Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Periksa


__ADS_3

"Lisa kenapa, Zal?" tanya Bu Ela saat melihat Rizal membuatkan teh untuk Lisa di dapur.


"Gak enak badan, Ma. Tadi sampai muntah-muntah."


Kini pandangan Bu Ela beralih pada kantong plastik yang berisi mangga. "Tumben kamu beli mangga."


"Itu Lisa yang mau."


Ekspresi Bu Ela seketika berubah. Senyuman mengembang di wajahnya. "Jangan-jangan Lisa hamil, Zal."


"Iya kah?" Sepolos itu Rizal sampai tidak tahu ciri-ciri orang hamil, yang dia tahu hanya cara membuatnya saja.


"Iya. Pasti Lisa lagi ngidam. Cepat periksa gih. Bentar, ini Mama buat roti sandwich kamu kasih Lisa. Suruh makan dulu ya, kasihan kalau perutnya kosong."


Beberapa saat kemudian Rizal masuk ke dalam kamar dan sudah membawa secangkir teh hangat dan sepiring roti sandwich. Dia melihat Lisa sedang tiduran sambil memeluk gulingnya.


"Sayang, minum teh dulu biar enakan." Rizal meletakkannya di atas nakas.


Lisa duduk dan bersandar di headboard. Lalu mengambil teh dan meminumnya.


Rizal menyeret kursi mendekat ke ranjang dan duduk menatap Lisa. "Kamu makan dulu ya."


Lisa mengangguk lalu mulai memakan roti sandwich itu. Sampai tiga gigitan, dia berhenti memakannya. "Kak, mangganya mana?"


"Oo, masih mau mangga. Katanya tadi gak jadi." Niat hati menggoda Lisa tapi justru kali ini Lisa menanggapinya serius.


Lisa meletakkan roti sandwich kembali di piring. Ekspresi wajahnya berubah menjadi kesal. Lalu dia merebahkan dirinya dan memunggungi Rizal.


"Loh, marah? Aku cuma bercanda. Aku ambilin ya."


Lisa hanya menggeleng. Sesensitif itu perasaan Lisa.


"Sayang, maaf..."


Rizal kini beralih ke ranjang. Dia memeluk Lisa dari belakang walau masih menyisakan jarak dan mengusap lembut perutnya. "Jangan-jangan kamu beneran hamil."


Lisa seolah baru tersadar. "Hamil? Iya, aku baru ingat kalau udah telat tiga minggu."


"Aku antar kamu periksa ya.. Pakai mobil aja kebetulan Papa bentar lagi pulang."


Lisa mengangguk. Pikirannya melayang tinggi memikirkan sesuatu. "Apa aku bisa ya jadi ibu?"


"Seorang ibu itu pasti bisa jadi ibu. Kita bisa belajar sama-sama untuk jadi orang tua. Emang kamu gak seneng kalau beneran hamil?"


"Seneng banget."


"Iya harus seneng. Hasil jerih payah kita tiap malam loh ini."


Lisa tersenyum kecil mendengar Rizal.


Rizal mendekatkan dirinya. Menghapus jarak diantara mereka. Dia tumpu kepalanya dengan satu tangan lalu mencium Lisa.

__ADS_1


Rasa mual itu muncul lagi. Bahkan lebih terasa dari sebelumnya. "Kak..." Lisa mendorong Rizal hingga membuat dia terduduk di sisi ranjang.


"Mual lagi?"


Lisa duduk dan menurunkan kakinya. Tapi dia sudah tidak bisa menahan lagi. Dia keluarkan isi perutnya yang barusan masuk itu di lantai.


"Sayang, maaf ya. Kirain kamu udah gak mual. Ya udah aku gak dekat-dekat kamu dulu." Rizal mengambilkan tisu. Setelah Lisa mengusap bibirnya lalu Rizal mengambilkan teh yang masih tersisa setengah cangkir. "Kamu minum dulu, lalu kamu tiduran ya. Biar aku bersihkan dulu."


Setelah minum, Lisa merebahkan dirinya. Kepalanya terasa pusing. Badannya terasa lemas tak berdaya.


Rizal segera mengambil peralatan untuk membersihkan lantai.


Bu Ela kini masuk ke dalam kamar dan duduk di dekat Lisa. "Lisa, masih mual nak?"


Lisa hanya menganggukkan kepalanya.


Rizal hanya terdiam sambil mengepel lantai. Mungkin dia sedang mengutuk dirinya sendiri. Kenapa juga dia mendekati Lisa dan menciumnya.


"Ini, Mama kupasin mangga biar mualnya hilang." Bu Ela membantu Lisa untuk duduk. "Sampai pucat gini."


Lisa mulai memakan mangga yang sedari tadi dia inginkan.


Tatapan Bu Ela kini beralih pada Rizal yang mukanya masam, lebih masam dari rasa mangga. "Kamu kenapa, Zal?"


"Emang kalau orang hamil dekat-dekat suaminya bisa mual?"


Bu Ela justru tertawa. "Bawaan orang hamil itu beda-beda. Kalau Lisa mual dekat kamu ya kamu jaga jarak. Jangan dekat-dekat dulu. Tahan dulu. Kasian kan kalau sampai muntah lagi."


"Iya, Ma, iya." Rizal keluar dari kamar setelah lantai sudah bersih.


"Hmm, gak usah Ma. Biar Kak Rizal aja."


"Udah, gak papa. Rizal biar siap-siap antar kamu periksa. Papa barusan udah pulang." Bu Ela keluar dari kamar yang berpapasan dengan Rizal. "Zal, kamu mandi dulu lalu antar Lisa periksa. Itu, Papa udah pulang."


"Iya, Ma."


...***...


"Rizal, putranya Bu Ela ya?" tanya Dokter kandungan yang kini duduk di depan Rizal dan Lisa. Dokter Santi adalah dokter kandungan langganan Bu Ela sejak dulu. Beliau memang sudah tidak terlalu muda tapi sangat telaten dalam menangani pasiennya.


"Iya, Dok."


"Apa kabar Ibu kamu? Lama gak ke sini. Tahu-tahu malah anaknya yang bawa istrinya ke sini. Kayak baru kemaren kamu masih kecil."


Rizal tersenyum. "Kabar Mama, baik Dok."


"Bu Lisa sekarang umur berapa?" tanya Dokter Santi sambil menulisnya di buku kesehatan.


"20, Dok."


"Kalau Pak Rizal?"

__ADS_1


"23 tahun."


Dokter Santi tersenyum. "Masih muda-muda ya. Seneng lihat kalian, pasangan yang sangat serasi. Ini kehamilan anak pertama ya? Bu Lisa sudah tespek?"


"Belum."


"Sudah telat berapa minggu?"


"Tiga minggu, Dok."


"Tiga minggu.. Ya sudah, langsung di USG saja ya untuk mengetahui kantong janin sudah terbentuk atau belum."


Rizal dan Lisa mengikuti Dokter Santi ke ruang USG. Lisa merebahkan dirinya. Dokter Santi mengusap gel di perut Lisa, dan mengarahkan alat USG. Sekarang sudah terlihat di layar monitor hasil USG itu.


"Ini, sudah kelihatan kantongnya. Usia kehamilan sudah memasuki 8 minggu."


Rizal dan Lisa tersenyum saling tatap lalu mereka kembali menatap layar monitor USG itu yang sudah menampakkan hasil jerih payah mereka setiap malam.


"Di trimester pertama ini jaga kondisi ya. Harus lebih hati-hati soalnya kandungan masih rentan. Jangan terlalu capek dan banyak pikiran. Makan makanan bergizi untuk memenuhi nutrisi yang dibutuhkan. Saya print out ya hasil USGnya."


Setelah selesai, Lisa dan Rizal kembali duduk di depan Dokter Santi yang sedang menulis di buku pemeriksaan.


"Ada keluhan?"


"Mual sama pusing, Dok."


"O, itu biasa terjadi di trimester pertama karena perubahan hormon. Saya kasih vitamin sama suplemen makanan, diminum setiap hari ya. Lalu meskipun susah makan, usahakan tetap makan ya. Apa aja yang kamu mau, gak papa dimakan aja."


"Hmm, Dok. Biar gak mual kalau dekat saya apa ada obatnya?"


Dokter Santi tersenyum mendengar pertanyaan lucu Rizal. "Oo, kalau itu memang bawaan dari kehamilan. Salah satu perubahan hormon juga. Tidak ada obatnya ya, cukup jaga jarak aja. Nanti setelah memasuki trimester kedua pasti sudah hilang dengan sendirinya."


Mereka hanya menganggukkan kepalanya.


"Selama tidak ada keluhan, periksa satu bulan lagi ya."


Setelah selesai. Mereka keluar dari ruangan Dokter Santi. Rizal berjalan pelan dengan Lisa menuju tempat parkir dan masih tetap menjaga jarak aman.


"Rasanya pengen banget aku peluk kamu sekarang. Perasaan aku campur aduk jadi satu." Kata Rizal setelah duduk di depan setir sambil melihat Lisa yang duduk di belakang.


"Iya. Kebahagiaan ini rasanya sulit aku gambarkan." kata Lisa sambil melihat hasil print out USG.


"Aku sampai terharu. Hasil karya aku ada di perut kamu loh." Rizal tersenyum meski kini nampak bulir bening diujung matanya.


"Kak Rizal jangan nangis."


"Kayak kamu gak terharu juga."


Lisa tertawa sambil mengusap air matanya. Ya, air mata kebahagiaan mereka.


"Kak, kita ke rumah dulu ya. Aku mau ngasih tahu kabar bahagia ini sama Mama dan Ayah."

__ADS_1


"Oke, sayang." Rizal mulai melajukan mobilnya menuju rumah Pak Edi.


💞💞💞


__ADS_2