
"Sayang kenapa? Sejak hamil tua kamu jadi sulit tidur." tanya Rizal yang terbangun tengah malam karena Lisa beberapa kali pindah posisi dengan perlahan. Perut yang sudah besar dan sudah mendekati HPL memang membuatnya sulit tidur setiap malam. Tidur miring atau terlentang, bahkan sudah pakai bantal hamil pun masih terasa kurang nyaman.
Rizal mengusap lembut perut Lisa walau matanya sudah terpejam. "Tidur ya sayang." Beberapa saat kemudian napas Lisa mulai teratur dan dia mulai tertidur.
Beberapa jam kemudian saat hampir Subuh, Lisa terbangun lagi. Dia menarik tangan Rizal agar mengusap perutnya.
Rizal terbangun. Dia melihat Lisa yang kini tidur memunggunginya. Walau tanpa suara, Rizal mengerti apa yang diinginkan Lisa untuk mengusap perutnya. "Sayang kamu kenapa?" Rizal mendekatkan dirinya lalu mengusap pelipis Lisa yang nampak berkeringat.
"Kak Rizal hari ini gak usah kerja ya. Kayaknya hari ini aku mau melahirkan."
Seketika rasa kantuk hilang dari kepala Rizal. Dia panik. Bahkan kini dia turun dari ranjang seperti ingin melakukan sesuatu tapi entah apa. Otaknya seketika menjadi blank. "Kita ke rumah sakit sekarang ya?"
"Kak Rizal sini dulu." panggil Lisa agar Rizal kembali mendekat.
Rizal akhirnya mendekat dan membantunya untuk duduk bersandar di headboard.
"Nanti aja ke rumah sakit." Lisa menarik napas panjang dan membuangnya saat rasa sakit mulai muncul lagi.
"Sayang, sakit?" Rizal mengusap lembut perut Lisa. Lalu dia mencium keningnya. Dia sangat tidak tega melihat Lisa kesakitan seperti ini. Andai saja rasa sakit itu bisa berpindah ke dirinya, dia rela.
Lisa nampak membuang napas lagi. Dia pejamkan matanya sesaat menahan rasa sakit.
Rizal kini beralih mencium perut Lisa. "Sayang, udah gak sabar mau ketemu Mami sama Papi ya? Yang pinter ya sayang. Kalau mau keluar jangan lama-lama di dalam. Kasihan kan Mami kesakitan."
Lisa tersenyum mendengar celotehan Rizal. Sakit itu berangsur hilang.
"Kak, aku mau ke kamar mandi."
"Iya, sini aku bantu." Rizal membantu Lisa turun dari ranjang lalu menuntunnya ke kamar mandi. "Bisa sendiri?"
Lisa mengangguk. "Kak Rizal tolong hubungi Dokter Santi ya. Sama lihat perlengkapan dan berkas-berkas dalam tas. Kalau sudah lengkap bawa ke mobil ya."
"Iya." Rizal melakukan apa yang disuruh Lisa. Dia membawa dua tas perlengkapan keluar dari kamar.
"Rizal, Lisa udah mau melahirkan?" tanya Bu Ela yang melihat wajah panik Rizal sambil membawa tas.
"Iya, Ma." jawab Rizal sambil berlalu.
Bu Ela masuk ke dalam kamar lalu dia menuntun Lisa yang berjalan keluar dari kamar mandi. "Sakitnya sudah berapa sering nak?"
"Masih satu jam sekali, Ma."
"Ya sudah, nanti kalau sakitnya sudah bertambah sering kita langsung ke rumah sakit ya." Bu Ela membantu Lisa duduk di tepi ranjang. "Mama siapin sarapan dulu buat kamu. Biar kuat."
Lisa menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian Rizal masuk ke dalam kamar dengan membawa segelas susu hangat. "Kamu minum dulu ya?"
Lisa mengambil gelas dari tangan Rizal lalu meminumnya sampai habis.
"Kata Dokter Santi kalau sakitnya sudah semakin sering, kita langsung ke rumah sakit."
__ADS_1
Lisa hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu rebahan dulu. Aku mau mandi lalu kita sarapan." Rizal membantu Lisa berbaring di tempat tidur lalu dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya. Hanya sebentar, setelah itu dia berganti baju.
Rizal keluar dari kamar dan beberapa saat kemudian dia membawakan sarapan untuk Lisa.
"Sayang, makan dulu ya." Rizal membantu Lisa bangun dan duduk bersandar. Dia mulai menyuapi Lisa.
Lisa membuka mulutnya dengan berat. Seolah dia enggan mengunyah makanan saat itu. Sampai tiga kali suapan berhasil dia telan. Tapi kemudian dia menutup rapat mulutnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Ayo makan, biar kuat ya sayang."
Lagi, Lisa hanya menggelengkan kepalanya. Dia justru menarik napas panjang. Rupanya kontraksi itu mulai terasa lagi.
"Sakit lagi?" tanya Rizal sambil meletakkan piring di atas nakas.
Lisa menganggukkan kepalanya sambil menggenggam tangan Rizal erat. Rizal mengusap lagi perut Lisa untuk memberi kenyamanan dan berharap rasa sakit itu berkurang.
"Maafin aku ya. Aku gak bisa buat rasa sakit kamu berkurang." Rizal merengkuh Lisa ke pelukannya. Dia sangat tidak tega melihat Lisa seperti ini. Selama ini dia hanya merasakan enaknya saja saat proses pembuatan, kenapa rasa sakit itu tidak bisa dibagi ke dirinya.
"Kak Rizal kenapa jadi mellow gini." Saat rasa sakit itu berangsur hilang, Lisa melepas pelukannya lalu menatap mata Rizal yang memerah.
"Aku gak tega sama kamu."
"Ini baru awal loh. Kak Rizal cukup kasih semangat dan kekuatan ke aku."
"Iya, aku yakin kamu bisa. Kamu kuat. Tapi sekarang habisin dulu ya makanannya." Rizal kembali meraih piring dan menyuapi Lisa dengan telaten.
Beberapa saat kemudian Bu Reni datang dan duduk di sisi Lisa. "Sayang, gimana? Sudah sering sakitnya?"
Lisa menganggukkan kepalanya.
Rizal mengangguk lalu dia keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Tapi dia hanya duduk saja. Dia sama sekali sudah tidak berselera makan.
"Zal, makan dulu. Nanti kamu malah pingsan di rumah sakit."
"Gak selera, Ma. Lihat Lisa kesakitan gitu gak tega." Rizal justru hanya mengambil roti lalu memakannya.
"Namanya juga mau lahiran, Zal. Prosesnya masih lama loh. Yang Lisa butuhin itu semangat dari kamu."
"Iya, Ma." Setelah minum Rizal berdiri dan kembali ke kamar.
"Lah, beneran gak mau makan."
Setelah masuk ke dalam kamar, dia melihat Lisa kembali kesakitan lagi. "Sayang, kita ke rumah sakit sekarang aja ya.." Rizal meraih tubuh Lisa ke pelukannya sambil mengusap lagi perutnya.
"Iya, tunggu sakitnya mereda dulu. Kita langsung berangkat ke rumah sakit saja." Kata Bu Reni sambil mengusap rambut Lisa. "Sabar ya sayang. Mama yakin kamu bisa."
Beberapa saat kemudian mereka semua berangkat ke rumah sakit. Lisa duduk bersandar di dada Rizal. Di belakang Pak Alan yang sedang menyetir dan di sebelahnya ada Bu Ela.
Sedangkan Pak Edi dan Bu Reni mengikuti mobil mereka dengan sepeda motor.
__ADS_1
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Dan segera menuju ruang observasi kala 1.
Dokter Santi sudah bersiap memeriksa Lisa. "Yang lain tunggu diluar dulu ya. Kecuali suaminya gak papa temani di sini."
Rizal duduk di sisi brangkar Lisa. Dokter Santi mulai melakukan pemeriksaan. "Jeda sakitnya sudah mulai sering, Bu?"
"Iya, Dok."
"Saya periksa pembukaannya dulu ya, maaf."
Lisa mencengkeram tangan Rizal saat Dokter Santi memeriksa pembukaan di jalan lahir.
"Bagus, sudah pembukaan 5."
"Masih kurang berapa lagi, Dok?" tanya Rizal yang memang tidak terlalu mengerti tentang hal itu.
"Untuk menuju pembukaan sempurna masih kurang 5 lagi." Dokter Santi memerintahkan suster untuk memasang infus lalu beberapa alat untuk memantau detak jantung bayi dan tensi darah ibunya.
"Baru 5 sudah sakit kayak gitu. Masih ditambah 5 lagi." Rizal semakin cemas. Jantungnya sudah berdetak tidak karuan. Berasa ada sesuatu yang terus meremat dadanya.
Dokter Santi tersenyum melihat wajah tegang Rizal. "Iya. Saat mendekati persalinan sakit akan semakin intens. Jangan terlalu panik. Cukup kuatkan istrinya. Saya permisi dulu. Satu jam lagi saya cek."
Setelah Dokter Santi keluar. Bu Reni masuk dan ikut menemani putrinya.
"Kak, sakit lagi." Kata Lisa yang kini memiringkan tubuhnya ke sebelah kiri. Dia menggenggam tangan Rizal dengan kuat.
"Iya, sayang sabar ya. Aku usap punggungnya, ya."
"Lisa mau makan dulu sayang?."
Lisa hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu minum ya.."
"Iya.."
Rizal berusaha menguatkan Lisa. Walau sebenarnya, dia sendiri tidak sanggup melihat Lisa semakin kesakitan. Semakin lama rasa sakit itu semakin sering dan bertambah. Rizal sampai kembali memanggil Dokter Santi untuk segera memeriksanya.
"Sabar ya, Pak." Dokter Santi kembali memeriksa pembukaan. "Pembukaan sudah lengkap. Kita pindah ke ruang bersalin."
Suster mendorong brangkar Lisa untuk dipindahkan ke ruang bersalin memasuki kala 2.
Rizal tak juga masuk ke dalam ruangan. Dia sangat tegang. Dia hanya mondar-mandir di depan pintu. Perasaannya sudah campur aduk jadi satu. Antara senang sebentar lagi bertemu dengan buah hati dan perasaan kasihan pada Lisa yang terus melawan rasa sakit.
"Zal, masuk. Lisa butuh kamu di dalam."
"Iya, Pa."
"Kalau kamu takut, biar mama aja yang nemenin." Kata Bu Reni.
"Gak Ma. Biar Lisa sama saya." Rizal menguatkan hatinya. Dia harus tetap berada di samping Lisa untuk menguatkannya dan menemaninya berjuang.
__ADS_1
💞💞💞
Lah, ternyata masih bersambung.. ðŸ¤ðŸ¤