
"Kak..." Lisa menangkup pipi Rizal dan mencium bibirnya lembut. "Jelek kalau ngambek."
Tatapan Rizal kini beralih menatap Lisa. "Cantik kalau lagi pengen."
Dalam hitungan detik mereka sama-sama tersenyum. Rizal berdiri dan meraih tubuh Lisa. Mencumbuinya, menyentuhnya, yang sudah menjadi candu bagi Lisa.
Hangat kulit yang menyentuh dan menyatu. Tatapan penuh hasrat dan suara kenikmatan yang sedikit tertahan.
"Mau berapa ronde sayang?"
Lisa mengalungkan tangannya di leher Rizal. "Selesaiin dulu yang sekarang."
"Agak lama ya.."
Tanpa menjawab. Lisa hanya menikmati setiap pergerakan yang dilakukan Rizal.
"Aku cinta sama kamu.."
"Aku juga cinta sama kamu.."
Kalimat cinta yang berakhir dengan ciuman itu membuat kedua insan ini melambung mencapai puncak bersama.
"Gini, baru aku bisa fokus ngerjain skripsi lagi." Rizal duduk dan mengambilkan pakaian Lisa. "Kamu pakai baju dulu lalu tidur."
"Kak Rizal mau lanjut ngetik?"
Rizal menganggukkan kepalanya sambil memakai kembali bajunya. "Masih jam 9. Kamu tidur duluan aja." Rizal kembali duduk di depan laptopnya yang masih menyala.
Setelah memakai baju, Lisa merebahkan dirinya. Dia menatap Rizal yang sudah fokus mengetik. Beberapa saat kemudian dia tertidur.
Hingga larut malam, bahkan sampai Lisa terbangun Rizal masih belum juga tidur. "Kak Rizal belum tidur?" tanya Lisa yang membuat Rizal menoleh ke arahnya.
Rizal melihat jam dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul 01.00 dini hari. Dia meregangkan otot-ototnya lalu mematikan laptopnya. "Iya, ini mau tidur." Rizal berdiri dan menyusul Lisa untuk tidur di sampingnya dan memeluknya. "Besok kalau aku kesiangan bangunin ya." Rizal mulai memejamkan matanya apalagi saat dia merasakan usapan lembut di rambutnya.
"Iya, besok mau berangkat kuliah jam berapa?"
"Jam 8 pagi. Aku ada diskusi sama dosen pembimbing." jawab Rizal. Tak butuh waktu lama dia sudah tidur dengan nyenyak.
...***...
Hari-hari berlalu dengan cepat. Akhirnya Rizal lulus kuliah dengan nilai IPK yang cukup tinggi.
Sesuai harapan Rizal, dia bisa berwisuda ditemani istri dan kedua orang tuanya.
"Kak Rizal selamat ya. Akhirnya lulus kuliah." Setelah foto bersama selesai Lisa memeluk Rizal sesaat.
"Kok cuma bentar peluknya." bisik Rizal menggoda Lisa.
__ADS_1
"Nanti aja di kamar." balas bisik Lisa.
"Jadi pengen cepet-cepet pulang."
"Kalian kok malah bisik-bisik disitu. Mau ngerayain kelulusan dimana?" tanya Bu Ela. "Kita makan bersama yuk di restoran?"
"Wah, Mama ini. Mereka ya jelas ngerayain di kamarlah." kata Pak Alan yang ikut bergabung dengan obrolan mereka.
Tawa pun pecah. Apalagi saat beberapa teman Rizal ikut menimpali untuk menggoda mereka. Termasuk Andri yang tanpa sengaja buka kartu. "Sekarang masih mending udah sah. Lah dulu waktu lulus SMA, mereka ngerayain berdua di dalam kelas yang kosong. Gimana gak..."
Satu injakan lolos menginjak kaki Andri agar berhenti bicara. Tidak menyangka ingatan Andri masih tajam.
Lisa tersenyum malu. Masa remaja yang memang sedikit nakal.
"Loh, Rizal. Kamu dulu nakal ya kalau pacaran. Gak nyangka Mama."
"Dikit, Ma. Andri aja yang mikirnya terlalu berlebihan. Lagian lo kenapa sih masih ingat. Buka kartu aja."
Mereka masih tertawa bersama. Semoga kebahagiaan itu akan selalu ada.
......***......
Setelah lulus kuliah, Rizal ikut bekerja di perusahaan Pak Alan. Dia sudah berniat untuk memegang sebuah agen properti sendiri. Dia mulai merintis karirnya.
Sedangkan Lisa dia masih sibuk dengan kuliahnya. Dia sekarang sudah semester 5.
"Lo dijemput sama Rizal? Kalau gak, biar gue antar. Katanya lo gak enak badan."
Lisa menggelengkan kepalanya. "Kak Rizal udah dijalan. Ngomong-ngomong Karin kapan pulang?"
"Satu bulan lagi. Kontraknya sudah selesai dan dia udah gak kerja lagi di Batam."
"Enak dong. Udah gak LDR lagi."
"Iya."
Beberapa saat kemudian Rizal datang dan menghentikan motornya di depan Lisa. "Maaf ya agak telat." Rizal turun dari motor dan menghampiri Lisa. Dia bisa melihat wajah pucat Lisa. "Sayang kamu kenapa? Pucat banget."
"Katanya gak enak badan dari tadi. Ya udah gue duluan ya..." Karena Rizal sudah datang Dewa kini menaiki motornya dan pergi meninggalkan kampus.
"Makasih, Wa." Rizal kini duduk di samping Lisa. "Kamu kebiasaan gak pake jaket."
"Ini baju aku udah lengan panjang."
Rizal melepaskan jaketnya dan memakaikannya ke badan Lisa. "Katanya gak enak badan kamu pakai jaket aja ya.."
Entah kenapa perut Lisa terasa sangat mual. Dia seolah tidak tahan dengan aroma jaket Rizal. Lisa melepaskan jaket Rizal dan mengembalikannya. "Kak, ini.." Lisa menutup hidung dan mulutnya. Dia tidak bisa menahan lagi tekanan dari dalam perutnya. Dia berlari menuju toilet yang ada di dekat tempat parkir.
__ADS_1
"Lisa, kamu kenapa?" Rizal berlari mengikutinya.
Dan Lisa mengeluarkan semua isi dalam perutnya sampai matanya memerah.
"Sayang, kok bisa sih?" Rizal menyibakkan rambut Lisa dan mengusap pelan punggungnya.
Setelah mereda, Lisa membasuh wajahnya lalu mengelap dengan tisu.
"Ya udah, kita cepat pulang ya terus istirahat." Rizal merengkuh Lisa. Tapi Lisa justru mendorongnya. Perutnya terasa sangat mual lagi. Dia kembali memuntahkan isi perutnya walau hanya sedikit.
"Kak Rizal jangan dekat-dekat."
Rizal mencium aroma tubuhnya sendiri. Apakah bau? "Kenapa? Aku bau asem? Bau matahari? Jaketnya juga baru dicuci kan? Parfum aku juga tetap."
Setelah mengusap wajahnya dengan tisu, Lisa keluar mendahului Rizal. "Gak tau ah. Pokoknya rasanya aku mual banget deket Kak Rizal."
Rizal hanya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Dia kini mengikuti Lisa di belakangnya. Terserah apa kata Ibu Negara.
Sampai ada di atas boncengan Rizal pun, Lisa masih menjaga jarak.
"Kak, ada orang jual mangga. Beli yuk?!"
Tumben banget Lisa mau mampir beli buah. Rizal menuruti kemauan Lisa. Dia menghentikan motornya di depan orang jualan buah.
"Mau beli apa Mbak? Mas?" tanya penjual buah itu saat Rizal dan Lisa mendekat.
"Buah mangganya manis kan, Pak?"
"Wah, ya jelas manis kayak masnya."
"Aku mau yang masam aja." kata Lisa.
Rizal kini menatap Lisa heran. Biasanya Lisa suka yang manis tapi kenapa malah minta yang masam.
"Wah, mbaknya lagi ngidam ya?" kata penjual buah itu yang langsung disenggol oleh istrinya.
"Pak, mereka masih muda, masih kuliah. Maaf ya..."
Rizal hanya tersenyum tapi tidak dengan Lisa. Raut wajahnya seketika berubah. "Ya udah, gak jadi." Dia membalikkan badannya dan kembali ke motor.
"Loh, Lisa..." Rizal menjadi bingung dengan tingkah Lisa. "Hmm, maaf kita memang sudah menikah. Ya udah ambil yang manis satu kilo, lalu pilihin yang agak mentah sekilo ya, Pak."
Lisa hanya memandang kesal Rizal yang sekarang sudah mendekat membawa dua kantong mangga. "Kamu kenapa sih? Sensitif banget." Rizal menaruh dua kantong mangga itu di dekat stir motornya.
"Gak tahu." jawab Lisa singkat.
Rizal naik ke atas motornya yang diikuti oleh Lisa dan beberapa saat kemudian motor Rizal mulai melaju. Rizal masih bingung dengan sikap Lisa kali ini. Lisa kenapa sih? Ngidam? Masak iya.....
__ADS_1