
Setelah sampai di rumah Lisa. Rizal mengetuk pintu rumah Lisa yang nampak tidak ada orang. Sampai beberapa kali ketukan tetap tidak ada jawaban.
"Apa semua orang gak ada di rumah?" Rizal bergumam lalu dia menghubungi Lisa lagi tapi tetap tidak diangkat. Lalu dia mengirim pesan.
Lis, aku ada di depan rumah kamu.
Sampai beberapa menit tidak dibalas bahkan tidak dibaca.
Lis, kamu dimana? Gak ada di rumah?
Rizal kini beralih duduk di kursi teras rumah Lisa. Dia berniat menunggu Lisa.
Lisa, aku tunggu di depan.
Masih sama dengan centang dua abu.
Rizal menghela napas panjang. Dia harus bagaimana? Apa iya, Lisa dengan mudah percaya sama foto-foto itu.
30 menit berlalu.
Lisa kamu dimana? Aku mau bicara sama kamu.
Masih saja dengan dua centang abunya.
1 jam berlalu.
Rizal kini berdiri dan kembali mengetuk pintu rumah Lisa. "Lisa, Lis. Kamu dengar aku. Aku mau ngomong sama kamu. Please." Masih tetap sama tidak ada jawaban.
Rizal membalikkan badannya lalu kini dia bersandar di pintu. Sambil masih terus mencoba menghubungi Lisa. Entah itu panggilan ke berapa puluh kalinya.
1 jam lagi berlalu. Kini dia beralih duduk di atas motornya. Satu panggilan lagi dilayangkan tapi tetap sama tidak ada jawaban.
Rizal menghela napas panjang. Hari sudah mulai sore. Dia kini memakai helmnya dan berniat untuk pulang dengan putus asa.
Terdengar suara pintu terbuka.
"Kak Rizal..." panggil Lisa yang membuat Rizal mengurungkan niatnya untuk pergi. Dia kembali membuka helmnya dan segera turun dari motornya. Setengah berlari dia menghampiri Lisa.
Kini tampak kelegaan di wajah Rizal. "Lisa, akhirnya kamu mau nemuin aku."
__ADS_1
Lisa tak bicara lagu, dia langsung duduk di kursi terasnya yang diikuti Rizal.
"Kamu marah sama aku?" tanya Rizal yang sudah kesekian kalinya, terhitung dari pesan yang dia kirim namun belum terjawab.
Lisa terdiam.
"Maafin aku, tapi foto itu gak kayak yang kamu lihat."
Lisa masih terdiam. Dia hanya menunjukkan foto-foto pada Rizal yang masuk ke whatsapp nya dari nomor tidak dikenal.
Lo sadar gak, lo hanya dimainin sama Rizal. Jangan mimpi lo bisa sama Rizal terus. Lo itu gak sebanding sama Sofi. Lo itu cuma cewek lemah!!! Gak bisa jaga diri!! Tulisan di bawah foto-foto itu.
Beberapa foto terlihat saat Rizal menggandeng tangan Sofi, dan saat mereka bicara berdua di ruang OSIS pagi tadi. Sekilas, memang terlihat seperti orang sedang pacaran.
"Ini gak kayak yang kamu lihat. Tadi aku ngajak Sofi bicara soal Mita. Lisa, kamu beneran marah?"
"Menurut Kak Rizal setelah baca dan lihat pesan itu, gimana perasaanku? Jelas sakit hati kan. Tapi..." Lisa menghentikan perkataannya.
"Iya, aku ngerti."
Lisa kini tersenyum yang membuat Rizal bertanya-tanya. "Tapi aku gak sebodoh itu. Justru aku lebih pintar memanfaatkan keadaan. Aku jadi tahu seberapa khawatirnya Kak Rizal kalau aku marah. Bahkan sampai telpon 50 kali."
Lisa tidak menyangka dengan ekspresi marah yang dia dapat dari Rizal. Kini Rizal berdiri dan akan melangkahkan kakinya pergi.
"Kak Rizal marah?" Lisa menahan Rizal dengan tarikan tangannya. "Maaf, aku cuma mau tau seberapa besar rasa cinta Kak Rizal sama aku."
Rizal terdiam beberapa saat yang membuat Lisa cemas. Lalu tiba-tiba dia menggenggam tangan Lisa dengan erat dan kembali duduk di sebelah Lisa. "Gimana? Gini baru adil sih."
Merasa kena tipu, Lisa memalingkan wajahnya karena malu dengan perkataannya barusan.
"Rasa cinta itu gak bisa diukur seberapa besarnya. Cinta itu hanya bisa dirasakan. Saling percaya itulah intinya." kata Rizal yang mampu menyejukkan hati Lisa.
Lisa kini menatap Rizal setelah tangan Rizal menyentuh pipinya agar melihatnya. "Maaf Kak, aku udah menyita waktu Kak Rizal jadi sia-sia."
"Gak ada yang sia-sia kalau buat kamu." Rizal mengusap lembut pipi Lisa yang membuat Lisa menjadi salah tingkah walau hanya sesaat. "Kamu sendirian di rumah? Dari tadi aku gak liat orang tua kamu."
Lisa mengangguk. "Mama sama ayah ada keperluan. Mungkin bentar lagi mereka pulang. Ada perkembangan apa soal Mita setelah Kak Rizal tanya sama Sofi?"
"Sofi sebenarnya udah tau semuanya. Aku harap dia mau bekerja sama buat ngejebak Sofi."
__ADS_1
"Ada rencana apa?"
"Sebenarnya...." Rizal membisikkan sesuatu yang membuat dada Lisa berdebar-debar.
"Tapi kak, aku... Gimana ya? Aku malu."
"Cuma pura-pura. Gak papa?"
Tanpa sadar Lisa malah mempererat genggaman tangannya pada Rizal yang sedari tadi belum dilepas. "Hmm, iya deh. Pura-pura kan?"
"Nggak, beneran." Goda Rizal.
"Ih, Kak Rizal."
"Iya, pura-pura." Rizal tertawa melihat wajah panik Lisa.
"Oke.. Oke.."
"Aku pulang dulu yah. Besok aku jemput pagi-pagi." Rizal melepaskan tangan Lisa lalu berdiri. Dia berjalan menuju sepeda motornya yang diikuti Lisa.
"Iya, Kak."
"Hampir lupa buku catatan Karin yang dititipin tadi." Rizal mengeluarkan buku catatan dari dalam tasnya. "Ini, yang tadi kamu bilang gak jadi tapi sebenarnya butuh."
Lisa tertawa kecil. "Iya, makasih. Tadi sebenarnya Karin sudah wa aku."
Rizal naik ke atas motornya lalu memakai helmnya. "Ya udah, masuk ke dalam gih. Jangan lupa dikunci pintunya selain orang tua kamu, jangan dibukain."
"Iya."
"Masuk dulu, baru aku pulang."
Lisa melambaikan tangannya lalu membalikkan badannya dan masuk ke dalam rumah sesuai perintah Rizal.
Setelah dirasanya aman, Rizal mulai melajukan motornya meninggalkan rumah Lisa. Dia berharap rencananya kali ini berhasil menjebak Mita. Karena jujur saja, dia sudah merasa lelah dengan keadaan ini. Dia ingin hidup normal menjalani kisah cintanya dengan Lisa.
💞💞💞💞
Jangan lupa like dan komen yah biar tambah semangat.
__ADS_1