
Malam itu, Rizal memikirkan cara menyelesaikan masalah Lisa. Apa harus dengan kekerasan lagi dan menuntut Rey. Dia tidak mau salah ambil keputusan yang akan membuat masalah semakin meluas.
Rizal kini menatap layar ponselnya setelah ada pesan dari grup kelas masuk. Dia duduk di depan meja belajar sambil menyandarkan diri ke kursi.
Ade : Terlepas dari scandal itu, ada seorang yang sangat berbakat. Video Rey yang ngecover lagu Cakra Khan saat pensi di sekolah kita, sudah hampir tembus 1 juta viewer.
Shared_videos:Kekasih_Bayangan_cover_Rey
Rizal kini beralih menghubungi Dewa. “Dewa, lo punya nomor Rey... Oke.” Tak menunggu lama Dewa mengirim nomor kontak Rey. Rizal segera menghubunginya. Sempat beberapa kali ditolak. Akhirnya Rey mengangkat panggilan Rizal.
“Hallo, Rey?”
“Iya. Kenapa?” terdengar suara Rey di sana.
“Gue kasih lo satu kesempatan buat klarifikasi masalah video itu. Besok lo harus datang ke sekolah dan bilang ke seluruh penjuru sekolah kalau Lisa gak salah. Lo yang udah jebak Lisa.”
Rey hanya terdiam.
“Buat perhitungan sama lo percuma. Gak akan bisa merubah keadaan. Harus lo yang membersihkan nama baik Lisa di sekolah. Reputasi dia sudah hancur karena video itu sudah menyebar. Kasian dia kena bully habis-habisan teman satu sekolah. Bahkan Lisa juga kena sp dari guru BK. Gue tunggu lo di ruang admin, besok pagi.”
Rey masih terdiam. Tidak berkata apa pun.
“Oke, gue anggap lo setuju.” Rizal mematikan panggilannya. Berharap Rey mendengar suaranya. Dia kini beralih ke nomor Pak Bambang. “Hallo, selamat malam Pak. Maaf mengganggu.”
“Iya Rizal. Ada apa? Sudah lama kamu tidak telepon Bapak?”
“Bapak sudah dengar tentang masalah video Lisa dan Rey?”
“Oo, video itu. Iya, tadi Pak Roni sempat menceritakan masalah itu sama saya. Besok kita akan membahas masalah itu lagi. Kenapa?”
“Sebenarnya.....” Rizal menceritakan semua rentetan peristiwa yang terjadi. Tak terkecuali bully-an yang sudah dilakukan ke Lisa.
“Bagaimana bisa Pak Roni membiarkan ini semua. Saya harus memberi peringatan sama Pak Roni biar dia tidak menyimpulkan sendiri suatu masalah. Apalagi sampai membiarkan anak-anak membully. Lalu kamu mau saya DO Rey?”
“Kalau menurut saya itu tidak perlu. Saya rasa Rey sudah menyesal. Cukup skorsing dia selama seminggu dan ada satu hal, Rey punya bakat yang pasti akan mengharumkan nama sekolah. Video Rey waktu pertunjukkan di pensi sekolah kita sudah mencapai hampir satu juta viewer.”
“Baik. Bapak akan pertimbangkan masukan kamu. Ngomong-ngomong kamu pacarnya Lisa ya?”
__ADS_1
Rizal tersenyum walau sebenarnya Pak Bambang juga tidak bisa melihat senyumannya. Dia memang sudah biasa membahas hal apapun dengan kepala sekolahnya. Apalagi Pak Bambang sudah menganggap Rizal seperti putranya sendiri. “I-Iya Pak.”
“Pantaslah. Sayang, anak saya yang seumuran kamu itu cowok. Kalau cewek mungkin sudah saya jodohkan sama kamu.” Terdengar suara tawa renyah dari Pak Bambang.
“Oiya, bagaimana kabar Andi? Dia jadi kuliah di sini?”
“Iya, sebenarnya dia masih ingin melanjutkan kuliahnya di Amerika. Tapi Bapak tidak mau. Kamu tahukan kehidupan di sana bebas. Sekarang saja Andi jarang ngasih kabar. Sekali telepon dia cuma minta uang. Bapak berharap nanti dia bisa satu kampus sama kamu. Biar dia bisa jadi anak yang baik seperti kamu.”
“Pak Bambang bisa aja.”
“Loh, kok jadi saya yang curhat. Sudah yah, kamu istirahat sudah malam.”
“Baik. Terima kasih atas waktunya. Selamat malam.” Rizal memutuskan panggilannya.
Rupanya rencana Rizal semalam berhasil tanpa harus melukai siapa pun. Dia kini tersenyum saat melihat kesedihan di wajah Lisa sudah hilang.
“Kak Rizal?” Lisa kini menghampiri Rizal yang tengah berdiri di samping pintu ruang BK.
“Lisa, kamu lanjut masuk kelas kan? Kita pulang dulu yah.” Kata Bu Reni.
Bu Reni dan Pak Edi berjalan menjauh meninggalkan Lisa. Kini mereka merasa lega karena masalah Lisa sudah selesai.
Rey kini menatap Rizal. Sebenarnya dia tidak menyangka, Rizal masih memberikan dia satu kesempatan setelah apa yang sudah dia lakukan. Bahkan dia sendiri saja tidak busa memaafkan dirinya sendiri. “Makasih.” Rey memeluk sesaat Rizal sambil menepuk punggungnya. “Kesempatan yang lo kasih ke gue gak akan gue sia-siain.”
“Oke. Gue kasih lo kesempatan buat sekolah di sini tapi gue gak akan kasih kesempatan lo buat deket lagi sama Lisa!”
“Iya, pasti! Gue gak akan bisa nandingi cinta lo buat Lisa.” Rey kini menatap Lisa sambil tersenyum. “Lis, gue yakin lo pasti akan bahagia bersama Rizal.” Rey kini membalikkan badannya dan melangkah pergi.
Lisa menghela napas panjang karena akhirnya semua masalah sudah selesai. “Makasih ya, Kak.”
“Buat?”
“Buat semuanya.”
“Termasuk?” Rizal tersenyum menggoda Lisa sambil menatapnya.
Lisa menjadi salah tingkah. Pipinya terasa memerah. Hah, lagi-lagi Lisa teringat kejadian kemaren bersama Rizal yang membuat dirinya masih terasa di atas awan. “Hmmm, aku ke kelas dulu kak.” Lisa berjalan sambil menggenggam tangannya sendiri dan mendahului Rizal.
__ADS_1
“Aku temani yah.” Lagi, Rizal kini berjalan di sampingnya.
Dada Lisa kembali berdebar. Seperti saat awal Lisa jatuh cinta. Mungkin memang Lisa akan selalu jatuh cinta pada Rizal.
“Kok diem aja?” tanya Rizal yang membuat Lisa hanya menoleh ke arahnya. “Hp kamu sudah bisa?”
“Eh, hmm, sudah. Tadi malam diambil sama Ayah. Tapi masih belum berani buka hp." Lisa berjalan pelan bersama Rizal.
"Kan masalah sudah selesai. Nanti aktifin ya, aku mau telepon kamu."
"Tapi jangan video call."
"Lah, kenapa? Masak pacar sendiri video call gak boleh."
"Malu. Kak Rizal juga jahil. Dulu aja aku ketiduran discreenshot."
Rizal tertawa. Ternyata Lisa masih juga mengingat kejahilannya. "Sekarang gak deh. Janji."
Saat masuk ke dalam kelas beberapa temannya menghampiri Lisa. "Lis, maaf yah kita udah nuduh lo yang bukan-bukan."
"Iya, kita cuma nilai dari apa yang kita lihat saja."
"Maaf yah."
Lisa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Good job." Dewa menepuk pundak Rizal saat Rizal tengah berdiri di depan kelas sambil memandang Lisa.
"Thanks. Lo juga udah banyak nolong gue."
"Lisa udah gue anggap kayak adik gue sendiri." Dewa tersenyum, setidaknya dia masih merasa mempunyai saudara perempuan setelah kepergian Dewi.
"Eh," Rizal teringat sesuatu. "Nanti siang sepulang sekolah bantu gue."
"Apaan?"
Rizal membisikkan suatu rencana pada Dewa yang membuat Dewa tersenyum sendiri. "Sok sweet banget lo!! Oke lah."
__ADS_1