
Suara isak tangis Lisa mulai menggema. Keadaan sudah terasa sunyi sepi dan meremang. Dia duduk sambil menangkup kedua lututnya. Air mata masih saja mengalir dari matanya yang sudah sangat sembab.
“Kenapa ini semua terjadi? Apa salah aku? Tuhan ambil saja hidupku sekarang. Aku sudah gak ada gunanya lagi hidup di dunia ini.”
Lisa kini berdiri melihat ke lantai dasar. Dia berada di lantai dua. Lebih tepatnya di depan Lab. IPA yang jarang dilintasi oleh orang lain. Tempat itu sangat sepi, bahkan cahaya yang masuk hanya sebagian karena terhalang oleh bangunan kelas di depannya.
Seperti ada yang berbisik di telinganya, “Lompat saja dan semua akan berakhir.” Setan itu terus mempengaruhi Lisa dalam pikirannya yang sangat putus asa. Dia menaikkan satu kakinya berniat untuk memanjat pagar pembatas.
“Lisa!!” dengan cepat dan dengan cukup tenaga Rizal menarik tubuh Lisa. Dia kini memeluknya dengan erat. “Apa yang mau kamu lakuin di sini?! Aku dari tadi nyariin kamu.”
“Kak Rizal, lepasin!!” Lisa berusaha memberontak untuk lepas dari pelukan Rizal.
“Gak akan. Aku gak akan lepasin kamu.” Sekuat apa pun Lisa memberontak masih kalah dengan kekuatan Rizal.
Tangis Lisa semakin keras. Dia masih saja berusaha mendorong Rizal. “Benar kata mereka, aku udah gak pantas sama Kak Rizal. Lebih baik kita putus.”
Rizal semakin mengeratkan pelukannya. “Aku gak akan mutusin kamu. Aku gak akan ninggalin kamu apa pun yang terjadi.”
“Tapi aku udah gak pantas. Bahkan aku sendiri gak tahu Rey udah lakuin apa aja sama aku. Gimana kalau Rey udah ngelakuin lebih dari ciuman itu.” Suara Lisa parau. Badannya bergetar.
Rizal sangat mengerti apa yang dirasakan Lisa saat ini. Hancur, ya hatinya sangat hancur. “Gak Lis. Aku yang nemuin kamu. Aku yang nolong kamu waktu itu. Aku yakin Rey belum lakuin lebih dari itu.”
“Tapi, kalau Rey ternyata memang udah...”
__ADS_1
“Aku akan tetap cinta sama kamu.” Rizal memotong perkataan Lisa. “Aku akan tetap sayang sama kamu bagaimana pun keadaan kamu.”
Keyakinan suara Rizal membuat Lisa terperanga. Setulus itu kah cinta Rizal? Bahkan kini Lisa sudah tidak memberontak lagi untuk melepaskan diri. Dia justru menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rizal.
Rizal mengusap pelan rambut Lisa. Dia cukup lega akhirnya bisa sedikit menenangkan Lisa. “Aku yakin kamu bisa melalui ini semua. Kamu harus kuat. Kamu harus lawan mereka. Tunjukkan bahwa kamu gak salah. Kamu masih punya aku. Kamu masih punya sahabat dan kedua orang tua yang akan selalu percaya sama kamu.”
“Tapi Kak, Rey udah ambil ciuman pertama aku. Apa Kak Rizal rela. Sedangkan Kak Rizal sendiri belum...” Lisa menghentikan perkataannya saat Rizal kini menangkup kedua pipi Lisa.
“Lis, tatap mata aku. Apa aku ada keraguan sama kamu?” Rizal kini menatap kedua mata Lisa yang sudah sangat sembab. “Apa yang sudah Rey lakukan sama kamu itu diluar kesadaran kamu. Kamu gak ingat apa-apa. Anggap saja semua itu gak pernah terjadi dalam hidup kamu.”
Lisa kini terbuai oleh tatapan Rizal. Tatapan yang penuh cinta dan kasih sayang. Lisa merasa dia telah menemukan seseorang yang akan dia anggap sebagai cinta sejatinya.
Rizal semakin mendekatkan wajahnya. Bahkan satu tangannya sudah berpindah ke punggung Lisa. Rizal berhasil menyentuh bibir Lisa dengan bibirnya tapi Lisa menghindar. Dia kini mengalihkan pandangannya. Dia masih ragu menerima ciuman itu. Ditambah dia terus mengingat videonya dengan Rey. Dia merasa seperti barang second yang tidak pantas untuk Rizal.
Dada Lisa berdebar hebat. Dia menjadi sangat nervous. Apalagi kini tangan Rizal berpindah ke tengkuk lehernya yang membuat dirinya bagai tersengat listrik. Dia rasakan bibir Rizal mulai menyentuh bibirnya. Dia hanya bisa memejamkan matanya merasakan ciuman Rizal yang hangat dan lembut. Bibirnya kini terasa basah. Dia bimbang, haruskah dia membuka sedikit bibirnya dan membalas ciuman Rizal. Yang jelas, Lisa bagai terbang ke awan. Badannya terasa ringan seolah tidak berpijah lagi di bumi. Beban pikirannya pun terasa menghilang.
Secara naluri, Lisa kini membuka sedikit bibirnya dan membalas pagutan bibir Rizal. Dia menikmatinya. Ciuman indah yang belum pernah dia rasakan.
Merasa mendapat balasan dari Lisa, Rizal semakin memperdalam ciumannya dengan lembut dan penuh perasaan. Merasakan bibir Lisa yang terasa manis yang akan menjadi candu bagi Rizal. Darah mudanya terasa semakin memanas. Cukup lama sampai asupan oksigen terasa habis dan kini Rizal menyudahi ciumannya.
Mereka sama-sama mengatur napasnya yang terengah.
Rizal usap bibir merah Lisa dari basahnya ciumannya sambil tersenyum yang membuat Lisa merasa malu. Lisa kini memalingkan wajahnya dan menyingkirkan jari Rizal dari bibirnya.
__ADS_1
"Maaf, aku kelepasan."
Lisa menggelengkan kepalanya. Tidak bisa dipungkiri, inilah kenangan terindah bagi Lisa.
Rizal memberikan satu pelukan sebelum memutuskan untuk pulang. "Setelah ini, kamu jangan sedih lagi. Aku akan bantu agar kamu gak dapat sangsi dari sekolah."
"Makasih. Kak Rizal selalu ada buat aku."
"Pasti, aku akan selalu ada buat kamu." Rizal kini melepas pelukannya lalu menggandeng tangan Lisa. "Kita pulang yuk. Mama kamu khawatir banget sama kamu."
Lisa menganggukkan kepalanya. Lalu mereka berjalan beriringan sambil bergandengan tangan.
"Sudah ketemu." Pak Tejo masih stand by di pos satpamnya.
Rizal tersenyum. Dia kini sudah mengendarai sepeda motornya sambil membonceng Lisa. "Iya Pak. Terima kasih."
Rizal melajukan motornya setelah Pak Tejo membukakan pintu gerbang. "Iya, sama-sama. Hati-hati." Pak Tejo kembali menutup pintu gerbang sekolah.
Rizal melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Hari sudah sore, bahkan sudah hampir Maghrib. Hari itu menjadi hari yang cukup panjang bagi Lisa dan Rizal. Masih ada satu yang harus dilakukan Rizal, dia harus bisa membantu Lisa lolos dari sangsi sekolah.
💞💞💞
Best moment Rizal dan Lisa.. 🥰🥰🥰 Jadi ingat masa muda dulu.. 🤭 Hah!!! Padahal sekarang juga masih muda.. 😏😏
__ADS_1
Jangan lupa vote dan komennya kawan..