. "Gue cuma bercanda."


"Serius juga gak papa. Ayo, beneran. Mumpung di rumah ada bokap yang nemenin nyokap gue. Mau kemana? Ke taman atau nonton bioskop atau semuanya." Dewa menaiki motornya.


Karin menaiki motor Dewa sambil melanjutkan obrolan mereka.


"Kita duluan ya." Teriak Dewa saat motornya sudah melaju meninggalkan tempat parkir.


Lisa sedikit memundurkan dirinya dan bersembunyi di bahu Rizal saat mendapati tatapan Rey.

__ADS_1


"Gue pulang dulu ya. Besok-besok gue mampir ke kos lo." Reno melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan tempat parkir dengan motornya.


Sempat terjadi kecanggungan di antara mereka bertiga.


Rizal menaiki motornya dan memundurkannya. "Yuk."


Lisa menoleh sesaat Rey yang masih saja berdiri di dekat motornya. Lalu dia kini naik ke atas motor Rizal. Saat Rizal mulai melajukan motornya, Rey justru mengikutinya. Bahkan sampai di jalan raya.


Lisa sempat menoleh Rey beberapa kali. Dia sedikit panik. Mau apa Rey mengikutinya?


Tak disangka, Rizal tiba-tiba menghentikan motornya di pinggir jalan. "Ada apa Rey ngikutin kamu?"


"Lis," Rey menghentikan motornya di samping Lisa. "Ada yang mau gue omongin sama lo." Nyali Rey besar, dia tidak takut ada Rizal yang telah berstatus pacar Lisa sedang bersamanya.


Lisa hanya terdiam dan bingung dengan situasi saat ini.


"Mau ngomong apa?" tanya Rizal. "Bisa diomongin sekarang." Bagaimana Rizal tidak emosi, jika ada seseorang yang berniat mendekati pacarnya bahkan tidak menghargai adanya dirinya.


"Gue ada perlu sama Lisa, bukan sama lo!"


"Lisa kamu turun!" Rizal menyuruh Lisa turun dari motornya. Lisa menurutinya. Kini Rizal menjagrak motornya dan segera turun. Menghampiri Rey, yang sudah berdiri di sisi motornya. "Lo jauhin Lisa, karena dia pacar gue!"


Rey menaikan sebelah bibirnya, hanya menganggap remeh perkataan Rizal. "Baru juga pacar, Lisa masih bisa dimiliki siapa aja."


Rey begitu menyulut emosi Rizal. "Apa lo bilang!!" Rizal menarik jaket Rey dan bersiap memukulnya tapi dihentikan oleh Lisa.


"Stop!!" Lisa menarik tangan Rizal agar melepaskan Rey. "Udah gak usah berantem. Kak Rizal ayo pulang."


"Lis, gue pasti akan dapatin lo. Lagi..."


Lisa kini melepaskan tangan Rizal. Dia menghampiri Rey untuk membantah perkataan Rey. "Rey, dari dulu kita gak ada hubungan apa-apa. Udah, lo lupain semua perasaan lo."


"Lis, gue yakin lo masih ada perasaan sama gue."


Baru kali ini Lisa melihat tatapan Rey yang penuh harap. Banyak rasa yang tersirat dari sorot matanya. Rasa kecewa, rasa takut kehilangan, rasa marah. "Gak ada!" Lisa membalikkan badannya dan menghampiri Rizal lagi.


Rey hanya berdiri mematung, menatap kepergian Lisa. Membiarkan dirinya menenggelami rasa sakit hatinya.


Gue akan terus ngejar lo. Gue yakin, masih ada perasaan yang tersisa buat gue. Gue gak mau jalani kisah ini sendiri tanpa lo, Lisa.

__ADS_1


...***...


__ADS_2