
"Plakkk!!!" satu tamparan keras akhirnya dilayangkan Lisa. Dia sebenarnya tidak mau menampar Rizal. Dia tahu ada yang tidak beres di minuman itu. Harus dengan cara apa, Lisa menyadarkan Rizal?
Mendapat tamparan keras, Rizal melepaskan ciumannya. Dia mengalihkan wajahnya dan mundur satu langkah. "Apa yang aku lakuin?" Walau gelora itu masih dahsyat, otak sehat Rizal masih sedikit bekerja. Dia kini menyalakan kran dan mengguyur rambutnya dengan air, berharap pikiran kotor hilang dari kepalanya.
Lisa masih mengenggam tangannya sendiri dengan gemetar. Dia takut melihat sisi lain Rizal.
"****!!!" umpat Rizal. "Aku tahu pasti ada yang gak beres dalam minuman itu. Andi pasti udah campur minuman itu dengan obat perangsang, padahal aku cuma minum sedikit kenapa efeknya kayak gini." Rizal mengacak rambut basahnya. Dia merasa sangat bersalah pada Lisa. Rasa dingin di kepalanya berhasil sedikit meredam gairahnya. Setidaknya dia masih bisa mengendalikannya.
Rizal menghampiri Lisa yang masih berdiri kaku dengan lutut yang masih bergetar. "Maaf."
Lisa hanya mampu menggelengkan kepalanya. Dia masih takut, walau untuk sekedar menatap Rizal.
Rizal mengepalkan tangannya dan memukul tembok yang berkeramik. "Aku gak akan lepasin Andi!!" Dada Rizal naik turun, dia kini menahan semua rasa yang campur aduk di dadanya.
Lisa melihat tangan Rizal yang memerah karena pukulannya ke tembok. "Kak, jangan nyakitin diri sendiri." Dia kini meraih tangan Rizal.
Rizal menggeleng. Tangan yang tadi diraih Lisa kini beralih ke bibir Lisa yang sudah memerah dan bengkak, bahkan terlihat ada setitik darah yang keluar dari kulit tipis itu. "Masih lebih sakit ini kan?" Rizal mengusap pelan bibir Lisa. "Apa yang udah aku lakuin. Aku sangat menyesal. Maafin aku. Maafin aku." Rizal mengucap kata maaf berkali-kali dengan dadanya yang bergetar. Rizal merasa sangat bodoh telah menuruti hasrat yang dibuat oleh setan.
Lagi, Lisa hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
"Kita keluar dari sini." Rizal kembali menggandeng Lisa. Mereka segera keluar dari klub dan menuju tempat parkir. Rizal sengaja mencari sepeda motor Andi yang ternyata sudah menghilang, itu tandanya dia sudah pergi.
Rizal menghela napas panjang. Dia kini berdiri di sisi motornya sambil sedikit bersandar.
"Kak,"
Suara Lisa berhasil membuat Rizal menolehnya.
"Aku cuma berpikir, gimana kalau seandainya aku gak ikut. Apa yang akan terjadi?"
Pertanyaan Lisa berhasil meremat jantung Rizal. Ya, inilah tujuan sebenarnya Andi. Andi tidak mungkin tahu kalau dia datang bersama Lisa. Kalau seandainya Rizal datang sendiri sudah jelas dia akan dipancing dengan wanita lain.
Lutut Rizal terasa melemas. Dia melepaskan tangan Lisa dan duduk di pagar pembatas tempat parkir. "Ya, kamu benar. Sebenarnya itulah jebakan dari Andi." Lagi, Rizal mengacak frustasi rambutnya.
Lisa kini ikut duduk di samping Rizal. Dia usap bahu Rizal agar lebih tenang. "Aku tahu, Kak Rizal turuti kemauan Andi agar Andi mau pulang, kasian Pak Bambang. Tapi dia licik. Andi sebenarnya ingin menghancurkan hidup Kak Rizal. Mulai sekarang jauhi Andi, jangan lagi berurusan dengan dia. Aku gak mau Kak Rizal dapat masalah lagi."
Rizal kini menatap Lisa. "Boleh aku peluk kamu?" karena kejadian di toilet barusan, Rizal takut jika Lisa masih trauma. Dia bertanya terlebih dulu untuk sekedar memeluknya. Dia butuh kenyamanan dari Lisa untuk melepas beban di hatinya.
Lisa mengangguk dalam hitungan detik mereka berpelukan dengan erat. Tidak seperti biasanya ketika mereka berpelukan. Biasanya Lisa yang menenggelamkan dirinya di dada Rizal tapi kini justru Rizal yang menenggelamkan wajahnya di bahu Lisa.
"Kalau aku kurang ajar lagi sama kamu, tampar aku dengan keras. Pukul aku sampai aku sadar. Sekalipun kamu pacar aku, jangan biarkan aku sampai keluar batas."
Lisa mengangguk. Dia usap punggung Rizal agar lebih tenang.
Rizal kini melepaskan pelukannya. "Kita pulang, udah malam. Nanti mama kamu khawatir."
Bicara soal Mama, Lisa harus mencari alasan tentang bibirnya yang terluka.
Seperti tahu apa yang dipikirkan Lisa, "Hah, iya. Kamu mau bilang apa kalau Mama kamu tanya soal ini?" Lagi, Rizal mengusap pelan bibir Lisa yang terlihat semakin memerah.
__ADS_1
Lisa terdiam. Dia sedang memikirkan cara.
"Aku jujur saja ya, sama orang tua kamu."
"Jangan!! Nanti Ayah marah sama Kak Rizal." Akhirnya Lisa menemukan satu ide. Meskipun dia harus membohongi Mamanya. "Aku ada satu cara. Kak Rizal tenang aja ya. Tapi efek obat itu gak bahaya kan? Apa gak lebih baik Kak Rizal ke dokter saja."
Rizal tertawa. Tentu saja obat itu tidak butuh tindakan medis, hanya butuh tindakan lain. "Kamu pikir obat itu kayak racun?"
Lisa mengerutkan dahinya.
Kali ini Rizal tidak mau mengotori pikiran polos Lisa. "Udah, aku gak papa. Kita pulang yuk?!"
...***...
Malam itu, mata Rizal seolah enggan untuk terpejam. Rasa kantuk tidak juga singgah. Apa karena efek dari mandi keramasnya. Ya, setelah menuntaskan hasratnya sendiri, Rizal mandi dan keramas untuk menghilangkan segala pikiran kotor.
Beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi. Dia meraih ponsel yang berada di atas nakas. "Lisa??" Dia kini setengah duduk sambil mengangkat telepon Lisa. "Hallo, sayang kok belum tidur?"
"Aku gak bisa tidur."
Rizal kini mengalihkan panggilannya ke video call.
"Kak, gak usah video call..."
Rizal tertawa. Walau Lisa menolak tapi Lisa selalu menerima panggilan video call darinya. Kini terlihat wajah Lisa yang ditutupi selimut di bagian bibirnya.
"Harus berapa kali Kak Rizal minta maaf. Udah gak papa. Tadi sebenarnya aku mau pura-pura jatuh dan kena gagang pintu di depan Mama pas sampai rumah. Gak taunya malah kena beneran." Lisa membuka selimutnya dan terlihat bibir Lisa semakin memerah dengan luka yang bertambah lebar.
"Tuh kan, pasti sakit. Kamu aneh-aneh aja. Aku gak papa bilang sama orang tua kamu. Aku mau tanggung jawab. Nanti kalau disuruh nikah kan bisa langsung nikah."
Terlihat Lisa memanyunkan bibirnya. "Itu mah akal-akalan Kak Rizal aja."
Rizal tertawa. "Kayaknya kamu yang harus berobat ke dokter. Hati-hati loh, ntar ada virus yang menyebar."
"Ini udah aku kompres pakai es. Udah gak sakit kok. Pasti besok juga udah gak bengkak. Lagian emang Kak Rizal punya virus?"
"Punya dong, virus cinta." Rizal mengangkat alisnya menggoda Lisa.
"Gombalnya kambuh."
"Tapi beneran loh. Kalau masih sakit mending berobat aja."
"Nanti kalau dokternya tanya kenapa? Aku jawab digigit tawon gitu ya."
Rizal tertawa, dia sampai lupa dengan volume suaranya. "Aku disamain kayak tawon."
Jelas saja suara Rizal terdengar sampai luar. "Zal, tidur!!! Udah malam!!" teriak Bu Ela dari luar kamar Rizal sambil menggedor pintu kamar Rizal.
"Iya Ma!!!" jawab Rizal.
__ADS_1
Kini Lisa yang tertawa cekikikan. "Anak Mama jam segini tidur ya."
Rizal menghela napas dia kini memelankan suaranya. "Kamu sih. Kalau deket pasti udah aku cubit tuh pipi."
Tiba-tiba Lisa terdiam. Dia nampak berpikir.
"Jangan marah, aku cuma bercanda."
"Aku gak mikirin itu.."
"Lalu??"
"Hmmm.. Itu.. Anu..." Lisa sedikit malu dengan pertanyaan yang akan dikatakan.
"Hmm, apa?"
"Hmm, emang kalau cowok lagi itu, menakutkan kayak gitu ya?"
"Lagi itu?" Rizal sedikit bingung dengan pertanyaan ambigu Lisa.
"Maksudnya..." Lisa malu jika harus to the point dengan pertanyaannya. Bola matanya terlihat berputar ke kanan dan ke kiri.
Rizal kini menahan tawanya. Ya, kini dia bisa menebak apa yang ada di pikiran Lisa. "Oo, aku tahu. Soal tadi kan?"
Lisa tersenyum.
"Tanya gitu aja malu, kan kamu juga udah hampir 19 tahun. Kalau semua dilakukan berdasarkan cinta, semua akan indah tidak ada yang menakutkan. Udahlah, nanti langsung praktek aja pas kita udah nikah. Mau nikah umur berapa sih emang? Nunggu pas 20 tahun ya?"
"Nunggu aku lulus kuliah ya..."
"Itu masih lama, kamu baru aja masuk kuliah. Kita gak tahu kan, berapa lama lagi waktu kita bisa bersama."
"Yee, bilang aja kalau Kak Rizal udah pengen."
Lagi, Rizal dibuatnya tertawa walau tertahan. Mereka masih saja asyik mengobrol sampai larut malam. Entah sampai jam berapa akhirnya Rizal tertidur dengan ponsel yang telah lowbath.
💞💞💞
Terima kasih sudah membaca percakapan unfaedah Rizal dan Lisa lewat VC.. ðŸ¤
Bentar lagi puncak konfliknya yah, jangan pada nyesek.. 🥺
Q&A
"Btw, mana sih misterinya?" Hah, taulah konflik kali ini termasuk misteri atau bukan.. 💆
"Kok malah beralih ke romance?" Iya soalnya mereka udah tambah dewasa..
"Kok gini, kok gitu..." Hah, whatever lah.. yang penting aku sayang Rizal.. eh.. ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤¦ðŸ¤¦
__ADS_1