
Lisa melipat tangannya karena rasa dingin mulai menyerang tubuhnya yang basah walau sudah memakai blazer Rizal.
Sadar tubuh Lisa menggigil, Rizal semakin mempererat rengkuhannya. “Aku antar kamu pulang.” Ucap Rizal sambil berjalan menuju sepeda motornya yang terparkir.
Dewa mencegah Rizal. Dia menarik Rizal agar melepaskan Lisa. “Biar gue yang antar Lisa!”
Rizal melepas paksa tangan Dewa. “Ini tanggung jawab aku. Makasih udah nolong Lisa.”
Dewa mencibir mendengar kalimat Rizal. “Jangan sok-sok an mau ngelindungi Lisa kalau akhirnya lo gagal. Lo lanjutin aja hubungan lo sama Sofi. Jangan permainin Lisa. Pikirin gimana perasaan Lisa!”
“Dewa udah! Cukup!” Lisa kini berteriak. Dia melepaskan tangan Rizal. “Aku bisa pulang sendiri.” Lisa mengusap air matanya asal lalu melangkah pergi dengan setengah berlari.
“Lisa!” panggil Rizal dan Dewa secara bersamaan. Rizal berhasil mengejar Lisa sedangkan Dewa kini tangannya ditahan oleh Karin.
“Lisa tunggu!” Rizal berhasil meraih tangan Lisa. “Jangan pulang sendiri. Aku gak mau kamu kenapa-napa lagi.”
“Udah! Kak Rizal stop kasih perhatian ke aku.” Lisa berusaha melepaskan tangannya tapi sangat sulit. Genggaman Rizal sangat erat.
“Gak akan bisa!”
Jawaban yakin Rizal membuat Lisa beralih menatapnya. Dia kini sudah tidak memberontak untuk lepas dari Rizal.
“Kita pulang ya.” Ajak Rizal lagi dengan lembut..
Lagi, lagi, Lisa menggelengkan kepalanya. “Aku gak mau Mama liat aku yang berantakan kayak gini. Pasti Mama akan khawatir.”
“Tapi kamu basah, kamu bisa masuk angin.”
Lisa terdiam. Dia masih kekeh untuk tidak mau pulang.
“Kamu mau kemana?” tanya Rizal yang akan menuruti keinginan Lisa.
Lisa terdiam. Dia juga tidak tahu harus kemana.
“Ikut aku.” Rizal menarik tangan Lisa menuntunnya ke tempat parkir sepeda motornya. Dia naik ke atas motornya lalu memundurkannya pelan. “Ayo naik.” Suruh Rizal saat sepeda motornya sudah siap melaju.
Lisa menurutinya dan mereka berdua keluar dari halaman rumah Sofi. Ada beberapa pasang mata yang melihat mereka berboncengan saat itu. Terdengar banyak cibiran dan gosip yang tidak sedap, entah siapa yang mulai menyebarkannya.
__ADS_1
Lisa hanya bisa terdiam sambil merasakan dinginnya malam itu. Badannya sampai bergetar.
Tiba-tiba Rizal menghentikan sepeda motornya. Tanpa berkata, dia menarik kedua tangan Lisa ke perutnya agar memeluknya. Setidaknya itu bisa sedikit mengurangi rasa dinginnya. Lalu Rizal kembali melajukan motornya.
15 menit berlalu, Rizal menghentikan motornya di depan taman yang sudah dekat dengan rumah mereka. Mereka turun lalu berjalan sesaat menuju bangku taman yang berada di dekat pohon besar.
Rasanya semakin dingin apalagi angin malam itu bertiup sepoi-sepoi.
Rizal memegang tangan Lisa yang terasa sangat dingin. “Badan kamu dingin banget. Kita pulang saja yah.”
Lisa menggeleng. “Jam 9 aja kita pulang, aku bilang sama mama kalau acaranya sampai jam 9.” Suara Lisa sampai bergetar menahan rasa dingin.
Rizal menghela napas panjang. “Masih satu jam lagi.”
Lisa semakin mendekap tangannya sendiri, berharap rasa dingin itu hilang.
“Maaf.” Permintaan maaf Rizal terdengar seiring dekapannya pada Lisa. Rizal mendekap erat tubuh Lisa dari belakang. “Aku minta maaf untuk semua yang udah terjadi sama kamu. Akulah penyebab kamu selalu celaka.” Kata Rizal di dekat telinga Lisa.
Tubuh Lisa terasa hangat, dia memejamkan matanya sesaat untuk menenangkan detak jantungnya saat itu. Tidak hanya suara Rizal yang ditangkap telinganya tapi kini hangatnya napas Rizal menyapu daun telinganya.
Rizal semakin mengeratkan pelukannya. Apa yang bisa dia lakukan untuk selalu menjaga Lisa, sedangkan dia tidak mungkin bersama Lisa selama 24 jam. Alih-alih mendekati Sofi agar Lisa tidak dicelakai tapi ternyata tetap Lisa yang menjadi incarannya. “Aku gak mau kehilangan untuk kedua kalinya. Aku takut kehilangan kamu. Aku takut, aku gak bisa jagain kamu.”
“Kenapa? Bukannya aku juga bukan siapa-siapa Kak Rizal? Beda dengan Kak Dewi yang sangat Kakak cintai. Bahkan mungkin sampai sekarang, Kak Rizal masih belum bisa melupakan cinta itu.”
Pertanyaan Lisa membuat Rizal terdiam beberapa saat. “Mungkin jawabannya sama dengan apa yang kamu rasakan, kalau aku tanya, kenapa kamu gak bisa menjauhi aku?”
Lisa menoleh. Mereka kini saling menatap.
“Karena aku cinta sama kamu.” Secara bersamaan mereka mengucap kalimat itu.
Lisa kembali meluruskan pandangannya karena kini dia mulai salah tingkah. Pipinya terasa memerah.
“Sejak pertama ketemu kamu, kamu menyita perhatian aku. Saat itu, aku memang sedang sangat berusaha melupakan Dewi. Sulit, sangat sulit. Tapi setiap memandang kedua mata kamu, ada perasaan aneh yang muncul. Lama, lama, saat kita mulai dekat, aku semakin gak rela jauh dari kamu.” Rizal kini mengungkapkan semua yang dia rasakan. “Aku sempat ragu dengan perasaanku sama kamu karena di sisi lain aku masih saja merindukan Dewi. Dan, akhirnya aku sadar memang udah saatnya aku merelakan kepergian Dewi. Aku juga gak mau terus ngegantung perasaan kamu. Kalimat kamu tadi menyadarkanku kalau kamu bukan benda yang ada tanpa perasaan.”
Lisa hanya terdiam, dia mencerna setiap kalimat yang Rizal ucapkan.
“Aku dan Sofi tadi hanya sandiwara. Aku kira dengan aku menuruti keinginan Sofi kamu gak bakal celaka tapi ternyata kamu tetap menjadi incarannya. Aku nyesel, kenapa aku masih saja gak bisa jagain kamu.”
__ADS_1
“Ini bukan salah Kak Rizal.” Lalu mereka terdiam beberapa saat untuk menikmati saat-saat bersama kala itu. Terasa sangat nyaman. Mungkin waktu 1 jam pun akan terasa kurang.
“Rizal pria yang baik. Jika dia udah cinta sama kamu, dia gak akan nyakitin kamu.”
Suara itu? Lisa menoleh ke sisi kanan. Dewi kini muncul di sebelahnya. Apa dia tidak suka melihat Rizal sedang bersamanya saat ini? Tapi dia kini tersenyum setelah sekian lama wajahnya beraura sedih.
“Makasih kamu udah cerita sama Rizal. Makasih kamu sudah mengganti kesedihan Rizal. Dan maaf, aku gak bisa bantu kamu menghadapi kesulitan. Tapi kamu tenang saja, pembunuh itu pasti akan tertangkap. Ada Dewa dan Rizal yang akan selalu menjaga kamu.”
Ingin Lisa membalas omongan Dewi tapi ada Rizal di sampingnya yang pasti akan bertanya-tanya.
“Ada satu lagi keinginan aku, tolong bawa Rizal ke pemakaman di jalan Pahlawan.”
Lisa sedikit berjingkit mendengar kalimat terakhir Dewi. Hingga membuat Rizal melepaskan pelukannya.
“Kenapa?”
Lisa menarik napas panjang. Menenangkan dirinya sendiri. “Besok anterin aku ke jalan Pahlawan, bisa?”
“Bisa. Selagi aku ada waktu kamu minta antar kemana pun aku bisa.”
Lisa tersenyum sesaat. Lalu dia merapikan gaunnya dan rambutnya yang sudah mengering. “Hmm, blazer kak Rizal...” Lisa akan melepas blazernya tapi dicegah Rizal.
“Kamu pakai dulu. Gak papa.”
“Tapi jaket yang itu belum aku kembalikan juga. Besok ya.” Lisa bercengir kuda. Dia lupa ada satu jaket yang masih ada di rumahnya.
“Gak papa. Buat kamu juga gak papa.” Rizal kini berdiri sambil mengulurkan tangannya pada Lisa dan membantunya berdiri.
“Aku gak mau jaketnya sih.” Lisa meraih tangan Rizal lalu berdiri.
“Terus?”
“Maunya yang punya jaket.” Pipi Lisa memerah lalu berjalan mendahului Rizal.
Rizal tersenyum. Ternyata ini sisi lain Lisa yang pintar menggoda yang tidak diketahui Rizal.
Rizal menyusul langkah Lisa lalu mereka berdua naik motor dan pulang ke rumah. Apa yang terjadi malam ini, pasti akan terbayang semalaman sampai mereka sulit memejamkan matanya.
__ADS_1