
Sejak Lisa hamil, semua keluarganya sangat perhatian dengannya. Apalagi Rizal, terkadang dia sampai over protektif. Dia tidak membiarkan Lisa mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan cuci baju dan semacamnya Rizal sendiri yang mengerjakan. Dan satu hal lagi yang menjadi kebiasaan baru Rizal, selalu bertanya tentang Lisa di kampus pada Dewa. Entah hal-hal kecil seperti sudah makan bekalnya, ada kegiatan apa saja, jangan sampai kecapekan. Semua itu tak lepas dari pantauan Rizal lewat Dewa. Dewa sudah berasa menjadi seorang baby sitter tanpa gaji.
Sampai tiga bulan berlalu, Rizal masih menjaga jarak aman. Entah sampai kapan berkurangnya morning sickness Lisa saat dekat dengan Rizal.
Malam itu, Rizal duduk di sisi ranjang sambil melihat Lisa sedang berdiri di depan cermin melihat baby bump yang sudah mulai nampak.
"Lucunya, udah kelihatan loh perutnya." Rizal tersenyum dan menatap gemas Lisa. Rasanya dia ingin sekali memeluknya.
"Iya, udah 4 bulan." Lisa kini beralih menatap Rizal yang terlihat lesu. "Kak Rizal kenapa?"
"Aku capek banget rasanya."
"Kak Rizal istirahat dulu kalau capek."
Rizal menggelengkan kepalanya. "Bukan raga aku yang capek. Tapi aku capek nahan buat gak meluk kamu, gak cium kamu, gak sentuh kamu. Udah tiga bulan loh."
Lisa tersenyum. "Mau gimana lagi? Kan ini akibat perbuatan Kak Rizal juga."
"Iya, tapi si kecil itu cemburu banget sama Papinya. Masak Papi mau sentuh Mami dikit aja gak boleh." Rizal merebahkan tubuhnya yang kini disusul oleh Lisa di sebelahnya.
Biasanya Lisa langsung memunggungi Rizal, ya, tidur seperti orang berantem selama tiga bulan ini. Tapi kali ini dia berbaring. "Kak Rizal tumben wangi."
"Emang biasanya aku..." Rizal kini beralih menatap Lisa. "Sayang, penciuman kamu udah sembuh? Udah gak mabuk lagi. Coba sini tes." Rizal mendekatkan dirinya. Dia langsung memeluk Lisa dengan erat. "Beneran udah gak mual?"
Lisa menggelengkan kepalanya.
Rizal melepaskan pelukannya lalu membuka perut Lisa dan menciumnya lembut. "Hei sayang. Baru kali ini Papi cium kamu. Barusan dengerin keluhan Papi ya. Duh, pinternya masih dalam perut aja sudah nurut sama Papi. Malam ini Papi pinjam Mami dulu ya.." Rizal menciumi perut Lisa sampai beberapa kali.
Setelah itu dia kini beralih menatap Lisa. "Kamu tambah cantik aja sayang."
"Pasti ada maunya.."
"Emang kamu gak kangen sama aku?"
Lisa hanya tersenyum sambil memeluk Rizal dengan erat. "Kangen banget. Udah lama ingin manja-manja sama Kak Rizal."
Rizal mengusap rambut lalu tangannya beralih pada tengkuk leher Lisa. Dia mendekatkan dirinya dan mencium bibir Lisa yang tiga bulan ini sudah sangat dia damba. Cukup dalam dengan durasi yang cukup lama.
__ADS_1
"Udah kayak ciuman pertama aja. Deg-degan banget dada ini."
"Lebay banget sih. Baru juga tiga bulan gak ngerasain."
"Lama tahu.." Tangan Rizal mulai menelusup dan bermain nakal.
Lisa membiarkan apa yang ingin dilakukan. Dia hanya menikmati setiap sentuhan yang sudah menjadi candu baginya.
"Sayang, kayaknya malam aku gak bisa tahan lagi. Gak papa kan? Aman kan ya?"
Lisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dia biarkan Rizal satu per satu melepaskan pakaiannya.
"Si kecil jangan ditindih ya."
"Iya, gak akan." Kali ini Rizal melakukannya dengan hati-hati. Walau keinginannya menggebu tapi dia tetap melakukannya dengan lembut dan penuh perasaan.
Malam itu, mereka melewati malam yang panas. Melepaskan semua hasrat yang tertahan. Entah sampai jam berapa, mereka akhirnya tertidur sambil berpelukan setelah memakai baju.
Suara alarm dari ponsel Rizal berbunyi. Dia meraih ponselnya dan mematikan alarmnya. Seandainya saja tidak ada meeting di Surabaya hari ini, rasanya dia ingin melanjutkan tidurnya bersama Lisa.
"Tumben Lisa belum bangun.."
"Eh, iya Ma." Rizal akan mengambil roti tapi ditahan oleh Bu Ela.
"Sarapan makan nasi aja. Sudah matang. Mama ambilin ya. Katanya hari ini mau ke Surabaya kan?"
Rizal hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah sepiring nasi siap dan diletakkan di depan Rizal. Bu Ela ikut duduk dan mulai bertanya menyelidik. "Keliatan udah seger aja nih. Habis ngegarap Lisa semalam?"
Rizal hampir saja tersedak. Pertanyaan Mamanya memang terkesan to the point. "Iya Ma. Dikit." Dikit? Bohongnya Rizal, padahal sampai dua kali tempur. Meski sekarang dia menyesal karena membuat Lisa terlalu lelah.
"Rizal, Lisa itu lagi hamil. Tenaganya udah beda. Jangan terlalu. Kasian kan?"
"Iya, Ma. Iya."
"Ya udah, biarin Lisa tidur dulu. Jangan dibangunin."
__ADS_1
Rizal hanya menganggukkan kepalanya sambil menghabiskan sarapannya.
Setelah selesai sarapan, Rizal membuatkan susu untuk Lisa lalu mengambilkan roti yang dia oles dengan selai coklat, lalu membawanya ke kamar. Tak mungkin juga dia membiarkan Lisa tidur sampai siang tanpa mengisi perutnya dulu.
"Masih pulas aja tidurnya." Rizal meletakkan segelas susu dan sepiring roti di atas nakas lalu dia duduk di tepi ranjang dan mengusap pipi Lisa lembut.
Beberapa saat kemudian Lisa mengerjapkan matanya. Dia bergeliat sambil menguap. "Ini, jam berapa?"
"Sudah setengah tujuh."
"Kak Rizal kok gak bangunin aku." Lisa kini duduk sambil bersandar. Dia masih mengumpulkan segenap nyawanya.
"Maaf ya, gara-gara aku semalam kamu jadi kecapekan gini."
Lisa hanya menggeleng dan tersenyum.
"Kamu minum susu dulu ya lalu makan roti. Kalau kamu mau lanjut tidur gak papa. Gak usah kuliah dulu hari ini."
Rizal mengambilkan segelas susu agar Lisa segera meminumnya.
"Bentar lagi aku berangkat ya. Ada meeting di Surabaya."
"Kak Rizal gak bermalam di sana kan?"
Rizal menggeleng sambil membelai rambut Lisa. "Nggak. Sore udah pulang. Kenapa? Takut tidur sendirian ya?" goda Rizal sambil menaruh gelas Lisa yang telah kosong.
"Aku kan sekarang gak sendiri. Nih, selalu ada yang nemenin." Lisa menunjuk perutnya yang membuat Rizal seketika mengusapnya.
"Rotinya kamu makan dulu ya, buat cemilan. Lalu sarapan."
"Aku makin bulat kalau suruh makan terus."
"Gak papa. Jadi tambah cantik." Rizal mengecup kening Lisa. "Aku berangkat dulu ya." Lalu Rizal beralih mencium perut Lisa. "Hei sayang, temenin Mami ya..."
Lisa tersenyum melihat apa yang dilakukan Rizal lalu dia mencium punggung tangan Rizal sebelum Rizal berangkat. "Hati-hati..."
💞💞💞
__ADS_1