
Otak jahilnya masih lanjut.. 😆 Yang gak suka skip aja gak papa.. 🤠Lagi sedih, lagi kesel, butuh hiburan, gak ada yang hibur. Hibur diri sendiri aja. 💆💆
...💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞...
Udara yang dingin mulai menelusup dibalik selimut yang membuat Rizal kini membuka matanya. Dia tersenyum saat melihat Lisa masih tertidur dengan pulasnya sambil memeluk tangannya.
Dia sibakkan selimut lalu menarik tangannya secara perlahan. Dia turun dari ranjang dan menuju kamar mandi. Beberapa saat kemudian dia keluar dan kembali naik ke atas ranjang lalu menarik selimutnya lagi.
Rizal masih saja menatap wajah pulas Lisa. Mungkin dia sekarang masih bermimpi dalam tidurnya. Dia usap perlahan pipi Lisa hingga membuat Lisa terbangun.
"Kak Rizal udah ba..." Belum selesai Lisa berbicara Rizal sudah mencium bibirnya. Mulai bermain dengan ciumannya walau Lisa sempat menutup rapat bibirnya, akhirnya dia menyerah dan menikmati morning kissnya untuk yang pertama kali.
"Akhirnya aku dapat morning kiss kamu. Aku udah siap-siap dari tadi sebelum kamu kabur."
Lisa menggigit bibir bawahnya sambil menatap Rizal kesal. "Aku mau mandi dulu." Lisa bangun lalu menyingkirkan selimutnya. Dia turun dari ranjang dan melangkah cepat menuju kamar mandi.
Tapi langkah Lisa kalah cepat dengan Rizal. Rizal kini menahan tubuh Lisa di depan kamar mandi. "Kenapa? Marah?"
Lisa menggelengkan kepalanya. "Aku belum gosok gigi, belum mandi juga masak iya langsung ciuman gitu aja."
Rizal terkekeh, apa salahnya? "Oo, jadi ceritanya malu. Malu tapi mau. Kalau mandi bareng malu gak?" Rizal langsung menarik tubuh Lisa masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu tanpa lagi menunggu komentar Lisa.
"Kak, aku.."
"Ssttt.. Kasian kan bathupnya belum dipakai." Rizal menyalakan kran dan mengisi bathup dengan air hangat sampai setengahnya.
Kini Rizal beralih melihat Lisa yang hanya berdiri seperti menahan sesuatu. "Kamu kenapa?"
"Kak Rizal keluar sebentar ya, aku mau..."
Rizal justru mendekatkan dirinya dan mencium Lisa sambil tangannya mulai membuka kancing piyama Lisa. Sebenarnya dia sudah mengerti apa yang Lisa maksud.
"Kak," Lisa sedikit mendorong Rizal agar menjauh. "Aku udah gak tahan."
__ADS_1
"Ya udah. Aku hadap sana." Rizal membalikkan badannya. "Kalau aku keluar nanti kamu gak bukain pintu buat aku."
"Jangan ngintip!!"
Rizal masih saja tertawa. Padahal seluruh tubuhnya juga sudah dia lihat tapi masih dilarang untuk mengintip. Lucu dan menggemaskan. "Udah?" Tidak ada jawaban dari Lisa. Rizal membalikkan badannya
Ternyata Lisa sedang berjalan perlahan menuju pintu.
"Mau kemana sayang?" Rizal meraih tubuh Lisa. "Jangan kabur."
Lisa hanya tertawa geli saat Rizal menggelitik tubuhnya.
"Di rumah aku gak ada bathup jadi kamu gak bakal rasain sensasi ini lagi." Rizal mulai melepas seluruh pakaian Lisa lalu menceburkannya ke dalam bathup.
Lisa memandang Rizal heran. Rizal masih saja memandangi dirinya di sisi bathup sambil berjongkok tanpa melepas pakaiannya. Apa dia sedang menyusun strategi? Apa sih sebenarnya maunya suami Lisa ini?
"Kak, jangan liat kayak gitu." Lisa mendekap dadanya sendiri. "Kalau gak mandi mending keluar aja."
Rizal menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Gak sabaran banget istri aku. Udah ingin ketemu sama ini ya."
"Aku, lagi lihat pemandangan." Mereka saling menatap sambil tersenyum. Kemudian Rizal mulai melepas semua pakaiannya. Lagi, Lisa memalingkan dirinya. "Loh, tadi udah gak sabaran sekarang malah buang muka." Rizal kini masuk ke dalam bathup dan memilih tempat di belakang Lisa. Dia sandarkan dirinya sambil memeluk Lisa. Sergapan dari belakang sudah menjadi favorit Rizal mulai saat ini.
Tangan kanan Rizal mengambil sabun cair yang ada di sebelah bathup lalu mulai menyabun bagian depan tubuh Lisa mulai dari atas sampai bawah dengan sentuhan-sentuhan sensualnya yang membuat Lisa meremang dan melenguh kecil. Kini tangannya beralih ke punggung mulus Lisa. Dia lumuri dengan sabun sambil memijit pelan yang membuat Lisa merasa nyaman.
"Malah keenakan dipijit. Sini gantian." Rizal memutar badan Lisa agar menghadap ke arahnya. Dia menuang sabun cair ditangan Lisa. Lalu menuntunnya untuk mulai menyabun dirinya.
Tangan Lisa bergetar, ditambah detak jantungnya yang sangat cepat. Rizal terus menuntun tangan Lisa, seolah-olah Lisa belum bisa melakukannya. "Kak.." Lisa sedikit menahan tangannya saat Rizal semakin menuntunnya ke bawah.
Rizal hanya tersenyum, dia tetap menuntun tangan Lisa. Seperti mengajarinya cara memainkannya. Ya seperti itu, begini, dan begitu.
Mereka saling menatap lalu tertawa bersama. Hal-hal baru yang mereka lakukan kadang terasa konyol. Apa iya pengantin baru yang lain juga seperti mereka? Whatever lah. Yang jelas mereka sama-sama menikmati. Apalagi saat Rizal menarik tubuh Lisa mendekat dan berada di atas pangkuannya dengan alibi agar Lisa menyabun punggungnya.
Lisa bisa merasakan sesuatu dibawah sana menekan dirinya.
__ADS_1
Rizal semakin memeluk tubuh Lisa. "Lis, mau di sini apa di kamar?"
Lisa tidak menjawab. Dirinya kembali menegang. Apa rasa sakitnya masih sama seperti kemarin.
"Di kamar aja ya. Biar kamu bisa rileks dulu. Takutnya masih agak sakit." Rizal melingkarkan tangan Lisa di lehernya lalu berdiri tanpa menurunkannya.
"Kak, turunin."
"Udah, diem ya. Aku gendong." Rizal mengambil shower lalu menyiram tubuh Lisa dan dirinya untuk sekedar menghilangkan busa. Setelah itu mereka keluar dari kamar mandi. Berjalan menuju ranjang lalu menjatuhkan diri di tengah ranjang.
Posisi Lisa sudah dibawah Rizal. Mereka saling menatap. Lalu Rizal mencium lembut bibir Lisa. Dia mulai mengarahkannya. Tidak terlalu sulit seperti kemarin. Sekali hentakan sudah berhasil melesat meski Lisa masih saja menggigit kecil bibir Rizal yang membuat Rizal melepas ciumannya.
"Masih sakit?"
"Sedikit."
Rizal mulai bergerak pelan. Semakin lama semakin cepat. Lisa sudah mulai menikmati dan mengikuti alurnya. Desa han sudah saling bersahutan. Setelah Lisa mencapai puncak baru disusul oleh Rizal.
Setelah hasratnya tuntas, dia merobohkan dirinya di sisi Lisa sambil mengatur napasnya. "Enak banget pagi-pagi udah olahraga."
"Olahraga?" Lisa kini memiringkan dirinya menatap Rizal.
"Iya, kan sama-sama berkeringat." Rizal mendekatkan dirinya dan memeluk Lisa. "Yah, nanti kita udah pulang. Sebenarnya masih pengen di sini dulu tapi tugas kuliah aku banyak yang harus diselesaikan biar cepat lulus."
Lisa tidak menjawab, dia justru menenggelamkan dirinya di dada Rizal.
"Kamu mau sarapan sekarang? Biar aku order aja ya. Lagi mager mau keluar."
"Bentar lagi aja. Aku juga masih mager." Lisa rasanya masih ingin bermanja dengan Rizal.
"Kenapa? Masih mau nambah lagi?"
Lisa tak menjawab. Dia justru menghirup dalam aroma tubuh Rizal.
__ADS_1
"Beneran masih mau nambah rupanya." Gejolak Rizal kembali lagi. Dia ingin benar-benar menghabiskan waktu bulan madunya dengan indah sampai sore nanti sebelum akhirnya mereka pulang dan mulai beraktifitas seperti biasanya.