
Lisa kini berlari menyusul Rizal. Dia berdiri di hadapannya. Menatapnya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. "Kak Rizal???" Seperti mencari kebenaran tentang sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal sehat Lisa. "Kak, ayo kembali..."
Rizal menggelengkan kepalanya. "Aku harus pulang. Ada satu hal yang harus aku selesaikan. Kamu tunggu ya..." Rizal kembali berjalan bersama Andri.
Beberapa saat kemudian ponsel Lisa kembali berbunyi. Ada panggilan masuk dari Bu Ela. Lisa segera mengangkat ponselnya.
"Lis..." terdengar suara isak tangis Bu Ela di seberang sana. Jantung Lisa seperti akan berhenti, dia takut ada kabar buruk dari Bu Ela.
"Kenapa tante?" tanya Lisa dengan bergetar.
"Kamu cepat ke sini ya... Semua alat bantu Rizal akan dilepas. Dokter sudah pasrah dengan keadaan Rizal."
"Jangan!! Jangan dilepas dulu tante. Tunggu saya. Saya akan segera ke sana." Lisa mematikan panggilannya. Dia mengusap asal air matanya lalu mengajak Dewa bergegas pergi. "Wa, alat bantu Kak Rizal akan dilepas. Ayo cepat kita ke rumah sakit sebelum terlambat."
"Baik." Dewa dan Lisa berjalan cepat menuju tempat parkir. Tak butuh waktu lama motor Dewa sudah meninggalkan kampus bersama Lisa.
"Waktu emergency kayak gini kenapa jalanan macet banget!!!" Dewa beberapa kali mengklakson motor yang ada di depannya.
Sedangkan Lisa yang berada di boncengan Dewa sudah sangat tidak sabaran. "Kak Rizal ayo cepat kembali sebelum semua terlambat."
"****!!!" Dewa mengumpat kesal saat dia akan menyalip mobil yang ada di depannya justru tersalip oleh motor lain.
"Hati-hati, Wa." kata Lisa. Walau sebenarnya dia juga sudah sangat tidak tenang.
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Lisa turun dari motor Dewa dan melepas helmnya. Dia segera berlari masuk ke dalam rumah sakit dan menuju ruang ICU. Terlihat beberapa suster dan Dokter sudah berada di ruangan Rizal. Mereka sudah bersiap untuk melepas alat-alat yang menempel di tubuh Rizal.
__ADS_1
"Tunggu!!!" Lisa masuk ke dalam ruangan dan menepis tangan suster yang akan melepas infus yang masih terpasang di tangan Rizal. "Jangan lepas sekarang!! Tunggu beberapa saat lagi."
"Maaf. Kalau terlalu lama kasian tubuh pasien. Pasien sudah tidak bereaksi sama sekali dengan alat bantu itu."
"Jangan!!" Lisa menangis histeris sambil mendorong suster agar tidak mendekat. "Kak Rizal pasti kembali." Lisa kini memeluk Rizal. "Kak, ayo bangun. Kak, bangun..."
"Lisa udah sayang. Kamu harus ikhlas." Kata Bu Ela dalam tangisnya.
"Tidak tante!! Kak Rizal pasti bangun. Kak Rizal pasti kembali." Lisa menangkup pipi Rizal. "Ayo kak, cepat bangun..."
"Pa..." Bu Ela semakin menangis dan memeluk Pak Alan, dia tidak tega melihat Lisa yang terus berusaha membangunkan Rizal.
...***...
"Andi, sudah pulang? Kamu kenapa?" Pak Bambang berdiri dan langsung merangkul putranya. "Kita ke rumah sakit ya, check kondisi kamu." Pak Bambang menuntunnya untuk duduk di kursi.
Rizal menggelengkan kepalanya. "Pa, kalau seandainya Andi pergi dari dunia ini. Papa ikhlas ya?"
"Andi kamu bicara apa? Lebih baik kita sekarang ke rumah sakit ya."
Lagi, dia menggelengkan kepalanya. "Pa, Papa sudah maafin semua kesalahan Andi kan?"
Pak Bambang tak kuasa menahan tangisnya. Beliau kini memeluk Andi. "Andi, tanpa kamu minta maaf, Papa sudah memaafkan kamu. Papa itu sayang sama kamu. Papa hanya manusia biasa yang tidak bisa melawan takdir. Papa ikhlas, nak. Insya Allah, Papa ikhlas."
Pak Bambang merasakan tubuh Andi semakin melemas. Rizal sudah pergi. Rizal sudah keluar dari tubuh Andi.
__ADS_1
Air mata itu terus bercucuran.
"Pa.." panggil Andi dengan suara lemahnya.
Pak Bambang kini melihat wajah pucat Andi.
"Maafin Andi yang selalu buat Papa sedih. Maafin Andi yang belum bisa bahagiain Papa."
"Papa, sudah maafin kamu, nak."
"Pa, setidaknya Andi sudah memenuhi keinginan Papa untuk bersikap seperti Rizal. Beberapa hari ini sebenarnya Rizal yang ada di diri Andi. Dia sekarang sudah kembali dan tubuh ini sebenarnya sudah..." Andi sudah tidak sanggup berkata lagi. Dia kini memejamkan matanya dan menghembuskan napas terakhirnya.
"Andi..." Pak Bambang memeluk erat tubuh Andi. Tangisnya menggema di seluruh ruangan.
Andri yang sedari tadi hanya berdiam mematung, kini ikut meneteskan air matanya. "Tidak ada yang bisa menandingi kesedihan drama kehidupan ini. Gue jadi ikutan nangis..." Andri mengusap air matanya lalu berjalan mendekat dan membantu Pak Bambang.
πππ
πππ
Sedih karena berjuang ngelanjutin cerita ternyata tidak ada yang komen.. ππ
βοΈβοΈβοΈ
Tapi saya author yang kebal kok.. βΊοΈ Pantang semangat sebelum menyerah.. Eh,... π€
__ADS_1