
"Dua bulan lagi?" Lisa menghela napas panjang. Malam itu dia tidak bisa tidur. Rasa kantuk itu tak juga singgah. Perasaannya campur aduk jadi satu. Antara senang dan takut. Beberapa saat kemudian terdengar ponselnya berbunyi. Dia meraih ponsel itu, "Bu Ela? Video call. Pasti Kak Rizal." Lisa menerima panggilan itu.
"Hallo calon istri..." Terlihat Rizal tersenyum, lagi-lagi dia menggoda Lisa.
"Kak Rizal ngapain vc?"
"Soalnya aku yakin malam ini kamu gak bisa tidur."
"Kok tahu?"
"Sama, aku juga. Untung hp Mama tertinggal di ruang tengah jadinya aku pake."
Lisa nampak terdiam.
"Kenapa sayang? Kok diam?"
"Aku... Rasanya aku deg-deg an banget. Perasaan aku kayak campur aduk jadi satu."
"Udah. Nanti semua aku yang urus. Jangan terlalu dipikirkan. Besok jalan yuk, sekalian antar aku beli hp. Mumpung besok hari Minggu."
"Emang Kak Rizal udah sehat betul? Udah kuat naik motor."
Terlihat Rizal menepuk jidatnya. "Ya ampun, lupa. Motor aku masih di bengkel. Gini aja, besok aku bawa mobil papa aja."
"Loh, emang Kak Rizal bisa nyetir mobil?"
"Bisa dong sayang. Kenapa? Gak pernah lihat ya?"
"Emang udah punya SIM?"
"Punya, baru aja buat. Kalau Surat izin menikah baru masih mau buat." Lagi, Rizal tertawa.
"Yee,. Hmmm, Kak besok sekalian ke rumah Dewa ya?"
"Mau apa?"
"Mau ketemu sama Bu Maya. Mau minta restu. Bagaimana pun juga dia udah kayak ibu aku sendiri."
Rizal terdiam sesaat. Setelah kejadian beberapa tahun lalu dia takut bertemu Bu Maya. "Nanti kamu aja ya yang masuk. Aku takut Bu Maya ngusir aku lagi, dan beliau jadi sedih lagi."
"Kak, udah gak papa. Bu Maya sudah semakin membaik. Gak akan kayak dulu lagi."
"Kalau gitu besok sekalian ke makam Dewi ya?"
"Iya." Mendengar nama Dewi, dia teringat kejadian masa lalu. "Waktu cepat banget ya berlalu."
"Iya, dan dua bulan lagi tiap malam kita tidur sudah gak usah vc lagi kayak gini."
Membayangkan tidur dengan Rizal? Membuat pipi Lisa bersemu merah. Belum juga terjadi jantungnya sudah dag dig dug tak karuan.
"Hayoo, bayangin ya..."
"Apaan sih? Nggak.."
__ADS_1
"Iya, juga gak papa. Nanti aku pastiin, aku bisa gantiin posisi guling kamu itu."
Lisa saat itu memang sedang memeluk gulingnya. "Kak, udah ah. Nanti aja itu."
"Iya emang nanti aja dipraktekin." Rizal terkekeh melihat ekspresi Lisa. "Nanti aja tapi masih dibayangin gitu ya. Jadi pengen cepet-cepet buatin Mama cucu."
"Kak, jangan ngomongin itu dulu. Piktor deh."
"Loh, emang sama calon istri sendiri gak boleh."
"Kan masih calon, belum sah."
"Awas ya, kalau udah sah nanti.
Mereka masih asyik mengobrol sampai larut malam. Seperti biasanya sampai tertidur dan membiarkan ponsel mereka masih terhubung dengan video call.
...***...
Sinar matahari sudah menelusup di balik tirai kamar Lisa. Dia bergeliat dan masih menguap. Dia raih ponselnya yang dia letakkan di sembarang tempat. "Sudah hampir jam 6."
Lisa duduk di tepi ranjang mengumpulkan seluruh kesadarannya. Lalu dia menuju kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar rasa kantuk itu segera menghilang. Setelah dia berganti pakaian dengan pakaian santainya dulu, karena dia ada janji dengan Rizal masih jam 9 nanti.
Lisa berjalan keluar kamar dan menghampiri Mamanya yang ada di dapur.
"Lisa, baru bangun?"
Lisa tersenyum lalu berdiri di samping Mamanya yang sedang menyiapkan bumbu untuk memasak. "Iya, semalam Lisa gak bisa tidur?"
"Kenapa? Mikirin Rizal?"
"Masak? Lisa bukannya kamu sudah bisa. Kamu kan sering bantu Mama." Ya, sebenarnya Lisa memang sudah bisa. Tapi semalam dia bilang pada Rizal kalau dia belum bisa apa-apa, dia hanya ingin mengetahui jawaban Rizal.
"Iya, gak papa Ma. Biar tambah bisa."
Bu Reni tersenyum sambil mengusap rambut putrinya. "Kamu sudah dewasa sekarang. Bentar lagi sudah jadi ibu rumah tangga. Kalau udah tinggal di rumah Rizal, tiap hari tetap ke rumah loh ya."
Lisa memeluk Mamanya. "Iya, Ma. Pasti. Lisa sayang sama Mama."
"Iya, Mama juga sayang banget sama kamu. Semoga kamu selalu bahagia sama Rizal. Mama selalu berdo'a yang terbaik buat kamu."
Lisa melepaskan pelukannya lalu mereka melanjutkan aktifitas memasak pagi itu. Setelah siap, mereka sarapan bersama.
Tepat pukul 09.00, Lisa sudah bersiap menunggu Rizal di depan rumah. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin bertemu Rizal. Walau baru kemarin malam dia bertemu, rindu itu sudah terasa.
Beberapa saat kemudian sebuah mobil berhenti di depan rumah Lisa. Nampak pemilik mobil itu membuka pintu mobil. Seperti di film, kamera menyorotnya dari ujung kaki yang turun dari mobil lalu ke atas dan menampakkan dia berdiri tegak sambil menutup pintu. Sangat cool dan keren. Dia berjalan ke arah Lisa yang masih terpesona.
"Hei," tak ada jawaban dari Lisa. Lisa masih saja menatapnya. "Ih, gemes." Rizal malah mencubit pipi Lisa yang membuat kata keren itu seketika hilang dari pikirannya.
"Kak, kebiasaan deh."
"Kamu sebegitu terpesonanya sama aku."
"Habisnya gaya Kak Rizal udah kayak di film-film tapi seketika kerennya hilang saat Kak Rizal nyubit pipi aku."
__ADS_1
Rizal tertawa. "Kamu gak tahu, aku dulu sempat mau ikut casting."
"Casting film apa? Film ikan terbang?"
"Bukan, maunya sih gantiin Mas Reza yang ada di film barunya itu loh."
"Kak Rizal!! Gak suka ah kalau gitu." Lisa duduk sambil melipat tangannya. Kali ini dia marah dengan bercandanya Rizal.
"Aku bercanda sayang. Kok marah sih."
Lisa tidak menjawab. Dia masih mengerutkan dahinya dan memanyunkan bibirnya.
"Maaf ya. Maaf. Aku cuma bercanda. Sensitif banget sama film kayak gitu." Rizal kini ikut duduk di sebelah Lisa.
"Iyalah. Aku paling gak suka sama film-film gitu. Lagian Kak Rizal kenapa tau film itu. Bukannya pas film itu rilis Kak Rizal masih koma."
"Aku cuma lihat sekilas kemarin. Pagi-pagi Mama udah maraton episodenya di rumah. Hobi Mama emang nonton film kayak gitu tapi nanti kalau kamu udah tinggal di rumahku jangan mau diajak nonton film sama mama. Bisa-bisa merusak mood kamu sama aku. Ini aja udah marah gara-gara aku salah sebut."
Lisa kini tertawa. "Aku cuma bercanda Kak. Kok malah Kak Rizal yang serius."
Lagi, Rizal ingin mencubit pipi Lisa tapi dia urungkan karena Bu Reni keluar rumah.
"Eh, Rizal. Kirain siapa bawa mobil."
"Iya tante. Soalnya motor saya masih di bengkel. Lis, ayo." Rizal berdiri yang diikuti oleh Lisa. "Tante, saya keluar dulu sama Lisa." Rizal berpamitan pada Bu Reni.
"Iya, hati-hati ya.." Bu Reni masih tersenyum dan menatap mereka masuk ke dalam mobil hingga mobil mereka menghilang dari pandangan.
Lisa masih saja tersenyum menatap Rizal. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya dia melihat Rizal menyetir mobil. Entahlah, kenapa dia selalu merasa jatuh cinta seperti ini.
"Lisa, kenapa liat aku kayak gitu dari tadi, ini sudah mau sampai loh di rumah Dewa." tanya Rizal yang menoleh Lisa sesaat lalu kembali fokus pada jalanan yang tidak terlalu ramai.
"Cakep." kata Lisa setengah tidak sadar.
Rizal tersenyum lalu menghentikan mobilnya di depan rumah Dewa. Dia menatap Lisa yang masih saja menatapnya. "Ada yang jatuh cinta rupanya."
"Eh..." tersadar Lisa mengalihkan pandangannya tapi Rizal menahan pipi Lisa. Tangannya kini berpindah ke tengkuk leher Lisa untuk menahannya lalu mencium lembut bibirnya. Walau singkat tapi cukup dalam yang berhasil membuat bibir Lisa terasa basah dan dadanya bergetar hebat.
"Kak, ini di depan rumah orang loh. Ayo turun."
"Habis kamu yang mancing sih. Kan ikannya jadi pengen gigit."
Di depan rumah, terlihat Dewa sudah membuka pintunya. Dia menatap ke arah mobil Rizal.
Rizal dan Lisa akhirnya turun dari mobil dan berjalan mendekati Dewa.
"Kirain siapa? Gak tahunya kalian. Wii, keren sekarang bawa mobil."
"Motor gue masih di bengkel. Makanya bawa mobil bokap."
"Wa, mama lo ada kan di rumah?" tanya Lisa.
"Ada kok. Masuk yuk." Ajak Dewa tapi saat itu juga Bu Maya keluar dari dalam rumah.
__ADS_1
"Ada siapa Wa?" Bu Maya menatap Lisa. "Eh, Lisa..." Lalu menatap Rizal dan terdiam...
Rizal sedikit tegang. Dia teringat kejadian beberapa tahun lalu saat Bu Maya selalu mengusirnya. Apa kali ini Bu Maya akan mengusirnya lagi...