
“Lis, lo nunggu Kak Rizal kan?” tanya Karin yang kini masih duduk di dalam kelas bersama Lisa. Padahal bel pulang sekolah sudah berbunyi di beberapa menit yang lalu dan sebagian besar temannya sudah menghilang.
Lisa menganggukkan kepalanya. “Iya. Katanya mau beresin berkas-berkasnya di ruang OSIS.”
“Kita tunggu di sini aja ya. Gue juga nungguin Dewa. Maklum anggota OSIS dadakan.”
“Lo kenapa gak ikut OSIS juga. Kan bisa bareng Dewa terus.”
Karin kini tertawa. Lebih tepatnya menertawai dirinya sendiri. “Gue itu males ikut gituan. Banyak kegiatan, capek. Gue kan juga harus bantu Ibu jualan di rumah.”
“Oo, sama kalau gitu.”
“Eh, Lis. Kemaren lo kemana sih? Kita nyariin lo sampai satu sekolah gak ketemu. Kak Rizal sampai panik banget.” Tanya Karin yang kini duduk menopang pipinya melihat Lisa.
“Gue? Ada kok di sekolah. Nyatanya Kak Rizal nemuin gue.”
Karin kini menegakkan duduknya. “Gue pulang itu Kak Rizal masih nyari lo. Emang lo sembunyi dimana? Penasaran gue.”
“Ada deh.” Pipi Lisa kini terasa memerah. Lagi-lagi dia teringat kejadian itu bersama Rizal.
Karin menoel pipi Lisa. Dia seperti bisa menangkap apa yang dipikirkan Lisa. “Ada kejadian spesial apa sama Kak Rizal?”
Lisa tersenyum malu. Dia kini berdiri sambil memakai tasnya yang segera diikuti oleh Karin.
“Cerita dong. Penasaran gue.” Karin menggandeng tangan Lisa sambil berjalan pelan.
“Gak ada apa-apa, Rin.” Elak Lisa. Baginya hal itu terlalu pribadi untuk diceritakan walau ke sahabatnya sendiri.
“Okelah. Tapi lo beruntung bisa sama Kak Rizal. Gue do'ain lo berjodoh.”
“Ngomongin soal jodoh, masih lama Rin. Kita aja masih kelas X SMA.”
“Emang lo mau kalau gak jodoh sama Kak Rizal.”
“Enggak!!” jawab Lisa dengan tegas
“Ya udah aminin.”
“Amin Yaa Robbal Alamin.”
Karin tertawa mendengar Lisa. Dia gak habis pikir, kebucinan Lisa sudah sampai di stadium 4.
__ADS_1
“Rin!!” panggil Dewa yang kini melambaikan tangannya di depan ruang OSIS.
“Kita ke sana yuk.” Karin dan Lisa berjalan mendekati Dewa.
“Lis, lo dicariin Rizal di dalam.” Kata Dewa yang kini beralih ke samping Karin
“Di dalam?” Memang tidak biasanya Rizal menyuruhnya masuk ke ruang OSIS. Sebenarnya Lisa ragu tapi ya sudahlah, mungkin saja Rizal ada perlu sesuatu. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan. “Kok gelap?” Saat lampu dimatikan ruangan itu memang cukup gelap karena letaknya berada di pojok. “Kak?" Panggil Lisa. Merasa tidak ada jawaban, Lisa membalikkan badannya.
Seketika lampu menyala saat Rizal kini melingkarkan kalung di leher Lisa. “Selamat ulang tahun.”
Lisa sedikit terkejut. Dia kini membalikkan badannya saat Rizal sudah berhasil memasang kalung itu. “Kak, ini...” Lisa melihat kalung silver dengan inisial RiLi yang sekarang telah menggantung di lehernya.
“Ini kado yang sebenarnya mau aku kasih buat kamu, tapi karena Rey mendahuluinya jadi baru sekarang aku bisa ngasih ke kamu.” Rizal kini memegang kedua tangan Lisa.
“Hmm, tapi ini bukan kalung...”
Rizal mengerti maksud Lisa. Mungkin saja dia masih trauma dengan kalung pemberian Rey. Rizal justru tersenyum dan berniat menggoda Lisa. “Ini kalung lebih dari sekedar kalung janji jiwa. Kamu lihat kan, RiLi. Rizal-Lisa yang akan selalu bersama, selamanya. Tapi kalau emang aku mau guna-guna kamu, kamu gak mau?”
Senyuman Rizal membuat Lisa terpanah. Dia kini melepaskan tangan Rizal lalu melingkarkan tangannya di pinggang Rizal untuk memeluknya. “Mau banget. Makasih, Kak. Makasih buat semuanya.”
Rizal membalas pelukan Lisa. “Sama-sama.”
Dengan cepat Rizal dan Lisa melepas pelukannya. Pipinya terasa memerah menahan malu. Rasa haru bahagianya bertambah saat melihat ruangan itu, sudah ada dekor simple dengan hiasan balon huruf “Selamat Ulang Tahun Lisa.” Ditambah Karin membawa kue tart dengan lilin yang menyala di atasnya.
“Selamat ulang tahu, Lisa. Walau udah telat beberapa hari.” Kata Karin sambil tertawa. “Ayo tiup lilinnya sambil make a wish.” lanjutnya
Lisa memejamkan matanya sesaat lalu dia meniup lilin sampai padam.
“Make a wish apa?” tanya Rizal yang membuat Lisa tersenyum malu.
“Udah pasti, semoga Kak Rizal jodohku, semoga Kak Rizal jodohku.” Ejek Dewa sambil mengabadikan moment itu lewat ponselnya.
Satu tendangan kini didapat Dewa di kakinya dari Lisa. “Dewa, apaan sih.”
“Pake malu segala. Ngaku aja.” Dewa masih saja menggoda Lisa.
“Udah, udah. Masih mending Lisa do'a gitu. Lah, elo pernah gak do'a gitu ke gue.” Karin kini menaruh kue tart di atas meja dan menyiapkan pisau kue untuk memotong.
“Cie, yang ngarep berjodoh.” Satu toelan kini mendarat di hidung Karin yang gagal menghindar.
“Dewa!! Ih, salah ngomong gue.” Karin kini menggeser dirinya saat Lisa akan memotong kue. “Lisa, potong kuenya.”
__ADS_1
Entah kenapa tangan Lisa sangat bergetar hingga membuat dia belum berhasil juga memotong kue yang empuk itu.
Kini Rizal meletakkan tangannya di atas tangan Lisa dan menekannya hingga kue itu berhasil terpotong. Pandangan Lisa sudah tidak tertuju pada kue tapi pada Rizal yang berada dekat di sampingnya. Dadanya sangat berdebar. Apalagi saat Rizal terus menuntun tangannya sampai kue itu sudah berada di piring kecil.
Lisa masih kaku. Dia sangat salah tingkah. Padahal yang melihat saat itu hanyalah sahabatnya.
“Suapin dong.” Karin sedikit teriak histeris. Tak lupa kameramen yang sedari tadi berada di samping Karin terus memfokuskan kamera ponselnya.
Lisa kini menyuapi Rizal potongan kue pertama. Setelah satu suapin Rizal justru mengambil alih potongan kue itu dan menyuapi Lisa.
Karin gereget sendiri menontom adegan romantis secara live.
“Rin, nanti ulang tahun lo kayak gitu ya.” Kata Dewa yang ternyata juga ikut terbawa perasaan.
“Halah, lo sok-sok an romantis. Emang bisa?”
Dewa kini merangkul Karin. “Oke, mulai sekarang gue akan belajar romantis sama lo.” Mereka saling bertatap sesaat.
Sedangkan Sofi dan Evan hanya sebagai penonton sedari tadi. Tanpa sadar Sofi justru meneteskan air matanya.
“Kok lo nangis? Lo cemburu?” tanya Evan yang melihat air mata Sofi tiba-tiba mengalir.
Sofi menghapus asal air matanya. “Gue cuma terharu aja dan mikirin diri gue sendiri. Apa nanti akan ada seseorang yang cinta sama gue dengan tulus?”
Evan kini menatap Sofi. Seseorang yang bagai serigala kini telah berubah menjadi seekor kucing. “Lo pasti akan dapetin cinta sejati lo yang akan mencintai lo dengan tulus.”
Sofi menautkan alisnya. Dia kini membalas tatapan Evan. “Siapa? Jangan bilang itu lo?”
“Iya, gue tentunya.” Jawab Evan dengan keyakinan.
“Bokap gue pengen punya mantu TNI. Emang lo bisa?”
Evan kini menyelipkan tangannya di lengan Sofi agar mendekat. “Gue pastiin, gue akan lamar lo dengan memakai seragam TNI, suatu saat nanti.”
Sofi kini bisa menangkap keseriusan Evan dari tatapannya. Entah kenapa, kali ini Sofi merasakan debaran yang tidak biasa dia rasakan sebelumnya saat dekat dengan Evan.
💞💞💞
***Masa SMA mereka akan segera berakhir kawan. 😅 Kayak udah berasa happy ending yah. 😏 Masih aku lanjut sampai mereka kuliah kok. Ada satu lagi konflik yang penuh misteri.. ☺️
Jangan lupa vote dan komen***..
__ADS_1