
Pagi itu, Lisa berjalan lemas memasuki gerbang sekolah. Kali ini dia tidak menunggu Rizal di depan gang rumahnya untuk berangkat ke sekolah karena dia sedikit kesiangan. Ya, semalam dia sulit untuk memejamkan matanya. Rentetan kejadian yang dialaminya seharian cukup sulit dia lupakan. Sejujurnya dia merasa ketakutan. Bagaimana jika pembunuh itu benar-benar ingin membunuhnya?
Sesekali Lisa menguap. Dia berjalan pelan menyusuri lorong kelas yang sudah ramai. Hingga langkahnya kini tersusul Karin.
“Lisa, tumben agak siang?” Karin mengimbangi langkah Lisa.
Lisa menoleh Karin sesaat. “Iya, kesiangan gue. Semalem gak bisa tidur.”
“Pantesan ada mata panda.” Karin menggandeng tangan Lisa agar Lisa sedikit mempercepat langkahnya. “Udah mau bel masuk, cepat ke kelas yuk.”
Mereka berdua masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya. Kali ini Karin sudah kembali duduk di sebelah Lisa.
“Kalian siang amat datangnya? Gue kira libur.” Celetuk Reno yang ada di sebelah Dewa.
“Tau tuh, padahal gue mau nyontek PR Bahasa Inggris.” Kata Dewa yang masih fokus menyalin PR dari buku Reno. “Untung Reno udah ngerjain.”
Meski pun sedang banyak pikiran, tapi Lisa selalu ingat dengan PR-nya. Dia menaruh tasnya di laci mejanya. Ada sesuatu yang aneh saat tanpa sengaja dia meraba sebuah bungkusan kain. Dia mengambilnya lalu membuka bungkusan kain putih itu.
“AAAAA!!!!” teriak Lisa saat melihat dalam bungkusan itu ada seekor tikus mati yang berlumur darah. Lisa langsung membuangnya ke lantai. Mendengar teriakan Lisa, teman-temannya melihat apa yang terjadi. Mereka terkejut dan tidak menyangka ada bangkai tikus yang seperti dengan sengaja ditaruh di laci meja Lisa.
“Tikus mati!!”
“Jijik banget!”
“Gimana bisa ada di situ?”
“Ayo, panggil Pak Mamat biar segera dibersihkan.”
Lisa merasa sangat mual setelah melihat bangkai tikus yang dipenuhi dengan darah yang sempat dia pegang. Dia berlari keluar kelas dan menuju toilet. Sarapannya yang sudah ada dalam perut harus keluar sebagian karena Lisa tidak bisa menahan muntahnya.
Lisa berkumur dan membasuh wajahnya. Teror itu masih terus berlanjut. Sampai kapan dia mau neror gue? Apa sampai psychopat itu berhasil ngebunuh gue? Lisa merasa tidak sanggup lagi. Permainan ini harus segera diakhiri.
Lisa keluar dari toilet dan ternyata ada Dewa yang menunggunya. “Lisa, lo gak papa kan?”
“Gue gak papa. Gue mau ngomong sama lo.” Lisa mengajak Dewa berbicara berdua di taman belakang sekolah yang sepi agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
“Ada apa?”
__ADS_1
“Gue takut, Wa. Pembunuh itu neror gue terus.”
Dewa menghela napas panjang. “Gue udah bilang sama lo. Kalau lo gak sanggup, jauhi Rizal! Gue gak mau sesuatu yang buruk terus terjadi sama lo.”
Lisa menggeleng. Dia sudah masuk ke dalam masalah ini, jadi dia harus menuntaskannya. “Gue harus cerita semuanya sama Kak Rizal, biar dia bisa bantu.”
“Nggak! Jangan cerita apa-apa sama Rizal! Gue takut berita itu justru akan menyebar.” Dewa masih tetap melarang Lisa untuk menceritakan yang sebenarnya pada Rizal.
“Tapi, Wa...”
“Cukup!” Dewa memotong omongan Lisa. “Lebih baik lo berhenti deketin Rizal.”
“Gue gak bisa.” Jawab Lisa secara tegas.
“Gue tau kenapa lo gak bisa jauhi Rizal, karena lo beneran cinta sama Rizal kan?”
Lisa tidak menjawab. Dia yakin, Dewa tidak butuh jawaban darinya karena dia pasti sudah bisa menebak apa yang dirasakan Lisa.
“Meski pun nyawa lo jadi taruhannya lo bakal tetep cinta sama Rizal? Apa lo yakin perasaan lo akan dapat balasan dari Rizal?” Pertanyaan Dewa sangat mengena di hati Lisa.
Lisa tidak bisa menjawabnya. Dia mengerti, Rizal sangat mencintai Dewi. Pasti tidak mudah untuk mengganti rasa cinta itu. Mungkin saja selama ini Rizal mendekatinya hanya sebagai pelarian. Memikirkan semua itu hatinya terasa perih. Dia tidak bisa menjauhi Rizal, karena dekat dengan Rizal sudah menjadi candu bagi Lisa.
“Lisa?” Rizal menahan langkah Lisa dengan genggaman tangannya di pergelangan Lisa. Entah sudah berapa lama Rizal berada di dekat mereka atau memang tanpa sengaja hanya lewat.
Lisa tidak berani menatap Rizal dengan mata nanarnya.
“Lisa, ayo ke kelas.” Dewa menarik tangan Lisa agar mengikutinya.
Lisa menuruti Dewa dan Rizal membiarkannya pergi dengan melepaskan tangannya.
Sebenarnya ada rahasia apa antara Lisa dan Dewa? Kenapa mereka mengobrol begitu serius?
Setelah melihat Lisa dan Dewa berjalan menjauh, Rizal melanjutkan langkah kakinya menuju gudang yang berada di pojok belakang sekolah untuk mencari meja yang masih bisa dipakai karena ada kekurangan meja di ruang OSIS. Dia membuka pintu gudang yang cukup berdebu. Hanya ada sedikit cahaya yang menerangi, lampu pun hanya dengan watt kecil saat dinyalakan. Dia mengecek beberapa meja dan menghitungnya.
Kayaknya ini cukup, nanti gue suruh yang lainnya bantu gue.
Rizal kembali melangkahkan kakinya keluar dari gudang. Tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh dari rak yang berada di dekat pintu. Dia mengambilnya dan akan mengembalikannya ke rak tapi...
__ADS_1
Ini kayak buku diary? Rizal membolak balik buku diary yang berukuran kecil dan berwarna pink yang telah lusuh. Kenapa bisa ada di sini? Mungkin ada seseorang yang membuangnya. Dia akan mengembalikan buku itu tapi ada sebuah foto yang terjatuh. Dia ambil. Gue? Dengan cepat Rizal membuka buku diary itu. Sudah banyak halaman yang terobek termasuk identitas pemilik. Hanya beberapa halaman yang tersisa. Dia baca sekilas ada nama Rizal, Rizal, dan Rizal beberapa kali.
Rizal menutup buku itu dan membawanya. Dia sembunyikan buku itu di dalam bajunya agar tidak ada yang melihatnya lalu dia segera kembali ke kelas.
...***...
“Alohaa.. Semuanya datang ya ke acara ulang tahun gue, besok malem. Semuanya gue undang.” Sofi mengadakan pengumuman di kantin yang tengah ramai saat itu.
Lisa, Dewa, Karin, dan Reno juga sedang berada di kantin saat itu. Lisa hanya menoleh sesaat lalu kembali fokus dengan minumannya. Dewa hanya mencibir sesaat.
"Ada undangan khusus buat adik kelasku tersayang." Sofi berjalan mendekati Lisa dan kawannya. Dia memberikan empat undangan spesial. “Gue sebenarnya mau undang lo aja, tapi lo gak mungkin datang kan tanpa temen-temen lo. Gue ada pertunjukan live khusus buat lo. So, lo harus datang. Kalau lo gak datang berarti lo pengecut!” kata Sofi pada Lisa.
“Apa lo bilang!” Dewa tak bisa menahan emosinya. Dia ingin melawan Sofi tapi ditahan oleh Lisa.
“Dewa udah. Kak Sofi tenang aja. Kak Sofi undang, gue pasti akan datang.”
“Bagus.” Sofi tersenyum devil lalu melangkah pergi.
“Lo beneran mau datang?” tanya Karin tak percaya.
“Kita udah dapat undangan, gak mungkin kita gak datang.” Jawab Lisa yakin.
“Oke, kita pasti akan datang.” Jawab Reno dan Karin.
“Lo yakin?” Dewa mengkhawatirkan Lisa. Dia takut ini bagian dari rencana Sofi untuk mencelakai Lisa.
“Gue gak papa.”
Melihat kekhawatiran Dewa pada Lisa, entah kenapa Karin masih saja cemburu.
Andai saja gue yang diperhatiin sama Dewa, pasti gue bahagia banget. Kapan Dewa ngerti kalau gue itu anggap dia lebih dari sahabat.
Reno menekan pipi Karin dengan sedotan. “Ngelamun aja lo.”
Karin mengalihkan pandangannya dari Dewa. Sedangkan Dewa masih mengobrol dengan Lisa.
“Besok gue jemput lo.” Kata Reno.
__ADS_1
Karin hanya mengangguk. Ingin dia mengharapkan Dewa yang menjemputnya tapi mana mungkin, sudah pasti Lisa yang akan dia jemput.
Kini Dewa yang melihat ke arah Karin. Dia melihat Reno yang kadang menggoda Karin. Hanya sesaat, lalu dia mengalihkan pandangannya sambil menghela napas pelan.