Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Bersama Rey, lagi


__ADS_3

Saat Lisa sedang berkutat dengan pemikirannya, Rey sudah mengendarai motornya dan berhenti di depan Lisa. "Ayo!! Daripada ntar hujannya tambah deres."


Lagi dan lagi Lisa tidak bisa menolak ajakan Rey. Dalam pikirannya dia tahu, jika dia menerima ajakan Rey, pasti Rizal akan salah paham lagi tapi seperti ada yang menggerakkan hatinya secara otomatis untuk menerima ajakan Rey.


Lisa naik ke boncengan Rey lalu beberapa saat kemudian motor Rey melaju meninggalkan sekolah.


Seiring kepergian mereka, ada seseorang yang juga berlari untuk berteduh. Lisa??? Rizal mengacak rambutnya yang basah bahkan seragamnya juga sedikit basah terkena air hujan. Dia sengaja mengikuti Lisa hanya untuk memastikan Lisa pulang dengan siapa. Tak disangka dugaannya benar.


Rizal berjalan di lorong kelas dengan rasa kecewa. Terbesit rasa cemburu dan takut kehilangan.


"Darimana lo sampai basah kayak gitu? Gak tega Lisa pulang sendiri?" tanya Evan yang melihat Rizal masuk ke dalam ruang OSIS.


Rizal duduk sambil melipat tangannya. Dia tidak fokus dengan pekerjaannya hari ini. "Evan, lo kan udah bahas sama gue tentang proposal ini. Lo jelasin sama mereka apa tugas masing-masing."


"Lah, lo mau ngapain? Mau jadi patung pajangan?!"


"Nih..." Rizal tetap menyodorkan proposal dan beberapa lembar pembagian tugas untuk masing-masing seksi beserta nama-nama yang tertulis.


Evan dengan terpaksa menerima. "Mentang-mentang udah mau pensiun aja udah males."


Rizal benar-benar tidak fokus saat itu. Pikirannya masih saja memikirkan Lisa. Ingin dia mengejar Lisa saat itu tapi dia tidak mungkin lepas dari tugasnya.


"Ada masalah sama Lisa? Gue lihat dia lagi dekat sama cowok baru itu.." kata Sofi yang duduk di dekat Rizal setelah selesai Evan membahas rencana kegiatan dan tugas masing-masing.


Rizal tidak menanggapinya.


"Baru tau kan rasanya sakit hati itu gimana. Ya, moga aja sih, lo gak dimainin sama Lisa."


"Emang Lisa tadi pulang sama Rey?" tanya Dewa yang langsung to the point.


Rizal mengangguk. "Mungkin ada urusan mereka yang belum selesai di masa lalu."


"Ooo, jadi tuh cowok mantan Lisa. Ngerti sih. Tenang aja gue bisa tungguin lo putus sama Lisa." Sofi masih saja menggoda Rizal meskipun kini Evan melemparnya dengan gulungan kertas.


"Heh, gue itu nungguin jawaban lo. Kok lo malah nungguin Rizal putus." Evan menarik Sofi agar menjauh dari Rizal.

__ADS_1


"Suka-suka gue." Sofi berdiri dan keluar dari ruang OSIS yang diikuti oleh Evan.


"Jadi Lisa udah cerita sama lo tentang masa lalunya." lanjut pembicaraan Dewa dengan Rizal.


"Ya, sedikit. Ada kemungkinan karena dulu mereka gak bisa bersama, jadi sekarang..." Rizal menyimpulkan sendiri masalahnya.


"Tapi, gue gak percaya kalau Lisa bukan tipe yang gak setia. Mungkin aja mereka cuma kangen sesaat. Tenanglah cinta gak akan kemana." Dewa berdiri lalu menepuk pundak Rizal sesaat. "Gue duluan ya.."


"Ya." jawab Rizal singkat tanpa lagi melihat Dewa. Lalu dia mengambil ponselnya dan membuka layar chat whatsapp-nya.


Lis, kamu sudah sampai rumah?


Sampai beberapa menit Rizal menunggu tapi tidak ada balasan bahkan masih centang dua abu. Terlihat Lisa juga belum membuka whatsapp-nya.


...***...


"Rey, mampir dulu." ajak Lisa saat sudah sampai di depan rumahnya.


"Oke. Gue juga mau ketemu sama tante Reni. Kangen masakannya dulu waktu gue sering main ke rumah lo." Rey turun dari motornya yang telah terparkir di depan rumah Lisa. Mereka kini masuk ke dalam rumah.


"Loh, ini Rey?" Bu Reni seperti tidak percaya saat melihat Rey masuk ke dalam rumah bersama Lisa.


"Kamu apa kabar? Kok bisa ada di sini?"


"Saya pindah sekolah ke sini tante."


"Duduk dulu ya." Bu Reni mempersilahkan Rey duduk. Sedangkan kini Lisa masuk ke dalam kamarnya untuk menaruh tas dan berganti pakaian. "Kok bisa sekolah di sini? Sekarang tinggal dimana?"


"Saya sementara kos tante. Kebetulan juga ada saudara di sini." Rey duduk di kursi sambil berbicara dengan Bu Reni yang kini juga ikut duduk.


"Gimana kabar orang tua kamu? Sehat?"


"Alhamdulillah sehat, tante."


"Kakek Dirman juga masih sehat?"

__ADS_1


Rey menganggukkan kepalanya. "Sehat. Masih tetap dengan kegiatannya."


"Legend banget kakek kamu itu. Oiya, tante masak kare ayam. Kamu makan ya, bentar tante siapin dulu." Bu Reni beranjak dari tempat duduknya bersamaan dengan datangnya Lisa.


"Mama kamu tambah gemuk ya sekarang."


Lisa sedikit tersenyum sambil duduk di kursi yang berjarak satu meter. "Jangan bilang gitu di depan mama ntar marah. Biasalah wanita gak mau dibilang gemuk."


Rey tertawa lalu dia mengeluarkan ponselnya. "Gue minta nomor lo, dong. Dari kemaren gue lupa mau tanya."


Lisa sempat ragu. Dia sebenarnya tidak mau Rey bisa menghubunginya sewaktu-waktu.


"Gak boleh? Sayang, gue juga belum dimasukin grup kelas."


Akhirnya Lisa menyebutkan 12 nomor whatsapp-nya. Dan lagi, Lisa tidak bisa menolak permintaan Rey.


Rey menyimpan nomor Lisa, begitu juga dengan Lisa yang langsung mendapat chat pertama dari Rey. Kini mereka bisa melihat foto profil masing-masing.


Rey memperbesar foto profil Lisa yang sedang berdua dengan Rizal. Ada satu helaan panjang sebelum menutup layar whatsapp-nya.


"Foto lo mana? Masih tetep kayak dulu gak suka masang foto profil?" tanya Lisa sambil membalas chat dari Rizal yang sudah satu jam yang lalu.


Rey kembali menyimpan ponselnya. "Ya, mau masang foto profil sama kamu juga gak mungkin kan, kita kan cuma sahabat." Rey tersenyum manis. Entah itu senyuman terpaksa atau tulus atau mungkin senyuman licik tapi senyuman Rey menghanyutkan Lisa sesaat.


Lisa ingat, dulu Rey pernah sekali memasang foto profilnya bersama dengannya yang membuat Elis marah dan sempat tidak bertegur sapa sampai beberapa hari.


"Kamu ingat kejadian itu?" suara Rey membuyarkan lamunan Lisa. "Maka dari itu, lebih baik gue gak masang foto profil sebelum gue punya pacar kayak foto profil lo sekarang."


Lisa mengalihkan pandangannya karena dia sedikit malu dengan ke-alay-annya "Apaan sih."


Beberapa saat kemudian terdengar suara sepeda motor yang berhenti sesaat di depan rumah Lisa. Lisa hafal betul suara sepeda motor itu.


Kak Rizal?


Seketika Lisa berdiri dan berjalan cepat keluar rumah tapi Rizal sudah memutar balik sepeda motornya dan pergi. Ingin dia mengejar Rizal tapi langkahnya terhenti karena cegahan Rey.

__ADS_1


"Rizal? Mau ngejar dia? Udahlah, kalau dia percaya sama lo, dia gak akan marah."


Rey bagai setan yang terus berbisik di telinga Lisa. Mengapa Lisa sekarang sangat tidak bisa menyangkal Rey? Seketika hati dan daya pikirnya melemah begitu saja.


__ADS_2