Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Rencana


__ADS_3

Pagi itu, Rizal dan Lisa sudah datang ke sekolah. Hanya ada beberapa murid yang memang biasanya datang pagi.


Rizal masih di tempat parkir bersama Lisa. Mereka melihat ke arah gerbang. Menunggu seseorang melintasi gerbang. Sesuai informasi dari Revi, hari ini yang mereka incar datang lebih pagi.


"Itu dia." Rizal sengaja mengenggam tangan Lisa dan kini berjalan di depan Mita.


Mita hanya terdiam dan sengaja memelankan langkahnya.


"Kak, bisa ajarin aku gak?" tanya Lisa.


"Ajarin apa?"


"Ada PR Matematika yang susah." jawab Lisa sambil memanjakan suaranya agar telinga seseorang yang berada di belakang mereka merasa panas.


"Boleh. Mumpung masih pagi. Kita ke taman belakang aja yuk pasti masih sepi." Kini tangan Rizal beralih ke pundak Lisa dan merangkulnya sambil berjalan.


Mereka kini duduk di bangku taman belakang. Lisa mengambil bukunya yang sebenarnya itu hanyalah buku kosong sebagai alat. Sedangkan Rizal kini mengirim pesan pada Evan dan Dewa. Mereka harus bersiap.


Rizal menoleh sesaat ke sisi kanan. Lalu membisikkan sesuatu ke telinga Lisa. Dia ngikutin kita.


Lisa tersenyum. Seperti Rizal telah membisikkan kata-kata cinta untuknya. "Hmm, Kak ini yang nomer 3. Gimana caranya?" tangan Lisa berpura-pura menunjuk buku.


"Oo itu, caranya gini." Rizal semakin mendekatkan dirinya pada Lisa. Bahkan sekarang sudah tidak ada jarak lagi diantara mereka.


Walau ini cuma pura-pura tapi sudah membuat Lisa keluar keringat dingin. Dia tidak mampu berkata lagi. Bahkan kini tangannya sampai gemetar mengingat rencana yang akan dilakukannya.


Ada pesan masuk ke wa Rizal. Rizal membaca sekilas lalu memasukkan ponselnya. Dia kini memegang buku Lisa. "Lis..." panggil Rizal lirih.


Lisa kini menatap Rizal.


Tangan kanan Rizal menahan tengkuk leher Lisa bersamaan dengan tangan kirinya yang mengangkat buku Lisa setara dengan wajahnya yang membuat wajah mereka tertutup buku. Rizal mendekatkan wajahnya. Sedangkan Lisa hanya bisa menutup matanya. Kini hembusan napas Rizal bisa dia rasakan. Rizal hanya menempelkan keningnya di kening Lisa,m yang membuat Lisa membuka matanya.


Jantung Lisa masih berdegup dengan kencang, apalagi saat ini mereka saling bertatapan dengan jarak hanya beberapa centimeter.

__ADS_1


Sampai 30 detik berlalu, Rizal melepaskan tangannya yang berada di tengkuk leher Lisa dan menurunkan buku yang menutupinya. Lisa mengalihkan pandangannya sambil menggigit bibir bawahnya seolah-olah dia benar-benar telah mendapatkan ciuman hangat dari Rizal.


"Woy, lo ngapain di sini!!!" ucapan keras Evan membuat Mita berjingkit.


Begitu juga Rizal dan Lisa langsung berdiri dan beranjak dari tempatnya.


Mita akan menyimpan ponselnya tapi terlambat Dewa berhasil merebutnya.


"Wooo, lo mau jadi paparazi. Iya!!" Dewa menghapus video yang telah Mita rekam.


"Kembaliin hape gue!!!" Evan menahan Mita yang akan mengambil balik ponselnya.


Bukan hanya di galeri, Dewa juga menyusuri picture yang telah disinkronkan ke e-mailnya.


"Kurang ajar banget kalian!!" Mita sangat marah.


"Yang kurang ajar siapa? Lo yang ganggu privasi orang. Jangan-jangan lo beneran masih ada rasa sama Rizal. Iya kan?!" Evan masih menahan tangan Mita yang akan kabur.


"Bukan urusan kita?! Lo ngapain rekam gue sama Lisa?! Mau lo viralin kayak isi surat lo itu." kini Rizal mengambil ponsel Mita ingin mengecek isi galeri Mita.


Tapi Mita berusaha melepaskan tangan Evan sampai terlepas lalu dia dengan cepat mengambil ponselnya. Mita tampak sangat marah. Dia akan berlari pergi tapi Sofi dan Revi muncul.


"Ngapain rame-rame di sini?"


"Temen lo, main rekam sembarangan." kata Evan.


Sofi kini menatap Mita menyelidik. "Rekam apa? Rekam orang lagi pacaran? Bener dong, apa yang dilakuin Mita. Lo jelas tau peraturan di sekolah ini, dilarang pacaran di sekolah. Apalagi lo itu ketua OSIS, bucin banget!!" Sofi kini menggandeng Mita. "Lain kali langsung kirim ke gue kalau ngerekam mereka biar tau rasa kena BK." Sofi membalikkan badannya lalu pergi bersama Mita dan Revi.


Entah itu hanya sandiwara atau bukan, yang jelas perkataan Sofi terlihat spontan dari dirinya sendiri.


"Wajah Mita merah padam. Dia benar-benar marah. Kita siap-siap rencana selanjutnya."


"Eh, tapi lo tadi beneran itu apa gak ya, kok gue ngerasa lo itu beneran itu.." Goda Evan yang langsung mendapat satu jotosan dari Rizal

__ADS_1


Lisa hanya bisa menunduk malu.


"Ini ide lo. Lo malah fitnah gue."


"Sorry, sorry, gue bercanda."


"Maaf ya." Rizal mengerti kalau Lisa sedang menahan malu saat itu. "Aku ke kelas dulu." Rizal melambaikan tangannya sambil menarik paksa Evan sebelum dia berkata yang bukan-bukan lagi.


"Lisa!!" Karin berlari ke arah Lisa. "Sorry, gue kesiangan. Gimana barusan?"


Lisa hanya tersenyum kecil lalu berjalan menuju kelas sambil menggandeng Karin. Sedangkan Dewa kini justru duduk melamun di bangku taman. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya saat itu.


...***...


"Lisa, kamu sekarang dapat tugas piket ya? Tolong kemas semua ini dan bawa kembali ke Lab IPA ya." Suruh Bu Ratna setelah selesai pelajaran siang itu.


Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Lisa kini mengemas alat-alat peraga yang barusan digunakan di pelajaran Biologi. Sebagian besar teman-temannya sudah pulang.


"Lis, gue bantuin ya." tawar Karin sambil memasukkan beberapa alat ke dalam kardus.


"Makasih ya. Gue bisa sendiri kok. Tuh, Dewa udah nungguin." kata Lisa sambil menunjuk Dewa yang berdiri bersandar di pintu.


"Oke, gue duluan ya." Karin melambaikan tangannya pada Lisa seiring langkah kakinya pergi.


Lisa menghela napas panjang. Dia kini mengangkat kardus yang lumayan besar dan akan membawanya ke Lab IPA yang berada di lantai dua paling pojok, berjajar dengan Lab Bahasa dan Lab Komputer.


Lisa berjalan perlahan. Lorong kelas sudah sepi dengan cepat saat jam pulang sekolah. Kini dia sampai di tangga yang agak gelap karena cahaya matahari terhalang oleh kelas sedangkan lampu tangga saat itu mati. Lisa mulai menaiki anak tangga. Sampai di tengah, dia seperti mendengar suara langkah kaki. Dia menoleh tapi tidak ada siapa-siapa. Lalu dia melanjutkan langkahnya di anak tangga yang berbelok. Sesuai dugaannya, di lantai atas saat itu sangat sunyi sepi. Dia kini masuk ke dalam Lab IPA dan menaruh alat-alat peraga pada tempatnya.


Setelah selesai, dia keluar dan berjalan perlahan. Seperti ada yang mengikutinya lagi. Dia menoleh. Tapi tetap tidak ada siapa-siapa. Dia kini mempercepat langkahnya karena bulu kuduknya mulai merinding. Dia menuruni anak tangga agak cepat sampai dibelokan tangga tiba-tiba ada yang mendorong tubuhnya dengan keras. Tubuhnya terasa melayang. Dia tidak bisa menghindar. Dia hanya bisa menjerit dan pasrah jika tubuhnya harus berguling ke bawah dan menghantam lantai.


💞💞💞💞


Jangan luoa vote dan komen ya ....

__ADS_1


__ADS_2