
Lisa membasuh wajahnya menghilangkan sedikit mata sembabnya meski sebenarnya air matanya tidak bisa berhenti. Rasa takut masih juga menyelimuti.
"Gue harus kuat. Harus! Gue gak boleh lemah."
Lisa memakai jaket Rizal untuk menutupi seragamnya yang kotor. Lalu dia keluar dari toilet. Terlihat Dewa berdiri bersandar di tembok sambil melipat tangannya. Rupanya dia juga sudah berganti seragam. Dia nampak berpikir sebelum akhirnya pandangannya tertuju pada Lisa.
"Lisa, lo gak papa kan?" tanya Dewa sangat khawatir.
Lisa menggeleng pelan.
"Ini udah keterlaluan, Lis. Gue gak bisa bayangin kalau..." Dewa mengepalkan tangannya menahan amarahnya. "Gue gak bisa berbuat apa-apa. Gue nyesel gak nungguin lo tadi."
"Ini udah terjadi dan gue gak papa." Lisa berjalan pelan yang diikuti Dewa.
"Sebenarnya gue tadi nyariin lo karena Pak Zaki udah mulai absen. Sekarang kita ijin saja ke Pak Zaki biar lo bisa istirahat di UKS."
Mereka berjalan di pinggir kolam mencari Pak Zaki. Ternyata jadwal praktek Lisa dan kelas Rizal bersamaan hanya saja beda bagian kolam.
"Cewek satu ini malah baru keluar dari toilet. Ngapain aja? Cari alasan datang bulan mendadak biar gak ikut praktek." Celetuk Sofi saat Lisa dan Dewa berjalan di dekat Sofi dan kawan-kawannya.
Lisa hanya menunduk.
Sofi mendekat dan melihat jaket Rizal yang dipakai Lisa. "Ini! Kenapa lo bisa pake jaket Rizal! Gak cukup berduaan sama Dewa tapi juga sama Rizal." Olok Sofi semakin keras yang menyebabkan keributan.
"Dasar cewek murahan!" timpal Mita, teman Sofi yang ada di belakang Sofi saat itu.
"Iya! Sama siapa aja juga mau!" timpal Revi yang merupakan komplotan Sofi juga.
Lisa kembali menangis terisak. Ingin rasanya dia lenyap dari situasi saat itu.
"Kalian bisa diam! Kalian gak tau apa yang terjadi, jangan bisanya jadi netizen!" Dewa membela Lisa. Dia kini merangkul Lisa yang saat itu butuh dukungan.
"Sofi, cukup!" Rizal datang yang membuat mereka terdiam. Apalagi ada Pak Zaki yang ternyata juga bersama Rizal saat itu. "Lisa terpeleset di kamar mandi. Jadi seragamnya kotor dan gue pinjemin jaket."
"Lisa, kamu boleh istirahat di UKS. Dewa kamu boleh mengantarnya." suruh Pak Zaki.
"Yang lainnya, ayo lanjutkan latihan!"
Ternyata Rizal pintar menyembunyikan semua ini. Kalau yang lain tau sebenarnya pasti Lisa akan malu. "Lisa, ayo.." ajak Dewa.
Rizal mendekati Dewa dan membisikkan sesuatu. "Jangan cerita masalah ini sama yang lain. Jaga Lisa di UKS. Masih ada satu hal yang harus gue urus."
Rizal berjalan cepat. Dia memanggil Sofi dan menariknya untuk bicara berdua. "Sofi, lo jangan keterlaluan!" Rizal mulai bicara dengan Sofi di tempat yang tidak ada orang.
"Aku? Keterlaluan? Aku gak lakuin apa-apa. Justru kamu ngapain deketin Lisa lagi!?"
"Lo ngaku, lo kan yang ngejebak Lisa."
__ADS_1
Sofi mengernyitkan dahinya. "Kurang kerjaan banget aku ngejebak tuh anak."
"Sofi, tindakan lo itu udah termasuk kategori kriminal. Lo lupa, gue bisa dengan leluasa ungkap kasus ini ke kepala sekolah dan lo bisa langsung di keluarin."
"Kasus apa? Aku gak lakuin apa-apa." Sofi masih bersikeras seolah dia benar-benar tidak melakukan apa-apa.
"Lo nyuruh orang buat lakuin tindakan asusila sama Lisa. Lo gila!"
"Apa buktinya kalau aku yang lakuin?"
"Gue tanya sama security katanya tadi ada orang yang masuk ke sini ngaku kakak lo mau antar seragam lo yang ketinggalan."
Sofi membulatkan matanya. "Kamu tau kan, aku gak punya kakak."
"Itu suruhan lo kan?!?"
Sofi cukup geram dengan perkataan Rizal. "Kamu yakin, musuh Lisa hanya aku?"
Rizal terdiam.
"Kalau bukan lo, siapa lagi?" Tiba-tiba Evan datang dan menyahut pertanyaam Sofi. "Gue kemaren dengar Mita bicara lewat telpon dan merencanakan sesuatu. Pasti lo kan yang nyuruh!"
"Mita?" Sofi berpikir sejenak. "Hah?! Terserah kalian semua mau percaya atau gak. Dan Rizal ingat janji kamu. Kalau kamu ingkar, tunggu saja akibatnya." Sofi membalikkan badannya dan berjalan kembali ke kolam renang.
"Evan, gimana ada rekaman cctv-nya?" tanya Rizal yang memberi tugas Evan mencari rekaman cctv sebagai bukti.
Evan menggeleng. "Kebetulan cctv rusak dari kemaren."
Evan mendekat dan menepuk pundak Rizal. "Lo tenang dulu. Lisa sudah berhasil lo tolong. Untung lo tadi datang telat. Sekarang, tinggal kita cari tau pelakunya."
...***...
Di UKS, Lisa duduk di atas ranjang. Buliran air mata masih terus membasahi pipinya.
"Lisa, udah jangan nangis." Dewa mengambilkan tisu untuk Lisa agar dia menghapus air matanya.
"Apa gue itu memang cewek murahan kayak yang dibilang Sofi?" Lisa masih memikirkan olokan Sofi dan teman-temannya. Hatinya masih terlalu sensitif setelah kejadian buruk menimpanya.
"Lo ngomong apa sih?! Omongan Sofi itu gak harus lo denger."
Lisa menghapus lagi sisa-sisa air matanya dengan tisu.
Dewa mengusap pelan rambut Lisa. Dia merasa iba. Harusnya Karin ada di sini nemeni Lisa, pasti Lisa lebih mudah meluapkan kesedihannya. Gue harus bicara sama Karin.
"Bentar lagi jam praktek renang sudah selesai. Lo gak papa kan gue tinggal sendiri. Gue mau ke toilet. Sekalian gue ambilin lo minum."
Lisa mengangguk pelan.
__ADS_1
Sebenarnya Dewa tidak tega meninggalkannya sendiri. Tapi dia harus cepat bicara dengan Karin agar kesalah pahaman antara Lisa dan Karin segera selesai.
Dewa keluar dari UKS. Lisa masih saja duduk dengan lemas. Dia enggan untuk berbaring saat itu.
Wussshhh!!
Tiba-tiba angin berhembus dari belakang Lisa. Lisa menoleh sesaat. Jendela tertutup, dari mana angin itu berhembus? Lisa berusaha menenangkan dirinya meski sebenarnya bulu kuduknya sudah merinding.
Wusshhhh!!
Angin kembali berhembus. Dia menoleh ke belakang lagi. Seperti ada seseorang yang lewat di depan jendela. Lisa mulai ketakutan. Dia turun dari ranjang dan akan keluar.
"AAAAAA!!!!!" Teriak Lisa saat Rizal membuka pintu UKS yang membuat Lisa sangat terkejut.
"Lisa kenapa?"
Napas Lisa tidak teratur. Wajahnya sangat pucat.
"Kak Rizal. Aku takut."
Rizal merangkul Lisa agar kembali duduk di ranjang. "Dewa kemana?" tanya Rizal. Kini dia duduk di sebelah Lisa.
"Ke toilet." jawab Lisa dengan suaranya yang bergetar.
"Kamu mau ijin pulang? Biar aku antar."
Lisa menggeleng. Dia hela napas panjang agar detak jantungnya kembali normal. "Makasih, Kak Rizal udah nolongin aku."
"Ya, sama-sama. Untung semua belum terlambat. Aku akan cari siapa pelakunya."
Lisa kini beralih menatap Rizal. Seandainya Kak Rizal tau dengan apa yang terjadi pada Dewi, pasti Kak Rizal juga akan mencari siapa pelakunya. Apa aku harus cerita sama Kak Rizal yang sebenarnya, tapi....
"Lis?" Rizal memegang lembut pipi Lisa agar Lisa membuyarkan lamunannya. "Kamu benar, gak ada yang bisa mengatur perasaan. Aku harus lakuin apa yang mau aku lakuin."
Lisa tersenyum pahit. Dia harus membuang jauh-jauh rasa takutnya jika dia memutuskan untuk dekat dengan Rizal.
Kak Dewi??
Dewi muncul lagi di belakang Rizal. Dia menatap Lisa.
Kamu harus berhati-hati!!
Kata-kata itu nyata dia dengar dari Dewi karena saat itu Rizal masih menyentuh pipinya.
Lisa sedikit menjauhkan badannya. Dia masih menatap Dewi yang belum juga enyah dari hadapannya.
Rizal menoleh ke belakang saat dirasanya pandangan Lisa sudah fokus dengan hal lain. "Ada apa?"
__ADS_1
Lagi Lisa hanya menggeleng, "Kak, kalau seandainya Kak Rizal bertemu lagi dengan Kak Dewi apa yang akan Kak Rizal katakan?"
Rizal menghela napas panjang. Apa yang membuat Lisa tanya hal ini? Apa Lisa mau memastikan perasaanku??