
"Jadi lo kemaren sampai nginep di rumah kakeknya Rey?" tanya Evan lagi yang masih tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan Rey.
Rizal mengangguk. Dia sudah menceritakan semua kejadian pada Evan.
"Tapi Zal, emang lo rela Lisa udah dicium sama Rey? Sedangkan lo sendiri aja belum pernah nyium Lisa."
Satu gebrakan meja yang cukup keras kini didapat Evan yang membuat beberapa teman lain sampai ikut menoleh ke arah mereka. "Maksud lo apa tanya kayak gini!"
Evan menutup mulutnya. Dia tahu dia salah kata. Yah, ini bukan saatnya bercanda. "Sorry. Bukan maksud gue kayak gitu. Gue kelepasan ngomong aja."
"Hah! Lo sama aja kayak mereka!" Rizal segera berdiri. Dia berjalan cepat keluar dari kelas. Dia sudah terlanjur emosi. Dia mengerti, Evan hanyalah bercanda tapi perasaannya saat ini benar-benar tidak bisa dibuat bercanda.
"Lagian mulut lo itu lemes banget!" Semprot Sofi yang memang tanpa sengaja mendengar pembicaraan. "Kayak Mak Lamtur lo!"
"Gue gak sengaja. Gue kebablasan. Maklum mulut ini gak punya rem."
Rizal berjalan cepat di lorong kelas, saat itu sudah jam istirahat. Dia berniat menghampiri Lisa. Tapi saat melintasi ruang BK dia mendengar Pak Roni sedang berbicara dengan Bu Risti selaku wali kelas Lisa. "Bu, kita harus panggil Lisa terkait video ini."
"Iya Pak. Saya sendiri juga kaget dengan beredarnya video itu. Bisa-bisanya mereka melakukan tindakan mesum. Ini sama sekali tidak bisa dibiarkan."
Rizal terkejut. Rupanya video itu sudah menyebar ke para guru. Rizal mengetuk pintu ruang BK yang memang sudah terbuka. "Maaf, permisi."
"Iya, Rizal. Ada apa?"
Rizal kini masuk ke dalam ruangan. "Maaf, tadi saya tidak sengaja mendengar pembicaraan Pak Roni tentang video Lisa. Saya hanya ingin bilang, kalau Lisa itu hanya korban, Pak. Jangan hukum Lisa. Lisa tidak salah."
"Rizal, bapak tahu kamu teman dekat Lisa. Tapi ini masalah serius. Bapak tidak mungkin membiarkan masalah ini. Apalagi saat itu Lisa masih memakai seragam sekolah."
Rizal sangat kecewa mendengar keputusan Pak Roni. Apa yang harus dia dilakukan. "Ternyata benar, hukum di negara ini kacau. Bahkan di ruang lingkup kecil pun gak ada perlindungan bagi korban. Justru menyalahkan dan berpikir bahwa korban ikut andil dalam tindakan itu tanpa mengetahui asal usul dari video itu sendiri."
"Bukan seperti itu Rizal. Maksud saya memanggil Lisa untuk mengetahui kejelasan ceritanya."
"Kejelasan? Yang akan berakhir dengan surat panggilan orang tua?" Rizal menghela napas panjang. Dia tidak mau semakin berdebat dengan Pak Roni saat itu. "Permisi." Rizal kini membalikkan badannya dan keluar dari ruang BK. Dia sangat memikirkan Lisa. Apa yang harus dia lakukan untuk membantu Lisa?
__ADS_1
...***...
"Si Rey kenapa gak masuk? Masak habis mantap-mantap sekarang gak masuk." kata Bian teman sekelas Lisa dengan suara yang cukup keras.
"Mantap-mantapnya sama pacar orang sih. Takut bonyok sama pacar aslinya." timpal Zaki tak kalah keras.
Perkataan mereka membuat panas telinga Dewa.
Mendengar hal itu, Lisa menoleh ke arah mereka berdua. Lisa menjadi bertanya-tanya. Apa maksud mereka? Rey? Apa mereka tahu tentang masalahnya kemaren.
"Heh!! Kalian bisa diem!!" Dewa kini menghampiri mereka dan membentaknya.
"Woy. Sabar bro. Kok malah lo yang kesindir. Pemeran ceweknya aja diem. Sayang banget durasi videonya kurang panjang."
Dewa kini mencengkeram krah seragam Bian dan bersiap untuk memukulnya.
"Wa, udah." cegah Reno. "Tahan emosi lo. Gak lucu kalau lo juga kena masalah."
"Iya, dasar cewek murahan."
"Mau-maunya Kak Rizal masih sama dia."
Keadaan mulai riuh dengan cemooh-an yang seakan terus memojokkan Lisa. Mereka menghina Lisa sambil berlalu keluar dari kelas.
"Ya sudahlah, ayo kita ke kantin." ajak Karin untuk mengalihkan perhatian Lisa.
"Rin, sebenarnya apa maksud mereka? Jujur sama gue? Apa yang udah terjadi?" Lisa merasa bahwa yang mereka bicarakan itu adalah dirinya.
"Hmmm..." Karin tidak bisa menjawabnya.
"Dewa, apa?"
"Loh, masih pura-pura gak tahu. Udah jelas kan di video itu..." Bian masih melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
Kali ini Dewa mendorong Bian agar menjauh. "Lo gak usah ikut campur soal ini."
"Oke, oke." Bian keluar dari kelas.
"Video? Video apa?" tanya Lisa yang semakin bingung.
Mereka semua masih bungkam.
"Kalian sahabat gue gak mau ngasih tahu gue. Kalau gitu gue tanya aja sama yang lain." Lisa akan beranjak dari tempatnya tapi Dewa mencegahnya.
"Tunggu, Lis. Sebenarnya Rey sempat merekam kejadian waktu di villa itu dan dia udah nyebarin video itu di grup kelas."
Mata Lisa membulat. Dia kini merebut paksa ponsel Dewa untuk melihat isi video itu. Lisa semakin terkejut saat melihat dirinya tengah berciuman dengan Rey. Bahkan ciuman itu terlihat sangat panas. Dunianya seakan runtuh. Dia sama sekali tidak tahu apa yang sudah Rey lakukan padanya. "Ini...." Air mata Lisa berhasil lolos dari matanya. Hal-hal buruk kini menyelimuti pikirannya. "Apa Kak Rizal tahu?"
Pertanyaan Lisa cukup dijawab anggukan oleh Dewa.
Lisa mengembalikan ponsel Dewa. Dia kini berjalan cepat keluar dari kelas berniat untuk menemui Rizal. Tak disangka dia berpapasan dengan Rizal di depan kelas.
"Lisa, kamu kenapa?" tanya Rizal saat melihat Lisa menangis.
"Kak Rizal kenapa gak bilang soal video itu?"
"Kamu sudah tahu?"
"Kenapa Kak Rizal gak cerita soal video itu?" tanya Lisa lagi. Dia kini semakin menangis. Apa yang sudah dilakukannya sama Rey memang diluar kesadarannya. Tapi dia justru kini memikirkan perasaan Rizal.
Rizal kini menggenggam tangan Lisa berusaha untuk menenangkannya. "Lisa, maaf aku gak cerita tentang video ini sama kamu. Aku gak tega sama kamu."
"Bisa-bisanya Kak Rizal nutupin itu semua. Apa Kak Rizal gak mikirin perasaan aku kalau justru aku tahu cerita ini dari orang lain?! Dan..." Lisa melepaskan genggaman tangan Rizal. "Dan gimana dengan perasaan Kak Rizal. Pasti...." belum selesai Lisa bicara, Bu Risti datang dan memanggil Lisa.
"Lisa, ikut Ibu ke BK ya sekarang."
Masalah datang bertubi-tubi. Dia tidak menyangka masalah kemaren dengan Rey bisa selarut ini. Kini Lisa berjalan pelan mengikuti Bu Risti.
__ADS_1