Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Restu Bu Maya


__ADS_3

Rizal sedikit tegang. Dia teringat kejadian beberapa tahun lalu saat Bu Maya selalu mengusirnya. Apa kali ini Bu Maya akan mengusirnya lagi?


"Rizal.." Bu Maya justru memeluk Rizal sesaat, sangat berbeda dari prediksi Rizal. "Saya dengar kamu habis kecelakaan. Kamu sudah sehat?"


Rizal tidak menyangka dengan apa yang dilakukan Bu Maya padanya. Setelah dulu dia selalu didorong dan diusir dari rumahnya sekarang justru memeluknya. Mungkin Bu Maya memang sudah melupakan masa lalunya.


"Alhamdulillah, sudah tante."


Bu Maya melepas pelukannya. "Maafin saya ya, dulu kamu selalu saya usir dan terus menyalahkan kamu. Saya sadar itu semua bukan salah kamu."


"Iya tante, itu semua sudah berlalu." Rizal tersenyum. Ada sedikit kelegaan di hatinya.


"Kok malah ngobrol diluar. Ayo masuk.." kata Dewa yang sudah duduk di kursi ruang tamu.


Rizal dan Lisa masuk ke dalam rumah mengikuti Bu Maya dan duduk berdampingan.


"Kalian mau ngobrol sama Dewa. Saya buatkan minum dulu ya."


"Eh, gak tante." kata Lisa mencegah Bu Maya beranjak dari duduknya. "Kita ke sini ada perlu sama tante."


"Ada apa?"


"Hmmm..." Lisa menyenggol tangan Rizal sebagai isyarat agar Rizal berbicara.


Rizal justru mengembalikan senggolan Lisa. "Kan kamu yang ngajak aku ke sini. Kamu aja yang ngomong." bisik Rizal.


"Malu kak. Kak Rizal aja ya." bisik Lisa.


"Malah main senggol. Tumben banget pasangan ini pada malu-malu." celetuk Dewa.


Akhirnya Rizal mulai berbicara tujuannya ke rumah Bu Maya. "Kami ke sini mau minta do'a restu sama Bu Maya. Dua bulan lagi kami akan menikah."


"Hah!!" Dewa terkejut. "Dua bulan lagi? Ngebet banget lo mau kawin."


Bu Maya menepuk lengan Dewa. "Wa, bagus dong mereka mutusin buat nikah. Selama mereka sudah siap lahir dan batin, buat apa nunggu lama-lama." Bu Maya melihat Rizal dan Lisa dengan mata yang berkaca-kaca, sempat terbesit dipikirannya tentang Dewi. Seandainya Dewi masih ada pasti mereka juga... Sudahlah, aku juga sudah ada Lisa sebagai pengganti Dewi. "Saya do'akan semoga kalian selalu bahagia. Akan ada banyak masalah yang akan kamu hadapi setelah menikah, kalian jangan pernah berantem ya, harus saling mengalah dan saling percaya."


"Iya, tante. Amin.."


"Saya sangat senang kalian mau minta do'a restu dulu sama saya. Saya merasa seperti benar-benar punya anak perempuan lagi. Lisa mulai sekarang kamu panggil Ibu ya, jangan tante lagi. Kamu juga ya, Zal. Kalian kan sudah kayak saudara sama Dewa."


Lisa mengangguk lalu dia mendekati Bu Maya dan memeluknya. "Makasih, Ibu."


Bu Maya mengeratkan pelukan Lisa lalu menciumi kening Lisa. "Semoga kamu selalu bahagia ya..."


Lisa menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Yah Ma, Dewa juga pengen peluk." kata Dewa yang juga ingin memanjakan diri.


"Dewa, kamu udah gede."


"Kalau gitu lamarin Karin ya, Ma."


Bu Maya melepas pelukannya lalu mengacak rambut Dewa. "Kalau mau melamar anak orang kamu harus bersikap dewasa dulu. Harus siap bertanggung jawab lahir dan batin."


"Iya Ma. Iya Ma." Dewa manggut-manggut dengan petuah Bu Maya. Memang dirinya di banding Rizal masih kalah jauh. Terkadang Dewa masih tidak bisa mengontrol emosinya bahkan dia masih suka bermain game online. Dan, satu hal lagi dia masih menunggu kesiapan Karin yang masih berada di perantauan.


"Lisa, ikut Ibu yuk. Ada sesuatu yang mau Ibu kasih ke kamu. Dewa, kamu buatin minum buat mereka ya." Bu Maya mengajak Lisa masuk ke dalam kamarnya.


"Iya, Ma..." jawab Dewa yang sebenarnya malas beranjak dari tempat duduknya sambil menatap benda pipih itu.


"Udah gak usah repot-repot. Bentar lagi gue balik, masih ada perlu." kata Rizal.


"Yaelah lo buru-buru banget. Lo gak pernah ke sini kan. Dulu aja lo..." Dewa menghentikan perkataannya. Dia tidak mau membahas lagi masa lalu. "Lo santai aja dulu." Dewa meletakkan ponselnya di meja. Lalu melangkah cepat menuju dapur. Tak butuh waktu lama Dewa sudah membawa dua minuman dingin berwarna orange. Rasa jeruk, pastinya.


Rizal sempat melirik ponsel Dewa yang dipenuhi notifikasi. Saat Rizal ingin melihat lebih jelas karena terlihat ada beberapa foto tapi Dewa mengambilnya setelah meletakkan minuman di atas meja. "Lo minum ya..." kata Dewa lalu dia kembali fokus pada ponselnya sambil tersenyum sendiri.


"Gini nih, generasi milenial. Ada tamu bukannya diajak ngobrol malah asyik main hp."


Dewa bercengir kuda lalu menurunkan ponselnya. "Lo seriusan mau nikah?"


"Seratus persen rius."


"Siap bang, itu pasti!!"


"Emang gue abang lo?!"


"Kan lo sendiri yang bilang kalau Lisa adik lo."


"Oh, iya ya. Hebat banget gue punya adik kayak lo."


Ya, begitulah obrolan unfaedah Dewa dan Rizal.


"Kayak baru kemaren kita bertiga bertemu di depan sekolah dengan kondisi yang kurang kondusif." Dewa mengingat pertemuannya dengan Lisa yang saat itu hampir disenggol motor Rizal.


"Oo, waktu itu. Waktu gue hampir aja nyerempet Lisa kalau seandainya Lisa gak lo tarik."


"Lah, ini gue masih penasaran. Bisa-bisanya lo mau nyerempet Lisa padahal kan jalanannya luas."


"Gue juga gak tahu. Gue kurang fokus. Gue waktu itu lihat Lisa kayak lihat Dewi."


"Sama kalau gitu, waktu gue nolong Lisa, gue berasa lihat Kakak gue. Dan ternyata memang begitulah adanya." satu helaan napas terhembus. "Sudahlah, semua sudah berlalu. Gue yang tahu jelas jalan cerita cinta lo dan Lisa. Semoga aja cinta lo abadi."

__ADS_1


"Iya, amin. Baru kali ini lo do'a yang baik-baik buat gue."


"Udah banyak do'a baik buat lo. Cuma lo aja yang gak denger. Rencana lo mau bikin pesta dimana?"


Rizal mengambil minumannya lalu meneguknya sampai habis setengahnya. "Masih belum tahu. Tapi yang jelas gue ingin ngadain reoni temen SMA gue dan Lisa."


Dewa menghela napas panjang. "Karin gak mungkin bisa datang?"


"Karin? Ya, gue do'ain semoga Karin bisa datang."


"Amin." kata Dewa dengan keras. "Tapi gue gak terlalu berharap. Karin belum bisa dapat cuti tahun ini."


Beberapa saat kemudian Lisa dan Bu Maya keluar dari kamar. Lisa kembali duduk di sebelah Rizal.


"Lis, kamu minum dulu minumannya. Bentar lagi kita balik ya."


"Loh, kok buru-buru..."


"Iya, Bu.. Kita masih ada perlu ke beberapa tempat."


"Baru sembuh, jangan keluyuran aja. Cepat pulang..." kata Dewa walau kedua matanya masih fokus pada ponselnya.


"Syukurlah, abang kita sekarang udah bisa kasih nasihat." Kata Rizal yang membuat Lisa tertawa.


Lisa meminum habis minumannya. Lalu Lisa berdiri dan berpamitan pada Bu Maya yang diikuti oleh Rizal.


"Kalian sering-sering ke sini yah."


"Iya, Bu."


"Wa, kita pulang dulu.."


"Iya, hati-hati.."


Bu Maya mengantar mereka sampai teras depan. Setelah mobil mereka berjalan, Bu Maya membalikkan badannya dan kembali masuk ke dalam rumah.


"Tadi Bu Maya ngasih apa ke kamu?" tanya Rizal penasaran karena tadi Bu Maya cukup lama bersama Lisa.


"Oo,, tadi Bu Maya ngasih aku cincin."


"Cincin? Cincin apa?" tanya Rizal dengan pandangan fokus ke depan..


"Katanya ini cincin......"


💞💞💞

__ADS_1


Yah, kepotong lagi... 🤭🤭🤭 Sebenarnya ada satu ide dari cincin itu eh, tapi gak jadi ding.. 🤣🤣 Aku udah bayangin Rizal sama Lisa nikah masak mau ditunda lagi... Aaaa... Gak mau.. Gak mau.. Biar cincin itu jadi cerita misteri di 17 tahun lagi.. 🤭🤭


__ADS_2