
Lisa keluar dari kamar mandi. Rupanya Rizal sudah menunggunya di depan pintu.
"Kamu tunggu dulu ya, habis ini kita makan." Rizal masuk ke dalam kamar mandi.
Lisa duduk di atas sofa sambil melihat tv yang sudah menyala. Beberapa saat kemudian Rizal keluar dari kamar mandi dan duduk di sampingnya.
Melihat Lisa hanya terdiam, Rizal kembali merengkuhnya. "Kenapa sayang?"
Lisa menggelengkan kepalanya.
"Sakit ya habis dari kamar mandi? Maaf ya.." Rizal mencium kening Lisa lalu mengusap kepalanya yang membuat Lisa kini menyandarkan kepalanya di bahu Rizal. "Makan siang dulu yuk? Apa mau mesra-mesraan aja?"
Lisa menegakkan duduknya sambil tersenyum. Rasanya dia ingin terus bermanja dengan Rizal.
"Mau aku suapin lagi?"
Lisa menggelengkan kepalanya. "Gak usah Kak. Aku lapar." Lisa mendekatkan piringnya yang sudah berisi nasi dan lengkap dengan lauknya lalu melahapnya.
"Tuh kan, nafsu makan langsung meningkat. Capek ya?" Rizal tersenyum menggoda Lisa.
"Kak Rizal mungkin yang capek habis push up."
Rizal tertawa, "Push upnya kan beda. Itu gak capek." Lalu dia mulai melahap makanannya. Dia sedikit meringis saat bibirnya yang luka perih terkena bumbu masakan. "Yang ini ulah kamu." Rizal mengusap bibirnya dengan tisu. Lalu dia lebih berhati-hati melahap makanannya lagi.
Lisa hanya tersenyum. "Kelepasan, Kak. Maaf.."
"Iya, gak papa. Mau kamu gigit, cakar, jambak. Aku rela." Rizal menghentikan obrolannya karena Lisa hampir saja tersedak. "Maaf, maaf. Minum dulu. Ya udah aku diam deh."
Mereka akhirnya terdiam sambil menghabiskan makanan. TV sedari tadi sudah menyala, hanya tontonan random yang mereka tonton.
"Udah, kenyang? Atau mau nambah lagi. Biar aku pesenin."
Lisa menggelengkan kepalanya lalu bersandar di sandaran sofa.
"Nanti kita dinner ya. Semoga aja nanti malam langitnya udah gak mendung. Pasti pemandangannya bagus."
Lisa menganggukkan kepalanya. Dia ingin bersantai sejenak bersama Rizal saat ini.
Rizal merengkuh tubuh Lisa lalu meraih benda pipih yang sedari tadi mati. Dia kini menghidupkannya. "Eh, ada WA dari Mama."
Lisa ikut menatap layar ponsel Rizal sambil bersandar di bahunya. Ada beberapa panggilan dari Bu Ela yang masuk di jam-jam menegangkan tadi. "Untung ya, tadi hpnya aku matiin semua. Kalau gak, mungkin akan gagal untuk yang ketiga kalinya."
Lisa tertawa kecil. "Itu yang telepon mama loh."
__ADS_1
"Iya, makanya ini aku telpon balik." Rizal memanggil Bu Ela lewat video call.
Melihat itu Lisa menegakkan duduknya karena dia masih merasa malu kalau kemesraannya dilihat oleh mama mertuanya.
"Sayang, gak papa. Biar mama tambah seneng." Rizal menarik lagi tubuh Lisa dalam pelukannya.
Beberapa saat kemudian Bu Ela mengangkat panggilan videonya. Rupanya kedua orang tua Lisa juga sedang berkumpul di rumah Rizal.
"Duh, pengantin baru mesranya sampai hp dimatiin semua dari tadi pagi."
Rizal dan Lisa tersenyum sambil saling pandang beberapa saat.
"Mama ada apa telepon?"
"Kita mau merombak kamar kamu. Lisa nanti langsung pulang ke sini ya. Gak usah capek beres-beres, barang-barang kamu sudah dipindah ke sini sama Pak Edi. Tuh, mereka lagi menata." Terlihat kedua orang tua Lisa sedang merapikan barangnya di kamar Rizal.
"Lisa, kamu gak papa kan sayang?" tanya Bu Reni sambil mendekat ke ponsel.
"Gak papa, Ma." tanya Lisa sambil tersenyum. Dia sangat bahagia melihat semua berbahagia dan berkumpul.
"Ma, kok tanya gitu?"
"Yah, takutnya Lisa sakit."
Obrolan kedua orang tua Lisa membuat semua tertawa.
"Zal, udah berbinar-binar aja kayaknya udah sukses nih. Gimana ikutin saran Papa atau Pak Bambang?"
Rizal tersenyum. "Di kolaborasi, Pa."
Pak Alan tertawa dengan keras. "Kamu itu ada-ada aja. Makanya bibir kamu sampai kena gigit gitu."
"Tuh bibir sampai merah gitu. Lisa kalau Rizal sampai keterlaluan, gak papa kamu gigit terus."
Lisa hanya bisa tersenyum malu. Ada kalanya dia berada di posisi saat ini yang dipenuhi dengan obrolan dewasa.
"Besok kamu jadi pulang jam 3 sore kan?"
"Iya, Pa."
"Besok biar Papa suruh sopir jemput. Pokoknya kamu sama Lisa gak bakal capek besok. Udah kalian kuras aja tenaganya sekarang."
"Papa, udah matiin teleponnya. Biarin mereka berdua. Jangan stimulasi aja terus."
__ADS_1
"Iya Ma. Iya."
Lalu panggilan mereka terputus. Rizal menaruh ponselnya di atas meja. Rizal dan Lisa saling pandang sambil tersenyum.
"Senang ya, lihat mereka bahagia."
"Iya, bukan cuma kita yang merasakan kebahagiaan ini." Rizal semakin mendekap tubuh Lisa lalu mencium bibirnya. Mereka mulai bermain lagi dengan bibir mereka. Sampai tanpa sengaja Lisa menyesap bibir Rizal yang terluka.
"Sayang?" Rizal melepas ciumannya
"Maaf, Kak." Lisa tersenyum tipis lalu dia menyandarkan kepalanya di dada Rizal.
Tangan Rizal mulai nakal lagi. Dia mendekap dada Lisa menciptakan sesuatu yang bikin nagih.
"Kak, jangan lakuin itu lagi. Masih sakit."
"Iya aku tahu, gak kok. Aku cuma mau main-main aja."
"Yee, awalnya main-main ntar keterusan."
"Lisa, itu skenario orang yang belum nikah. Kalau udah nikah keterusan kan tambah enak."
Mereka bersantai dengan obrolan dan perilaku di zona dewasa yang sudah halal.
...***...
"Wow, beneran indah yah." Lisa takjub dengan pemandangan malam itu. Dia berdiri di dekat pagar. Mereka memilih meja restaurant yang berada di lantai dua dengan view yang sangat cantik. Pemandangan pegunungan yang dihiasi dengan lampu-lampu dan kerlip bintang di langit yang terlihat sangat jelas.
Rizal kini memeluk Lisa dari belakang. "Cantik."
"Iya, cantik banget."
"Kamu yang cantik." Rizal menatap Lisa dari samping sambil tersenyum menggoda.
"Mulai gombal. Pasti ada maunya."
"Begini nih. Jujur dibilang gombal." Rizal kini beralih ke samping Lisa lalu menggenggam tangannya. "Mulai sekarang gak ada yang bisa pisahkan kita. Memang ini baru awal kita memulai hidup baru. Ya, apapun masalah yang kita hadapi nanti, kita harus bisa selalu bersama. Kita harus bisa saling melengkapi satu sama lain. Sekiranya aku salah, kamu berhak negur aku. Begitu pun sebaliknya. Jangan sampai ada kata perpisahan, semarah apapun aku, semarah apapun kamu. Kita itu hanya manusia biasa, yang mungkin bisa marah dan khilaf." Rizal mencium tangan Lisa cukup dalam. "Are you ready to adventure with my life?"
Lisa mengangguk sambil tersenyum lalu mereka berpelukan. Kini mereka saling mengisi kekosongan itu.
💞💞💞
Aku mau puas-puasin keromantisan mereka dulu. Titik no debat. 🥰
__ADS_1