
Rizal melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Dia terus menyalip kendaraan yang ada di depannya. Sampai Dewa kewalahan mengejarnya padahal motor mereka sama-sama motor sport.
Rizal kini menunggu lampu merah berubah menjadi lampu hijau dengan tidak sabaran. Dan saat itu, Dewa berhasil mengimbanginya.
Dewa membuka kaca penutup helmnya. "Zal, lo jangan ngawur. Bahaya! Kalau lo kenapa-napa siapa yang bakal nolong Lisa."
Rizal juga membuka kaca penutupnya. "Gak ada waktu, Wa." Rizal kembali menutup kaca helmnya dan baru saja lampu hijau menyala Rizal langsung tancap gas.
"Nekat nih anak." Dewa kini menyusul Rizal walau sulit.
"Wa, gue udah dapet alamat lengkap villa bude Rosa. Kita ke rumahnya dulu buat mastiin keberadaan Rey." kata Reno sambil melihat ponselnya. Reno berusaha mencari info alamat bude Rosa dari saudaranya.
"Bagus kalau gitu. Kita gak perlu nyari lagi."
Ckkiiitttt!!! Bunyi rem dari sepeda motor Rizal yang dipaksa berhenti di belokan menuju kawasan villa.
"Woy, dasar anak muda!!! Kalau mau belok lihat dulu!!" teriak sopir pick up dari arah berlawanan yang hampir saja menabrak Rizal saat akan memotong jalan.
"Maaf!!" teriak Rizal lalu dia kembali melajukan motornya.
Si sopir pick up hanya menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan perjalanannya.
Rizal berhenti di samping SPBU sambil menunggu Dewa dan Reno.
"Zal!! Gila lo!! Lo pikir ini sirkuit." Dewa kini menghentikan motornya di dekat Rizal.
"Dimana villanya?" tanya Rizal yang sudah sangat tidak sabaran.
"Gue udah dapat alamatnya. Tapi..." Reno nampak ragu karena dia juga belum hafal jalanan di tempat itu. Apalagi ada ratusan villa di kawasan itu.
"Apa nama villanya?" tanya Rizal.
__ADS_1
"Villa Rossa."
"Pak..." Rizal memanggil Bapak-bapak yang biasa menawarkan villa pada setiap pengunjung yang selalu stand by di dekat pertigaan. Seorang bapak-bapak menghampiri Rizal. "Bapak tahu villa Rosa? Apa bisa mengantar kita?"
"Villa Rossa. Ooo, villa milik Bu Rosalinda. Iya tahu. Ayo ikut saya." Bapak itu mulai melajukan motornya yang diikuti oleh Rizal dan Dewa.
"Gak nyangka lo itu pinter. Gue sampai gak kepikiran sama bapak-bapak yang ada di depan. Gue kira itu tukang ojek. Maklum gue anak polos." kata Dewa yang berusaha menyairkan suasana.
Rizal tak menanggapi Dewa. Dia kini hanya memikirkan Lisa. Semoga semua belum terlambat.
"Ini rumah Bu Rosa. Dan, villanya ada di belakang."
"Terima kasih, Pak." Rizal mengeluarkan selembar uang kertas untuk ongkos rokok.
"Sama-sama." Bapak itu berlalu.
Mereka bertiga segera turun dari sepeda motor lalu menuju rumah Bu Rosa.
"Iya? Ada perlu apa?"
"Bude, ini saya Reno cucu nenek Sita."
Bu Rosa langsung mengingat Reno. "Loh, Reno. Lama kamu gak ke sini. Mau liburan juga di sini? Ayo masuk dulu."
"Gak bude. Kita ada perlu. Tadi apa Rey ke sini?" tanya Reno.
"Iya, baru satu jam yang lalu sampai. Katanya mau liburan sama temannya."
"Sama cewek?" tanya Rizal yang sudah sangat tidak sabar.
"Dia ke sini sendiri. Tapi saya juga gak tau pastinya soalnya cuma saya kasih kuncinya saja."
__ADS_1
"Tante tolong, kita lagi ada masalah. Rey bawa cewek ke sini. Dia ada niat jahat. Tante punya kunci cadangannya kan?" jelas Rizal.
"Aduh, bisa-bisanya Rey masih kecil bawa cewek ke sini. Tante ada kunci cadangannya. Tenang aja pintu villa tante bisa pake double kunci dan gak ada slot dalam. Tunggu sebentar ya saya cariin dulu." Bu Rosa segera masuk ke dalam mencari cadangan kunci itu.
...***...
Lisa menatap pemandangan dari jendela. Sesekali dia melihat langit yang sudah mulai senja. Udara dingin pegunungan juga mulai terasa. Dia melupakan sejenak semuanya. Hanya Rey yang ada dipikirannya saat ini.
"Lisa, gue cinta sama lo. Gue gak mau lo sama cowok lain selain gue." Rey kini memeluk Lisa dari belakang.
Lisa terdiam. Dia seperti boneka yang dipermainkan oleh Rey.
"Lis? Lo cinta kan sama gue?" Rey bersuara pelan di samping telinga Lisa.
"Iya, gue cinta." jawab Lisa datar, karena itu bukan dari hati nuraninya. Hanya mulut yang diperintah untuk berbicara.
"Lisa, sini tatap gue..." Rey beralih ke samping Lisa dan menangkup kedua pipi Lisa. "Mulai sekarang lo akan jadi milik gue seutuhnya." Rey mulai mendekatkan wajahnya. Sedangkan tangan kanan Rey beralih ke pinggang Lisa agar Lisa semakin mendekatkan dirinya. Tangan satunya menahan tengkuk leher Lisa. Kini bibir ranum Lisa menjadi santapan pertama.
Rey berhasil mencium bibir Lisa. Tapi Lisa hanya kaku seperti patung tanpa memberikan reaksi pada Rey. Rey melepaskan ciumannya dan membisikkan sesuatu.
"Balas ciuman gue." satu bisikan di telinga Lisa berhasil mencuci otak Lisa. Otak Lisa sudah digantikan oleh perintah dari bibir Rey. Kini Rey kembali memagut bibir Lisa dan langsung mendapat balasan dari Lisa. Ciuman mereka semakin memanas. Rey semakin mempererat pelukannya pada Lisa dan mendorongnya perlahan ke ranjang tanpa melepas ciumannya.
Sesaat sebelum melepas ciumannya dia sempat merekamnya dengan ponsel miliknya.
"Sekarang lo akan jadi milik gue.." Rey mendorong tubuh Lisa hingga terjatuh ke ranjang dan mengungkungnya. Perlahan dengan tangan yang bergetar Rey membuka kancing atas kemeja Lisa dan.....
💞💞💞
Maaf bersambung...
Tunggu besok yah.. ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1