Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Double Date?!


__ADS_3

Satu tahun sudah berlalu. Kini Lisa sudah kelas XII SMA. Dan Rizal, dia sudah menjadi seorang mahasiswa semester tiga. Mereka masih sering bertemu bahkan terkadang Rizal masih sempat menjemput Lisa pulang sekolah. Tak jarang juga mereka keluar untuk sekedar ke kafe seperti hari Minggu ini.


Rizal sedang duduk bersama Lisa di sebuah cafe. Seperti biasa, Lisa masih setia dengan minuman coklatnya. Lisa mengaduk minumannya lalu meminumnya, hanya sedikit karena dia merasa Rizal terus menatapnya sedari tadi.


“Kenapa liat kayak gitu?”


“Tambah cantik.” kata Rizal lalu tersenyum menggoda Lisa.


Lisa hanya menautkan alisnya. Ya, dia sekarang memang sudah kebal dengan gombalan Rizal.


“Jadi ingat dulu waktu pertama ketemu kamu. Masih lugu banget. Beda sama sekarang. Udah makin dewasa dan udah gak malu-malu lagi sama aku.” Rizal sedikit mencubit pipi Lisa sangking gemasnya.


“Kak, jadi tambah chubby nih.” Lisa mendorong tangan Rizal agar menyingkir dari pipinya.


“Jadi tambah gemes kalau chubby.” Rizal tertawa. Karena ada satu hal lagi yang selalu membuat Lisa bete yaitu saat dia bilang kalau Lisa tambah chubby atau pun gemuk. Rizal kini mengusap sesaat rambut Lisa agar dia berhenti memanyunkan bibirnya. “Aku cuma bercanda.” Kini tangan Rizal beralih menggenggam tangan Lisa. “Cepet banget yah waktu berlalu. Kamu sekarang udah kelas XII. Sebentar lagi lulus dan kita bisa satu kampus.”


“Iya, kayak baru kemaren aja Kak Rizal jadi Ketua OSIS yang galak.”


“Masih ingat aja.” Rizal tersenyum mengingat masa lalunya bersama Lisa.


“Nanti pas aku jadi maba, Kak Rizal gak jadi ketua senat juga kan? Gak lucu, kalau Kak Rizal hukum aku keliling lapangan lagi.”


Lagi, Rizal dibuat tertawa oleh Lisa. Itu dia dulu, saat hatinya masih sekeras batu. “Mulai tahun ini gak ada OSPEK. Cuma pengenalan lingkungan aja. Dan soal ketua senat kayaknya kali ini aku gak tertarik.”


“Kenapa?” tanya Lisa lalu dia kembali menyedot minumannya.


“Mau kasih kesempatan buat yang lain. Lagian, aku juga udah capek jadi ketua pengennya sih jadi imam kamu.”


Perkataan Rizal berhasil membuat Lisa hampir tersedak. Dia kini terbatuk-batuk untuk mengeluarkan minuman yang mungkin hampir tersesat di kerongkongannya.

__ADS_1


“Maaf, maaf.” Rizal memukul pelan punggung Lisa.


“Sorry, kita telat.” Suara itu kini membuat Rizal menegakkan duduknya.


Tatapan Lisa kini beralih pada sepasang manusia yang baru datang dan duduk di depannya.


“Gak papa kita belum lama kok. Oiya, kenalin ini Lisa.” Rizal mengenalkan Lisa pada Andi dan Elin, teman sekampusnya.


Andi mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Lisa. “Gue Andi.”


“Lisa.” Lisa membalas tangan Andi sesaat. Entah kenapa Lisa merasa tidak nyaman dengan tatapan Andi.


“Jadi, ini pacar lo. Kenalin gue Elin.” Kata Elin dengan nada yang seperti meremehkan Lisa.


“Apa anak kuliahan sombong-sombong kayak gini? Tapi Kak Rizal gak gini." Lisa berkutat dengan pikirannya. Sebenarnya Rizal sudah pernah menceritakan tentang Andi. Dia putra dari Pak Bambang yang baru saja pindah dari Amerika. Dia memang agak songong dan banyak ulah karena pengaruh dari hidup bebas di luar negeri. Sebenarnya Rizal juga enggan berteman dengan dia kalau saja Pak Bambang tidak memintanya untuk dekat dengan Andi agar Andi tidak berbuat nakal lagi.


Dan Elin, Lisa juga masih ingat. Saat awal Rizal masuk kuliah, Rizal pernah menceritakan kalau ada seseorang yang suka dengannya. Tapi jelas Rizal tolak karena Rizal hanya milik Lisa seorang. Dan ternyata dua makhluk yang ada di depan Lisa saat ini sudah berpacaran, terlihat dari gandengan tangan mereka yang sangat mesra.


"Udah tiga bulan." jawab Elin. "Kalian udah berapa tahun pacaran?"


"Dua tahun." jawab Rizal singkat.


"Wow, lama yah. Udah kayak kredit sepeda motor aja. Gak bosen?" pertanyaan Elin sedikit menyinggung Lisa.


"Sayang, kamu tanya apa sih? Rizal itu setia banget loh." Terlihat Andi melingkarkan tangannya di pinggang ramping Elin.


Elin memang sangat cantik dengan tubuh yang sexy. Terlihat serasi dengan paras rupawan Andi dan tubuh atletisnya.


Lisa masih saja sesekali menangkap pandangan Andi yang membuatnya sangat tidak nyaman.

__ADS_1


“Habis ini, kalian mau kemana? Ikut kita aja yuk.” Tawar Andi. "Kita ada tempat yang bagus."


“Kita mau pulang." jawab Rizal dengan cepat. Rizal mengerti Lisa seperti sudah tidak nyaman dekat-dekat dengan Andi dan Elin. Lalu dia berdiri sambil menggandeng tangan Lisa. "Maaf ya, kapan-kapan saja kita double date." Rizal sedikit menarik tangan Lisa agar segera berjalan mengikutinya.


"Tumben Kak Rizal ngajak double date?" tanya Lisa yang kini sudah berada di tempat parkir bersama Rizal.


"Ya, habisnya mereka pengen tahu kamu banget."


"Pengen tahu muka aku? Ya, emang sih masih cantikan Kak Elin jauh."


"Siapa bilang? Masih cantikan kamu lah."


"Itu karena Kak Rizal bucin.".


Mendengar kalimat Lisa, Rizal mengurungkan niatnya untuk mengunci sepeda motornya. "Eh, apa kamu bilang?!" Rizal merangkul Lisa dan menariknya mendekat. "Itu karena kamu yang buat aku jadi bucin." sekali lagi Rizal berhasil mencubit pipi Lisa.


"Kak Rizal." Lisa berusaha melepas tangan Rizal walau gagal. "Jangan cubit lagi."


Rizal semakin menarik tubuh Lisa mendekat. "Terus maunya apa?" tanya Rizal dengan senyuman penuh arti.


"Kak, ini tempat parkir. Walau pun sepi tapi banyak cctv. Kak Rizal mau viral?"


Rizal tertawa lalu melepas tangannya. "Emang mau ngapain? Mentang-mentang udah 17 plus udah berani berpikir kotor."


Lisa mendengus kesal. Dia merasa semakin hari Rizal semakin usil padanya. "Untung Kak Rizal pacar aku. Kalau gak udah aku lempar pake sandal."


Lagi, Rizal hanya tertawa. Menggoda Lisa sudah menjadi hobinya sejak dulu. Dia kini mengendarai motornya. "Maaf ya. Udah jangan ngambek. Ayo pulang. Atau masih mau jalan-jalan dulu? Muterin kota lima kali pun aku siap."


Terulas senyum di bibir Lisa. Marahnya dia hanya sesaat dan hanya asal bukan dari dalam hatinya. Dia kini naik ke boncengan Rizal dan melingkarkan tangannya di pinggang Rizal. Beberapa saat kemudian motor Rizal meninggalkan tempat parkir.

__ADS_1


Ada dua pasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan. Senyum miring Andi mengisyaratkan sesuatu...


__ADS_2