Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Perhatian


__ADS_3

"Kak Rizal makan dulu ya.." Pagi-pagi Lisa memang sudah datang ke rumah sakit. Tepat saat Rizal akan sarapan. Lisa membantu Rizal duduk dan menyandarkan punggungnya dengan bantal.


Lisa mengambil makanan yang baru saja diantar oleh suster dan mulai menyuapinya.


Rizal terus menatap Lisa sambil menerima suapan demi suapan dari Lisa.


"Kak Rizal kenapa liatin aku kayak gitu?"


Rizal menelan makanannya lalu menjawab pertanyaan Lisa, "Perhatian banget jadi tambah cinta."


"Hmm, baru sembuh udah pinter gombal."


Rizal kini tertawa. Dia tahu Lisa sedang gerogi saat ini. "Kenapa sendoknya jadi getar gitu ya."


"Ih, Kak Rizal. Baru juga sembuh udah godain aku muluk."


"Tapi itu kan yang buat kamu kangen."


"Banget." Lisa kembali menyuapi Rizal sampai habis. Setelah habis, Lisa meletakkan tempat kosong itu di atas nakas. Lalu meraih obat dan air mineral, memberikannya pada Rizal agar dia minum.


"Kata dokter aku besok udah boleh pulang." Kata Rizal setelah selesai meminum obatnya.


"Besok? Ya, kayaknya aku gak bisa ikut antar Kak Rizal pulang. Soalnya besok aku ada dua kelas. Mungkin sampai sore."


"Ya udah gak papa. Kamu sekarang ke sini gak sama Dewa?"


"Dewa langsung ke kampus soalnya dia lagi bantu kegiatan amal."


"Oo,, untunglah kegiatan itu akhirnya berjalan."


"Emang Kak Rizal tahu soal kegiatan itu?" tanya Lisa seolah lupa dengan apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


"Kamu lupa kejadian kemarin.. Proposal kegiatan itu aku yang ngajuin."


Lisa sedikit menepuk jidatnya. "Iya, lupa. Kak Rizal ada ditubuh Andi selama hampir sebulan aja sudah bisa buat kegiatan bermanfaat kayak gini. Hebat."


Rizal mengacak rambut Lisa. "Biasa ajalah. Sebenarnya itu udah sempat aku usulin ke Andi, cuma Andi selalu nolak."


"Hmm, kemarin ada berita di grup kampus katanya Andi sudah..."


Rizal menganggukkan kepalanya. "Iya, semoga ini jalan yang terbaik."


"Dan semoga saja kejadian ini gak akan terulang lagi." sambung Lisa. "Aku trauma banget liat kondisi Kak Rizal kayak kemaren. Pokoknya Kak Rizal jangan lagi balapan, bahaya!!"


"Iya, kamu tenang aja. Selama gak ada yang gangguin kamu aku gak akan terima tantangan dari siapa pun."


"Jadi, kamu adu balap itu karena belain Lisa?" Suara Bu Ela membuat Rizal dan Lisa menoleh ke arah pintu. Terlihat Bu Ela dan Pak Alan baru saja datang dan tak sengaja mendengar percakapan Rizal dan Lisa.


"Bukan, gitu Ma. Maksudnya, ya Rizal gak terima aja Andi gangguin Lisa."


"Rizal, sudah lain kali kamu jangan kayak gitu lagi. Dan, kamu kan sebentar lagi mau skripsi. Sementara kamu fokus dulu sama skripsi kamu ya."


"Mama sudah, Rizal baru sembuh. Jangan ajak ribut. Mama ini kebiasaan banget kalau sama Rizal. Gak ingat kemaren Mama sampai nangis-nangis kayak gitu." Pak Alan mencegah Bu Ela saat akan menimpali omongan Rizal.


Merasa salah tempat, Lisa kini berdiri dan memakai tasnya. "Kak, aku ke kampus dulu ya."


"Loh, kok buru-buru. Tersinggung sama kata-kata Mama. Mama emang kayak gitu."


Lisa menggelengkan kepalanya. "Gak Kak. Gak papa. Yang penting Kak Rizal sekarang sudah sehat itu lebih dari cukup."


"Ya udah. Hati-hati ya."


Lisa mengusap pipi Rizal sesaat lalu beralih mendekati Pak Alan dan Bu Ela untuk berpamitan. "Permisi, Om, Tante. Saya mau ke kampus dulu."

__ADS_1


"Iya. Hati-hati ya.." Kata Pak Alan.


Lisa keluar dari ruangan Rizal.


"Mama kebiasaan deh. Lisa kan tersinggung, Ma." Kata Rizal sambil merebahkan dirinya.


"Iya maaf. Mama kelepasan."


"Mama lain kali lebih dikontrol ya bicaranya. Kasian dong Lisa, dia udah berjuang demi anak kita." Kata Pak Alan memberi sedikit ceramah pada istrinya.


"Iya, Pa. Mama ngerti..."


...***...


Lisa menghela napas panjang. Sebenarnya dia ingin melupakan omongan Bu Ela, tapi masih saja terngiang. Kadang dia merasa kalau memang dirinyalah yang menyebabkan Rizal celaka.


Kangen banget sama Kak Rizal. Kemaren gak ketemu, hari ini juga? Nomor Kak Rizal juga belum aktif. Hah, gak bisa aku terus-terus kayak gini."


Bu Reni menepuk pundak Lisa menyadarkan lamunannya. Karena sedari tadi Lisa hanya mengaduk-aduk minumannya di atas meja makan.


"Kenapa? Lagi mikirin Rizal. Kemaren kan dia udah pulang ke rumah. Tetangga juga sudah banyak yang menjenguk. Kalau kamu kangen, ke rumahnya gih. Deket juga."


Lisa menggelengkan kepalanya. "Malu ah, Ma. Aku juga gak enak sama orang tua Kak Rizal. Kemaren Tante Ela nyuruh Kak Rizal buat fokus dulu sama skripsinya. Itu berarti Lisa gak boleh ganggu Kak Rizal."


Pak Edi ikut duduk di kursi makan sambil tertawa. "Jadi, kamu dari tadi mikirin itu. Lisa, Lisa. Dibilangin gitu aja udah nyerah."


"Bukan nyerah, Yah. Cuma ya tau diri aja gitu."


Kini Bu Reni juga ikut tersenyum. "Bu Ela itu baik banget loh walau memang orangnya cerewet. Udah gak usah mikirin itu. Kalau kangen sama Rizal nanti malam kita ke rumahnya sekalian jenguk. Ya?"


Lisa menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


💞💞💞


Tunggu kejutan nanti malam ya Lisa sayang...


__ADS_2