Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Acara Selesai


__ADS_3

"Lisa..." Panggil seseorang yang datang dan langsung memeluk Lisa.


Lisa sangat terkejut dengan kedatangannya. "Karin. Ya ampun, akhirnya lo..."


"Ssstt.." Karin memelankan suaranya. "Gue mau buat kejutan ke Dewa." Karin tersenyum bahagia. "Selamat ya," Karin mencium kedua pipi Lisa. "Nanti kita lanjut ceritanya, gue mau ngasih kejutan ke Dewa dulu." Karin berjalan perlahan turun dari pelaminan. Dia bersembunyi di balik orang yang menonton penampilan Dewa dan Rey.


Setelah satu lagu selesai. Dewa kembali duduk di tempatnya. Dia masih memikirkan Karin. Seandainya saja Karin ada di sini, pasti dia akan merasakan kebahagiaan seperti sepasang pengantin yang selalu memasang senyuman itu.


Karin berjalan perlahan mendekat. Dewa tak juga menyadari keberadaannya.


"Lagi kangen sama Karin ya?"


Dewa seolah tidak sadar bahwa yang bertanya itu adalah Karin. "Iya." Tersadar dengan suara itu, Dewa menolehnya. Di sampingnya kini ada Karin yang sedang membungkuk. "Karin, gue gak halu kan?" Dewa seketika berdiri.


Karin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Dewa langsung memeluknya. "Karin gue kangen banget sama lo. Katanya lo gak bisa datang, jadi lo bohong sama gue."


"Gue mau kasih kejutan buat lo."


Dewa melepaskan pelukannya lalu menatap Karin. "Terkejut, sumpah. Gue sangat terkejut."


Karin masih saja tersenyum menatap Dewa. Seseorang yang sangat dia rindukan. "Sahabat gue nikah, gue usahain harus datang. Dan, gue juga kangen banget sama lo."


"Lo gak balik lagi kan?"


"Gue ambil kontrak kerja dua tahun. Tunggu gue ya."


"Habis itu kita nikah ya?"


Karin menatap keseriusan Dewa kali ini. Lalu dia kembali memeluk Dewa. Biar bahasa tubuhnya saja yang bicara.


"Dewa!!" panggil Bu Maya saat Dewa tak juga melepas pelukannya. "Dewa kalian belum halal jangan pelukan lama-lama."


Dewa melepas pelukannya lalu melihat Mama dan Papanya sudah berada di sampingnya. "Pa, Ma, lamarin ya.."


"Iya, nanti. Nunggu dua tahun lagi kan."


Karin kini mencium tangan kedua orang tua Dewa. "Om, tante.."


"Karin, kamu apa kabar nak?"

__ADS_1


"Baik, tante."


Mereka berempat lalu mengobrol dalam satu meja bulat.


Akhirnya acara resepsi selesai. Kaki Lisa sudah terasa sangat pegal, ditambah lagi dengan riasan dan gaun yang sudah membuatnya gerah.


"Ma, bantu Lisa lepas gaun sama rapiin rambut ya." Lisa menggandeng mamanya menuju kamar hotel.


"Loh, kan ada Rizal."


Lisa menelan ludahnya sendiri. Memikirkan Rizal saja sudah membuat dadanya berdebar. "Ma, Kak Rizal lagi ngobrol sama Papa, Ayah dan Pak Bambang." Alasan Lisa saja sebenarnya.


"Ya udah, ayo." Bu Reni menuruti permintaan putrinya. Mereka masuk ke dalam kamar hotel.


Nothing spesial. Lisa sudah membayangkan dekorasi kamar pengantin yang dipenuhi dengan bunga mawar merah, tapi pada kenyataannya hanya seperti kamar hotel pada umumnya. Dia kini duduk di depan cermin sambil melepas hiasan di rambutnya yang dibantu oleh Mamanya.


Bu Reni tiba-tiba tersenyum. Dia seperti tahu apa yang ada dipikiran Lisa. "Kamu pasti udah bayangin kamar pengantin baru dengan banyak bunga. Sayangnya, Rizal gak mau. Dia malah pesen ke tukang dekor gak boleh kasih bunga apapun di atas ranjang kamar hotelnya. Katanya itu tempat tidur bukan makam, nanti bunganya bisa nempel dimana-mana dan memperlambat aksi." Bu Reni semakin tertawa mengingat ucapan konyol Rizal yang baru saja jadi menantunya itu.


"Udah aku tebak sih, Ma."


"Ya udah, kamu bersihin diri kamu aja dulu."


"Ma, baju aku sudah ada di sini kan?"


Lisa sempat memegang tangan Mamanya, seolah dia takut ditinggal Mamanya sendiri bersama Rizal.


"Kenapa? Udah jangan gerogi. Kamu sama Rizal udah pacaran lama kan, tinggal nerusin aja jalan ceritanya." Bu Reni mengusap pipi Lisa.


"Iya, Ma. Mama hati-hati ya."


"Iya, kamu juga hati-hati ya..." Bu Reni tersenyum menggoda Lisa.


"Mama..."


Lalu Bu Reni keluar dari kamar Lisa. Dia berjalan ke lobi, nampak Rizal masih saja asyik mengobrol dengan ketiga bapak-bapak itu.


"Zal, Lisa udah nunggu kamu di kamar." Kata Bu Reni yang ingin menggoda Rizal.


"Zal, seperti yang Papa bilang ya. Jangan terburu-buru." Pak Alan menepuk pundak Rizal sambil tertawa.


"Hati-hati. Putri Ayah satu-satunya loh."

__ADS_1


Rizal tersenyum malu.


"Aduh, Bapak-bapak ini dari tadi stimulasi Rizal terus. Soal begitu pasti Rizal juga bisa sendiri gak perlu diajarin. Anak zaman sekarang lebih canggih daripada Papa." Bu Ela akhirnya unjuk suara, karena sedari tadi dia cukup pusing mendengar obrolan ketiga bapak itu yang seputar itu-itu saja.


Pak Alan merangkul istrinya dan sedikit menggodanya. "Ya udah, pulang yuk Ma. Biar Rizal di sini, kita di rumah."


"Papa, pengantin lama ikut-ikut aja. Zal, Mama pulang dulu ya."


"Iya Ma, hati-hati."


Lalu Rizal berjalan menuju kamarnya. Dia membuka pintu, berjalan masuk dan menutup pintu kembali. Tidak lupa untuk menguncinya. Rupanya Lisa masih berada di dalam kamar mandi.


Dia kini duduk di sisi ranjang sambil melepas jasnya dan melonggarkan kancing atas kemejanya. Dia bisa bernapas lega, akhirnya acara yang cukup melelahkan itu selesai.


Cukup lama Lisa berada di dalam kamar mandi hingga membuat Rizal berjalan mendekat dan berniat mengetuknya. Tapi saat berada di depan pintu tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.


"Eh," Lisa terkejut. Dadanya berdebar saat mata itu kini beradu tatap dengan Rizal.


Aroma harum dari tubuh dan rambut Lisa membuat Rizal ingin mendekat. Untunglah Lisa sudah memakai piyamanya saat itu.


Lisa menahan dada Rizal saat akan memeluknya. "Hmm, Kak Rizal mandi dulu ya."


"Peluk dulu ya." Rizal langsung memeluk Lisa. Sedari tadi memang dia sudah sangat ingin memeluknya untuk mengungkapkan rasa kebahagiannya. "Selamat ya, sudah sah jadi istri aku."


Lisa menganggukkan kepalanya lalu mengeratkan pelukannya.


Rizal melepas pelukannya dan mencium singkat bibir Lisa. "Aku mau mandi dulu." Setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi.


Lisa menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang masih saja lebih cepat dari biasanya. Dia kini merapikan rambutnya. Setelah itu, dia raih ponselnya dan duduk di tepi ranjang. Banyak chat WA ucapan selamat dari teman-temannya. Grup Rililover juga sudah penuh dengan notifikasi. Bahkan sudah ratusan chat. Rizal dan Lisa memang sudah dimasukkan oleh Dewa kedalam grup itu, walau mereka berdua cuma menyimak saja obrolan dalam chat itu.


Saking fokusnya, Lisa sampai tidak mendengar Rizal keluar dari kamar mandi. Hanya suara Rizal yang berhasil membuat Lisa menoleh ke arahnya. Ponsel yang dia pegang pun tanpa sadar jatuh ke ranjang.


"Sayang, baju aku ditaruh mana?"


Lisa tidak menjawab. Pandangannya kini terhipnotis oleh Rizal. Rambut acak yang basah. Dada bidang yang cukup atletis, membuat Lisa tidak bisa berpaling menatapnya. Ya, untungnya saja Rizal sudah memakai celana pendeknya.


"Lisa??" panggil Rizal karena sedari tadi Lisa hanya menatapnya tanpa menjawab. Rizal menyunggingkan sebelah bibirnya lalu berjalan mendekat. Dia berniat menggoda istrinya. "Jadi, mau lakuin sekarang?" Rizal sedikit mendorong Lisa hingga dia bersandar di bedhead.


Lisa baru saja tersadar dari rasa terpesonanya saat Rizal sudah berada di dekatnya dan memegang kedua pundaknya. Pandangan mereka bertaut tanpa ada lagi sepatah kata pun. Semakin lama semakin dekat......


💞💞💞

__ADS_1


🤭🤭🤭


Jangan lupa like dan komen ya...


__ADS_2